AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
HANDKERCHIEF



"Uhuk ... uhuk ... uhuk," Putri Blue batuk setelah mendengarkan pertanyaan Olivia.


"Kau tidak apa-apa?" khawatir Olivia terhadap Putri Blue.


Putri Blue langsung menaruh minumannya dan mengelap mulutnya seta tumpahan air yang terkena rok gaunnya dengan menggunakan sapu tangan yang dikasih oleh Pangeran Alex. Setelah mengelap, ia baru sadar kalau sapu tangannya ada padanya.


"Kenapa sapu tangan ini masih padaku?" tanya Putri Blue memegang dan melihat sapu tangan Pangeran Alex.


"Sekarang kita tidak membahas sapu tangan," kata Olivia yang mendadak kejam lagi karena ia tidak suka mengganti topik pembicaraan.


"Aku tidak tahu kalau aku berasal darimana, aku ditelantarkan oleh keluargaku dan hidup dengan pelayan


serta penjagaku," jawab Putri Blue dengan berbohong sedikit.


"Hmm ... anak yang ditelantarkan oleh salah satu keluarga Kerajaan Zarqo. Ini menarik sekali," ujar Olivia.


Putri Blue terdiam saja dan ia tidak membalas pembicaraan Olivia yang menurutnya pembicaraan ini sangat sensitif. Ia mulai makan dengan pikiran yang tidak tenang karena ia terus berfikir kalau ia akan dimanfaatkan oleh Olivia dengan keadaannya seperti ini.


Olivia masih saja belum makan dan menatap terus sang putri dengan tatapan tajam. Olivia teringat pembicaraan para prajurit yang membicarakan sang putri dengan julukan 'anak haram'. Olivia tersenyum dan mulai memakan makanannya.


"Nasib kita sama."


Putri Blue langsung berhenti makan setelah Olivia berbicara di sela makan. Putri Blue meminum seteguk air yang


berada di gelas berbahan perak.


"Aku ditelantarkan oleh keluargaku."


"Ah ... Mereka membuatku dan mereka tidak menginginkan diriku."


"Semua orang menatapku dan mencaci maki diriku."


"Padahal aku tidak ingin terlahir dengan sebutan 'anak haram'."


Putri Blue paham kenapa Olivia berkhianat dan bergabung ke Raja Carles. Ternyata ia memiliki dendam dimasa lalu dan membenci kata 'anak haram'. Jadi, dia marah dengan prajurit tersebut karena menyebut kata 'anak haram' yang membuat Olivia mengingat masa lalunya yang begitu suram.


Olivia tersenyum kearah sang putri dan berkata, "Hidupmu jauh lebih beruntung daripada aku."


Putri Blue menatap lurus Olivia dengan ekspresi datar. "Kau dan mereka sama saja dihadapanku, kalian salah tentang menilai kehidupan ini. Anak yang terlahir tanpa ikatan suci pernikahan bukan berarti anak tersebut adalah anak haram. Yang haram adalah hubungan seksual tanpa adanya pernikahan. Mereka berkata seperti tidak memiliki moral dan etika yang baik."


"Semua orang memiliki masing-masing masalah dalam kehidupannya, hanya saja mereka tidak menunjukkan masalah itu dihadapan orang lain. Jika kau berfikir seperti itu terus, maka tidak akan ada penyelesaian masalahmu sendiri. Hanya akan ada penambahan permasalahan, yaitu rasa irimu terhadap orang lain," jelas Putri Blue yang seperti berceramah didepan Olivia.


Olivia bertepuk tangan setelah mendengarkan itu untuk mengapresiasikan ucapan bijak sana dari Putri Blue. Tak lupa juga, ia mengasihkan dua jempolnya kepada sang putri. Putri Blue tersenyum malu atas perkataannya dan menutupi mukanya dengan tangannya.


"Hebat, seharusnya kau berbicara dengan kata-kata bijakmu didepan orang rakyat ini!" kata Olivia.


"Oh iya, aku harus membalikan sapu tangan ini ..." kata Putri Blue. "Sebelum si Pangeran Alex pergi."


"Memangnya kau berani ke istana?" tanya Olivia.


"Mereka pasti tidak ingin melihatku," batin Putri Blue tertunduk diam teringat dengan Raja Juftin dan Ratu Gloria yang merupakan Orang tua kandungnya.


Putri Blue tidak menjawab pertanyaan Olivia dan ia melanjutkan makanannya saja. Sedangkan Olivia kebingungan melihat tingkah sang putri dan ia memutuskannya untuk melahap makanannya juga.


ISTANAN KERAJAAN ZARQO.


Pangeran Alex datang dengan asistennya berserta pengawalnya ke Istana Kerajaan Zarqo dan mereka disambut hangat ramah tamah oleh pelayan istana di kerajaan tersebut. Pangeran Alex dan asistennya diantarkan masuk oleh pelayan menuju ruang rapat.


Disana ada Raja Juftin dan Kesatria dari Kerajaan Polip bernama Zazu yang menunggu kehadiran mereka berdua. Setelah mereka semuanya bertemu dan duduk di meja rapat. Sang Raja Juftin langsung saja mulai rapat, tetapi tiba-tiba Pangeran Alex mengangkat tangannya.


"Bukankah seharusnya kita rapat bersama kapten Jeffry?" tanya Pangeran Alex.


"Dia sedang menjalankan tugas dadakan," jawan Raja Juftin.


"Apakah tugasnya di kastil?"


Raja Juftin langsung saja menegakkan kepalanya dan membuat asistennya bernama Zefron yang duduk disamping Pangeran Alex langsung menoleh ke arah Pangeran Alex. Zefron pun tersenyum dan berkata, "Maafkan pangeran kami, dia terlalu lancang berbicara, Yang Mulia."


"Tidak apa-apa. Memang benar ia bertugas di kastil," jawab sang Raja Juftin.


"Seharusnya kita tunda rapat ini karena dia termasuk juri dari ujian masuk prajurit istana," ucap Pangeran Alex dengan percaya diri.


Kesatria Zazu melipat kedua tangannya dan menatap Pangeran Alex dengan rasa kesal. Karena ia sudah menunggu lama Pangeran Alex dan sekarang ia juga harus menunggu Kapten Jeffry. Ia tahu posisi kedudukannya jauh lebih rendah ketimbang sang pangeran. Tetapi ia harus membuka pendapatnya dihadapan Pangeran Alex dan Raja Juftin.


"Maaf aku menyela pembicaraan ini, aku dan Kapten Jeffry sudah lama menunggumu sebelum adanya insiden di kastil," ucap Kesatria Zuzu. "Dan aku rasa itu tidak perlu menunggunya karena itu salahmu. Seandainya Pangeran Alex tidak terlambat maka kita bisa rapat dengan Kapten Jeffry. Lagipula aku harus segera kembali ke markasku."


Dari pernyataan tersebut, sang Pangeran Alex seperti di permalukan dihadapan Raja Jufftin. Ia hanya tersenyum dan Raja Juftin melanjutkan rapat tersebut. Raja Juftin berkata kepada mereka semua jika ujian kali ini ada di kastil minggu depan sehari sebelum ulang tahun anaknya bernama Putri Alonia.


Saat jamuan hidangan telah tba, ada seorang pelayan yang gugup karena ketampanan sang pangeran. Si pelayan tersebut tidak bisa menguasai dirinya hingga terjadi peristiwa memalukan ketika rapat. Secangkir teh yang ia tuangkan untuk Pangeran Alex pun tumpah dan mengenai celana Pangeran Alex.


Pangeran Alex berdiri dan si pelayan tersebut ketakutan atas kemarahan si pangeran. Raja Juftin menyuruh semua


pelayan tersebut keluar dari rapat dan meminta maaf kepada Pangeran Alex. Pangeran Alex tidak mempermasalahkan hal itu.


Dia sibuk merogoh kantongnya untuk mencari sapu tangannya. Dan ia baru teringat jika sapu tangannya bersama gadis itu kerena ia memberikan sapu tangannya yang bermaksud untuk menyuruh sang gadis memegangi sapu tangannya karena ia mau mengeluarkan tongkat sihirnya.


"Aduh ... sapu tanganku dengan Blue," ucap Pangeran Alex.


Bertapa terkejutnya Raja Juftin mendengarkan nama yang disebutkan oleh Pangeran Alex. Pangeran yang melihat mimik Raja Juftin yang berubah drastis memicunya untuk penasaran dengan pikiran Raja Juftin. Ia pun menatap mata Raja Juftin.


"Maafkan aku Kesatria Zazu, aku mengaku salah karena aku tersesat, untung saja aku bertemu gadis yang bernama Blue berserta kakaknya. Dan mereka yang menunjukkan aku ke arah istana dan berkat mereka, aku bisa bertemu dengan pengawalku serta asistenku."


"Aku pikir, rakyatmu sungguh baik dengan pendatang baru," sambung Pangeran Alex.


"Terima kasih pujiannya. Sudah pada dasarnya kalau kita harus hidup tolong menolong dan ramah kepada setiap makhluk," jawab Raja Juftin yang tidak lagi tegang.


Pangeran Alex tersenyum dan berujar, "Pasti Yang Mulia mengira aku bertemu dengan Blue si serigala pelindung kerajaan ini karena aku tidak mungkin bertemu dengan si Blue."


Raja Juftin tersenyum dengan khawatir karena Pangeran Alex memiliki kemampuan membaca pikiran, ia takut jika Pangeran Alex mengetahui sebenarnya. Tetapi terlambat, nasi sudah menjadi bubur, si Pangeran Alex sudah mengetahui semuanya.


Ia mengetahui jika Putri Yuna belum meninggal setelah dilahirkan, tetapi ia diasingkan di kastil dan hidup bersama seorang pelayan dan seorang penjaganya bernama Kapten Jeffry. Putri Yuna berganti nama dan sebutannya adalah Blue karena keunikan matanya saat dilahirkan berwarna biru.


"Kau sungguh gadis misteriusku, Blue," batin Pangeran Alex.