
"Maksudmu aku akan mati secara perlahan? Tenang saja, setiap makhluk hidup akan mati hanya tinggal menentukan waktunya, apakah cepat atau lambat," ucap Putri Blue yang terlihat tegar agaar Peri Naiad itu berhenti menangis.
"Jika kau ada waktu ataupun bantuan, pergilah ke sini dan temui kami karena kami memiliki hutang budi kepadamu." kata Peri Naiad yang kemudian terbang menyusul sekelompok Peri Naiad yang sudah duluan pergi masuk ke hutan terlarang.
_________________________________
ISTANA KERAJAAN PENYIHIR PUTIH.
Raja Azka mencari anaknya yang sejak dari tadi menghilang dihadapannya padahal sebentar lagi pesta sedang dimulai. Zefron yang melihat sang raja kebingungan itu langsung bergegas membantu dan pergi ke kamar sang pangeran, tetapi ruangan itu kosong dan hanya ada kertas yang berisikan tulisan di atas meja belajar sang pangeran.
Baju yang di berikan oleh Putri Alonia pun tidak dipakai dan Zefron membawa surat itu ke Raja Azka yang tengah menyiapkan kuda. Sang raja membaca isi pesan tersebut yang menuliskan tentang Pangeran Alex menunggu di perbatasan wilayah.
"Pangeran Alex tidak memakai baju pesta yang diberikan oleh putri," ucap Zefron yang melapor kepada Raja Azka.
"Anak itu, rupanya secara tidak langsung dia menolak tunangan itu. Mau tidak mau dia harus bertunangan dan menikah dengan putri Alonia karena ini tawaran yang bagus untuk menguasai Kerajaan Zefron secara diam-diam," ujar Raja Azka yang kekeh jika tunangan itu tetap akan diadakan.
"Aku akan ikut ke pesta itu," sambung Raja Azka.
Semua kuda telah dipersiapkan dan masuk ke dalam portal sihir untuk pergi ke perbatasan wilayah Kerajaan Zarqo, disana mereka bertemu dengan Pangeran Alex yang sedah berbicara dengan penjaga perbatasan. Pangeran Alex tampak begitu akrab dengan mereka semuanya hingga tidak ada prajurit yang segan lagi kepada Pangeran Alex.
Ketika Raja Azka datang bersama Zefron dan pasukan kudanya, suasana hangat pun berubah menjadi tegang, para penjaga dengan sigap berdiri kemudian memberikan hormat kepada Raja Azka begitu juga dengan Pangeran Alex. Raja Azka berkata, "Naiklah ke kudamu."
Pangeran Alex menaati perintah sang ayahnya yang kemudian mereka pergi ke Istana Kerajaan Zarqo. Di tengah-tengah perjalanan, Raja Azka berbicara kepada Pangeran Alex. "Kau seharusnya tidak bergaul dengan para rendahan. Sebagai pangeran dan keluarga kerajaan, kau seharusnya tahu dimana letak kastamu."
"Apa maksud Ayah? Ayah marah karena aku mengobrol dengan para penjaga? Bagiku, tidak ada kasta dalam kehidupan. Hanya ada baik dan jahat di kehidupan ini," ucap Pangeran Alex.
""Sejak kapan kau menentang Ayah?" tanya Raja Azka yang mulai emosi kepada anaknya.
"Aku tidak pernah menentang, hanya saja aku ingin Ayah berubah dan mengurungkan niat untuk menguasai Kerajaan Zarqo."
"Tidak bisa, kau akan tunangan hari ini."
"Tidak, aku tidak mau," ucap Pangeran Alex yang memberhentikan kudanya yang kemudian Pangeran Alex menghentikan waktu dan menggunakan portal sihirnya untuk pergi ke hutan terlarang karena ia masih menyakini jika Putri Blue berada disana.
Pangeran Alex melihat Putri Blue sedang berdiri sambil melihat kearah langit dan ia pun turun dari kudanya yang kemudian berjalan menuju sang putri yang sedang berdiam karena waktu telah berhenti. Ia memeluk sang putri dengan begitu erat sampai ia tidak menyadari jika waktu telah berjalan dengan normal dan Putri Blue tersadar kalau ia sedang di peluk.
Mereka berpelukan di padang rerumputan depan hutan terlarang yang disaksikan oleh bintang-bintang kecil yang bersinar terang dan rembulan yang cerah berseri memancarkan cahayanya. Pangeran Alex mengungkapkan isi hatinya kepada Putri Blue.
"Toong jangan menolakku lagi jika aku menyukaimu dan aku ingin hidup denganmu selama-lamanya."
Mendengar kalimat manis yang keluar dari bibir sang pangeran membuat Putri Blue terharu dan menitihkan air matanya, ia juga merasakan kesedihan karena mustahil sekali jika ia bersama Pangeran Alex. Putri Blue menjawab, "Kau yakin denganku? Aku hanya wanita miskin yang akan meminta jatah makanan."
Pangeran Alex melepaskan pelukannya dan mengelap air mata Putri Blue menggunakan tangannya yang kemudian berkata, "Tadi siang kau kemana? Aku menunggumu untuk makan siang denganku."
"Aku ada urusan penting," ucap Putri Blue yang tertawa kecil memandang wajah Pangeran Alex.
"Apakah kau kerja sampai-sampai kau lupa janjian denganku?" tanya Pangeran Alex yang maulai ngambek.
Putri Blue mengeluskan kepala sang pangeran dan berkata, "Wah ... kau ganteng seperti ini."
Rambut Pangeran Alex diacak-acak oleh Putri Blue yang mulai iseng karena Putri Blue tidak ingin menjawab dengan jujur kepada pangeran. Pangeran Alex memegang tangan Putri Blue dan berbicara serius kepadanya. "Kenapa kau menghindar pertanyaanku?"
"Aku memiliki pekerjaan dan aku diberi makanan gratis serta uang yang banyak makanya aku bisa membeli semua Peri Naiad di dalam satu toko. Sekarang Peri Naiad itu sudah kembali ke rumah barunya," menunjuk hutan terlarang.
"Perang belum usai dan aku tidak tahu apa-apa dimasa depan nanti. Aku tidak tahu apa keputusanku untuk hidup bersamamu atau tidak karena perang ini mengganggu pikiranku, tetapi aku menyukaimu juga," sambung Putri Blue.
"Jadi, jika perang sudah selesai maka kau akan hidup denganku?"
Putri Blue menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Tentu saja."
Padahal didalam hati sang putri sungguh tidak yakin sekali untuk bisa bersama sang pangeran mengingat Pangeran Alex juga tahu kalau kisah asmaranya bersama Putri Blue sungguh bertentangan dengan tugas mereka hidup.
"Kau akan ke pesta, bukan?" tanya Putri Blue.
"Aku malas dan ingin bersamamu."
Putri Blue tertawa dan berkata, "Jangan terlalu menyukaiku nanti kau tidak bisa melupakanku. Aku ingin ke pesta itu karena ada seseorang temanku disana."
"Siapa dia? Wanita atau pria?" tanya Pangeran Alex yang mulai cemburu.
"Ambert," jawab singkat Putri Blue yang mengeluarkan sihir dari tangannya untuk menciptakan portal sihir menuju Istana Kerajaan Zarqo.
"Ambert? Eh ... tunggu, kalau kau kesana, maka auramu akan menarik perhatian para penyihir," peringatan Pangeran Alex.
"Aku terlahir untuk berbeda, lagi pula si Ambert juga sedikit memiliki aura biru karena aku menduplikasi diriku agar mirip denganku. Kau tenang saja, yang jadi permasalahannya, aku harus menyelamatkan Ambert," ucap Putri Blue yang berlari ke portal miliknya.
Sedangkan Pangeran Alex merubah kudanya menjadi Griffin dengan bantuan tongkat sihir miliknya yang kemudian menyuruhnya pulang dan sang pangeran menyusul Putri Blue yang terlebih dahulu masuk ke portal. Setelah itu, Pangeran Alex masuk ke portal sihir Putri Blue yang warna portalnya sungguh berbeda juga dari portal pada umumnya.
Kemudian portal itu tertutup dan Pangeran Alex berada tepat di samping dinding istana yang disepannya Putri Blue sedang mengintip salah satu kereta kuda yang terparkir. Pangeran Alex melihat kereta kuda yang dikemudikan oleh Mark.
"Mark berarti disini," ucap Pangeran Alex. "Pesta ini dalam bahaya."
"Tidak-tidak, bukan begitu ... pesta ini akan tetap aman karena Mark tidak melakukan sesuatu," jawab Putri Blue yang menuai kecurigaan Pangeran Alex.
"Kau bekerja untuk raja Carles, bukan?" tanya Pangeran Alex yang membuat Putri Blue terdiam. "Blue, kau menyerahkan hidupmu demi mereka supaya Kerajaan Zarqo menang dan kau harus menanggung semua penderitaanmu sendirian, benarkan?"
Putri Blue menghiraukan pertanyaan Pangeran Alex dan memilih berlari kearah kereta kuda tersebut karena melihat kondisi yang aman lalu mengetuk pintu keretanya. "Ini aku, cepat buka."
Putri Blue hanya memagang mahkota itu tanpa ia kenakan dan berkata, "Akhirnya terbongkar juga, aku memang tidak bisa berbohong dengannya, dia terlalu pintar untuk mengamati keadaan walaupun aku mencoba menyembunyikannya dari kekuatan pembaca pikiran."
"Apa maksud tuan putri?" tanya Ambert. "Jangan-jangan pria itu, yang tuan putri sedang berpelukan di dekat arah perbatasan?"
Pangeran Alex yang ingin pergi ke kereta kuda tersebut, tiba-tiba dihampiri oleh Zefron untuk masuk ke dalam istana karena pesta dansa telah dimulai dan para rakyat serta bangsawan sudah memuju dan berada di Istana megah dengan konsep yang super mewah sekali.
Semua datangnya datang termasuk putri dari Kerajaan Polip bersama pasukannya yang berniat untuk menghancurkan pesta serta memberikan pelajaran oleh Putri Alonia. Lonceng telah berbunyi yang menandakan Putri Alonia memberikan sambutan hangat kepada mereka semua yang datang didalam istana.
Putri Alonia memakai gaun yang sangat cantik dan mewah berwarna marah serta tidak lupa menggunakan mahkota kebanggaannya karena mahkota itu adalah mahkota yang paling termahal di Auresta. Ia melirik kekananan dan kekiri untuk mencari Pangeran Alex.
Ketika ia melihat Pangeran Alex yang berjalan bersama Zefron dan memakai baju yang tidak kompak dengannya, ia merasa marah dan jengkel kepada Pangeran Alex. Ia pun bertanya-tanya didalam hatinya. "Apakah pangeran menolak pemberian hadiahku?"
Putri Alonia ditegur oleh Ratu Gloria karena wajah sang putri terlihat jelas kemarahannya dan berkata, "Cepat berikan salam dan mulailah acara pestanya."
Dan sang putri memberikan senyuman kepada seluruh rakyatnya dan juga para bangsawan yang berada di pesta itu. "Terima kasih kepada semuanya dan aku sangat senang sekali kalau kalian menyempatkan diri untuk hadir ke pesta kecil ini."
Putri Alonia berdo'a didalam hatinya jika ia ingin bersama Pangeran Alex selama-lamanya dan meniup lilin yang tertanam diatas kue milikya. Dan suara tepuk tangan pun terdengar meriah hingga ke luar istana. Si Ambert memegang tangan Putri Blue dan berkata, "Ini salah kami karena kami menyuruhmu datang kesini sedangkan kami lupa jika tuan putri memiliki aura yang berbeda. Jadi, jangan dipaksakan."
Putri Blue hanya tersenyum dan berkata, "Kalian sudah mempersiapkan gaun seindah ini dan aku tidak akan mengecewakan kalian. Aku sebenarnya menyukai seseorang pria yang kau lihat tadi dan aku tidak ingin dia berdansa dengan wanita lain."
Putri Blue memakai mahkota tersebut dan melepaskan jubah hitam miliknya yang kemudian keluar dari kereta kuda. Dan tia-tiba Raja Azka memberikan pengumuman kepada seluruh rakyat dan membuat suara berisik tersebut menjadi hening seketika. Hati Pangeran Alex pun tidak tenang karena Ayahnya telah membuat malu dirinya dihadapan semua makhluk.
"Saya ingin mengumumkan jika anak saya, yaitu Pangeran Alex akan bertunangan dengan Putri Alonia dihari spesial ini."
Betapa bahagianya Putri Alonia mendengar ucapan Raja Azka dan ia merasa Tuhan telah berpihak kepadanya untuk mengabulkan semua keinginannya. Pangeran Alex segera berdiri di samping Putri Alonia karena dipaksa oleh Zefron dan Raja Azka memberikan kotak kecil yang berisikan cincin.
Raja Azka berbisik, "Jangan mempermalukan Ayahmu."
Dengan terpaksa Pangeran Alex membuka kotak cincin tersebut dan berkata, "Maukah kau menikah denganku?"
Pertanyaan Pangeran Alex didengar oleh Putri Blue yang berada di atas tangga yang menuju ke ruangan pesta. Raja Juftin yang meilihat putrinya telah hidup kembali mengatakan, "Tidak mungkin Putri Yuna masih hidup."
Dari perkataan Raja Juftin, Ratu Gloria serta yang lain menatap Putri Blue hingga ia menjadi sorotan tajam semua makhluk. Putri Alonia berkata, "Wanita itu yang berada luar pemakaman."
"Dia bukan Putri Yuna, tetapi Blue," kata Pangeran Alex. "Putri Blue."
Putri Blue memancarkan aura biru yang sangat kental sehingga mirip dengan si pelindung Kerajaan Zarqo bernama Blue. Semua tamu terpukau karena keindahan dan paras cantik Putri Blue dengan balutan gaun yang mewah dan mahkota yang sama dipakai oleh Putri Alonia.
"Aku pernah bertemu dengannya, tetapi aku tidak mengenal putriku sendiri," batin Ratu Gloria yang berlari kearah tangga itu hingga ia rela berlari ditengah-tengah tamu undangan untuk bisa mencapai tangga tersebut dan melepas kerinduan yang selama ini ia pendam sendirian.
Para tamu undangan memberikan jalan untuk Ratu Gloria dan ia memeluk anaknya itu sambil berkata, "Ibu kangen kepadamu."
"Aku harus pergi," ucap Putri Blue yang melepaskan diri dari pelukan sang Ratu Gloria.
Rat Gloria tetap saja tidak melepaskan pelukannya dan membuat Putri Blue berkata, "Aku Blue dan bukan Yuna. Aku dari dulu bukan anggota keluarga istana ini, keluargaku sudah lama menghilang."
Dengan perlahan sang ratu melepaskan pelukannya yang kemudian Putri Blue berjalan dan dan membuka portalnya kembali untuk pergi dari dalam istana karena kehadirannya telah membuat kacau pesta Putri Alonia apalagi ia telah merusak momen ketika Pangeran Alex bertunangan dengan Putri Alonia.
Semua rayat dan pera tamu undangan pun kebingungan melihat kejadian ini dan bertanya-tanya tentang kejadian ini. Putri Alonia kesal karena pesta impiannya telah hancur berantakan dan ia pun pergi dari ruang dansa tersebut. Ia berjalan dengan mulut yang tidak berhenti berbicara. "Kenapa coba dia datang? Putri Yuna ataupun Putri Blue sama-sama mengganggu kehidupanku. Hah! Aku benci dia!"
Raja Azka mulai bertanya kepada Raja Juftin. "Apa maksud semua ini? Kau meciptakan kekuatan baru lagi?"
"Itu semua karena kau yang ingin menguasai Kerjaan Zarqo!" bentak Raja Juftin. "Sarah dan timnya sudah mengetahui akal busukmu dan kau sama saja dengan raja Carles yang ingin menguasai kami! Beraninya kau menggunakan Pangeran Alex sebagai penyerang kami!"
Karena ucapan Raja Juftin yang sangat kuat dan terdengar oleh seluruh tamu undangan termasuk rakyat Kerajaan Zarqo membuat mereka marah terhadap Raja Azka. Raza Azka pun berkata, "Jangan asal tuduh, kau tidak punya bukti yang kuat, Raja Juftin. Pangeran Alex, ayo kita pergi dan batalkan tunangan ini."
Pangeran Alex dengan senang hati membukakan portal untuk Ayahnya dan pergi meninggalkan istana tersebut. Raja Juftin berkata, "Maaf atas semuanya. Sekarang kalian bisa menikmati hidangan semua ini."
"Pesta baru saja dimulai," ucap Putri Ravta dari Kerajaan Polip yang berada di tengah kerumunan makhluk-makhluk lain yang pergi meninggalkan ruangan.
"Ikuti Putri Alonia dan buat dia menyesal atas semua perbatannya," perintah Putri Ravta kepada pasukannya.
Pasukan Putri Ravta pun mengejar Putri Alonia yang pergi secara diam-diam dan membuat suasana hatinya begitu puas. Putri Alonia yang sedang berada di dalam kamarnya pun dikejutkan oleh tiga makhluk yang besayap mendobrak pintunya dengan paksa.
Putri Alonia terkejut dan bertanya, "Apa mau kalian? Kalian mau harta?"
"Lebih dari harta, kami mau nyawamu," ucap salah satu makhluk tersebut yang tidak lain adalah makhluk dari Kerajaan Polip yang merupakan wujud dari manusia memiliki sayap burung elang dan matanya sangat tajam seperti mata elang.
Putri Alonia ketakutan dan berteriak sekuat mungkin, tetapi tidak ada yang mendengarnya sama sekali karena musik telah dibunyikan sehingga tidak ada yang tahu jeritan sang putri. Ketiga makhluk tersebut membuat formasi, dua diantara mereka menjaga kondisi dalam kamar serta diluar kamar dan hanya satu yang bisa mengeksekusi Putri Alonia.
Makhluk itu mengeluarkan pedang dihadapan Putri Alonia dan membuat ia semakin ketakutan. Ketika pedang tersebut telah diayunkan kepada dirinya, Putri Alonia segera menghindar. Akan tetapi dengan cepat, prajurit suruhan Putri Ravta tersebut menendang hingga Putri Alonia terhempas ke luar jendela dan berpegangan di sela-sela dinding istana agar ia tidak jatuh dari ketinggian.
"Ah ... tidak ... jangan sakiti aku. Tolong selamatkan aku!" teriak Putri Alona. "Apa salahku kepada kalian?!"
"Kau harus membayar ini karena telah menginjak Bangsa Polip," jawab makhluk itu sambil terbang dan mengarahkan pedangnya untuk menusuk kepada Putri Alonia dari atas.
Dengan spontan si Putri Alonia berteriak, "Kakak!"
Dan makhluk itu terjatuh karena sihir dari Putri Blue menyelamatkan Putri Alonia. Putri Alonia melihat ke bawah dan melihat Putri Blue sedang mendekati makhluk tersebut. Putri Blue berbisik, "Jangan ganggu adikku."
Putri Blue berteriak, "Bertahanlah, aku akan datang."
"Aduh ... aku lupa, aku tidak bisa menggunakan sayapku," gumam Putri Blue yang kebingungan karena ia tidak bisa menyelamatkan Putri Alonia.