ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT sembilan belas



Sekitar pukul satu siang, Saga menemuiku didalam kelas saat jam kosong. Aku masih asyik bercerita dengan Nurul, Dian Serta Sofia. Kurasa mereka adalah geng ku sekarang.


"Tapi emang harus ya kita qurban kambing?" Tanya Sofia saat pembahasan kami mengenai qurban


"Ya gak harus Sof, sapi juga boleh" kata Nurul.


"Kasihan tahu, mereka gak salah apa apa harus di sembelih" Sofia meletakkan dagunya diatas meja.


Aku belum tahu kalau Sofia menyukai kambing, dia adalah fans garis keras para embekkk.


"Lah emangnya kudu bersalah dulu ya kalau mau nyembelin binatang" kata ku ikutan menimpali ucapan Sofia.


Gadis itu mendebrak meja  "tapi kan menurut peri kekambingan itu tidak berperasaan banget Van" dia melotot.


"Elah Rul, selain suka India elo juga suka kambing garis keras nih" cicit Dian jengah. "Lagian dia disembelih juga masuk surga. Gue aja pengen jadi mereka biar masuk surga"


"Lo gak bersyukur jadi manusia Yan?" Tanya Nurul


"Bukan gitu busyet. Maksud gue, gue pengen masuk surga"


"Lah otak Ello sama kambing kan sama , sama sama dungu " seloroh Sofia tajam.


"Eh Saga tuh" aku menoleh saat Nurul menyebutkan nama Saga.


Lelaki itu berjalan ke arahku dengan jalan tegaknya.


"Jadi ke pos nya?" Tanya Saga tiba tiba


"Eh" aku ingat tadi pagi aku mengajaknya pergi ke pos "jadi"


"Sekarang aja yuk"


"Kan belum pulang"


"Gak papa, gue udah ijinin elo, sekalian mau nganterin undangan persami"


"Udah ikut aja kali Van, bu Asri juga gak berangkat hari ini" pungkas Nurul dari belakang.


"Iya deh"


Aku merapikan buku dan membawa tas


"Pergi dulu ya" aku berdada pada mereka.


Kami langsung berjalan ke arah parkiran setelah meminta ijin pada BK. Diparkiran, Saga selalu memberikan jaket nya untuk menutupi rok pendek ku.


"Nganterin apa sih emang Sag?" Aku duduk dibelakang dengan berpegangan pada pinggang Saga.


Saga memulai motornya dengan pelan.


"Nganterin surat undangan buat persami besok" kata Saga menjelaskan.


Aku hanya mengangguk dari belakang sambil ikut terfokus pada jalanan yang diambil Saga.


"Lo ikut kan persami besok?"


Ketika mendengar pertanyaan Saga, reaksi pertama yang kuberikan adalah mulut terbuka.


"Persami itu apaan?" Tanya ku yang memang tidak tahu dan aku tidak berpura pura untuk itu.


Saga tertawa, tawa renyah yang selalu bisa membuat ku suka.


"Persami itu perkemahan Sabtu malam Minggu"


"Wajib gitu ya?" Tanya ku sambil mencondongkan wajah.


"Wajib bagi yang belum dapet Bantara, eh elo juga belum dapet ya. Berarti wajib" kata Saga.


Saga sempat berhenti di sebuah toko kecil, aku tidak mengenal ini toko apa.


"Tunggu bentar"


Kau ingin tahu, Saga menstandarkan motornya untuk berdiri gagah, sedangkan aku duduk di atas seolah tidak terjadi apa apa.


Saga kembali dengan dua masker kesehatan untuk kami.


"Nih pakek, debunya banyak" kata Saga menjelaskan.


Setelah memakai masker itu kami melanjutkan perjalanan. Menyambung pembicaraan yang sempat tertunda.


"Gue gak suka nginep Sag, boleh gak gak ikut sekali aja" pintaku.


"Wajib Van, wajib" jawab Saga sambil menekan kalimatnya.


Aku mencimbikan bibir. "Gue gak suka kemah kemah Sag, capek" keluh ku


"Seru kok, nanti ada api unggun tengah malam, si Nurul sama Dian juga ikut" papar saga.


"Siapa?" Tanya ku penasaran


"Itu teman papa di kantor"


"Polisi juga?"


"Iya" Saga berdehem "nanti kita ngelewatin kantor papa mu"


"Enak aja, kantor papa ku juga kantor papamu kan"


Saga tertawa mendengar ucapanku.


"Saga" panggilku agak sedikit mengeras karena suara motor Saga yang semakin kencang.


"Lo udah lama ya deket sama Aliya?"


Saga tidak langsung menjawab justru seolah berusaha mengalihkan pembicaraan kami.


"Van coba lihat deh, sekolahan ini terkenal banget angkernya"


Aku menoleh pada sebuah SMP yang berada di tengah tengah hutan. Maksudku samping kanan ,kiri, depan serta belakangnya adalah pepohonan lebat. Serta bangunannya yang sedikit menua.


"Yang bener" entah kenapa aku antusias dengan pembicaraan ini sampai lupa pembicaraan utama kami.


"Dulu" Saga memelankan suaranya sambil sedikit menoleh ke arahku.


"Ada cewek sama cowok"


Aku memajukan wajahku, agar tidak kehilangan satu kata dalam cerita saga.


"Ada satu cowok sama cewek ngapain?" aku mulai tidak sabar saat Saga justru menghentikan ucapannya sangat lama.


"Dulu, ada cewek sama cowok sekolah disini"


Bugh


Aku memukul punggung Saga amat keras, padahal kukira ada kasus pembunuhan atau hantu yang berkeliaran ketika dulu nya meninggal di sekolahan, ternyata pembicaraannya hanya sebatas itu.


"Gue udah tahu kali Sag, dimana mana emang sekolahan itu buat sekolah"sungutku kesal.


Saga tertawa keras kemudian tawanya berhenti tiba tiba.


"Serius, dulu sempet ada yang mati disana"


"Ah Saga, gak lucu tahu"


"Katanya meninggal pas kemah gitu"


"Saga" aku memukul punggungnya karena semakin takut dengan nada cerita Saga yang mendayu dayu.


"Haa Ha " Saga tertawa puas "dia tergeletak disamping tenda karena di makan harimau. Katanya sih anak Pramuka jadi gak berani tidur di tenda sendirian, takut ditemeni cewek itu"


"Berhenti gak" pintaku.


"Iya iya" Saga akhirnya menghentikan cerita yang tidak masuk akal


"Nih kantor papa" tunjuk Saga pada kantor polisi yang lebih kecil dibandingkan kantor milik papa dulu.


Aku mengangguk sambil memandanginya.


"Lo sering ya kesini?" Tanya ku


"Dulu sempet pacaran sama anak sini" cerita Saga.


Aku terdiam, tidak meneruskan pertanyaan ku sampai Saga membelokan motornya kekanan. Kami tidak berbicara lagi, menikmati angin yang berhembus menerpa rambutku.


"Kantor posnya disini" setelah sepuluh menitan kami bungkam Saga membuka suaranya.


"Kenapa gak berhenti?" Tanya ku


"Nanti aja pas pulang, kita ke semandu (SMA Dua) dulu"


"Jauh gak?" Kutanya begitu karena sudah pegal duduk dengan rok sempit seperti ini.


"Lumayan"


Aku merenggangkan tangan, kemudian berpegangan lagi pada pinggang Saga.


"Besok ikut persami ya?" pinta Saga.


"Enggak ah, gue takut di terkam harimau"


"Ha ha " Saga tertawa "gue janji Van bakalan jagain elo" kata Saga.


Mungkin itu sebatas janji yang tidak sengaja diucapkan Saga karena enggan kehilangan satu peserta persami. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku berharap janji itu akan terus Saga lakukan untuk ku, sampai sekarang, sampai dia jenuh dan sudah tidak tinggal di bumi.