
"Aku senang dengan sepatu ini. Aku rasa kau tidak kejam," kata Putri blue yang di setiap perjalan saat meju ke ruang makan para prajurit kastil, sang putri tidak penah diam untuk berhenti berbicara kepada sang kapten.
"Dasar labil."
"Siapa nama anaknya Raja Azka?"
"Pangeran Alex," jawab Kapten Jeffry yang sedang cool berbicaranya.
"Kekuatannya?"
"Tuan putri tidak mendengarkan ceritaku?"
Putri Blue hanya cengengesan saat sang kapten kembali bertanya kepadanya, sebenarnya ia ingat, tetapi ia hanya bertanya untuk mencairkan suasana dingin semenjak raut wajah sang kapten berubah menjadi jutek.
"Kapten, bagaimana kau tahu ukuran kakiku?"
"Aku sudah mengurus tuan putri sejak usia enam tahun," kata Kapten Jeffry. "Jangankan ukuran sepatu, ukuran yang lainnya saja aku mengetahuinya."
Langsung saja sang putri menghentikan langkahnya lalu menyilangkan kedua tangannya ke dadanya dan mukanya memerah sambil berkata, "Jangan-jangan kau juga membeli..."
Sang yang terus berjalan lalu membalikan badannya dan berdiri dihadapan sang putri, wajah sang kapten mulai mendekati wajah sang putri sehingga membuat Putri Blue memalingkan wajahnya. Sang kapten tersenyum nakal lalu tangan kanannya menyentuh atas kepala sang putri sembari mengacak rambutnya.
"Hei? Sejak kapan pemikiranmu sudah dewasa?" tanya Kapten Jeffry.
"Siapa suruh jawabanmu ambigu!" kesal Putri Blue yang merasa dirinya sedang dipojokkan oleh pertanyaan Kapten Jeffry.
Putri Blue pergi dan berjalan lebih cepat karena ia malu dan sang kapten hanya tersenyum dan berjalan dibelakang dia. Putri Blue beberapa kali memegang pipinya menggunakan kedua tangannya dan menepuk kecil pipinya berharap kejadian ini hanya mimpi.
"Tidak, ini tidak mungkin, masa dia sih yang membelikan pakaian dalamku. Pasti ini dia bercanda atau ini hanya mimpi," batin Putri Blue.
Tiba-tiba sang kapten berbicara, "Yang membelikan itu hanya Nyonya Anna, apakah tuan putri ingin aku membelikannya?"
"Tidak!!!" teriak Putri Blue.
"Wah ... tidak menyangka, ternyata sikapnya seperti anak kecil, tetapi pemikirannya sudah dewasa," ejek Kapten Jeffry.
"Aku tidak seperti itu! Itu semua karena kau! Kenapa jawabanmu ambigu?!"
"Setidaknya tuan putri harus berfikir positif," jawab Kapten Jeffry yang menahan ketawanya karena melihat sang putri salah tingkah.
"Lupakanlah masalah itu, aku tidak ingin berdebat!"
"Padahal umurnya baru enam belas tahun belum tujuh belas tahun ke atas."
"Jangan bahas masalah itu!"
Putri Blue dan Kapten Jeffry telah sampai ke ruang makan prajurit yang sepi karena mereka datang kesiangan untuk jam makan pagi. Ruangan tersebut sungguh luas, banyak meja panjang serta kursi-kursi yang terbuat dari kayu yang ada di dalamnya. Disana juga juga ada pelayan yang sedang bersih-bersih.
Putri Blue yang langsung berhenti di pintu ruang tersebut langsung digenggam tangan kanannya dan diantarkannya ke salah satu kusi oleh sang kapten. Sang kapten menarik kursi itu dan mempersilahkan Putri Blue untuk duduk.
"Aku mau ngambil makanan, tuan putri disini saja, dan jangan pergi kemana-mana," perintah Kapten Jeffry.
"Iya."
Kapten Jeffry langsung pergi ke dapur yang ada di ruangan itu lalu sang putri hanya tiduran dimeja sambil meratapi rasa malunya pada si kapten.
"Kenapa aku seperti ini? Kenapa?" tanya Putri Blue kepada dirinya sendiri dengan menggunakan nada rendah supaya tidak terdengar oleh para pelayan.
Lalu ia tidak sengaja mendengarkan percakapan lima pelayan yang sedang membersihkan meja di ujung belakang sekali.
"Aku baru pertama kali melihat gadis itu."
"Aku juga, apa dia gadis penghibur prajurit?"
"Jangan berfikir yang buruk, mungkin saja dia kekasih kapten soalnya aku melihat kapten Jeffry menggendong gadis ini di lorong kastil."
"Kalau gitu, dia anak bangsawan."
"Jadi, kapten Jeffry punya kekasih muridnya sendiri?"
"Sepertinya begitu."
BRUUG!
Putri Blue memukul meja dengan genggaman tangan kanannya sehingga menimbulkan suara yang keras sampai kedengaran oleh para pelayan. Ia merasa terusik dan muak dengan omongan yang menurutnya tidak pantas untuk dibicarakan apalagi mereka berbicara seolah hanya tong kosong nyaring bunyinya.
"Sungguh tidak etis jika berbicara di belakang, bagaimana jika di depannya langsung?" tanya Putri Blue yang menegakan kepalanya lalu menyenderkan kepalanya di tangan kanannya.
Para pelayan itu langsung membubarkan diri dan sang putri masih menatap sinis semua pelayan. Dan tiba-tiba sang kapten datang yang diikuti para pelayan dari dapur untuk mengantarkan makanannya. Sang kapten duduk berhadapannya dan para pelayan segera menaruhkan makanannya.
Putri Blue terkesima dengan banyaknya makanan yang satu persatu ditaruh di meja makannya serta minuman dingin yang sangat bisa menghapus dahaga serta meredam emosi dari omongan-omongan para pelayan. Seketika perasaan kembali senang.
"Ternyata definisi moodbuster seperti ini," kata Putri Blue.
Setelah selasai, para pelayan tersebut pergi dan Putri Blue segera menyantap ayam yang berwarna merah berada di depannya.
"Tuan putri suka pedas?"
"Ini tidak pedas kok, masih pedasan pembicaraan orang lain sepertinya."
Sontak sang kapten tertawa. "Jawaban seperti apa itu?"
Putri Blue tidak menjawab perkataan Kapten Jeffry, ia hanya melanjutkan makanannya sambil menikmati sensasi pedasnya ayam yang ia makan sampai akhirnya habis dilahap olehnya. Ia juga memakan kue yang dihidangkan dengan coklat yang meleleh di dalam mulut serta minuman rasa anggur yang nikmat.
"Aku akan ke istana, tuan putri pergi sendiri ke kamarmu."
"Iya," kata Putri Blue yang mengerti kalau Kapten Jeffry sunguh sibuk sekali dalam tugasnya.
Putri Blue berdiri dan mengucapkan terimakasih kepada kapten dan pergi. Lalu Kapten Jeffry memanggil ke koki yang ada di dapur setelah merasa sang putri sudah berjalan jauh.
"Olivia!" teriak Kapten Jeffry memanggil koki tersebut.
KLOTAK KLOTAK KLOTAK
Suara sepatu tinggi milik wanita sexy nan cantik bermata ungu, berambut hitam dan berkulit putih. Serta ia memiliki bibir yang tebal dan juga hidung yang mancung. "Ada apa? Apakah masakanku tidak enak?"
"Makananmu selalu enak, tetapi aku tidak ingin membicarakan hal itu. Tolong panggilkan seluruh pelayanmu yang bekerja sebagai petugas kebersihan pada jam sekarang dan mereka membersihkan di meja paling belakang."
Saat makan bersama sang putri, sang kapten diam-diam menggunakan kekuatannya untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum ia datang terlebih lagi pembicaraan sang putri yang terkesan seperti sedang menyindir. Apalagi saat ia datang ke meja makan tadi, ekspresi sang putri menjadi murung.
"Baiklah."
Olivia memanggil seluruh pelayan yang bertugas pada jam itu juga dan berkata, "Siapa diantara kalian yang membersihkan meja paling belakang?"
Ada lima pelayan yang mengangkat tangannya dan Olivia menyuruh kelima pelayan tersebut menghadap langsung ke meja makan sang kapten. Dan saat kapten melihat kelima pelayan tersebut yang berdiri di hadapannya, ia tanpa basa-basi langsung berkata,
"Kalian berani sekali berbicara omong kosong saat bekerja. Apakah kalian tidak menyadari telah membicarakan siapa?"
Dengan serentak mereka berbicara dan "Maafkan kami, kapten."
"Hari ini akan kupecat kalian semua dan jangan pernah menampakan diri lagi di kastil ini. Aku tidak peduli jika kalian membicarakan aku, tapi..."
Kapten Jeffry berdiri dan berkata, "Pemecatan ini lebih baik daripada di penjara diruang bawah tanah karena telah menghina salah satu anggota keluarga dari kerajaan."
Bergetarlah iris mata kelima pelayan tersebut begitu pula dengan tangan mereka seraya bersujud memohon ampun kepada Kapten Jeffry. Sang kapten tidak peduli dengan permohonan mereka dan pergi. Olivia yang mendengar percakapan antara Kapten Jeffry dan para pelayan sungguh terkejut.
"Memang siapa yang dimaksud? Apakah ada anggota keluarga kerajaan yang tinggal disini? Bukankah semua anggota keluarga kerajaan seharusnya tinggal di istana?" batin Olivia.
Olivia mendatangi kelima pelayan tersebut dan menanyai apa yang telah terjadi, mereka bercerita ketika Kapten Jeffry membawa seorang gadis cantik bermata indah dan berambut hitam panjang yang lebat lalu mereka membicarakan sang kapten bersama gadis tersebut di meja paling belakang. Mereka tidak menyangka jika suara mereka terdengar sampai ke meja paling depan, mengingat ruangan ini sungguh luas sekali.
"Begitu ya? Bagus deh kalau kalian di pecat karena tempat kerjaku tidak membutuhkan pelayan yang kerjanya membicarakan orang lain saat jam kerja," kata Olivia pergi menuju dapurnya.