
"Tidak ada Orang tua yang tidak mengakui anaknya walaupun mereka membuangnya, bukan?" Mengambil buku sihir tersebut lalu ia mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya kemudian berkata, "Aku harus belajar."
Mark yang sebenarnya bersembunyi dibalik rak buku disebalah Putri Blue tersenyum miring karena mendengar ucapan sang putri yang sangat berfikir positif sekali terhadap Orang tuanya, yaitu Raja Juftin dan Ratu Gloria.
"Kita lihat apakah kau masih menyakini perkataanmu atau tidak," batin Mark yang lalu mengeluarkan sihir portalnya untuk pergi dari perpustakaan itu.
Putri Blue berifikir sebelum belajar, ia mengingat kejadian dimasa lalunya ketika belajar sihir hitam bersama Nyonya Anna. Semua tulisan dan simbol serta cahaya yang berkilauan keluar dari buku milik Nyonya Anna dan melayang ke udara yang kemudian mereka masuk kedalam diri sang putri.
Berkat itu, Putri Blue bisa menghajar Medusa dengan menggunakan sihir hitam. Putri Blue menjentikan jarinya sambil berkata, "Ah ... berarti aku belajar sihir dengan metode seperti itu!"
Putri Blue membuka semua buku sihir hitam maupun sihir putih lainnya, kecuali buku yang sama dengan Nyonya Anna. Putri Blue mengambil buku itu dan berencana untuk mengasihkannya kepada Nyonya Anna sebagai ganti rugi atas rusaknya buku kenang-kenangan peninggalan Ayahnya Nyonya Anna.
"Okey, siap."
Semua buku sudah terbuka dan cahaya kecil berwarna hijau kembali keluar dari semua buku itu. Tulisan hingga gambar simbol itu pun mengapung di udara dan sang putri sudah tidak takut lagi, ia bahkan berani menyentuh tulisan mengenai mantra tersebut dengan menggunakan jari terlunjuknya kemudian tulisan tersebut menyerap dalam jarinya.
"Sempurna!" Senyum lebar menyertai tawanya yang taraut di wajah cantik sang putri.
_____________________________________
DI KERAJAAN ZARQO.
Di siang hari yang sedikit mendung, Putri Alonia sedang menyibukan diri tentang mengatur pesta ulang tahunnya. Ia sibuk memilih mahkota yang akan dikenakan pada saat hari spesial terebut bersama Ratu Gloria disampingnya.
Wajah sang ratu terlihat bahagia walaupun hatinya hancur karena masih berduka atas meninggalnya anak pertamanya, yaitu Putri Yuna yang tidak lain adalah Blue. Ia tidak menyangka jika anaknya beneran meninggal dunia.
"Ibu, yang ini cocok tidak?" tanya Putri Alonia ketika memakai mahhota kecil emas berwarna kuning dengan permata putih yang berkiauan.
"Semua yang kau pakai, itu sangat cocok denganmu."
"Ayolah, Ibu! Ini untuk acara ulang tahunku, aku ingin tampil cantik didepan semua tamu dan juga di depan pangeran Alex!" kata Putri Alonia. "Pelayan, aku ingin mahkota yang paling bagus dan paling mahal di Auresta ini."
"Baik, tuan putri." Para pelayan yang mengurus aksoris Putri Alonia.
Putri Aloni pergi ke ruang ganti untuk mencoba beberapa gaun mewah. Ia memakai satu persatu gaun tersebut mulai dari gaun yang panjang hingga gaun yang pendek. Ia pun merasa kesal karena semua gaunnya tidak sesuai dengan impiannya. Menurutnya semua gaunnya terlihat biasa saja walaupun harga gaun yang ia coba itu sangat mahal.
"Bisa tidak kalian mencari gaun yang mewah dan cantik? Gaun ini biasa saja! Lihat ini, masa warnanya norak!" benatk Putri Gloria terhadap melayannya dan membuat para pelayannya itu merasa bersalah seingga mereka mengucapkan permintaan maaf.
Dengan kesalnya, ia duduk disamping Ratu Gloria dengan wajah ditekuk.Ratu Gloria yang sedang meminum secangkir teh itu bertanya, "Ada apa?"
"Gaunnya tidak ada yang bagus," jawab Putri Alonia. "Ibu, jangan lupa undang semua rakyat untuk datang ke sini dan siapkan kue yang enak dan mahal buat mereka."
Kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Ratu Gloria.
"Aku ingin membuat para bangsawan serta para pangeran dan putri di Auresta ini terkesan olehku. Apalagi dengan pangeran Alex, aku ingin dia mengagumi perbuatanku lagi pula dia udah pergi karena peperangan Selatan. Ini membuatku sakit hati karena belum sempat menghampirinya di kastil kita."
"Kau sepertinya menyukainya, benar tidak?"
"Tentu saja! Dia pangeran terganteng di Auresta, bagaimana aku tidak menyukainya kalau dia pintar, katanya dia juga memiliki kekuatan yang luar biasa di Auresta. Ibu, akan cocok dengan aku, kita kan dari keturunan suci di Auresta lalu menikah dengan pangeran yang spesial. Wah ... ini sangat hebat!"
Ratu Gloria tertawa kecil mendengar halusinasi anaknya yang sedang kasmaran dengan seorang pangeran. "Dasar, umurmu saja baru 15 tahun dan akan berganti 16 tahun. Kau terlalu kecil untuk memikirkan pernikahan."
"Aku senang jika seorang Ratu Gloria tersenyum. Jangan murung karena memikirkan putri Yuna, pikirkan aku saja, aku juga anak Ibu, Okey?"
Ratu Gloria memanggutkan kepalanya dan mengajaknya pergi. "Mau pergi ke toko kue?"
"Dengan senang hati, Yang Mulia Ratu."
Ratu Gloria dan Putri Alonia pergi ke sebuah toko kue yang besar dan mewah di Kerajaan Zarqo. Mereka berdua disambut antusias oleh pegawai toko dan pemilik toko bernama Aciel, seorang pembisnis muda pria yang sukses di kerajaan ini.
"Selamat siang, Yang Mulia Ratu Gloria dan Putri Alonia," ucap Aciel. "Namaku Aciel, aku adalah pemilik toko ini."
Sang ratu tersenyum dan berkata, "Bisakah kau membuat kue untuk pesta ulang tahun putriku?"
"Wah ... ini adalah hal yang terhebat yang pernah aku alami. Tentu saja, Yang Mulia," jawab Aciel yang merasa bangga karena dirinya ikut terlibat dalam kemeriahan pesta tersebut.
Putri Alonia langsung menanggapi jawaban Aciel. "Kalau begitu, buatkan kue yang banyak dan mewah."
"Bagaimana jika kue dengan taburan emas?" tanya Aciel kepada Putri Alonia.
"Emas? Memangnya emas bisa dimakan?" tanya balik Putri Alonia.
"Iya!" Semangat Putri Alonia ketika ia penasaran terhadap kue tersebut.
Putri Alonia dan sang ratu diajak ke meja spesial untuk mencicipi kue bertaburan emas yang bertaburan emas yang hendak dibelinya oleh Aciel. Disana mereka dilayani dengan sangat baik sehingga Putri Alonia dan Ratu Gloria sangat nyaman.
Mereka disuguhi secangkir teh beraroma melati yang hangat lalu para pegawai toko membawakan kue yang dimaksud. Kue tersebut diletakkan di atas piring kecil dengan lapisan emas tipis didalamnya serta emas yang bertaburan seperti topping.
Putri Alonia dan Ratu Gloria mencicipi kue tersebut dan mereka tampak menikmati kue tersebut. Putri Alonia berkata, "Ini kue yang paling enak yang pernah ku makan. Ada yang lain? Aku ingin bola-bola coklat itu juga ditaburkan emas. Bisakah kau membuatnya?"
"Bisa, Tuan Putri."
"Baiklah, kau akan bertanggung jawab untuk kue di hari ulang tahunku. Aku ingin kau membuat kue serta bola cokat itu yang banyak sebab aku akan mengundang semua rakyat disini dan para bangsawan serta para pangeran dan putri di penjuru Auresta ini."
"Tuan putri, kau sungguh berhati mulia katena mengundang semua rakyat untuk mencicipi makanan mahal ini. Aku akan sebaik mungkin membuatnya untuk di hari ulang tahun, tuan putri," ucap Aciel yang membua Putri Alonia tersenyum atas pujian yang diberikannya.
Putri Alonia mengeluarkan lima kantong besar yang berisikan berlian, Aciel yang menerima kantong besar tersebut pun terkaget-kaget dan mengucapkan terima kasih kepada Putri Alonia serta Ratu Gloria. Kemudian Putri Alonia serta sang ratu pun keluar dari toko kue tersebut. Putri Alonia sangat bahagia karena kue yang ia idamkan dapat terwujud dengan nyata.
Ketika kembali ke Istana Kerajaan Zarqo, Putri Alonia menyuruh para pelayan untuk menyebarkan undangan ke seluruh rakyat Zarqo dan para bangsawan Kerajaan Zarqo kemudian ke para pangeran dan putri di Auresta. Putri Alonia juga mengawasi dekorasi yang akan dipasang di ruangan dangsa di dalam istana hingga ke luar istana. Para pelayan di istana pada disubukkan oleh persiapan ulang tahun sang Putri Alonia yang semuanya harus sempurna.
Ketika undangan ulang tahun sudah selesai, ada salah satu pelayan bertanya kepada Putri Alonia. "Apakah tuan putri ingin mengundang Kerajaan Penyihir Hitam?"
"Dasar bodoh," jawab Putri Alonia. "Raja Carles belum punya anak. Jadi, tidak usah."
Semua undangan disebar luaskan, para suruhan Putri Alonia sebagian menempelkan kartu undangan ke papan pengumuman di seluruh Kerajaan Zarqo untuk rakyat dan sebagian para suruhan Putri Alonia memberikan undangan untuk para bangsawan Kerajaan Zarqo serta para pangeran dan para putri di penjuru Auresta.
Undangan itu diterima disemua kalangan hingga terdengar di kuping para anak buah Mark yang menyamar pada Kerjaan Zarqo. Mereka melaporkan kepada Mark yang sedang berada di bar yang biasa Mark kunjungi. Mark yang sedang meminum koktailnya.
____________________________________
DI KERAJAAN PENYIHIR HITAM.
Pada malam hari, Mark kembali ke istana untuk melaporkan berita yang ia dapat di Kerajaan Zarqo kepada Raja Carless yang sedang makan bersama dengan Putri Blue.
"Yang Mulia, Putri Alonia telah menyebarkan udangan pesta ulang tahun terbuka untuk rakyat Kerajaan Zarqo dan aku juga dapat kabar jika undangan itu juga disebarkan ke seluruh kerajaan di Auresta serta bangsawan Kerajaan Zarqo."
"Sepertinya kita tidak dapat undangan," ucap Raja Carles. "Apakah kau ingin datang, Putri Blue?"
"Hm? Aku? Memangnya boleh datang kalau tidak diundang?" tanya Putri Blue ketika ia sedang memotong daging dengan pisau.
"Hahaha, tentu saja boleh kalau kau mau," jawab Raja Carles. "Mark, kau boleh pergi."
Mark pun pergi atas izin Raja Carles dan Putri Blue tersenyum tipis lalu melanjutkan makanannya sambil berfikir jika Pangeran Alex pasti datang ke pesta tersebut dan ia juga teringat sapu tangan sang pangeran yang belum dikembalikan. Sapu tangan tersebut masih di kastil Kerjaan Zarqo.
Putri Blue terbengong karena itu sehingga membuatnya ditegur oleh Raja Carles yang terus memanggil namanya. "Putri Blue?"
Sang putri yang sadar langsung bertanya, "Kenapa, Yang Mulia?"
"Kau sekarang adalah anakku, panggil aku 'Ayah'."
Putri Blue menelan ludahnya ketika Raja Carles mengucapkan itu. Dengan ragu-ragu, ia mengeluarkan suara untuk menyebut Raja Carles sebagai Ayahnya. "A-ayah? Ayah, aku ada urusan dengan seseorang disana dan aku ingin bertemu dengannya," ucap Putri Blue.
"Siapa?" tanya Raja Carles.
"Ada seorang cowok."
"Pacarmu? Jangan pacaran. Itu membuang waktumu." jawab Raja Carles. "Bagaimana belajar sihirmu?"
"Aku sudah menguasai sihir hitam dan putih. Aku mengambil salah satu buku untuk dibaca-baca, bolehkan?"
"Boleh. Bagaimana jika besok kau belajar belajar kekuatan dalammu, seperti membaca pikiran, menghentikan waktu dan telepati."
Putri Blue meminum minumannya yang telah disajikan di atas meja makan, didalam hatinya ia berkata, "Dia ternyata baik daripada yang kuduga. Jadi, begini rasanya punya seorang Ayah. Menyenangkan, pasti Adikku sangat beruntung."
Setelah makan malam, Putri Blue kembali ke kamarnya dan mencoba hasil pembeajarnya. Ia ingin mencoba portal sihir karena Putri Blue menganggap kalau portal sihir itu sungguh menyenangkan. Putri Blue mematikan lampu kamarnya untuk melabui para pelayannya jika ia sudah tidur.
Putri Blue bersiap-siap dan berkonsentrasi untuk membuat portal, ia mengarahkan tangannya ke arah depannya lalu cahaya biru keluar dari tangannya lalu membuat portal yang bercahaya ungu dan membuat takjub sang Putri. "Wow! Biasanya portal itu berwarna hitam dan putih, tetapi ini warna ungu!"
"Ini kemana, ya?" tanya Putri Blue untuk dirinya sendiri yang tidak tahu jika portal ini mengarah kemana.
Putri Blue masuk kedalam portal tersebut hingga portal itu tertutup dan sang putri berada di sebuah ruangan yang gelap sehingga ia tidak kelihatan apapun, sampai-sampai ia menabrak hingga sebuah vas bunga terjatuh. Hati Putri Blue berdebar-debar ketika ia merasakan seseorang akan ke ruangan ini.