
"Putri Alonia!" teriak Ratu Gloria.
"Ada apa, Ibu?" tanya Putri Alonia yang berbalik badannya.
Pangeran Alex membungkukkan badannya lalu mencium tangan Ratu Gloria. Sang ratu tersenyum kepada Pangeran Alex, tetapi mata sang ratu masih terlihat jelas sembab setelah menangis. Sang ratu pun menyapa Pangeran Alex dengan ramah sekali.
"Pagi, Pangeran Alex?" Sambut hangat dari Ratu Gloria
"Pagi juga, Yang Mulia Ratu."
Ratu Gloria menatap mata Putri Alonia dan berkata, "Putri Alonia, sekarang kita akan pergi ke makam putri Yuna."
"Tapi ..." ucap Putri Alonia yang dipotong langsung oleh Pangeran Alex.
"Kebetulan kami mau jalan, aku rasa Ratu Gloria bisa ikut jalan dengan kami,"
"Baiklah," jawab Ratu Gloria. "Kita pergi sekarang."
Pangeran Alex mengeluarkan muka yang begitu manisa dengan kata-kata yang sangat sopan kepada Ratu Gloria. "Dengan senang hati, Yang Mulia Ratu."
__________________________________
DI PENJARA BAWAH TANAH PENYIHIR HITAM.
Putri Blue keluar dari penjaranya dan mengikuti Mark dari belakang lalu ia melirik dikit ke arah gadis itu, wajah gadis itu sangat pucat dan tangannya ada bekas luka bakar serta rambutnya berantakan sekali. Lalu sang putri juga menoleh kanan dan kiri, banyak sekali Golbin yang ditangkap serta ada tahanan kecil.
"Apakah itu Peri?" batinnya yang bertanya-tanya ketika melihat tahanan yang berukuran kecil.
"Kau akan ikut aku ke sana dan jangan pernah merepotkan aku ketika kau disana," ucap Mark yang menoleh ke belakang dan membuat Putri Blue terkaget karena asyik melihat sekeliling penjara bawah tanah.
"Ah ... iya," jawab Putri Blue.
"Olivia ditangkap karenamu," kata Mark.
"Karena aku?"
"Dia meminta bantuan untuk menolongmu dan mereka malah menuduh kalau Olivia adalah pengkhianat lalu dengan terpaksa ia mengakui kejahatannya di depan raja Juftin serta ratu Gloria, tetapi mereka menangkapnya," jelas Mark yang sangat menambah cerita sebenarnya.
"Oh tidak, dia melakukan semua itu demi aku? Tidak! Dia terlalu baik karena ini, dia seharusnya tidak boleh dipenjara karena aku,"
Mark membuat portal dan berkata, "Masuklah, aku ingin menyelamatkan dia. Walaupun dia berada dipihakmu, tetapi dia juga mata-mataku."
"Tunggu, apakah kau ingin membunuhnya?!" tuduh Putri Blue yang menunjuk jarinya ke arah Mark.
Mark tersenyum kecil dam melihat tangan Putri Blue yang menunjuk dirinya. Sang putri menarik kembali tangannya lalu meminta maaf sambil tersenyum memperlihatkan giginya.
"Tidak akan, pakai ini ..." Mark mengasihkan cincin emas putih bermata berlian hitam yang sangat mewah kepada Putri Blue.
"Untuk apa ini?" tanya Putri Blue yang menerima cincin itu.
"Pakai saja."
Putri Blue sangat ragu memakai cincin itu dan Mark mengambil kembali cincinnya lalu memegang tangan kiri Putri Blue. "Jangan bergerak atau kau akan mati hari ini."
Mark memasangkan cincin itu ke Putri Blue dan berkata, "Dengan cincin ini, aku bisa mengetahui lokasimu."
Dari perkataan Mark, Putri Blue teringat jika Pangeran Alex juga bisa mengetahui lokasinya ketika di hutan terlarang. Pangeran Alex muncul tiba-tiba di pagi hari dengan suasana yang masih gelap gulita. "Karena sapu tangan itu ...."
"Tidak apa-apa, aku teringat sapu tanganku yang lagi di di jemur dan belum ku angkat," kata Putri Blue dengan spontan.
Mark menggelengkan kepalanya lalu menyuruh Putri Blue untuk masuk ke dalam portal. Dengan terpaksa sang Putri Blue melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam portal sihir. Ia berada di perbatasan dan disana ia kebingungan sekali sampai-sampai ada petugas penjaga perbatasan menghampiri dirinya.
"Ada yang bisa dibantu?"
"Dimana aku?" tanya Putri Blue kepada penjaga.
"Seharusnya kau tahu dimana sekarang karena kau keluar dari portal."
"Teman aku menyuruhku masuk dan ..." ucap Putri Blue yang diptong oleh Mark yang merubah wajahnya.
"Adikku!" sapa Mark kepada Putri Blue.
Prajurit itu berkata, "Tuan Xavier, oh ... ini adikmu yang sakit itu?"
"Tentu saja," jawab Mark sambil tersenyum.
Putri Blue sangat kebingungan dan ia hanya bengong ketika disana. Ia sungguh tidak mengenal pemuda tampan nan tinggi yang berada di sampingnya. Tetap ketika ia melihat pemuda itu dengan seksama, maka terlihat jelas aura hitam yang mirip seperti aura penyhir hitam.
"Jangan-jangan Mark," batinnya sambil melihat ke arah pemuda tersebut.
Prajurit itu mengizinkannya untuk masuk ke Kerajaan Zarqo. Mark berkata, "Teruslah seperti ini dan jangan mencoba untuk kabur dariku."
Mark mengeluarkan tongkatnya dari jubahnya dan membuat portal lagi. "Aku tidak tega melihatmu jalan kaki dan masuklah ke portal ini, kau akan sampai ke kota."
Putri Blue menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Aku tidak terbiasa merepotkan orang lain termasuk dirimu, Mark."
Putri Blue lebih memilih berjalan kaki daripada masuk ke portal dan meninggalkan Mark dengan portalnya yang terbuka lebar. Putri Blue masih ingat dan hafal jalan ke kota maupun ke kastil karena ia pernah berjalan di jalan ini bersama Pangeran Alex dan Olivia.
Mark melihat Putri Blue dan terbayang Kapten Sarah dipikiraannya. Putri Blue tiba-tiba berubah menjadi Kapten Sarah yang terlihat dari belakang. Ia pun memalingkan wajahnya dan melangkahkan kakinya untuk pergi masuk ke dalam potal.
Ketika ditengah-tengah jalan, banyak sekali orang-orang maupun makhluk-makhluk mitologi berkerumunan di sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi. Putri Blue pada awalnya sangat biasa saja dan menghindari kerumunan itu dengan berjalan capet, tetapi ia mendengar jika itu adalah tempat makam anggota kerajaan.
"Mereka berkumpul disini karena hari ini adalah hari kematianku."
Putri Blue ingin berjalan, tetapi ada seorang prajurit berteriak, "Yang Mulia telah tiba!"
Semua makhluk disana menekukkan kakinya dan membut Putri Blue kebingungan, ia menoleh kanan dan kiri sampai pada akhirnya Ratu Gloria, Putri Alonia, dan Pangeran Alex datang. Putri Blue sama sekali tidak menghormat kepada mereka semuanya.
"Hei! Kenapa kau tidak menghormat?!" ucap prajurit itu yang menggunakan nada tinggi ke arah Putri Blue.
Pangeran Alex terkejut dan terus menatap Putri Blue. Sedangkan Putri Blue melihat Ratu Gloria dengan rambut berwarna coklat yang diikat sanggul dibelakang kepalanya dan dihiasi mahkota mewah dengan emas dan berlian putih di kepala sang ratu. Dan begitu pula dengan anting serta kalung yang dipakai.
Putri Blue juga melihat gadis cantik jelita disamping Ratu Gloria yang memakai mahkota kecil, tetapi tetap mewah karena batu berlian berwarna pink menghiasi mahkotanya. Gadis itu berambut coklat yang sama dengan Ratu Gloria. Lalu ia menatap Pangeran Alex dan bertanya, "Apakah kau baik-baik saja?"
Dengan tiba-tiba si prajurit itu mendatangi Putri Blue dengan rasa kesal dan langsung menarik kasar Putri Blue untuk menghindar dari jalan yang menghalangi masuk anggota kerajaan yang lewat. Pangeran Alex langsung bertindak dan berkata, "Hentikan!"
Semua yang berada di tempat itu merasa kebingungan apalagi Putri Alonia yang menatap sinis gadis yang tidak sopan berbicara kepada Pangeran Alex. Lalu Pangeran Alex mendekati prajurit itu dan melepaskan tangannya yang menyentuh lengan Putri Blue.
"Aku memiliki urusan dengan gadis ini, maaf aku tidak bisa ikut, Yang Mulia Ratu Gloria dan Putri Alonia," ucap Pangeran Alex menggenggam tangan Putri Blue dan membawanya ke portal sihir dengan bergandengan tangan lalu masuk bersamaan.
Putri Alonia kesal karena ia tidak bisa pergi dengan Pangeran Alex dan bergumam, "Siapa gadis miskin itu yang berani mendekati pangeranku?!"