AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
REVEALED THE TRUTH I: SISTER



"Aku menghargai ajakanmu makan siang hari ini dan terima kasih telah mengajak aku bercerita," ucap Putri Blue yang mecoba menenangkan hatinya.


"Tetapi tetap saja, aku bukan Putri Yuna," sambung Putri Blue yang mengelak mengungkapkan kebenarannya.


"Baiklah, besok hari kematianmu dan rakyatmu yang harus kau lindungi akan bersenang-senang di hari kematianmu setiap tahun."


"Apa?!" kata Putri Blue dengan nada keras lalu menghela nafasnya dan bebicara lagi. "Huft.. Sekarang aku mengerti, kau menculikku dan mengatakan hal ini untuk menghasutku supaya bisa bergabung denganmu, bukankah begitu?"


"Jika kau tidak percaya, aku akan mengajakmu berjalan-jalan bersama asistenku."


Putri Blue terguncang hebat dan ia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa, lalu Raja Carles memakan makanannya dan menyuruh Putri Blue memakan. Sebenarnya ada rasa curiga terhadap makanan yang di sajikan di meja, tetapi Putri Blue memilih makanan yang diambil Raja Carles untuk meminimalisirkan bahaya yang akan terjadi.


________________________________________


KASTIL KERAJAAN ZARQO.


Semua prajurit serta semua pelayan dan koki memandang Olivia dengan tatapan penuh kecurigaan lalu mereka bubar setelah Kapten Jeffry pergi meninggalkan Olivia yang menangis. Lalu ada seorang pelayan perempuan yang mendekati Olivia kemudian membawanya keluar ruangan makan.


Pelayan itu membawa Olivia di taman depan kastil yang tak jauh dari ruang makan serta ada kursi taman dibawah pohon. Disanalah si pelayan perempuan dan Olivia itu duduk dengan berlatarkan bunga warna-warni yang bertebaran di taman tersebut.


"Kenapa kau membantuku?" tanya Olivia yang mukanya masih dalam kesedihan.


"Aku membantumu karena menolong adalah kewajiban sesama makhluk," jawab pelayan itu yang membuat Olivia termenung dan mengintropeksi dirinya sendiri.


"Bagaimana jika kau menolong orang jahat?" tanya Olivia dengan sungguh-sungguh.


Pelayan itu tersenyum sambil menjawab, "Pada dasarnya setiap makhluk tidak jahat dan karena keadaan kehidupannya yang mebuat tingkah laku menjadi jahat." jawab pelayan perempuan. "Mau aku ambilkan air?"


"Tidak usah, terima kasih," tolak Olivia secara halus.


"Koki Olivia pasti haus, aku akan mengambilkannya."


Pelayan perempuan itu juga mengambilkan segelas minum untuk Olivia, tetapi ketika ia kembali lagi untuk diberikan segelas minum itu, Olivia telah pergi dan si pelayan itu sempat mencari Olivia. Tetapi ia tidak dapat menemukan Olivia.


Olivia datang menghampiri Kapten Jeffry menggunakan portal sihirnya dan di depan Kapten Jeffry, ia berkata, "Aku ingin jujur denganmu, tetapi tidak disini."


"Baiklah," ucap Kapten Jeffry. "Lalu dimana?"


"Markas Tim Pasukan Elit." jawab Olivia.


"Baiklah, aku akan menunggumu di Markas Tim Pasukan Elit."


Kapten Jeffry berjalan keluar kastil dengan menunggangi seekor Griffin yang berada di kastil milik Kerajaan Zarqo. Lalu Griffin itu terbang melesat di udara dan mendarat di depan markas yang dijagain oleh prajurit. Lalu Kapten Jeffry turun dan para prajurit itu membawa Griffin serta memberinya makan daging segar yang nikmat.


Kapten Jeffry masuk dan ia hanya menemui Malik saja di markas, langsung saja ia bertanya kepada Malik. "Dimana Olla?"


"Dia tiba-tiba mual dan demam dan izin tidak bekerja. Aku rasa dia kelelahan karena menyebarkan informasi untuk ujian masuk prajurit."


Tiba-tiba saja ada laporan dari prajurit ditengah-tengah pembicaraan Malik dengan Kapten Jeffry. Seorang prajurit itu melapor jika ada gadis yang mencari Kapten Jeffry. Dan langsung saja si Malik menatap sang kapten dengan penuh arti seraya ia mengira sang kapten telah memiliki pacar.


"Bawa dia masuk," perintah Kapten Jeffry kepada prajuritnya.


Dan tidak berselang lama, prajurit itu datang dengan membawa Olivia dan prajurit itu pergi. Olivia tidak berani melirik Kapten Jeffry dan berkata, "Aku juga ingin bertemu Yang Mulia Raja untuk menjelaskannya."


Kapten Jeffry tertawa kecil dihadapan Olivia dan menjawab, "Haruskah bertemu dengan raja Juftin?"


"Iya," jawab Olivia dengan penuh keyakinan. "Aku ingin mengungkapkan kebenaran."


Olivia menoleh dan tersenyum kearah Malik dan secara cepat Kapten Jeffry memegang tangan Olivia dan membawa Olivia keluar markas untuk menuju ke istana. Lalu secara kebetulan sang Raja Juftin bersama Ratu Gloria sedang berkeliling istana dan mereka berpapasan bertemu.


"Kenapa kau membawa gadis ini masuk ke dalam istana?" tanya Raja Juftin dengan tegas.


"Be..." ucap Kapten Jeffry yang dipotong langsung oleh Olivia.


"Maafkan aku," ucap Olivia langsung  menekukkan kedua lututnya menjadi tumpuannya ia berdiri sambil meneteskan air matanya.


"Aku adalah seorang rakyat yang pengkhianat dan merupakan salah satu mata-mata dari Kerajaan Penyihir Hitam," sambungnya.


Pernyataan Olivia membuat mereka semuanya terkejut. Para pengawal raja dan ratu pun bergerak ingin menangkap gadis itu yang bertekuk lutut dihadapan Raja Juftin dan Ratu Gloria. Dengan segera si Raja Juftin memberinya aba-aba berhenti dan Kapten Jeffry menegakkan kembali Olivia tetapi Oliva masih tidak ingin berdiri.


"Anak Anda telah diculik oleh Mark bersama anak buahnya," ucap Olivia.


"Apa kau bilang?" tanya Raja yang badannya sudah kaku.


"Anak pertamamu sudah diculik dan berada di Istana Kerajaan Penyihir Hitam!" jawab Olivia dengan lantang sekali.


Sang Ratu Gloria menangis karena ia sangat merindukan anaknya selama ini. Hatinya tercabik-cabik mendengar ucapan gadis yang mengakui kejahatannya dihadapannya. Dan Raja Juftin memerintahkan pengawalnya untuk menangkap gadis itu.


Dengan sigap Kapten Jeffry menjadi benteng dihadapa Olivia dan membela, "Dia sudah mengakuinya, kenapa dia tetap ditangkap?"


"Aku mengapresiasikan pengakuannya, tetapi penjahat harus dihukum dengan aturan yang ada," ucap Raja Juftin dengan tegas.


Oliva berdiri tegak dengan mata yang bengkak dan berkata, "Silahkan tangkap aku."


Kapten Jeffry tidak bisa menghalangi para pengawal untuk mengkap Olivia karena Olivia sudah mengikhlaskan dirinya dan mengakui semua kejahatannya. Kapten Jeffry hanya terdiam dan melihat Olivia dibawa pergi ke sel bawah tanah.


"Ratu Gloria, hapus air matamu dan jangan sampai putri Alonia melihatmu seperti itu!" seru Raja Juftin. "Dan kau, Kapten Jeffry. Ikut aku."


Raja Juftin pergi dan disusul oleh Kapten Jeffry meninggalkan sang Ratu Gloria bersama para pelayan ratu. Ratu Gloria pergi menuju kamarnya untuk berdiam diri dikamarnya. Para pelayan ratu yang mendengar pengakuan gadis itu langsung berubah menjadi bahan perbincangan panas di dalam kerjaan.


Ketika Ratu Gloria beristirahat, para pelayan itu bergosip  di luar istana sehingga terdengar ketika Putri Alonia melewati para pelayan itu. Putri Alonia mendatangi mereka dengan gaya sombong dan memandang sini kepada para perlayan yang membuat mereka terdiam seketika.


"Prok ... prok ... prok," suara tepuk tangan yang diberikan oleh Putri Alonia.


"Beraninya kalian bergosip di area istana ini," kata Alonia terhadap para pelayan itu.


Semua para pelayan itu tidak berani berbicara kepada Putri Alonia dan sampai pada akhirnya salah satu pelayan Putri Alonia melaporkan situasi tentang kejadian barusan di istana.


"Tuan Putri Alonia, aku mendapat kabar jika putri Yuna masih hidup dan dia berada di Istana Kerajaan Penyihir Hitam. Ada seorang gadis mengakui sebagai penghianat serta mata-mata dari kerjaan tersebut dihadapan raja dan ratu."


"Jadi, kakakku masih hudup?!" tanya Putri Alonia yang terkejut.


"Iya."


Putri Alonia mengepalkan tangannya dan berkata, "Jangan ada yang membocorkan gosip ini sampai ke luar istana. Jika ada yang membocorkannya, nyawa kalian akan terancam."


Setelah berkata mengancam, Putri Alonia pergi menjumpai sang ratu. Ia membantin pintu kamar ratu dan membuat Ratu Gloria yang sedang duduk di atas kasur itu terkaget dan memutarkan kepalanya melihat Putri Alonia yang berjalan menghampiri dirinya. Putri Alonia menghadap sang ratu dan melihat muka Ratu Gloria yang sedang menangis.


"Jadi benar jika putri Yuna masih hidup," ucap Putri Alonia.


Ratu Gloria tertegun mendengar ucapan Putri Alonia yang telah mengetahui tentang Putri Yuna. Sang Ratu Gloria pun memanggukkan kepalanya karena ia tidak ingin berbohong dan menutupi tentang Putri Yuna dihadapan Putri Alonia.