
Aku tidak tahu kalau keputusan untuk menolak bergabung paskibra membuat Saga semarah tadi. Aku menolak paskibra karena aku punya alasan, aku tidak bisa berlama lama berada dibawah sinar matahari.
Aku sering pingsan, aku tidak mengatakan alasan itu karena aku tidak ingin dianggap lemah oleh mereka. Tidak ingin seperti teman sekalasku dulu, yang ketika aku jatuh dan terkapar di UKS mereka menggunjingkan dan menyebutkan manja.
Meski Saga sudah pergi, aku merasa terluka saja. Apalagi Saga mengatakan kata semacam tadi.
"Udah Van, santai gue juga gak ikut paskibra kok" Dian menenangkan dengan mengusap tanganku.
Aku tersenyum "terimakasih"
Nurul yang ada dibelakang mencondongkan tubuhnya "kenapa kamu gak mau ikut paskibra? Takut hitam ya?"
Aku hanya tertawa "kalau kena panas bisa jadi udang gue"
Mereka menganggap itu lelucon jadi mereka tertawa bersama.
🚕🚕🚕
Jam istirahat Dian mengajak ku pergi kekantin, aku menolaknya. Jujur aku sedikit tidak nyaman berada dikantin. Jadi aku memutuskan untuk duduk di dalam kelas.
Kata Sofia pada jam istirahat banyak pasangan yang berpacaran didalam kelas, jadi aku membiarkan saja saat seorang siswa laki laki memasuki kelas kami. Sepertinya dia dari kelas lain karena aku belum menemui wajahnya di kelas kami.
Saga masuk kedalam kelas ku, dia membawa secarik kertas. Aku tidak tahu kertas apa yang di bawa ditangannya
Dia meletakkan kertas itu diatas meja tanpa mengambil duduk. Kupandangi kertas yang berstempel resmi Pramuka.
"Lo udah dapat penegak Bantara?" Tanya Saga kepadaku.
Aku pernah mendengarnya, tapi aku belum pernah ikut Pramuka, jadi aku menggeleng saja.
Saga mendegus.
"Pramuka disini wajib, gue gak tahu disekolahan lo dulu Pramuka wajib atau gak, yang jelas di sini wajib tanpa membedakan bedakan golongan" papar saga
Dari suaranya aku bisa menilai dia masih marah dengan penolakan ku bergabung di paskibra tadi pagi.
"Iya" aku tidak berniat menanggapi Saga.
"Karena elo belum mendapatkan penegak Bantara, jadi nanti elo bergabung sama anak kelas satu"
Aku menatap wajah Saga yang masih tenang "gue gak mau, lo gila ya, gue gabung di kelas dua aja gue tetep gak punya temen apalagi gabung di kelas satu" jawabku bersikeras menolak.
"Gue gak mau tahu" Saga menekan kertas yang ada di atas meja "diperaturan ini sudah dijelaskan, siapa yang tidak ikut ekstrakurikuler Pramuka, akan mempengaruhi nilai rapotnya" ancam Saga.
"Emang ada peraturan murahan yang maksa sisiwinya buat ikut eskul" aku mendobrak meja "gue pernah sekolah di sekolahan elit ya Ga, jadi jangan coba coba nipu gue"
"Terserah elo, disini gue cuman ngingetin elo"
Saga tersenyum miring "elo mau tinggal di kelas dua juga gak masalah buat gue"
Dia pergi meninggalkan kertas berstempel Pramuka diatas meja.
🚕🚕🚕
Pukul setengah sebelas bunyi bel berbunyi, Dian tidak pulang katanya nanggung mau langsung Pramuka.
Banyak juga teman sekelas yang tidak pulang, mereka langsung berganti seragam Pramuka. Aku tentu tidak seperti mereka, tahu kalau ekstrakulikuler Pramuka diwajibkan baru hari ini.
Untungnya papa libur setiap hari Jum'at jadi aku tidak perlu menunggu papa lama lama didepan gerbang. Begitu papa membunyikan klakson aku lantas naik kedalam mobil.
Papa melajukan mobilnya sangat pelan saat itu, sambil kami mendengarkan lagu yang dilantunkan slank.
"Van. Gimana kalo kita beli motor?" Tanya papa ditengah suara vokalis Slank bernyanyi.
Aku hanya menoleh papa sekilas "Mama setuju gak?" Tanya ku.
"Papa belum bicarain masalah ini sama Mama kamu, rencana papa sih, mobil ini akan papa jual untuk beli motor" papar papa.
Aku menoleh setengah terkejut "gak bisa gitu dong pa, kalo nanti kita mau ke Jakarta gimana? Atau sehabis kita tinggal di Jakarta lagi" tolakku
"Jadi papa gak ada rencana buat tinggal di Jakarta lagi?" Pekikku
Papa menggeleng "papa udah nyaman tinggal disini, gak ada macet, gak ada bunyi klakson tiap malam"
"Tapi Vanda gak betah disini" sungutku.
Aku dan papa akhrinya terdiam, memilih menikmati lantunan lagu yang mengisi seluruh mobil.
Jam setengah dua siang, aku baru terbangun dari tidur siang. Mandi, setelah itu berganti dengan seragam Pramuka. Sumpah, rasanya malas sekali untuk pergi ke SEMANSA (SMA SATU) .
Aku bahkan hanya mengikat rambut asal, membawa tas ransel yang hanya kuisi satu buku.
Aku menuruni tangga, papa sedang membaca buku di ruang tamu. Aku ikut duduk di samping papa, mengikat tali sepatu hitam putih milikku. Jangan tanya apa peralatan Pramuka ku lengkap, aku tidak memakai hasduk (dasi Pramuka) hanya memakai seragamnya saja.
"Pa anterin Vanda yuk" ajakku
Papa mendongak, menilik penampilanku yang sudah rapi "mau kemana?"
"Latihan Pramuka"
Papa tertawa "Vanda gak ngigau, biasanya kalau sama ekstrakulikuler paling anti" cicit papa
"Sebenarnya iya, tapi ini diwajibin"
Papa bangkit. Meletakkan buku diatas meja. Kami sama sama pergi, setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, pukul dua siang aku sudah berada didepan gerbang. Papa sudah pergi lima menit yang lalu. Sedangkan aku berdiri disini karena ragu.
Didalam sana suara anak anak yang ikut Pramuka sedang berbaris, itu artinya kegiatan sudah dimulai. Dan aku pasti terlambat, nanti dihukum pastinya.
Tinn
Suara klakson dari motor membuatku menoleh, aku menatap Micky yang duduk diatas motor sambil tersenyum. Seragam Pramuka lengkap beserta hasduk, beberapa tempelan yang memenuhi seragamnya.
"Ngapain berdiri disitu?" Tanya Micky tanpa mematikan mesin motornya.
"Gak masuk?" Tanyanya lagi
Micky membawa Kawasaki ninja ZX-10 Rr warna hitam. Terlihat serasi dengan tubuhnya yang gagah.
"Takut ah, udah baris soalnya" sungutku
"Yaudah, naik yuk" dia memintaku naik dibelakang jok kecil motornya , aku tentu melipat dahi, bingung.
"Bolos" ajaknya sambil tersenyum.
Sebenarnya aku ragu untuk hal ini, tapi dihukum ditengah lapangan aku rasa bukan pilihan bagus. Apalagi pergi dengan Micky , pasti tidak segaring berada dipramuka.
"Kalo besok gue dihukum, elo yang tanggung jawab ya" ancam ku.
Micky tertawa, tawa yang lucu dan itu menular padaku "ya ya, udah naik aja" pintanya
"Rok gue" aku memberitahu bahwa aku menggunakan rok diatas lutut. Micky tertawa, dia tidak membawa tas saat itu, jadi langsung mematikan mesin motor dan turun.
"Bentar ya" katanya berlalu pergi meninggalkan motor didepan gerbang.
Dia pergi kedalam sekolahan entah mengambil apa, tidak terlalu lama aku menunggu Micky, lelaki itu sudah keluar dengan jaket ditangannya.
Heran, apa Saga dan Micky mempelajari jurus yang sama untuk memanjakan seorang wanita.
"Nih pakek" bedanya Micky tidak melempar jaket itu, dia menyodorkan dengan senyum.
"Punya siapa?"
"Punya adek kelas" Micky tertawa lagi.
Setelah mengikat dengan jaket, aku naik keatas motor Micky. Dan kami pergi, pergi menikmati udara panas yang berhembus bersama kumpulan debu