ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Lima Puluh Tiga



Kami sampai di Palembang sekitar pukul tujuh. Langsung disajikan dengan lampu kerlap kerlip menggantung di jembatan. Micky mengajakku untuk mencari penginapan, setelah menemukan dia memberikan kunci kamar dan berjalan ke kamarnya.


"Istirahatlah, nanti jam delapan kita jalan jalan" katanya sambil berjalan ke kamarnya.


Kamar Micky dan aku bersebelahan, aku masuk ke kamar, merebahkan diri dan sedikit terbayang bayang mengenai Saga.


Kalau Saga tahu aku sudah di Palembang bersama Micky, dipastikan dia akan mencak-mencak.


Sebaiknya aku melupakan tentang Saga saja hari ini, toh niatku datang ke Palembang juga untuk melupakan Saga. Jadi aku langsung pergi mandi dan menyiapkan keperluan untuk pergi jalan-jalan dengan Micky nanti.



Aku hanya menggunakan pakaian santai, karena tidak ingin terlihat berlebihan, nanti ditertawakan Micky. Aku keluar dari kamar berniat berjalan kearah Micky, namun lelaki itu tengah ngobrol bersama temannya, mereka kompak menatapku lalu tertawa. Setelahnya Micky menepuk bahu lelaki didepannya, dan lelaki itu pergi entah kemana.


"Siapa?" Tanyaku mendekati Micky


"Temen" kata Micky tersenyum sedikit miring


"Jadikan perginya?" Tanyaku


Micky hanya mengangguk lalu menggenggam tanganku lebih erat. Aneh, aku merasa risih oleh itu, jadi ketika Micky menggenggam tanganku untuk berjalan, aku sengaja melepaskan.


"Kenapa? Gak suka?" Tanya Micky


"Bukan, bukan gitu, gak enak aja diliatin orang" kilahku.


Micky tidak menggubris lebih banyak lagi, kami berjalan beriringan, saling bercerita. Kami pergi dengan mobil Micky, menyusuri jalan


"Ini namanya BKB (Bendeng Kuto Besak)" tunjuk Micky


Aku hanya mengangguk. Karena entah liburan kali ini terasa biasa saja, aku merasa sepi, padahal sedang berdua. Aneh ya....


Micky berhenti di sebuah club, bukan, bukan club olahraga, tapi tempat dugem. Aku merasa aneh, bahkan ragu melepas sabuk pengaman ketika Micky sudah berniat keluar.


"Lo serius ngajak gue ketempat ginian?" Tanyaku dengan tampang serius


Demi Tuhan, seumur umur di Jakarta aku hanya sekali pernah ketempat seperti ini, itu pun dulu karena merayakan ulang tahun Ajil. Bukan munafik, tapi aku tidak suka tempat semacam ini.


"Iyalah, emangnya mau kemana?" Tanya Micky


Aku justru berfikir yang tidak tidak, bukan mau menuduh, tapi pikiranku sekarang berkecamuk antara Micky ini brengsek atau memang dia hanya sekadar mengajakku bersenang senang.


"Gue gak suka tempat kayak gini Mik" tekanku pada setiap kalimat.


Micky hanya tertawa "terus maunya kemana?" Tanya dia.


Aku menatap luar jendela mobil, menerawang jauh dan merasa ingin pulang saja. Aku sudah tidak nyaman pergi dengan Micky, rasanya Micky bukan Micky yang dulu, bukan Micky di sekolahan yang lucu.


Micky menarik dagu ku, sehingga aku menatapnya, kutepis tangan Micky sedikit kasar. Mungkin dia akan tersinggung dengan prilakuku andai dia normal.



"Santai dong Van" kata Micky sedikit meninggi "gue kesini ngajak Lo seneng seneng, bukan ngajak Lo maksiatan" katanya penuh penekanan.


"Tapi seneng seneng bisa ketempat lain kan selain kesini" kataku.


"Jadi Lo mau kemana sekarang?" Bentak Micky.


"Kok Lo bentak gue sih" jawabku tak kalah mengeras.


Aku tidak perduli kalau akhirnya Micky menurunkan ku disini atau meningalkanku. Aku merasa kesal saja dengan Micky, terlebih merasa kesal karena sudah mempercayainya.


Micky menarik nafas perlahan, lalu membunyikan mesin mobil dan mengajakku melenggang. Syukurlah Micky tidak sebrengsek dugaan ku.


Kami berhenti di cafe, tempat nongkrong. Kami duduk sambil saling mendiamkan, Micky dengan ponselnya begitu pun aku. Pesanan yang dipesan Micky datang. Aku lupa saat itu aku memesan apa dan lupa juga bagaimana tatanan cafe. Yang aku tahu aku sedang kesal.


"Dimakan" kata Micky sambil memainkan garbunya.


"Mau mampir ke mall gak, mumpung di Palembang?" Tanyanya


Sudah berapa lama ya aku tidak ke mall? Lupa, intinya semenjak aku datang ke Mesuji makmur.


"Boleh" jawabku singkat.


"Udah dong jangan marah, gue minta maaf" kata Micky menatap ku dengan tatapan mata yang sudah meneduh.


"Gue tadi cuman bingung mau ngajak elo kemana, gue takut elo kecewa" kata Micky melemah "Gue gak ada maksud yang aneh aneh ke elo" kata Micky menjelaskan.


Mendengar suara Micky yang berubah serius dengan nada lemahnya, aku jadi tidak tega. Kasihan juga, mungkin niatnya hanya tidak ingin aku bosan menikmati liburan. Jadi mengajakku ketempat asal asalan.


"Lo sering kesana?" Tanyaku menyelidik


Micky mendongak, tersenyum sekilas tanpa suara.


"Bukan gue aja, Saga pun pernah" kata Micky


Kenapa jadi bawa bawa Saga, kalau begini bukannya lupa malah terus ingat.


"Oh" kataku singkat sambil memainkan makanan tanpa berniat menyantapnya.


Selesai makan, kami pergi ke mall, nama mall nya PS. Tidak tahu kepanjangannya apa, yang jelas Micky berkata kalau nama mall nya PS.


Sampai disana aku dan Micky hanya berjalan jalan saja, aneh ya, dulu mall adalah tempat pelarian saat aku lelah sekolah. Tapi sekarang rasanya mall adalah tempat termewah yang bisa kudatangi.


Aku dan Micky pergi ke permainan, memainkan beberapa permainan dan saling tertawa. Rasanya aku lupa akan kejadian tadi, lupa juga sudah memaki Micky.


Ponsel di saku bergetar, ku tatap nama Saga yang memanggil. Aku tidak ingin kembali lagi padanya, meski hatiku ingin. Jadi ku tolak panggilan Saga.


Ponsel ku bergetar lagi. Yang nelfon tetap Saga. Dari pada terus terganggu kuputuskan untuk mengangkatnya.


"Gue ngangkat telfon dulu ya" kataku menepuk bahu Micky.


Micky menoleh lalu mengangguk.


"Ada apa?" Tanyaku pada Saga


"Dimana sekarang?" Bukan menjawab dia malah bertanya posisiku berada


"Apa urusan elo" kataku setengah membentak


"Dimana elo sekarang Vanda?"


Lihatlah Saga, dia kira dia ini punya pengaruh luar biasa untuk hidupku, punya hak yang istimewa begitu. Enak sekali dia bertanya dan membentak ku hanya untuk mendapatkan jawaban.


"Apa urusan elo?" Hampir saja aku berteriak. Untungnya masih bisa mengendalikan suaraku.


Saga menghela nafas, lalu berbicara lirih "gue cuman pengen tahu elo dimana"


Aku terdiam, perlukah aku memberitahu posisiku. Perlukah Saga mengetahui semua tentangku sedangkan kami tidak memiliki hubungan.


"Kayaknya gue gak perlu ngasih tahu apa apa ke elo" kataku langsung mematikan panggilan.


Sudahlah, semenjak Saga mendeklarasikan hubungannya dengan Aliya, perasaanku sudah kubatasi sebisanya.


Saga memang hebat, selalu menggantungkan perasaan orang tanpa mau memberi kejelasan. Dia kira semua wanita bisa dia perlakukan seperti itu. Dekat dengan ini jadain dengan itu. Dia kira aku wanita seperti apa, sudah dicium terus di tinggalkan, sudah di hancurkan tapi tidak diberi status hubungan.


Ah demi Tuhan. Memikirkan tentang Saga dan sakit hatiku. Aku ingin memakinya, mengumpat sampai aku berbusa, membunuhnya bila perlu


"Saga brengsek!!!" kataku penuh benci


Terlebih aku membenci, karena sudah diperlakukan seperti ini oleh Saga aku tetap jatuh cinta, tetap merasa berdebar hanya karena menatapnya. Masih terus berharap bahwa Saga bisa mencintaiku, terus berharap kalau Saga akan kumiliki.


Brengsek bukan.