
Saat malam hari yang cerah ketika bintang berkelap kelip dilangit bak berlomba mengeluarkan cahaya yang berkilauan dan membuat bola mata Putri Blue menitihkan air matanya ketika memandangnya dibalik pintu kaca. Ia sungguh rindu kepada Kapten Jeffry yang mati dihadapannya.
"Bodoh, kenapa kau melakukan itu?"
"Bagaimana aku hidup untuk sekarang ini? Kau egois, Kapten Jeffry."
Putri Blue berjalan ke arah kasurnya lalu duduk dipinggir kasur tersebut, hatinya terasa hampa ketika kehilangan Kapten Jeffry karena hidupnya menjadi kacau saat semua kejadian yang tidak menyenangkan harus ia lalui sendirian.
Bahkan Putri Blue selalu memuntahkan kembali makanan yang disajikan diatas meja ketika ia selesai makan. Baginya karena Kerajaan Penyihir Hitam, ia harus kehilangan pelatihnya sekaligus pelindungnya. Putri Blue dengan Kapten Jeffry sudah bersama-sama ketika ia masih kecil.
Rasanya sangat sakit sekali kehilangan sosok terpenting dalam kehidupan Putri Blue, ia sebenarnya tidak bisa berbohong untuk permasalahan hatinya, ia benar-benar tidak bisa mengikhlaskan kepergian sang kapten. Ia memendam rasa pedihnya itu digelapnya suasana kamar yang diterangi oleh bintang-bintang yang bergelantungan di langit serta rembulan yang menemaninya.
Air mata mengalir dengan deras saat beban yang ia pikul sendiri dan tak ada lagi teman yang menemaninya. Putri Blue jauh dari keluarga, bahkan ia merasa sekarang ia hidup sebatang kara. Tetapi ia bertekad untuk tidak akan pernah kehilangan seseorang lagi yang sangat berharga dalam kehidupannya, yaitu Nyonya Anna.
Siapa sangka si Blue menghampirinya didalam kamar yang dingin tersebut. Putri Blue langsung memeluk hewan serigala yang berbulu putih dan kebiruan dengan sangat erat. Ia menumpahkan seluruh kesedihan dan konflik yang berada didalam kepalanya.
"Aku sendirian di Auresta ini!"
"Kenapa dia mengorbankan nyawanya demi aku?"
"Aku telah membunuh seseorang yang sama sekali tidak membuat dosa apapun."
"Aku bukan iblis dan aku juga bukan malaikat. Aku adalah aku."
"Hidupku memang sungguh menyedihkan dari awal dilahirkan, Ayahku mengumumka jika aku sudah mati dihadapan seluruh rakyat, tetapi dia menyimpan aku didalam kastil dan dia mengubah namaku menjadi Blue, seperti namamu untuk sebagai pelindung."
"Aku senang melihat adik perempuanku yang tumbuh sebagai gadis remaja, dia cantik sekali melebihi aku. Aku juga senang bisa melihat Ibuku walaupun hanya sekilas saat di pemakaman, aku melihat Ayahku ketika bertarung. Adikku sangat menaruh ketidak suka kepadaku sedangkan Ibuku merindukan aku, tetapi aku tidak bisa membaca pikiran Ayahku sendiri."
"Aku tidak tahu perasaanku ketika aku bertemu dengan mereka. Aku merasa terbuang, tetapi aku tidak bisa marah. Karena mereka juga aku bisa bertemu dengan seorang kapten dan pelayan wanita yang bergaya bangsawan. Aku merindukan Kapten Jeffry dan Nyonya Anna."
"Ini terlalu berat bagiku, Blue. Ketika aku melawan Medusa, aku pikir kalau aku akan menjadi batu saat menatap matanya. Ternyata aura biru ini menyelamatkanku dari kutukkannya, padahal aku sudah menyerah dan rasanya ingin melepaskan semua beban bagiku ketika aku menjadi batu."
Blue sangat mengerti perasaan sang putri ketika melewati fase-fase sulit yang dijalani hanya seorang diri yang mana harus melawan ketakutan dan membangun percayaan diri dalam melawan musuh. Bulu-bulu halus yang panjang yang menyelimuti tubuh si Blue membuat perasaan menjadi hangat ketika memeluknya.
Dan pada akhirnya Putri Blue merasakan kedua kelopak matanya sangat berat, ia pun tertidur yang beralaskan tubuh si Blue dan mereka berdua tidur terlelap di malam hari tersebut. Bau tubuh Blue sangatlah harum dan tidak seperti binatang lainnya, harumnya tersebut membuat seseorang menjadi relax.
Putri Blue membuka perlahan matanya dan saat itu mentari menyinari pagi hari dengan suasana cerah. Ia berada di sebuah hutan yang ia kenali dengan sebutan 'Hutan Terlarang' dan ia pernah kesini bersama Pangeran Alex yang ketika itu mereka sedang bertarung.
Sang Putri ingat dengan jelas kejadian tersebut dan ia bertanya-tanya didalam kepada dirinya. "Kenapa aku disini?"
"Tuan putri, apakah kamu sudah sarapan?" tanya sesorang dari arah belakang Putri Blue dan membuat bola mata sang putri terbelalak lalu tanpa basa-basi lagi, ia menoleh kebelakang.
Putri Blue memeluk Kapten Jeffry yang ia sayangi. Ia tak kuasa menahan tangisan haru ketika bisa bertemu dengannya. "Aku belum makan apapun."
"Jangan pergi, aku tidak bisa memaafkanmu. Seharusnya kau dihukum berlari 100 kali keliling lapangan karena meninggalkanku," sambung Putri Blue dengan pipi yang sudah dibasahi oleh tumpahnya air mata.
"Maaf," ucap Kapten Jeffry. "Aku yakin tuan putri pasti bisa mengalahkan mereka semua, lagi pula si pangeran Alex akan menjagamu."
Putr Blue menggelengkan kepalanya kemudian ia berkata, "Tidak, aku tidak mau kehilangan penjaga lagi. Hanya kau ... satu-satunya penjagaku yang aku miliki."
Kapten Jeffry melepaskan pelukan erat dari sang putri karena ia merasa terbebani dengan ucapan si Putri Blue. Dengan muka tegarnya, si Kapten Jeffry menjelaskan kepada Putri Blue. "Dia mencintaimu dan kalian saling menyukai, tetapi tidak denganku. Aku suka padamu, tetapi tuan putri hanya menganggap sebagai abang dan adik."
"Aku menghargai keputusan tuan putri dan aku tidak pernah memaksa untuk dicintai. Aku merelakan nyawaku demi mu karena aku mencintaimu. Tuan putri pantas untuk hidup karena semua makhluk yang dijajah pasti membutuhkanmu. Rasanya lega mengatakan semua ini denganmu, tuan putri."
Putri Blue tercengang mendengar pengakuan dari Kapten Jeffry. Putri Blue sama sekali tidak menyadari jika si kapten menyukainya. Ia merasakan tamparan keras terhadap dirinya karena ketidak pekaannya terhadap perasaan sang kapten.
Putri Blue merasa bersalah terhadap Kapten Jeffry, betapa besarnya pengorbanan cinta sang kapten untuk dirinya. Ia menyesal dan berharap dibenaknya ingin memutarkan waktu dimana ia bisa bercanda dan tertawa bareng dengan sang kapten. Ia ingin kembali ke masa-masa bersamanya. Tetapi tidak bisa, ia hanya melampiaskan segerombolan pertanyaan kepada Kapten Jeffry.
"Kenapa kau baru sekaramg mengatakannya?"
"Kenapa kau egois menyimpan perasaanmu?"
Kapten Jeffry menggenggam kedua tangan Putri Blue dan berpesan kepadanya. "Maafkan aku dan ikhlaskan kepergianku. Jaga pola makanmu, tuan putri. Maaf jika aku tidak bisa membelikanmu makanan yang enak lagi."
Dengan perlahan, tubuh dari Kapten Jeffry menjadi debu yang melayang ke udara. Putri Blue berusaha memeluknya kembali dengan mengatakan, "Jangan pergi! Tetap bersamaku. Aku mohon."
Sayangnya sang kepten telah meninggalkan sang putri sendirian di tengah-tengah hutan tersebut denga angin yang menerpa rambutnya hingga kebelakang. Sang putri terjongkok sambil menangis karena ia sudah kehilangan Kapten Jeffry untuk selama-lamanya, ia pun terpukul atas kejadian ini.
"Kumohon, kembali."
Putri Blue menangis hingga ia tersadar jika itu adalah mimpi, ia terbangun dari tidurnya yang berada diatas kasur dengan mata bengkak dan pipinya basah dan masih merasakan suasana haru serta hati yang masih merasakan perih atas kehilangan Kapten Jeffry.
Ia masih menitihkan air matanya seakan tidak mau berhenti menangis. Luka di hati sang putri sungguh parah dan ia sendiri tidak tahu harus mengobatinya dengan aoa. Walaupun Kapten Jeffry sudah menjawab semua pertanyaan dibenaknya, tetapi ada tidak pernah ia lupakan, yaitu pernyataan cinta Kapten Jeffry.
Dari luar pintu, masuklah empat penyihir hitam yang tidak bukan adalah para pelayan Putri. Mereka mendapati sang putri menangis dan membuat mereka kebingungan. Salah satu dari mereka menanyakan tentang mengapa sang putri menangis pada pagi hari.
"Ada apa, tuan putri? Kenapa menangis, tuan putri?"
Sang putri menghapus air matanya menggunakan kedua tangannya dan mencoba untuk tegar. Ia tidak menjawab pertanyaan dari pelayan kemudian ia pergi ke kamar mandi dan sebelum ia membuka pintu kamar mandi, si Putri Blue berkata, "Aku ingin menggunakan hitam dan aku ingin makan diluar istana."
"Baik, tuan putri," jawab serentak para pelayan.
Putri Blue pun melangkahkan kembali kakinya untuk membersihkan diri dan para pelayan sibuk berdiskusi satu sama lain. Mereka kebingungan dengan sikap Putri Blue yang sungguh tidak jelas sama sekali.
"Ada apa dengan tuan putri?"
"Maksud dari hitam apa, ya?"
"Kenapa dia tidak ingin makan bersama paduka raja?"
Mereka bertanya-tanya dan menerka-nerka jawaban. Mereka semua memutuskan untuk melaporkannya ke Mark tentang keadaan sang putri. Salah satu dari mereka menghampiri Mark yang berada di ruang kerja pribadinya. Awalnya pelayan itu ketakutan karena ia sebenarnya segan dan takut kepada Mark, tetapi ia harus melaporkannya.
Ketika ia ingin mengetuk pintu, si Mark membuka pintu dan langsung saja si pelayan tersebut gelagapan, seperti orang yang salah tingkah dihadapan Mark. Dengan wajah dinginnya, Mark bertanya kepada pelayan itu. "Bukankah kau pelayan putri Blue?"
"I-iya."
"Ada apa?"
Pelayan tersebut bingung ingin menjelaskan kondisi sang putri dan membuat Mark menjadi kesal terhadap tingkah bodoh sang pelayan. "Jika kau begini terus, aku akan menjadikan kau abu karena menghalangi jalanku."
"Ma-maf, ini masalah tuan putri. Dia menangis pada pagi hari lalu dia ingin menggunakan hitam dan dia juga ingin makan diluar istana."
"Kenapa kau melaporkan hal itu kepadaku?" tanya Mark karena ia merasa tidak memiliki kepentingan sama sekali dengan Putri Blue.
Pelayan tersebut kaget karena Mark memberikan pertanyaan tersebut. Ia menjawab, "Jika kami melaporkannya dengan raja, kami takut."
"Oh ... jadi, kalian tidak takut denganku?"
"Bukan seperti itu, tapi maksud dari tuan putri tentang hitam itu apa, ya?" tanya pelayan tersebut dengan kepolosannya.
"Kenapa bertanya denganku? Hah! Dasar pelayan bodoh! Minggir!" Mark mendorong pelayan tersebut karena benar-benar menghalangi ia untuk keluar dari pintu.
Untung saja, pelayan itu tidak terjatuh ke lantai. Ia menatap sinis dengan memasang raut muka yang cemberut ketika menatap Mark dari belakang. Pelayan itu sungguh kesal kepada Mark sehingga ia ingin meninju kepala Mark dari kejauhan lalu menghela nafasnya untuk menahan emosinya tersebut.
"Apa salahnya aku bertanya? Bilang aja kalau tidak tahu jawabannya!" kata pelayan tersebut ketika Mark sudah pergi jauh.
Ketika pelayan tersebut berbalik ke belakang, tiba-tiba saja Mark muncul dari belakangnya dan membuat dia menahan air ludahnya.