
"Aku tidak mengerti dengan perkataanmu," jawab Putri Blue yang tak menoleh si Suci,
Suci menghela nafasnya dan bercerita kepada Putri Blue. "Dulu, ada salah satu anggota keluargaku yang menjadi Tim Pasukan Elit lalu ia tidak pernah kembali lagi disaat tugas terakhirnya."
Hati Putri Blue sempat terkaget mendengar hal itu lalu menundukkan kepalanya dan bertanya, "Siapa namanya?"
"Bella."
Putri Blue terdiam dan terpaku di tengah dinginnya malam, tak ada jawaban yang keluar dari bibir manisnya. Ia bahkan tidak menoleh ke Suci.
"Huft ... Apakah kau tahu? Bella adalah anak kandung dari peri tua yang kau selamatkan. Sebenarnya aku bukanlah anaknya, tetapi ia menganggapku sebagai anak dan aku memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'."
"Dulu, dia hidup sendirian karena kehilangan seorang putrinya dan aku kehilangan keluargaku ketika perang di bagian Selatan kerajaan ini," sambung si Suci yang bercerita di masa lalunya.
Putri Blue mengangkat kepalanya dan di dalam hatinya yang paling terdalam, ia sangat bersalah kepada keluarganya Bella. Ia menatap mata Suci dengan sayu dan berkata, "Bagaimana kau tahu tentang orang yang akan melawan Raja Carles dan Pangeran Alex?"
"Bela menceritakannya kepada Ayahnya sebelum menjalankan sehari sebelum menjalankan tugas. Katanya akan ada manusia yang memiliki kekuatan hebat untuk menyelamatkan Kerajaan Zarqo dari Pangeran Alex dan Raja Carles," jelas Suci. "Aku tahu selama ini Kerajaan Penyihir Putih memanfaatkan sumber daya kerajaan ini. Semua penyihir itu jahat!"
"Tidak, masih ada yang baik. Olivia adalah penyihir hitam yang baik," jawab Putri Blue.
"Aku baik?" batin Olivia yang menguping pembicaraan mereka.
"Tetap saja dia bagian dari mereka! Yang satu suka memanfaatkan dan yang satu suka menjajah. Itu sama sekali tidak enak dan merugikan kami sebagai penjaga keseimbangan alam. Bangsa Peri Dyart itu tugasnya melindungi pepohonan, Bangsa Peri Naiad yang harus menjaga air supaya tetap tidak tercemar dan Bangsa Peri Oread yang bertugas menjaga pegunungan," jelas Suci yang saat itu terpancing emosi.
"Apalagi Kerajaan Naiad telah tunduk dengan penyihir hitam. Dan hanya bangsa Naiad disini yang tersisa," sambung Suci.
"Kenapa aku merasa bersalah dengan ini?" batin Olivia.
Olivia membalikkan badan lalu melahkan kakinya kembali ke kamarnya, tetepi langkahnya berhenti setelah ia mendengar perkataan dari sang Putri. "Aku tahu perasaanmu, tetapi kau harus ingat siapa yang menyelamatkanmu. Tanpa Olivia, kau tidak akan bahagia seperti sekarang ini."
Olivia tersenyum sambil berkata, "Kau memang baik, Blue."
Olivia pergi ke kamarnya dan berbaring di kasur yang empuk. Pikirannya kacau sekali semenjak ia bertemu dengan Putri Blue. Ia menjadi ragu untuk berpihak kepada Raja Carles karena merasa kasihan dengan para Peri yang merana akibat harus melayani penyihir hitam.
**
"Dia sudah pergi, ayo kita bahas ini lagi," kata Suci yang sejak dari awal merasakan kehadiran Olivia yang sedang menguping.
"Akulah orangnya."
"Apa?!! Seriusan?!!"
Si Suci memeluk erat sang Putri Blue, ia sangat senang karena dugaannya benar. Si Putri Blue merasa risih karena ia tidak terbiasa di peluk oleh orang asing, tetapi ia kubur rasa risihnya dan pasrah akan pelukan dar Suci. Lalu si Suci melepaskannya dan memegang tangan Putri Blue.
"Jika kau butuh apa-apa, kasih tahu aku! Aku akan membantumu." semangat si Suci membara karena senang.
"Aku butuh buku sihir Peri Bangsa Dyart," jawab Putri Blue. "Karena aku belum menguasai sihirnya, sebenarnya masih banyak sekali sihir yang belum kupelajari."
"Aku peri dari Bangsa Dyart. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu."
Putri Blue menunggu datangnya kembali si Suci, ia rela menikmati menunggunya sambil melihat bintang di atas. Lalu ia teringat tentang sapu tangan milik Pangeran Alex yang berada di bawah ketinggian pohon. Putri Blue khawatir jika sapu tangan itu akan hilang.
Si Suci kembali dan melihat Putri Blue yang tampak gelisah mondar-mandir tak karuan di teras rumahnya. Suci langsung menghampiri Putri Blue dan memberikan bukunya lalu bertanya "Ada apa? Kenapa kau gelisah, Blue?"
"Barang berhargaku ada dibawah, aku khawatir kalau hilang ataupun basah terkena hujan di malam hari."
"Barangnya apa? Nanti aku ambilkan."
"Sapu tangan."
"Baiklah," jawab Suci yang langsung meluncur dari atas pohon lalu ia mengepakkan sayapnya untuk mendarat.
Suci mencari sapu tangannya dan ketika ketemu ia memegang sapu tangannya lalu terbang kembali ke atas pohon. Putri Blue sangat senang saat sudah sampai ke teras, sapu tangan itu masih ada walaupun ada noda kotor di sana.
"Terima kasih banyak, Suci."
Putri Blue memlilitkan sapu tangannya ke tubuhnya seakan ia memakai selimut. "Hangat."
"Apakah kau bisa terbang, seperti Pangeran Alex?" tanya Suci yang tiba-tiba.
Putri Blue menatap kebingungan ke arah Suci. "Memangnya Pangeran Alex bisa terbang? Bukannya dia tidak memiliki sayap?"
Suci tertawa karena pertanyaan konyol yang diberikan oleh Putri Blue. Ia menjelaskan jika Pageran Alex bisa memunculkan sayapnya dan ia juga bisa menghilangkan sayapnya. Si Suci menjelaskan jika kekuatan sayap Pangeran Alex lebih hebat karena dari kekuatan Kerajaan Polip, yaitu bersayap burung dan berwujud manusia. Sedangkan peri hanyalah makhluk hidup yang kecil dan sapapnya seperti kupu-kupu dan capung.
"Aku belum tahu bagaimana cara mengeluarkan sayapku," tanggap Putri Blue.
"Seandainya kau sama sepertiku, aku akan mengajarimu terbang," kata Suci dengan penuh keyakinan,
"Kau bisa mengajariku dengan buku ini," jawab Putri Blue yang menunjukkan buku yang dikasih oleh Suci.
"Baiklah, kita akan belajar malam in,." perintah Suci.
Mereka berdua belajar dengan mengasyikan dan si Suci sangat lihai mengajari Putri Blue dengan senang hati. Ketiaka sudah sangat melam, mereka berdua memutuskan untuk tidur apalagi si Putri Blue sudah menguap dan tidur.
"Bukunya untukmu, kau harus simpan baik-baik."
Putri Blue menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Kau jangan khawatir."
Putri Blue kembali ke dalam rumahnya dan masuk ke arah kamarnya. Ia melihat Olivia sedang berbaring di atas kasur dengan kamar yang hanya pencahayaannya hanyalah api yang berada sumbu lilin.Tidak ada listrik di setiap rumah peri dihutan, mereka hanya menggunakan api.
Putri Blue sebenarnya sangat miris dengan ini, karena ia hidup di kastil dengan listrik sedangkan disini tidak ada listrik. Ia menaruh bukunya lalu di timpa dengan sapu tangan dan menaiki kasur serta berbaring di sebelah Olivia.
"Mereka sudah bekerja untuk menstabilkan alam, tetapi balasannya mereka tidak bisa menikmati hidup yang lebih indah di malam hari." kata Putri Blue. "Aku mengkhasihani bangsa peri."
Olivia tidak menjawab apapun ataupu merespon dari perkataan Putri Blue, ia hanya memejamkan matanya seakan ia tertidur lalu Putri Blue ikutan meram dan memiringkan badannya berlawanan dengan Olivia. Olivia juga memiringkan badannya berlawanan lalu ia membuka matanya.
Ia teringat perkataan Blue si Serigala pelindung Kerajaan Zarqo kalau ia hanya tersesat di lubang hitam akibat masa lalunya yang kelam. Olivia sempat berfikir jika si tuan putri bernama Putri Blue itu memiliki nasib yang sama dengannya, tetapi ia sadar jika nasibnya dan nasib Putri Blue sangatlah berbeda.
Karena sikap dan sifat aku dan dia sangat berbeda jauh. Dia sungguh memiliki hati yang lembut," batin Olivia. "Kau memang lebih beruntung daripada aku."
Keesokkan harinya, Putri Blue terbangun dari tidurnya. Ia melihat si Olivia masih tidur dan ia memutuskan untuk pergi ke luar dari kamar membawa buku dan memakaikan sapu tangan lagi. Ketika ia keluar dari kamar, ia kaget karena si Suci telah ada di depan kamarnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Suci.
"Ah ... kenapa kau ada di depan pintu?" tanya Putri Blue yang menutup pintu kamarnya dengan hati-hati.
"Aku menunggumu bangun tidur."
Putri Blue menggelengkan kepalanya dan menahan tawanya, "Psstttt ... Jangan memaksa dirimu untuk berdiri di depan pintu dan menungguku."
Putri Blue pergi ke arah depan rumah dan membuka pintu depannya, si Suci yang berada di sampingnya bertanya, "Ini masih gelap dan kabut pagi masih tebal. Kau mau kemana Blue?"
"Aku ada janji untuk menemuinya. Bisakah kau merubahku untuk menjadi bentuk manusia normal lagi?" tanya Putri Blue.
"Tentu saja. Aku akan mengambilkan penawarnya untukmu."
Si Suci berlari ke dapur dan menumbuhkan tanaman rambat di pot yang ia miliki. Lalu tanaman itu berbuah dengan buah seperti berry dengan warna kuning. Lalu ia memetiknya dan membawanya kepada Putri Blue. Sang Putri merasa senang dan Suci membawa Putri Blue turun ke bawah pohon.
Sesampainya di bawah pohon, Putri Blue, menitipkan bukunya ke Suci dan menyuruh Suci untuk memutar badannya karena ia mau menanggalkan bajunya. Lalu ia memakan buah tersebut dan badannya tumbuh menjadi tinggi dan besar, seperti semula.
Putri Blue segera memakai gaunnya, setelah itu ia menyuruh Suci untuk meminta bukunya kembali. Si Suci membalikkan badan dan menyerahkan buku sihirnya. Putri Blue juga mengambil sapu tangan milik Pangeran Alex dan memasukkan buku serta sapu tanggannya di kantongnya.
"Aku mau pergi, kalau si Olivia mencariku, bilang saja tunggu aku. Aku tidak akan lama."
"Siapa yang akan kau temui?"
Putri Blue tersenyum dan berkata, "Namaku. Ini rahasia kita saja."