
"Aku merasa bersalah ketika semua beban kita dipikul olehnya," ucap Elle yang menatap sayu Putri Blue yang terbaring lemah tak berdaya.
"Kapten Sarah, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan merawatnya? Tetapi disini bukanlah tempat yang seharusnya ia tinggal," ujar Bella yang kebingungan yang tercampur aduk dengan kekhawatiran yang menyelimuti hati dan pikirannya.
"Untuk sementara dia disini terlebih dahulu, tetapi mau tidak mau keberadaan kita dan tempat ini akan diketahui olehnya," jawab Kapten Sarah. "Kalian rawat dia dan aku akan berdiskusi dengan Xio dan Jack tentang rencana berikutnya."
Elle dan Bella setuju untuk melaksakan tugasnnya sedangkan Kapten Sarah pergi keluar ruangan itu dan menemui Jack dan Xio yang sedang berada di luar markasnya. Mereka duduk dikursi yang terbuat dari rotan yang langsung berhapan di pinggir danau sangat indah pemandangannya.
Kapten Sarah datang dengan wajah yang mengekspresikan kecemasan ketika menghampiri mereka. Xio melihat Kapten Sarah dan bertanya, "Ada apa?"
"Aku tidak tahu kenapa perasaanku tidak enak," jawab Kapten Sarah yang langsung duduk dikursi yang masih kosong.
"Kau khawatir dengan gadis itu atau kau khawatir dengan keberadaan kita?" tanya Jack yang melihat kedatangan Kapten Sarah.
Terlihat sekali Kapten Sarah gelisah ketika ditanya oleh Jack, ia menundukkan kepalanya dan menjawab, "Dua-duanya."
"Jangan khawatir karena apa yang kamu khawatirkan tidak akan seburuk pada kenyataan," ucap Xio yang mencoba memenangkan Kapten Sarah.
"Nah ... benar tuh ..." sahut Jack yang setuju dengan ucapan Xio. "Aku tidak masalah keberadaan kita diketahui olehnya."
"Aku juga," jawab Xio. "Kita selama ini memperhatikan dia dari kecil hingga dewasa, menurutku dia pantas tahu keberadaan kita."
"Baiklah kalau itu keputusan kalian," ujar Kapten Sarah. "Aku merasa tidak pantas untuk menjadi kapten dan aku sebenarnya bukan kapten lagi."
Jack langsung menentang dan berucap, "Kata siapa? Kau adalah kapten kami, jangan berbicara seperti itu!"
Xio ikut berbicara, "Sudahlah, kita tunggu dia pulih dan semoga saja lukanya cepat sembuh."
Keesokan harinya, ketika mata hari telah terbit diantara pegunungan yang menjulang tinggi dan cahayanya menembus jendela kaca. Putri Blue mulai membuka kelopak matanya dari masa tidurnya yang lelap. Ia melihat plafon yang terbuat dari kayu dan ketika ia melihat kesamping kanannya, ternyata ada seseorang perempuan yang tidur di kursi dekat ranjangnya dan dibahu perempuan itu ada seorang peri.
Putri Blue tidak bisa mengingat kenapa ia berada disini karena yang ia ingat hanyalah rasa sakitnya kematian yang harusnya menimpa dirinya. Putri Blue terus bertanya-tanya kenapa ia masih hidup dan ia tidak tahu siapa mereka, Putri Blue terus saja menatap mereka yang sedang tidur pulas.
Tiba-tiba dari arah pintu, terdengar suara seseorang yang berjalan ke ruangan itu dan dengan cepat sang Putri Blue pura-pura memejamkan mata. Pintu tersebut terbuka dan ternyata si Kapten Sarah datang dan membangunkan Elle dan Bella.
"Bella! Elle! Bangun! Waktunya sarapan!"
Putri Blue terkejut karena mendengar nama tersebut, batinnya berkata, "Tidak mungkin, bukannya mereka sudah mati?"
Bella dan Elle terbangun dan Bella langsung terbang keluar dari ruangan itu sambil berkata, "Iya, aku akan sarapan."
Elle masih saja berada di kamar itu dan ia berdiri sambil meregangkan tubuhnya."Hooaaamm."
Kapten Sarah menepuk pundak Elle sambil berkata, "Bagaimana keadaan dia?"
"Lukanya sudah sembuh dan seharusnya hari ini dia sudah bangun," jawab Elle yang kemudian pergi meninggalkan Kapten Sarah di ruangan itu sambil berkata, "Ayo sarapan."
"Aku sudah sarapan."
"Ya udah, tolong jaga dia, Kapten Sarah."
Putri Blue semakin terkejut karena yang berada di ruangan itu bersamanya adalah Kapten Sarah. Hatinya merasa deg-degan ketika Kapten Sarah memegang keningnya, ia merasa tidak bisa menyembunyikan lagi kepura-puraannya karena berhadapan dengan Kapten Sarah.
Kapten Sarah terus memerhatikan Putri Blue dan ia berbicara, "Maaf karena kami, kau harus begini."
Putri Blue langsung menahan air ludahnya saat Kapten Sarah meminta maaf dengan dirinya. Ia tidak menyangka sama sekali akan terjadi seperti ini.
"Aku tahu, kau melewati hari demi hari yang sangat buruk. Karena kami, kau sengsara dan tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Sebenarnya, kami ingin meminta maaf sejak dari awal dan kami menyesal karena kami hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan," sambung Kapten Sarah dengan suara yang tersedu-sedu.
Putri Blue membuka matanya dan memegang tangannya Kapten Sarah yang berada di kening Putri Blue, kemudian melihat Kapten Sarah yang berada dihadapannya sedang menahan air mata supaya tidak jatuh membasahi kedua pipinya yang manis.
Putri Blue bangkit dari tempat tidurnya dan dibantu oleh Kapten Sarah yang terus memberinya perhatian. Putri Blue bertanya, "Ini dimana?"
"Tempat persembunyian atau kami sering menyembutnya dengan markas," jawab Kapten Sarah.
"Aku pikir, aku sedang berada di surga karena semua rakyat percaya kalau kalian sudah mati," kata Putri Blue yang terus memegang tangan Kapten Sarah.
"Sebenarnya tempat ini bisa disebut dengan surga."
"Jangan bercanda denganku, Kapten seolah menakutiku kalau aku sudah mati," jawab Putri Blue atas pernyataan dari Kapten Sarah.
"Kau tidak percaya? Akan aku tinjukan surga khusus untukmu!"
"Huh?!!"
Kapten Sarah menggenggam erat tangan Putri Blue dan mengajaknya keluar dari markas tersebut. Putri Blue melihat sekelilingnya kebun bunga dan terdapat danau dengan air yang biru menyejukan mata serta gunung yang menjadi latar dari danau tersebut.
"Woow! Ini sangat indah, lihat!" Putri Blue menunjuk langit yang berwarna biru cerah seakan mendukung keindahan alam tersebut.
"Kau suka?" tanya Kapten Sarah.
"Suka banget!!"
"Aku akan masuk ke dalam untuk mengambil sarapanmu."
"Makasih," jawab Putri Blue terhadap tawaran Kapten Sarah yang sangat baik hati.
Kapten Sarah pun pergi dan ketika Putri Blue berkeliling di kebun bunga nan elok tiba-tiba Xio datang dengan menggunakan portal sihirnya dan membuat Putri Blue tercengang sambil menunjuk Xio dengan mata yang terbelalak. "Kamu pasti Xio, bukan?"
"Iya," jawab Xio yang kemudian menanyakan pertanyaan kepada Putri Blue. "Bukannya kamu harus beristirahat?"
"Eh?! Aku ..."
Xio mendekati Putri Blue dan membuat Putri Blue merasa tidak nyaman sehingga ia harus memundurkan selangkah agar tidak terlalu dekat, Xio menatapnya dari atas hingga ke bawah. Putri Blue beranya, "Umm ... permisi, ada apa?"
"Baguslah kau kelihatannya sudah sembuh," ujar Xio. "Kapten Sarah sangat mengkhawatirkanmu dan Bella dan Elle merawatmu dari kemarin."
Putri Blue berkata, "Aku tidak tahu harus mengucapkan apa selain berterima kasih kepada kalian semua, aku sangat bersyukur karena sudah mempercayakan kekuatan kalian kepadaku dan aku memiliki petualangan hidup yang sangat luar biasa."
"Aku tahu, aku terlalu banyak kehilangan orang yang aku cintai dan terlalu banyak penderitaan yang aku alami, tetapi aku menikmati seluruh perjalanan hidupku" sambung Putri Blue.
Xio tersenyum sambil berkata, "Kami selalu berada disampingmu walaupun kau tidak melihat kami."
"Kenapa kalian tidak pernah menunjukan bahwa kalian itu masih hidup?" tanya Putri Blue kepada Xio sambil menatap matanya.
"Susah untuk dijelaskan, tetapi aku bisa menceritakannya untukmu. Aku tahu kalau kau suka dengan cerita yang dibawakan oleh kapten Jeffry."
Putri Blue langsung tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dengan pandangannya ke bawah. Xio mengerti dengan sikap Putri Blue karena ia membahas Kapten Jeffry dan pembahasan itu sangatlah sensitif dihati Putri Blue.
"Aku meminta maaf kalau membawa namanya dan aku tidak bermaksud untuk –" omongan Xio langsung dipotong oleh Putri Blue yang berkata, "Tidak apa-apa, aku senang mendengarkan cerita."
"Nanti malam akan aku ceritakan semuanya untukmu bersama mereka," ucap Xio.
Tidak berselang lama, Kapten Sarah datang sambil membawakan sarapan untuk Putri Blue dan berkata, "Oh kamu disini, aku dari tadi nyariin kamu."
"Ah ... maaf," jawab Putri Blue yang merasa bersalah kepada Kapten Sarah.