AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
THE FACT



Pada siang hari yang begitu terik, si Pangeran Alex tersadar dengan sendirinya. Ia memegang kepalanya karena ia masih pusing dan mencoba duduk. Ia melihat sekelilingnya dan betapa terkejutnya sang pangeran ketika Putri Blue menghilang.


Langsung saja Pangeran Alex berdiri dan mencari di setiap sudut lapangan hingga mencarinya di dalam kastil. Setiap ruangan di kastil itu ia kunjungi dan setiap pojokan kastil itu ia hampiri. Bahkan ia mencari sampai memutari seluruh kastil yang luas hingga pada akhirnya ia mencarinya di ruangan makan prajurit.


Sang pangeran masuk dan mengecek seluruhnya hingga ke dapur. Ia melihat Olivia yang sedang mencicipi makanan untuk para prajurit dan langsung saja emosinya memuncak. Panngeran Alex menarik paksa tangan Olivia dan Olivia menahannya. Kejadian itu disaksikan oleh para pelayan dan para koki disana.


Pangeran Alex berusaha menariknya hingga sampai ke luar dapur dan berada di ruangan makan prajurit. Dan tak lama kemudian, para prajurit datang untuk mengambil jatah makanan itu melihat adegan penarikan itu, Mereka memisahkan Pangeran Alex dengan Olivia.


Kapten Jeffry pada saat itu melihat para prajurit yang sedang ribut dan berkerumunan di ruang makan. Ia langsung menerobos masuk dan melihat apa yang terjadi. "Ada apa ini?"


Pangeran Alex dan Olivia melihat Kapten Jeffry secara bersamaan. Pangeran Alex langsung melepas tangan Olivia sambil menghempaskan tangan Olivia itu ke bawah.


"Blue diculik dan dia adalah pelakunya!" tuduh Pangeran Alex kepada Olivia karena ia tahu si Olivia adalah seorang mata-mata disini.


"Kau menjebak kami berdua di perangkap sihir dan memblokir portal sihir juga!" bentak Pangeran Alex. "Dimana Blue sekarang?!!"


Mata Kapten Jeffry langsung membulat besar seraya tak percaya akan hal ini dan berkata, "Apakah itu benar?"


Olivia tidak menjawab sepatah katapun dan membuat emosi Kapten Jeffry semakin meleda-ledak hingga meninggikan pita suaranya, "Jawab aku, Olivia!!"


Olivia hanya menundukan kepalanya dan menangis dalam kesedihan. Perasaan si pangeran sangatlah geram pada sikap Olivia karena menganggap Olivia hanya sedang akting dan sang Pangeran Alex mencoba menahan emosinya.


"Baiklah jika kau tidak mau menjawab, haruskah aku memberi tahu identitasmu sebenarnya?" ucap Pangeran Alex, tetapi Olivia masih memilih terdiam dan matanya sudah berkaca-kaca.


"Akan kupastikan kau mati ditanganku jika Blue kenapa-kenapa dan aku tidak peduli jika kau adalah perempuan," ancam Pangeran Alex lalu pergi meninggalkan ruangan makan itu.


Olivia terjongkok dan menangis, Kapten Jeffry tidak tega melihat seorang perempuan menangis dihadapannya. Ia membantu Olivia berdiri dan berkata, "Katakan sejujurnya maka aku akan memaafkanmu dan jika kau menutupi sesuatu maka kau tidak akan pernah kumaafkan selama hidupku. Tetapi aku tidak bisa untuk tidak membencimu, karena kau adalah yang kubenci atas permasalahan ini."


Kapten Jeffry meninggalkan ruang makan tersebut dan pergi berjalan menuju kamar Putri Blue. Ia mengetuk kamarnya dan tidak ada jawaban sama sekali. Kapten Jeffry bersender di depan pintu.


"Maafkan aku, aku gagal melindungimu."


________________________________________


KERAJAAN PENYIHIR HITAM.


Putri Blue secara perlahan membuka matanya dan kepala sungguh pusing. Ketika Putri Blue mencoba menggerakan tangannya ke kepala, ia tersadar jika tangannya diikat ke atas. Putri Blue mencoba melepaskan tangannya, tetapi tidak bisa.


"Aduh, nasibku yang malang," keluh Putri Blue yang meratapi nasibnya. "Perutku lapar."


Putri Blue melihat sekelilingnya yang suasananya gelap dan hanya sebuah obor yang menyala di ruangannya untuk mengusir kegelapan. Ia merasakan lembabnya jeruji besi dan ketika ia melihat keluar, ada seorang gadis yang bernasib dengannya. Tetapi gadis itu tangannya tidak diikat, seperti dirinya sendiri. Tiba-tiba dari arah luar terdengar langkah jejak kaki yang membuat Putri Blue menjadi panik.


"Sial, aku harus bagaimana?" gumam Putri Blue.


Putri Blue melihat seorang penyihir hitam yang ia kenali, ia berusaha melepaskan ikatannya, tetapi gagal. Ketika sel penjaranya terbuka, seseorang itu berdiri tegak dihadapannya. Putri Blue memberikan senyumannya dan menyembunyikan rasa panik dan rasa takutnya.


Putri Blue menggelengan kepalanya dan memunduk sembari memudarkan senyumannya. Dagu Putri Blue dipegang lalu didengakan ke atas dan menatap wajah Mark. Putri Blue sebenarnya masih enggan bertemu yang bernama 'Mark' karena ia pernah hampir mati ditangan Mark.


"Raja Carles ingin bertemu denganmu," ucap Mark lalu melepaskan pegangan tangannya di dagu Putri Blue.


"Jangan memberontak atau kau akan mati sekarang," ancam Mark.


Putri Blue menelan ludahnya, ia menyadari jika ia sudah berada di Kerajaan Penyihir Hitam dan memilih untuk diam saja tanpa berbicara dan tidak pemberontakan. Mark memanggil penjaga bawah tanah dan menyuruh mereka membuka ikatan tangan Putri Blue.


Mereka membukanya dan Mark menyuruh Putri Blue mengikutinya lalu Mark membuka portal kemudian menyuruh Putri Blue masuk ke dalam. Putri Blue menghela nafasnya lalu ia melawan rasa ketakutan dan keraguannya untuk mesuk ke dalam portal.


Setelah masuk, ia berada di ruangan yang sangat mewah dengan meja makan yang besar dan ia melihat furniture yang terbuat dari emas dan lampu kristal menghiasi ruangan tersebut. Putri Blue baru pertama kali melihat ruangan yang begitu mewah dan megah sekali. Putri Blue berdecap kagum sehingga ia tidak sadar jika portal sihir pun menutup lagi.


"Selamat datang di istanaku!" sambut seorang pria yang berada di belakang Putri Blue.


Putri Blue memutarkan badannya dan melihat seorang pria dengan tubuh tinggi, berambut hitam, dan berbadan kekar yang sedang menatapnya. Putri Blue juga melihat aura hitam menyelimuti diri Raja Carles dan sontak saja Putri Blue terkejut lalu berteriak memanggil nama Raja Carles, padahal dalam etika bangsawan itu tidak diperbolehkan karena dianggap tidak sopan.


"Raja Carles!" kaget Putri Blue.


"Memang benar, pasti kau lapar. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu," kata Raja Carles yang tersenyum dan membawa tongkat sihirnya.


"Ti-tidak usah," ucap Putri Blue yang terbata-bata.


"Jangan menolak permintaanku karena aku sudah lama menunggumu."


Putri Blue terpaksa menerima ajakan makan Raja Carles dan mereka berjalan ke ruang makan. Putri Blue juga melihat Mark di luar ruang makan dan Putri Blue tidak berani melihatnya. Di ruang makan Istana Kerajaan Penyihir Hitam sangatlah mewah sekali, piringnya terbuat dari emas dan alat makanya juga terbuat dari emas.


Lampu kristal juga menggantung di atas dan gelas-gelas kaca yang bening menambah pelengkap di meja makan tersebut. Meja tersebut juga terbuat dari kayu yang kokoh dan berlapiskan emas, begitu juga dengan kursi.


"Jadi, rasanya begini tinggal di istana. Pantas saja mereka takut jika aku iri dengan adikku," batin Putri Blue.


Putri Blue dipersilahkan duduk oleh Raja Carles dan Putri Blue menurutinya. Ketika makan, sang raja menyuruh mengambil lauk sesuai keinginan Putri Blue, sang putri terpaksa mengambil makanan, tetapi ia tidak menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


"Kenapa kau termenung?" tanya Raja Carles yang menatap Putri Blue. "Apakah kau masih terpukau dengan tempat ini, Putri Yuna?"


Putri Blue langsung menoleh Raja Carles dan berkata, "Aku bukan Putri Yuna dan sepertinya kau salah orang untuk membawanya kesini."


"Benarkah? Kau adalah anak pertama dari raja Juftin dan anak pertama itu adalah Putri Yuna yang 16 tahun lalu meninggal saat dilahirkan," jelas Raja Carles.


"16 tahun lalu? Umurku 16 tahun, jadi ..." batin Putri Blue.


"Sangat menyedihkan, seharusnya kau berada dikemewahan, tetapi kau malah di garis kemiskinan bahkan tidak memiliki uang sama sekali," ucap Raja Cerles yang terang-terangan membuka fakta tentang Putri Blue.