AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
PLAYING HIDE AND SEEK



Semua para pelayan tersebut terdiam dan mereka saling melirik satu sama lain. Putri Bue pun berkata, "Jika kalian tetap seperti ini ... aku akan kesana sendirian."


"Jangan!" ucap serentak para pelayan Putri Blue yang membuat sang putri terkaget.


"Kenapa?! Haduh ... jantungku, bisakah kalian berbicara yang santai gitu ..." kata Putri Blue sambil memegang dadanya.


_______________________________________________


DI ISTANA KERAJAAN ZARQO.


Anggota tim pasukan khusus yang selamat hanyalah Malik, ia membawa sebuah kotak yang cukup berat dan memberikannya kepada Raja Juftin yang berada di ruangan kerjanya. Kotak tersebut ia terima melalui kurcaci si pengirim pesan.


Malik meletakan kotak itu di meja kerja sang raja lalu Raja Juftin membuka kotak tersebut. Alangkah terkejutnya Raja Juftin karena menerima bungkusan yang berisikan sepenggal kepala yang berbalut kain putih dan terdapat surat disamping kepala tersebut.


"Bukankah itu kepala Olla? Iya. Itu Olla, Yang Mulia." ucap Malik yang kaget melihat kepala yang ia kenali.


Raja Juftin tidak membalas ucapan Malik, ia membaca surat tersebut yang berisikan, 'Selamat atas kemenanganmu dan aku membawa hadiah untukmu. Semoga Yang Mulia Raja Juftin menyukainya.'


Setelah membaca surat, sang raja naik pitam lalu meremas kertas tersebut. Raja Carles berkata, "Kuburkan kepala ini ke tempat yang layak. Aku dengar dari kapten Jeffry jika dia adalah seorang pengkhianat yang membocorkan identitas Putri Yuna ke Raja Carles."


"Jadi, jangan kuburkan ke tempat pahlawan dan jangan membunyikan lonceng sebagai tanda penghormatan." sambung Raja Juftin.


__________________________________________________


BACK TO SCENE.


"Kenapa?" kata Putri Blue yang penasaran. "Apa yang sebenarnya terjadi pada pohon itu? Disana hanya ada beberapa pepohonan."


"Disana adalah tempat Medusa berkunjung dan tidak ada yang berani datang kesana karena kita tidak tahu kapan si Medusa itu muncul. Dan jika muncul tiba-tba lalu menatap matanya tanpa tidak disengaja maupun sengaja, maka akan menjadi batu," jawab salah satu seorang pelayan.


"Aku baru dengar ada makhluk yang namanya Medusa," ucap Putri Blue yang melihat ke arah pepohonan hitam tersebut.


"Medusa adalah seorang wanita cantik yang memiliki ular yang sangat banyak diatas kepalan sebagai rambutnya. Aku dengar dia terkena kutukan dan dia sebenarnya adalah dewi," ucap salah satu pelayan lagi yang memiliki kemampuan ramalan.


"Menurut ramalan, dia akan mati oleh Perseus atas perintah Raja Polidektes dari Serifos lalu kepalanya akan dijadikan senjata sebelum diberikan kepada Athena untuk ditempatkan pada perisai Aigis," sambungnya.


"Aduh, aku pusing mendengar penjelasanmu karena aku tidak peduli dengannya." Putri Blue membalik badan kearah pelayan yang memberikan ramalan. "Kau adalah seorang Penyihir Hitam, tetapi kenapa kau mampu melihat masa depan?"


"Itu sama halnya dengan Penyihir Putih yang mampu membuat obat," jawab pelayan tersebut.


Putri Blue masih memiliki tekad dan niat untuk pergi kesana, ia ingin sekali bertemu dengan Blue si serigala berbulu putih dan kebiruan yang melindungi Kerajaan Zarqo. "Aku akan pergi kesana sendirian. Ini hanya sebentar dan tidak akan lama karena aku akan menggunakan portal sihir kalian, dan kalian pantau aku dari sini. Jika ada Medusa, kalian berteriak atau meniup trompet atau membunyikan lonceng."


"Keselamatanku adalah tanggung jawab kalian, mengerti?" tanya Putri Blue.


Para pelayan menganggukan kepalanya dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh sang putri. Mereka dibagi dua tim, yaitu tim pertama yang bertugas untuk membuka portal dan tim memantau. Sedangkan tim kedua bertugas untuk membuat aksi heboh dengan cara berteriak dan membunyikan lonceng yang berukuran sedang menggantung diatas pintu kaca.


Putri Blue dengan mudahnya ke bawah sana dan berjalan di bawah pohon. Ia teringat cerita dari Kapten Jeffry yang mengatakan jika pohon beringin yang memiliki fungsi menyatukan kekuatan itu pernah berbatang hitam dan berdaun hitam sebelum digunakan untuk menyatukan kekuatan untuk si Pangeran Alex.


Ia menemukan daun yang hijau di pohon yang berwarna hitam karena kehadiran Blue si serigala tersebut. Putri Blue menyentuh daun itu dan tiba-tiba satu batang pohon serta dedaunannya berubah kembali seperti pohon normal karena ketika sang putri menyentuh daunnya maka aura sang putri yang berwarna biru itu keluar.


Aura yang  keluar dari tubuhnya lalu merambat pada daun hingga ke batang dan akar. Putri Blue kaget begitu pula dengan para pelayan yang berada diatas sana memantau gerak-gerik yang terjadi. Kemudian, Putri Blue memetik sehelai daun dan dari arah belakang, ia merasakan kehadiran seorang wanita dengan memakai gaun panjang berjalan kearahnya.


Putri Blue pura-pura tidak mengetahui jika ada makhluk yang berada dibelakangya, ia sengaja tidak membalikan badan dan menundukkan kepalanya. Daun yang ia petik pun terus digenggamnya dengan kuat. Para pelayan yang memantau itu pun mengetahui jika dibelakang tuan putri itu adalah Medusa.


Mereka dengan sigap membunyikan lonceng dan berteriak, "Tuan putri!"


"Sudah kuduga," batin Putri Blue yang dari awal menebak jika makhluk yang dibelakangnya adalah Medusa.


Medusa melihat balkon yang berisikan empat Penyihir Hitam yang memakai seragam seperti seorang pelayan. Dengan cepat para pelayan mengalihkan pandangan mereka supaya tidak menjadi batu dan mereka juga berhenti berteriak maupun membunyikan lonceng.


"Tuan putri? Jadi itu kau," ucap Medusa tersebut berjalan kearah Putri Blue.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir sang putri, ia tidak takut maupun bergetar badannya karena ia tahu risiko yang terjadi ketika ia berada disini. Medusa terus saja berjalan hingga ia berada disamping Putri Blue dan ular yang berada diatas kepalanya terus menggodanya dengan cara merayap di bahu sang putri.


"Kenapa kau tidak menjawab ucapanku? Hari ini kau terkenal dikalangan kegelapan sebagai anak dari raja Carles," kata Medusa yang berjalan sampai tepat berdiri dihapan Putri Blue.


"Apakah kau takut denganku? Jangan menunduk, aku ingin melihat wajahmu dari dekat."


Para pelayan panik karena Medusa terus mendekati sang putri hingga mereka mencari bantuan dalam istana. Sedangkan Putri Blue mengangkatkan kepalanya karena permintaan Medusa, tetapi ia menutup matanya. Tangan Medusa tetap terus mengelus wajah mulus sang putri.


"Kenapa kau tidak membuka matamu?" tanya Medusa yang mengeluarkan kekuatannya dari tangannya untuk membujuk musuhnya supaya membuka matanya.


Dengan perlahan sang putri membuka matanya dan menatap mata Medusa tersebut. Tetapi hal aneh terjadi, Putri Blue tidak berubah menjadi patung karena kekuatan aura birunya melindunginya dari kutukan Medusa. Medusa tidak menyangka jika hal seperti ini terjadi.


"Apakah kau puas melihat wajahku?" tanya Putri Blue yang menatap Medusa dengan tajam.


"Bagaimana ini terjadi? Siapa kau?" tanya Medusa yang tidak percaya.


"Aku adalah Putri Blue," jawab Putri Blue. "Kau bukan lawanku dan parasit seperti mu harus dimusnahkan di Auresta ini."


"Apa kau bilang?! Beraninya kau berbicara seperti itu denganku!" bentak Medusa yang tidak terima perkataan sang putri.


Medusa menyarang Putri Blue dengan sihir yang keluar dari tangannya. Sang putri terus saja menghindar supaya tidak terkena serangan. Medusa tertawa terbahak-bahak kerena lawan mainnya yang sombong terus saja menghindar seperti tikus bersembunyi disetiap celah yang dianggapnya aman.


"Kau tidak akan menjadi batu, tetapi kau akan mati."


"Bodoh, aku tidak memiliki kekuatan apa-apa," gumam Putri Blue ketka bersembunyi dibalik pohon.


Para pelayan yang berlari didalam istana pun berhenti secara mendadak karena ada seorang pelayan dari mereka berkata, "Jika kita mencari bantuan, itu sama saja kita akan disiksa karena kelalaian menjaga tuan putri."


Para pelayan tersebut mendiskusikannya. "Kau benar. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Kekuatan sihir Medusa sangatlah tinggi."


"Ini adalah tanggung jawab kita, kita harus menyelamatkan tuan putri," ucap salah satu pelayan.


Para pelayan melirik salah satu peayan yang berucap itu dengan sorot mata yang tajam sehinga membuat pelayan yang disorot tersebut kebingungan. "Kenapa kalian menatapku?"


Putri Blue terus saja bersembunyi dan tiba-tiba ia mendengar suara dari alam bawah sadarnya. Ia mengenali suara tersebut. Ia yakin jika suara tersebut adalah Blue.


"Kau bisa menggunakan kekuatanmu, Putri Blue. Tetapi kau tidak percaya diri dengan itu."


"Blue? Itu kau?" tanya Putri Blue. "Blue, kau dimana? Aku membutuhkanmu."


Putri Blue melirik kanan dan kiri untuk mencari Blue, tetapi hasilnya nihil. "Aku selalu bersamamu dan yang bisa menyelamatkan dirimu adalah kau sendiri. Ini baru permulaan, lawan dia."


"Tapi aku tidak bisa!" ucap Putri Blue dengan lantang sehingga Medusa mendengarnya.


"Oh, kau menyerah?" tanya Medusa. "Dimana letak kesombonganmu itu?"


Medusa menemukan sang putri yang bersembunyi dan menggunakan kekuatan sihirnya sehingga sang putri terbang terpelanting dan terseret di tanah lalu berhenti tepat pada danau. Putri Blue kembali berdiri tegak dan melhat dirinya diatas air danau.


Medusa kembali menyerang lawannya yang sedang lengah menatap air danau. Dan tiba-tiba si Putri Blue membalikan badannya lalu menebas serangannya dengan kekuatan sihir hitam yang ia miliki. SIhir hitam tersebut keluar dari tangan kanannya.


"Apa? Bagaimana mungkin sihir hitam bisa muncul tanpa menggunakan tongkat?" tanya Medusa.


"Sihirmu juga tidak keluar dari tongkat, apa bedanya?" tanya kembali Putri Blue.


Medusa tersenyum atas pertanyaan yang diajukan oleh Putri Blue. "Apakah kau bodoh? Kau penyihir dan aku adalah anak dari dewa laut kuno Forkis. Kita berbeda kasta dan kekuatan kita seharusnya berbeda."


"Jangan pernah membahas soal kasta, asal kau tahu ... semua makhluk hidup itu sama! Dan jangan pernah merendahkannya!" jawab Putri Blue. "Aku tidak peduli jika kau adalah anaknya siapa karena bagiku itu tidak spesial sama sekali. Kita ini sama-sama diciptakan oleh Tuhan."


"Hentikan omong kosongmu, kau sama saja seperti Blue yang suka berceramah. Aku pikir hanya mata dan namamu yang mirip dengan Blue. Ternyata tingkahmu sama sepertinya."


"Memang, karena Blue selalu ada bersamaku," ucap Putri Blue dengan tegas kepada Medusa.


Medusa menyerang lagi sang putri, tetapi dibalas kembali oleh sang putri Blue sehingga membuat si Medusa jatuh diatas tanah. Si Medusa tidak pantang menyerah, ia melawan kembali walaupun posisinya sedang terpojok karena kekuatannya sekarang sudah melemah. Putri Blue terkena serangan tersebut, tetapi ia tidak apa-apa.


"Apakah kekuatanmu sudah habis?"


 "Sial, awas saja kau!"


Putri Blue menggunakan kembali kekuatannya dan mencekik leher Medusa lalu mengangkatnya keatas udara menggunakan sihir hitam yang ia miliki. Para ular yang kepala medusa itu memberontak sehingga terus saja menyemburkan bisa racun yang keluar dari taring mulut si ular kearah Putri Blue.


Bisa ular tesebut tidak mempan karena Putri Blue telah dilindungi aura berwarna biru. Sang putri menghempaskan tubuh Medusa ke langit lalu terjatuh di tanah. Medusa yang pada saat itu kaku dan tak berdaya melihat Putri Blue berada di depan matanya.


"Aku minta maaf, jangan bunuh aku," ucap Medusa yang kehilangan banyak tenaga maupun kekuatannya.


"Aku tidak akan membunuhmu karena itu bukan tugasku."


Putri Blue pergi meninggalkan Medusa yang terkapar diatas tanah. Ia bertemu para pelayannya yang datang menghampirinya sambil membawa perisai dan alat pelindung diri seakan mau berperang. Putri Blue tertawa dan berkata, "Kalian kenapa?"


"Kami mau melindungi Anda, tuan putri."


"Iya, mana si Medusa itu?"


"Hahahaha," gelak tawa Putri Blue. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, tadi aku berbincang sedikit dengannya dan bermain petak umpet. Ayo kita pergi."


Para pelayan bingung karena ucapan sang putri. "Sejak kapan Medusa bermanin petak umpet?"