AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE

AURESTA: THE POWER OF SACRIFICE
SAVE A LIVE



"Olivia, sepertinya Blue sedang dalam masalah," kata Suci yang kala itu bersama dengan Olivia menunggu di luar hutan.


"Benarkah?" tanya Oliva yang terkaget. "Dimana dia? Ayo temukan dia!"


Suci dan Olivia kembali lagi masuk ke dalam hutan untuk mencari Putri Blue. Olivia berlari dengan cepat begitu pula dengan Suci yang terbang melesat. Para Peri yang mendengar permintaan tolong dari Putri Blue mengira ada seorang Peri yang dalam bahaya. Semua Peri yang dimana pun mereka berada pergi untuk datang ke sumber suara tersebut.


_____________________________________________


KASTIL KERAJAAN ZARQO


Di Kastil Kerajaan Zarqo pada pagi hari di saat matahari telah terbit dan asisten pribadi Pangeran Alex berjalan menghampiri kamar Pangeran Alex. Betapa terkejutnya ia mendapati sang pangeran tidak ada di kamarnya sampai-sampai ia menyuruh pengawal pangeran untuk mencarinya di seluruh kastil.


Kapten Jeffry yang datang ke kastil terheran karena pengawal pangeran berkeliling kastil. Di saat itu pula, ia melihat Zefron yang yang sedang berjalan ke arah dirinya. Si Zefron itu mendekat lalu berdiri dihadapan Kapten Jeffry saraya berkata, "Apakah kau melihat pangeran Alex?"


"Tidak, aku baru datang kesini."


"Dasar pangeran Alex, kemana dia pergi?" gumam Zefron yang sedang pusing mencari Pangeran Alex yag tidak ketemu-ketemu.


"Maksudmu pangeran Alex menghilang?" tanya Kapten Jeffry yang melihat sekeliling ruangan kastil.


"Sepertinya begitu."


"Aku akan menyuruh prajuritku untuk mencarinya," kata Kapten Jeffri yang mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke luar kastil.


"Baiklah, tetapi apa yang membuat kau kesini?"


Kapten Jeffry membalikkan badannya dan berkata, "Semua orang disini memiliki tugas pekerjaan, bergitu pula denganku."


Kapten Jeffry segera mencari prajuritnya yang berkumpul di ruang makan prajurit dan dihadapan mereka semua, Kapten Jeffry mengumumkan telah menghilangnya Pangeran Alex di kastil. Untuk itu, setelah sarapan pagi, para prajurit harus bersiap untuk mencari Pangeran Alex. Semua prajurit dengan kompak berkata 'siap, Kapten'.


Setelah memberi tahu pengumumannya, Kapten Jeffry menyetop salah satu pelayan di kantin dan bertanya, "Apakah Olivia masuk kerja hari ini?"


"Aku tidak melihatnya dia bekerja hari ini, bahkan dari kemarin dia tidak masuk kerja," jawabnya.


Sang kapten keluar dari ruangan makan itu dan kembali menuju kamar Putri Blue. Ia mengetuk kamarnya, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Dia membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalamnya. Tak lupa pula, ia menutup pintunya.


Kapten Jeffry sungguh khawatir dengannya, ia bahkan harus membohongi Raja Jufftin karena ia percaya dengan perkataan Olivia ketika kejadian pembunuhan di kastil. Ia duduk diatas kasur Putri Blue dan merenung dalam kesunyian kamar tersebut dengan hati yang pilu menyesakkan dada.


FLASHBACK


Di pagi hari menjelang siang yang cerah, Kapten Jeffry dan Kesatria Zazu telah duduk menunggu kehadiran Pangeran Alex di ruang rapat Istana Kerajaan Zarqo. Mereka sangat menunggu lama hingga datanglah Zefron yang membuat mereka bertanya-tanya.


"Dimana pangeran Alex?" tanya Kesatria Zazu yang melihat ke arah Zefron.


"Dia menghilang ketika dalam perjalanan. Maaf, ini kecerobohanku."


"Baik," jawab Zafron yang keluar dari ruang rapat.


Kesatria Zazu menepuk bahu Kapten Jeffry sambil tertawa lebar ia mengejek Kapten Jeffry dengan perkataannya. "Hei, kau sudah lama sendirian, apa tidak capek ditunggu oleh tugas? Carilah pacar."


"Aku lebih senang kalau tugas menungguku," jawabnya dengan datar sambil melirik sadis ke arah Kesatria Zazu.


Lalu sang kapten melihat ke arah jendela sambil berkata, "Sebentar lagi waktu makan siang, aku harus pergi."


"Hei? Kau sungguh tega meninggalkanku hanya untuk tugas," ucap Ksatria Zazu.


"Aku lebih tega meninggalkanmu daripada meninggalkan tugasku."


Kapten Jeffry datang ke kastil membawakan makanan yang lezat untuk di berikan kepada Putri Blue. Ia pikir Putri Blue akan menyukai makanan ini karena ia membelinya di kedai makanan yang terkenal di pasar kota Zarqo.


Tiba-tiba langkahnya harus berhenti karena melihat darah yang mengalir di atas lantai lorong taman dekat kamar Putri Blue. Ia melihat banyaknya mayat yang tumbang pada saat itu dan ada dua prajuritnya yang sedang bertengkar hebat.


"Hei kalian!" teriak Kapten Jeffry dengan nada yang terguncang.


Dua prajurit tersebut melihat ke arah Kapten Jeffry, masing-masing diantara mereka berdua memegang pedang dan tongkat sihir. Lalu dua prajurit tersebut terdiam dan tidak berkutik sama sekali di hadapan Kapten Jeffry. Mereka berdua melepaskan senjatanya.


Senjata itu terjatuh di lantai dan Kapten Jeffry menghela nafasnya lalu berkata, "Siapa pelaku pembunuhan ini?!"


Dari arah belakang, si Olivia muncul berlari membawa prajurit lain di kastil dan menghampiri Kapten Jeffry lalu memegang bahu sang kapten sambil mengatur nafasnya.


"Untung kau disini," ucap Olivia. "Tangkap mereka berdua! Mereka membunuh satu sama lain disini."


"Apa?!"


Si prajurit penyihir itu mengambil tongkatnya lalu menyerang Kapten Jeffry dan yang lain. Untungnya mereka dapat menghindar dari penyerangan. Secara bersamaan pula mereka diserang oleh prajurit yang dituduh salah Olivia sambil membawa pedang yang dikibaskan ke Kapten Jeffry. Dengan cepat Olivia mengambil tongkatnya dan membuat prisai pelindung.


Makanan yang dibawa oleh Kapten Jeffry tumpah ke lantai dan membuatnya marah. "Tangkap mereka berdua! Dan bawa mereka ke sel bawah tanah!"


Para prajurit dengan siap siaga menangkap mereka berdua yang sempat berusaha menyerang. Terjadilah pertumpahan darah lagi di lorong taman tersebut. Kapten Jeffry tidak ambil diam, ia mengeluarkan pedangnya dan menyuruh Olivia berlari lalu meminta bantuan ke pusat sedangkan Kapten Jeffry melawan prajurit yang dianggapnya seorang pengkhianat


Olivia menuruti perintah tersebut dan pergi ke petugas pusat yang berada di kota Zarqo. Disanalah berita tentang pembunuhan kastil menyebar dikalangan petinggi elit sampai di kalangan masyarakat.


Kapten Jeffry melawan prajurit si pengkhianat yang menyerangnya dengan pedang, sang kapten menyerang dengan pertubi-tubi. Sedangkan prajurit penyihir si pengkhianat tersebut dilawan oleh para prajurit yang di bawa oleh Olivia tadi.


Sang kapten berhasil melumpuhkannya dan pedang yang digunakan untuk menyerang Kapten Jeffry telah jatuh ke lantai lalu disingkirkan oleh Kapten Jeffry menggunakan kakinya. Dengan tiba-tiba, Kapten Jeffry terjatuh dilumuran darah. Baju yang ia kenakan habis terkena darah yang berbau amis.


Kapten Jeffry terkena serangan sihir yang diakibatkan oleh si prajurit penyihir pengkhianat yang berhasil mengalahkan prajurit yang dibawa oleh Olivia. Kepalanya membentur tiang dan lengan tangan kanannya terluka dan berdarah serta pedang yang ia genggam selama ini pun terlepas darinya.


Ketika Kapten Jeffry berbaring dan melihat ke atas, ia melihat pedang yang ia gunakan telah ada di depan matanya dan pedang tersebut jatuh pada genggaman prajurit si pengkhianat tersebut. Pandangan Kapten Jeffry mulai rabun, ia tidak sanggup melawan lagi.