AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
REVEALD THE TRUTH V: EXPLANATION



DI KASTIL KERAJAAN ZARQO.


"Apa maksudmu? Kenapa kau memberikan pesan itu kepadaku? Bukannya kau tidak percaya kepadaku?" tanya Pangeran Alex kepada Kapten Jeffry.


Kapten Jeffry menjawab, "Bukankah kau berbicara jika masa depan bisa berubah?"


Pangeran Alex kehabisan kata-kata karena Kapten Jeffry menjawab seperti itu. Ia menghela nafas panjangnya ketika sang Kapten Jeffry bersikap seperti orang yang lebih dewasa di depannya.. "Kau akan pergi perang, bukan? Makanya kau berkata seperti itu?"


"Sangat tidak sopan membaca pemikiran orang lain," ucap Kapten Jeffry yang segera pergi melewati Pangeran Alex.


"Cinta itu rumit, terjebak pada perasaan seorang gadis.


Memberikan perhatian, kasih sayang, dan mengkhawatirkannya.


Ternyata itu tidak cukup, menyedihkan sekali."


Ungkap Kapten Jeffry di dalam hatinya yang berjalan di bawah gemerlapnya bintang-bintang pada malam hari dan melihat lapangan latihan. Ia ingat jelas ketika ia pertama kali mengajarka pedang kepada Putri Blue di usia 10 tahun. Ketika itu ia mengajarinya memegang pedang.


Lalu, Kapten Jeffry ingat ketika usia Putri Blue kalah bermain pedang dengannya dan sang putri selalu kalah dengannya. Putri Blue tidak patah semangat, ia langsung mengambil pedang kembali dan menantang Kapten Jeffry dan ia memenangkannya.


Kapten Jeffry juga ingat ketika Putri Blue tiduran di bawah pohon di sampingnya dan senyuman sang putri sangatlah indah terpasang di wajahnya. Sang Putri sangat senang jika dirinya bercerita, dan ia membayangkan jika sang putri berlari mengelilingi lapangan karena dirinya.


Dengan sangat jelas, ia membayangkan wajah kelelahannya, keringat yang menetes di keningnya, serta luka pada kakinya. Dan pada akhirnya ia ketiduran di lapangan ini. Ia juga ingat kalau ia menggendong Putri Blue ketika kakinya terluka. Tetapi sang putri masih memperlihatkan senyuman manisnya


Sang kapten mengerutkan dahinya dan memejamkan matanya. Kepalanya menunduk sambil mengepalkan tangannya. Ia pun mendongakkan kepalanya ke atas dan tampak berlinang air matanya yang kemudian menghirup nafasnya lalu menghembuskan kembali.


"Maafkan aku, jika aku tidak dapat melindungimu, aku benar-benar tidak pantas," ucap Kapten Jeffry yang teringat wajah Olivia yang menangis di hadapan prajurit dan ia membantunya berdiri. Ia memegang tangannya dan membaca masa lalu dari kisahnya.


_____________________________________


FLASHBACK.


Mark menawarkan tugas kepada Olivia untuk melancarkan aksi penculikkan Putri Blue. Olivia bimbang karena tugasnya yang begitu berat. Ketika Mark pergi, ia menyusul Mark dan berkata, "Apa tugasku?"


"Bongkar rahasia putri Yuna dan pastikan ada para pelayan raja dan ratu karena mereka suka bergosip di istana. Buat mukamu menyedihkan, lalu mengakui semua kejahatanmu di depan raja dan ratu. Aku akan menjemputmu ketika perang akan terjadi," jelas Mark.


"Perang?" kata Olivia yang terkejut.


"Iya, wilayah selatan kerajaan ini telah dikuasai dan memperluaskan wilayah selatan dengan sepenuhnya," jawab Mark dengan nada dinginnya.


Olivia yang bersikap kebingungan lalu bertanya, "Lalu, siapakah yang menculik Blue? Eh ... maksudku putri Yuna?"


"Mata-mataku yang telah memberikan informasi tentang putri Yuna akan menjadi pemeran utama rencanaku."


"Aku mengerti."


______________________________________


BACK TO SCENE.


"Ah ... memngingat itu bikin sakit hatiku," ucap Kapten Jeffry. "Aku harus melindungi semuanya. Tidak akan aku biarkan mereka menang."


Kapten Jeffry pergi dari lapangan tersebut dan keluar dari kastil. Ia memandang kastil tersebut dan pergi menunggangi Griffrinnya yang berada di luar kastil.


Ketika pagi hari yang cerah, semua pasukan prajurit telah berkumpul di istana dan Kapten Jeffry sedang berjalan dihadapan mereka sambil menunggu burung merpatinya datang untuk membawa surat kabar. Sedangkan para rakyat sibuk mendekor kota dengan meriah.


Para prajurit sudah mempersiapkan senjatanya berupa pedang dan pemanah lalu berpakaian zirahnya yang yang terbuat dari besi. Sebagian prajurit juga memakai baju zirah yang dilengkapi kain dibelakangnya dan dipasangkan di bahu pakaian itu yang menandakannya sebagai penyihir.


Kapten Jeffry juga memakai pakai zirahnya dengan gagah berani dan ia tetap menunggu burung tersebut. Raja Jufrin datang bersama pengawal raja. Sang raja juga memakai zirahnya dan berkata, "Apakah sudah mendapatkan kabar?"


"Belum, Yang Mulia Raja," jawab Kapten Jeffry.


Putri Alonia melihat mereka semua leat kaca jendela dilantai atas yang tirainya terbuka dengan sangat lebar. Mukanya mengekspreskan ketidak percayanya terhadap kejadian ini.


"Demi putri Yuna, mereka melakukan semua ini? Kalau gitu kenapa mereka membuang putri Yuna dan mengatakan jika dia telah mati. Ini sulit dipercaya," ucap Putri Alonia yang dibelakangnya terdapat para pelayannya dan sang putri pergi untuk bertemu Ratu Gloria yang sedang termenung ditaman.


Putri Alonia duduk disamping sang Ratu Gloria dan berbicara, "Ayah mau pergi untuk berperang. Jika Ayah mati berarti kerajaan ini jatuh ke tangan raja Carles dan ki ..."


"Cukup, Putri Alonia!!" bentak Ratu Gloria yang memotong pembicaraan anaknya itu.


"Kenapa Ibu membentakku? Aku berbicara baik-baik dengan Ibu, seandainya putri Yuna benar-benar mati, pasti hari ini tidak ada peperangan!" kata Putri Alonia yang menaikkan pita suaranya itu dihadapan Ratu Gloria.


Sang ratu merasa tersinggung karena perkataan Putri Alonia seakan ia berharap Putri Yuna benar-benar mati, ia langsung menampar pipi wajah sebelah kanannya dengan keras. "Dia adalah Kakakmu, seorang Orang tua akan melindungi anaknya jika dalam bahaya."


Putri Alonia kaget ketika di tampar, ia memegangi pipinya yang bekas di tamparnya itu dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangisan. Ia baru pertama kalinya ditampar oleh Ratu Gloria selama ia hidup. Putri Alonia menatap matanya Ratu Gloria dan menjawab pernyataan sang ratu.


"Jika Orang tua melindungi anaknya, kenapa baru sekarang kalian lindungi?"


"Jaga ucapanmu! Dari sejak ia lahir, kami telah melindunginya untuk menghindari kejadian ini!" ucap Ratu Gloria yang terserut emosinya dengan menahan tangisan.


"Baiklah," jawab Putri Alonia berdiri tegak dan menyambungkan ucapannya. "Melindunginya dari kejadian ini? Ini sungguh tidak masuk akal. Jadi, kalian membungnya karena ingin melindunginya? Ibu bahkan tidak pernah jumpa dengannya!"


"Dia sangat istimewa daripadamu!!" teriak Ratu Gloria yang akhirnya membuat sang Putri Alonia terdiam sebentar dan Ratu Gloria menangis. "Ibu rela menahan rindu kepada anaknya karena tidak ingin dicurigai oleh orang lain dan terbongkar siapa dia sebenarnya."


Putri Alonia sangat terpukul karena omongan Ratu yang berteriak dan ia juga teringat ucapan gadis yang di sel penjara jika ia sangat berbeda sekali dengan Putri Yuna. "Benarkah? Jika perang ini kalah, maka aku tidak akan bisa memaafkan putri Yuna karena kejadian ini."


Putri Alonia pun melangkahkan kakinya yang diikuti para pelayan dibelakangnya. Putri Alonia mengelap matanya dan tiba-tiba saja ia bertemu dengan Pangeran Alex yang sendirian tanpa ada aistennya. Mereka berdua bertemu di dalam istana.


Putri Alonia langsung menundukkan badannya dan menegakkannya kembali, seperti seseorang yang hormat kepada Pangeran Alex lalu bertanya, "Kenapa Pangeran Alex disini?"


"Aku kesini karena ada urusan bisnis tertunda. Kalau begitu, aku pamit pulang dahulu," ucap Pangeran Alex yang ingin meninggalkan Istana Kerajaan Zarqo.


"Tunggu" kata Putri Alonia.


"Ada apa, tuan putri?" tanya Pangeran Alex yang menolehkan wajahnya ke arah Putri Alonia.


"Aku ingin mengajakmu untuk pergi ke luar istana dan menikmati perayaan yang diselenggarakan oleh rakyat," tawar Putri Alonia yang sambil memasang muka manis di depan Pangeran Alex.


"Perayaan apa? Apakah perayaan kematian putri Yuna? Aku tidak tertarik dengan perayaan ini," jawab Pangeran Alex yang sangat digin.


Putri Alonia memohon kepada Pangeran Alex untuk bisa pergi berduaan dengannya. "Aku butuh teman dan aku ingin bergabung dengan rakyatku."


"Baiklah, tetapi ajak pelayanmu karena jalan ke arah kastil harus melewati kota terlebih dahulu, bukan? Hitung-hitung Putri Alonia menemaniku untuk perjalanan pulang," jelas Pangeran Alex.


"Pangeran tinggal di kastil?" tanya Putri Alonia.


"Iya, aku disini karena aku menyukai Blue."


Putri Alonia tertawa karena mendengar jawaban Pangeran Alex yang membuatnya menggelengkan kepanya. "Blue? Makhluk mitos itu? Baiklah, aku mengerti. Ayo kita pergi."