
Putri Blue membalikkan badannya kemudian ia berhenti dan berkata kepada Pangeran Alex, "Bisakah kau cepat jalannya? Jalan disampingku aku tidak ingin kehilanganmu dan mencarimu lagi."
Perkataan Putri Blue cukup untuk membuat sang Pangeran Alex tersenyum dengan lebar. "Kenapa? Kau mengkhawatirkanku?"
"Tidak, tetapi repot jika aku harus berlari untuk mencarimu!" oceh Putri Blue yang melakukan rolling eyes dengan tangan kirinya di pinggang
Pangeran Blue melangkah maju tepat dihadapan Putri Blue lalu mengangkat tubuh Putri Blue lalu menggendongnya di depan. Putri Blue terkejut dan ia memberontakkan kakinya seraya berteriak, "Apa yang kau lakukan padaku?!"
"Pasti kau capek karena berlari untuk mencariku," ucap Pangeran Alex yang mengarahkan wajah serta senyuman kearah wajah Putri Blue.
Putri Blue tidak berani menatapnya, ia memilih untuk memalingkan mukanya. Ia merasakan jatungnya berdegup dengan kecang ketika Pangeran Alex melihatnya. Ia mecoba menetralkan dirinya, tetapi tidak bisa.
"Lepaskan aku, kumohon." perintah Putri Blue dengan suara yang lemah lembut dan memberikan senyuman kepadanya.
"Tidak mau," jawab Pangeran Alex yang muai berjalan pergi dari tengah-tengah hutan.
Putri Blue memasang muka cemberutnya yang sangat imut dan ia tertegun disaat Pangeran Alex menggendong tubuhnya. Sang pangeran memasang muka cool yang menawan hati siapapun yang memandangnya. Sebenarnya didalam hatinya, si Putri Blue sudah mengakui ketampanan Pangeran Alex hanya saja ia tahu kalau dia adalah musuhnya.
Putri Blue menatap wajah pangeran dari bawah dan jantungnya masih berdetak dengan sangat cepat. Ia memerhatikan bibir merah meronanya dan ia teringat dengan Kapten Jefrry yang pernah melakukan ini dengannya. Hanya saja, ia berdebar tak karuan sekarang ini.
"Kenapa kau melihatku?" tanya Pangeran Alex yang menatap ke arah depan. "Nanti kau suka denganku."
"Suka? Aku tidak pernah menyukaimu, adanya kau yang jelas sekali menyukaiku."
Pangeran Alex berhenti dan melihat kearah Putri Blue. "Aku memang suka denganmu."
Wajah Putri Blue langsung memerah dan seakan jantungnya mulai berhenti berdetak akibat pernyataan sang pangeran. Ia sama sekali tidak percaya dengan hal ini. Kedua pipinya yang merah terlihat dengan jelas dimata Pangeran Alex.
Mata kedua insan tersebut bertatapan dengan dalam dan asmara Pangeran Alex tidak tertahankan lagi, ia berani jujur di hadapan Putri Blue. Pangeran Alex juga melihat dirinya dihadapan Putri Blue bukan sebagai pria yang ia sukai malahan ia dianggap musuh dikarenakan cerita dari Kapten Jeffry.
"Apakah kau menyukaiku?" sambung Pangeran Alex.
"Aku menyukaimu? Itu sangat tidak mungkin." jawab Putri Blue.
"Kau menganggapku musuh karena omongan Kapten Jeffry," ucap Pangeran Alex yang membuat Putri Blue risih karena dia telah membaca pikirannya.
"Turunkan aku!" suruh Putri Blue.
Pangeran Alex menurunkan Putri Blue dan berkata, "Aku tahu jika kau putri yang disembunyikan oleh Raja Juftin untuk membunuhku dan menyelamatkan rakyat kalian dariku dan aku tahu jika kau sama sepertiku."
"Tapi itu hanya ramalan kuno tentang diriku yang akan berperang dengan kerajaanmu. Aku telah berubah karenamu," lanjut Pangeran Alex yang memegang tangan Putri Blue. "Kau menyukaiku, tetapi kau menguburnya di dalam perasaanmu,"
"Kau tahu ini semua?" tanya Putri Blue melepaskannya pengangan tangan Pangeran Alex. "Aku tidak peduli. Yang penting rakyatku tidak menderita lagi. Aku akan mengorbankan apapun termasuk cintaku."
Pangeran Alex mengasihkan pedangnya kepada Putri Blue lalu bercakap dengan lantang, "Bunuh aku sekarang juga."
"Kau gila?" Putri Blue mengembalikan pedang tersebut dan ia langsung membalikkan badannya lalu pergi. "Jangan hilang lagi, aku benar-benar benci denganmu!"
"Aku tahu, kau benar-benar menyukaiku walaupun kau tidak pernah menunjukkan dengan sikapmu." batin Pangeran Alex.
Pangeran Alex menyusul Putri Blue dan mereka berjalan berdua, mereka berjalan tanpa adanya topik pembicaraan sama sekali, hanya ada suasana sunyi yang membelenggu mereka berdua. Tiba-tiba ada suara hewan yang menjerit dan membuat suasanan hening mereka pecah.
"Suara Pegasus," ucap Pangeran Alex yang matanya melirik sekelilingnya.
Putri Blue langsung berlari ke arah itu dan disusuli oleh Pangeran Alex, ketika Putri Blue sampai di titik lokasi, ada seekor pegasus yang terperangkap oleh perangkap yang terbuat dari besi akibat dari jebakan itu, kakinya terperangkap dan berdarah.
Putri Blue mencoba megelus-elus lembut leher si Pegasus tersebut dan ia berusaha menenangkan Pegasus itu yang terbaring lemah. Pangeran Alex terjongkok dan menatap perangkap tersebut.
Pangeran Alex mencoba melepaskan perangkap tersebut menggunakan tongkat sihirnya. Ia memunculkan tongkatnya setelah itu membaca mantra dan mengarahkan tongkatnya ke perangkap tersebut lalu perangkapnya terlepas.
Kemudian, ia menghilangkan tongkatnya kembali dan ia memulai lagi menggunakan kekuatannya, sang putri melihat telapak tangannya mengeluarkan cahaya dan ketika telapak tangannya berada diatas lukanya pegasus seketika sembuh dengan sekejap mata.
"Hebat dan itu bukan sihir," kata Putri Blue yang terpukau.
"Memang bukan, ini kekuatan langka. Kekuatan yang bisa menyembuhkan," jawab Pangeran Alex.
"Huft ... jika ada perang, sudah pasti aku akan kalah." batin Putri Blue.
Pegasus itu bisa kembali berdiri dan kepalanya menunduk kepada mereka berdua seakan berterima kasih kepada mereka berdua. Putri Blue sangat senang dan wajahnya terpancar senyum lebar sambil memeluk Pegasus tersebut.
"Seandainya kalau Pegasus itu aku," gerutu Pangeran Alex yang cemburu.
"HEI KALIAN! APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN HEWAN BURUANKU?"
"Kayak kenal tuh suara," kata Putri Blue yang mendengar suara laki-laki yang berteriak.
Pangeran Alex menatap tajam. "Kau kenal?"
Kabut di hutan mulai meredam ketebalan seiring cahaya matahari yang hendak keluar, mereka melihat dengan jelas ada si Montaur yang berdiri tepat di hadapan mereka dengan jarak yang jauh.
"Ah ... aku kenal, aku pernah bertemu dengannya saat kau hilang." jawab Putri Blue.
Si Montaur itu berjalan ke arah mereka dengan membawa kapak yang tajam dan besar. Pangeran Alex sudah bersiaga jika ada keributan yang terjadi. Si Pegasus tersebut menyembunyikan kepalanya di belakang tubuh Putri Blue seakan ketakutan.
"Kami disini untuk menyelamatkan Pegasus ini yang terluka dari perangkapmu!" tegas Pangeran Alex untuk menjawab teriakan si Montaur.
"Apa kau bilang?" Si Montour terpancing emosi karena hewan buruannya direnggut oleh para manusia.
"Ini namanya pemburuan ilegal! Apakah kau tahu itu?!" jawab Pangeran Alex yang lantang sekali.
Si Montaur itu mengayunkan kapaknya ke arah Pangeran Alex dan untungnya si pangeran bisa menghindar dengan gesit. Tetapi tetap saja, si Putri Blue yang menonton adegan itu dengan tegang, perasaannya berdebar was-was.
Pangeran Alex mulai memunculkan tongkatnya dan menyerang kembali Montaur dengan sihir putihnya. Kapak besar milik Montaur di jadikan prisai untuk melindungi dirinya dari serangan sihir. Putri Blue tidak bisa berbiat apa-apa karena ia tidak memiliki kekuatan sihir.
"Tidak ada cara lain selain ini," batin Putri Blue.
"Tolong!! tolong! para Peri!" teriak Putri Blue. "Ada yang merusak alam dihutan ini, tolong kami! Siapapun yang mendengarkan permintaan tolong ini! Cepat datang kesini!"
Montaur itu tertawa dan berujar. "Kau pikir para Peri akan menolongmu?! Hahahaha"
"Hei Montaur! Kau seperti pecundang yang terlalu mudah untuk marah! Kau itu salah!" teriak Putri Blue. "Kau itu pemburu ilegal, kau sama saja jahatnya dengan Raja Carles! Menangkap makhluk hidup dengan cara menyiksanya, dimana hati nuranimu?"
"Putri Blue!" bentak Pangeran Alex yang menoleh kearah Putri Blue.
Montaur itu menyerang lebih ganas dan mulai menyeruduk Pangeran Alex yang sedang lengah lalu sang pangeran terpental jauh yang membuat Putri Blue berteriak memanggil nama sang pangeran. Punggung Pangeran Alex menghantam batang pohon yang besar lalu jatuh ke tanah.
"Beraninya kau menyelakai dia," kata Putri Blue yang berjalan ke arah montaur itu dengan tatapan amarahnya.