
Putri Blue menitihkan air matanya karena mengingat masa lalunya. Ia memegang tangan Pangeran Alex sambil memohon kepadanya. "Bantu aku, mereka akan kalah perang dan aku tidak ingin kehilangan kapten Jeffry."
Pangeran Alex menatap Putri Blue dengan tatapan sayu, ia melepaskan tangannya dan berkata, "Aku tidak bisa membantumu karena aku bukan dari bagian kerajaan ini."
"Setidaknya kau bisa bantu karena teman!" teriak Putri Blue lalu menarik rambutnya dan mencoba mengontrol emosinya.
"Maafkan aku, kau benar," ucap Putri Blue dengan nada rendah lalu membalikkan badannya dan ingin ketempat peperangan, tetapi ia dicegat oleh Pangeran Alex yang menarik tangannya sehingga mereka berdua saling bertatapan.
"Jangan kesana, kau hanya bisa menguasai membaca pikiran, memanah, dan bermain pedang. Sihir Perimu saja baru sangat dasar. Kau tidak bisa mengubah masa depan dengan kekuatanmu yang seperti itu," jelas Pangeran Alex sambil mengelap air mata Putri Blue.
Putri Blue tersenyum sinis menanggapi perkataan yang dilontarkan oleh Pangeran Alex. Ia memberhentikan usapan tangannya lalu mengangkat tangannya si pangeran yang sedang menyentuh pipinya. Putri Blue menatap tajam mata Pangeran Alex kemudian ia mengatakan, "Jika kau tidak ingin membantuku, seharusnya kau tidak menjatuhkanku dengan perkataanmu."
Putri Blue melepaskan genggaman tangan Pangeran Alex lalu pergi meninggalkannya. Pangeran Alex ingin mengejar, tetapi anak perempuan kecil itu langsung berucap, "Kakak itu bukan hanya merubah kerajaan ini, tetapi ia bisa merubah Auresta."
Pangeran Alex kembali menatap anak kecil itu dan berkata, "Katakan ramalan masa depan kepadaku kira-kira kisah asmaraku dengan Kakak barusan."
"Kalian akan menjadi pasangan yang terpisahkan," jawab anak kecil tersebut yang mencoba memeramkan matanya dan mendapat gambaran jika Putri Blue memakai gaun hitam selutut, berambut hitam pendek, dan bermata biru itu terjatuh dipelukan Pangeran Alex lalu mengucapkan selamat tinggal kepada sang pangeran.
"Dipisahkan oleh siapa?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya yang menandakan ia tidak tahu. Pangeran Alex tersenyum manis dihadapannya lalu menrogoh koncetnya dan mengambil sekatong kepingan emas. Selanjutnya ia mengasihkan kepada gadis kecil yang memiliki kekuatan meramal.
"Aku tahu ini tidak seberapa, ambilah dan gunakan itu sebaik mungkin. Anggap saja aku mengasihkan ini karena gadis kecil yang manis ini telah berjasa menyelamatkan kerajaan ini."
"Aku melakukan ini karena aku mengkasihani Kakak itu," ucap anak perempuan yang pergi meninggalkan Pangeran Alex.
"Kasihan?" gumam Pangeran Alex yang memainkan sekantong emas tersebut dengan cara melemparkannya keudara lalu ia menangkapnya kembali sambil melihat anak perempuan itu pergi.
Ia menyimpan sekantong emasnya dan pergi mencari Putri Blue yang sudah hilang didepan mata dan banyak sekali kerumunan makhluk-makhluk yang berjalan kaki melintasi jalanan. Pangeran Alex berjalan tak menentu arah dan kepalanya celingak-celunguk kekanan dan kekiri untuk mencari Putri Blue.
Putri Blue berjalan dan ia kebingunan sebab ia tidak tahu bagaimana ke lokasi peperangan karena ia tidak tahu tentang sihir. Dia melihat seekor kuda putih yang sedang diikatkan di depan toko dan Putri Blue berjalan santai kearahnya lalu melepaskan ikatannya kemudian, menungganginya dengan penuh keraguan sebab ia tidak pandai menunggangi kuda. Tetapi Putri Blue sudah memliki tekad yang bulat untuk pergi kesana.
Pemilik toko menyadari jika kudanya dicuri dan ia berlari keluar toko sambil berteriak, "Maling!!!"
Sontak saja, Putri Blue kaget dan memacu kudanya hingga melaju dengan pesat ditengah-tengah keramaian. Putri Blue lepas kontriol dan ia menghalau pejalan kaki yang melintas tepat berada didepannya. Para pejalan kaki pun panik dan menghindari setiap kali kuda itu berlari dihadapannya.
"Minggir semuanya!" teriak Putri Blue.
Tiba-tiba saja dihadapannya ada seorang pemuda yang ia kenali dari belakang, pemuda tersebut membalikkan badan karena ada yang berteriak tepat di belakangnya. Putri Blue terus menerus mengasih peringatan. "Awas! Pangeran Alex!"
Pangeran Alex dengan cepat memunculkan tongkatnya pada tangan kanannya yang kosong lalu mengarahkan tongkatnya dihadapan kuda putih yang melaju tanpa kendali. Keluarlah cahaya putih yang menyilaukan mata dari tongkat tersebut dan membuat kuda itu berdiri menggunakan dua kaki belangnya.
Putri Blue yang panik lalu memejamkan matanya dan ia mau jatuh dari kuda sebab ia tdak memegang kuat tali kemudi kuda hasi curiannya. Dengan cepat si Pangeran Alex menghentikan waktu dan menghilangkan tongkatnya lalu menangkap Putri Blue kemudian, membawanya ke portal.
Setelah portal sihirnya tertutup, waktu berjalan dengan semula dan Putri Blue kaget berada di gendongan depan Pangeran Alex. Matanya menyorot tajam ke wajah Pangeran Alex dan berkata, "Kenapa kau disini?"
"Mau aku turunkan atau tidak?" tanya Pangeran Alex yang tersenyum ke Putri Blue.
Pangeran Alex menurunkan Putri Blue dengan hati-hati dan memberitahu Putri Blue kalau disini adalah wilayah selatan. Wilayah ini masih masuk zona Kerajaan Zarqo. Dengan tiba-tiba tangan Putri Blue memegang kening sang pangeran dan membandingkan suhu tubuhnya dengan sang pangeran.
Muka sang pangeran memerah malu karena baru pertama kali ia dipegang oleh gadis yang disukainya apalagi wajahnya disentuh. Putri Blue merasakan sang pangeran demam dan melihat mukanya merah serta telinganya juga ikut memerah. Pangeran Alex memegang tangan sang putri untuk mnghentikan tingkah konyolnya yang membuat hati sang pangeran berdebar.
"Kau demam," ucap Putri Blue.
"Hentikan, aku tidak demam," jawab Pangeran Alex yang merasa badannya baik-baik saja.
Putri Blue melepaskan tangannya dan ia tidak percaya dengan jawaban dari Pangeran Alex. "Kau bukan bagian dari kerajaan ini dan kau juga sedang demam. Keluarkan sihirmu dan buat pedang untukku."
Pangeran Alex menuruti permintaan Putri Blue dan langsung memunculkan tongkat sihirnya lalu membuat pedang yang terbuat dari sihir. Dengan perlahan, cahaya putih kekuningan yang berasal dari tongkatnya berubah menjadi besi yang menyerupai pedang yang tajam. Putri Blue terpukau karena kekuatan sihir Pangeran Alex.
Setelah selesai. Pangeran Alex memberikan pedangnya kepada Putri Blue. Betapa senangnya sang putri menerima pedang tersebut dan ia berterima kasih kepada Pangeran Alex lalu buru-buru berlari pergi kearah lokasi peperangan.
Putri Blue berlari dengan cepat sehingga pada akhirnya ia telah sampai pada peperangan yang dibanjiri oleh pertumpahan darah dan pasukan Kerajaan Zarqo mulai sedikit. Putri Blue terkaget dengan kejadian itu dan tangannya yang memegang pedang pun bergetar. Ia mencoba menggenggam kuat dan menarik nafasnya.
Mark mengetahui keberadaan Putri Blue dilokasi perang karena cicin yang dikenakan oleh Putri Blue. Ia menghampirinya dengan berubah menjadi burung gagak lalu terbang ke arah Putri Blue lalu ia mendarat dibelakang sang putri dan merubah wujudnya menjadi dirinya sendiri.
"Selamat datang," ucap Mark.
Putri Blue berbalik kebelakang lalu melihat Mark yang menatap dirinya dan ia menyembunyikan pedangnya dibalik badannya. Putri Blue mundur secara perlahan karena Mark mulai mendekati dirinya. sambil berbicara, "Apakah kau adalah pilihan ketiga ketika hidup hanya memiliki dua pilihan? Jangan pernah melawan takdir karena hidup memiliki dua pilihan."
"Apa maksudmu?" tanya Putri Blue.
"Kau dilahirkan untuk melindungi kerajaan ini karena Sarah tahu jika masa depan kerajaan ini akan hancur. Pertama, kerajaan ini akan hancur karena kalah berperang dari kami atau yang kedua, kerajaan ini akan hancur kerena pangeran Alex. Sarah dan teman-temannya melawan takdir kehidupan untuk kerajaan yang menyedihkan ini," jelas Mark.
"Dia mencari informasi tentang diriku," batin Putri Blue.
"Kau benar, tidak ada yang bisa melawan takdir, tetapi takdir bisa diubah dengan usaha!" teriak Putri Blue yang langsung mengibaskan pedangnya kearah Mark dan Mark berupaya menghindarinya lalu ia membalas serangan Putri Blue dengan sihirnya sehingga sang putri terpental jauh ketengah peperangan.
Pangeran Alex berjalan lalu ia terduduk sambil menunggu dibawah pohon apel yang tidak terlalu jauh dari lokasi peperangan yang berlatar kebun bunga aster yang berwarna warni bermekaran. Raut wajah sang pangeran itu sedih dan ia menyender di bawah rindangnya pohon.
Kapten Jeffry melihat sang putri yang terjatuh hingga menabrak salah satu pasukannya, yaitu minotaur yang sedang bertarung melawan Duyung yang berubah wujud menjadi manusia. Tiba-tiba Olivia langsung menyerang dan untung saja si kapten langsung menahan pedang yang diayunkan oleh Olivia.
Fokus sang kapten menjadi pecah karena melihat Mark mendekati Putri Blue yang mencoba bangkit, Oliva tak hilang akal dan langsungĀ menyerang lagi dan Kapten Jeffry pun merespon serangan Olivia. Kapten Jeffry ingin pertarungan melawan Oliva cepat selesai sehingga ia menyerang Olivia dengan brutal.
Pedang Olivia terhempas dari pegangan tangannya dan Kapten Jeffry tidak berniat membunuhnya sama sekali. Olivia mengeluarkan tongkat sihir dari jubahnya ketika sang kapten berbalik arah menuju Putri Blue dan mengucapkan mantra untuk menyerang Kapten Jeffry.
Seorang Peri Dyart yang tahu karena hal itu mencoba melindungi Kapten Jeffry dengan kekuatan sihirnya yang menumbuhkan pagar tanaman untuk menghalau sihir Olivia. Kapten Jeffry membalikan badannya dan melihat tanaman yang terbakar karena serangan Olivia.
Dan langsung saja si kapten berlari kearah api yang berkobar besar hingga ia menembus dan Olivia tertusuk pedang dari Kapten Jeffry yang mendadak menyerangnya. Kaki Olivia berasa lumpuh dan darah mengalih dari perutnya yang tertusuk.
Kapten Jeffry menarik pedangnya dan berkata, "Maaf, kau dulu yang mati."
Olivia tidak bisa berkata apa-apa dan langsung terjatuh dihadapan Kapten Jeffry dan menutup matanya selama-lamanya.