ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Tiga puluh



Saga mengantarkan aku setelah keadaanku lebih baik. Untuk tas dan barang barang lainnya, Dian dan Nurul yang mengantarkan ke puskemas tadi.


Kami tidak banyak berbicara atau aku yang terlalu bodoh untuk memilih diam padahal sudah tahu hatiku di permainkan.


Untuk kondisiku juga mama dan papa sudah tahu dan tadi Saga sempat berbicara penyebab aku pulang lebih dulu. Aku membaringkan tubuh setelah membasuh diri. Tertidur hampir sampai malam setelah semalaman begadang.


Seketika diatas kasur itu aku berfikir sejenak, kenapa tadi aku diam saja bukannya bertanya mengenai hubungan kami.


Drrt


Ponsel di sebelah ku berbunyi, aku menggeser tombol kunci untuk membukanya.


Saga


Gimana keadaannya, sudah membaik?


Aku diam sejenak saat selesai membaca pesan Saga. Bagaimana keadaanku, apakah hati ku baik baik saja setelah tadi aku hampir menangis ketika melihat Saga dengan Aliya? Bagaimana hatiku, apakah aku bisa baik baik saja setelah aku bingung tentang hubungan kami


Vanda


Udah mendingan, thanks ya


Saga langsung membacanya, kutebak dia sudah menunggu balasan ku sedari tadi


Saga


Sama sama, gue mau kerumah, elo mau gue bawain Makanan apa?


Vanda


Enggak usah repot repot, kesini aja


Saga hanya membacanya, cukup lama dan dia tidak terlihat sedang mengetik atau membalas pesan ku.


Saga


Boleh nelfon gak?


Lama, aku lama membaca pesan Saga. Tumben Saga ingin menelfonku, maksudnya kenapa tidak mengirim pesan saja.


Vanda


Boleh


Beberapa detik, Saga benar benar menelfonku.


"Ada apa Sag" jujur saat ini hatiku tidak menentu. Aku senang Saga sudah kembali seperti dulu dan memperhatikanku, tapi aku bingung, sebagai apa aku dihidup Saga.


"Kangen" katanya melemah.


Aku terdiam, apa benar Saga merindukanku.


"Ha ha" lalu dia tertawa seolah kalimat tadi adalah candaan yang sengaja dia lontarkan untukku.


"Kaget ya, gue becanda kok"


Aku menghela nafas berat "gue kira beneran " jawabku ikutan melemah.


"Udah makan?"


Tidak tahu kenapa dia jadi seperhatian ini


"Belom sih" aku menggaruk tekuk saat menyadari aku belum makan.


"Tuh kan, gimana enggak sakit sakitan coba kalau telat makan"


Aku menarik sudut bibir "sakit karena ada yang nyaketin" sindirku


Dia tidak tersindir karena hanya tertawa renyah. "Next Time gue mau ngajak elo ke singa apor"


Aku mendengarnya "Singapore" , saga mengajakku ke Singapura, luar negri. Aku bingung, dalam rangka apa Saga mengajakku keluar.


"Ha? Singapore , ngapain?" Tanya ku


Saga berdehem "nunjukin belahan bumi sama orang yang tinggal di bumi tapi gak pernah kemana mana"


Aku tertawa "apaan sih rumit banget kata katanya" celaku.


Saga ikutan tertawa "ye beneran, mau gak?"


"Boleh boleh. Eh tapi gue gak punya paspor. Kan harus buat dulu"


"Ha ha ha ha ha" Saga tertawa, tawa yang tidak dia buat buat dan itu membuatku mengernyitkan dahi.


"Vanda Vanda, elo polos banget sih"


Aku menggaruk tekuk "ih kenapa sih memangnya?"


Saga menarik nafas berusaha mengatur nafasnya agar tidak menderu "gak papa, lucu aja"


Aku menegakkan tubuh, menimpa paha dengan bantal sambil mengamati kuku kuku kaki yang kotor.


"Balik jam berapa tadi dari persami? "


"Jam sebelas"


Seketika itu aku tidak suka, kalau aku diantar pulang Saga sekitar pukul sembilan dan pukul sebelas Saga pulang itu artinya dia memiliki waktu yang banyak untuk berduaan dengan Aliya. Aku mendegus, tidak suka.


"Van, Vanda" Saga memanggilku berulang ulang


"Eh iya he he, maaf ngelamun" jawabku jujur


"Apa sih yang dilamunin?"


Aku diam, jujur atau tidak.


"Sag, soal kejadian semalam" aku menjeda kalimat ku "gue boleh nanya gak?"


"Saga" suara panggilan dari ujung seberang membuatku tidak meneruskan kalimat


"Ada temenmu" kutebak itu suara mamanya Saga. "Iya bentar" Saga menyahuti ucapan mamanya.


"Van, lanjut nanti ya, ada temen gue kerumah, gak enak kalo dikacangin" ucap Saga


"Iya gak papa, santai aja" jawab ku sedikit dongkol


"Kenapa?"


"Ya karena dia manusia bukan kacang,"


"Ha ha receh" celaku


Setelah itu kami berbasa basi sebelum menutup panggilan. Aku merebahkan tidurku.


Saga


Nanti gue kesana


Dia mengirimi pesan padaku. Aku senang, senang kalau Saga akan kesini, jadi aku bangkit. Mandi dan memilih baju yang bagus


"Duh pakek mana ya?" Aku mencari baju mana yang akan kugunakan untuk bertemu saga



Akhirnya kaos sepanjang lutut menjadi pilihanku. Aku mengenakan kaos panjang berwarna putih polos itu. Menggelung rambutku asal asalan tapi masih terlihat cantik. Memoles bibir dengan liptin setipis mungkin. Aku tidak ingin kalau Saga tahu aku senang dia main kesini.


Dengan semangat aku menuruni anak tangga. Membersihkan ruang tamu dan menyiapkan cemilan untuk Saga nantinya


"Nanti kita ngomongin apa ya?" Sambil membuat jus aku berfikir sejenak.


"Apa gue nanya tentang hubungan dia sama Aliya atau gak usah ya?" Aku menghentikan putaran sendok.


"Hey ngapain kamu?" Suara Mama yang dari belakang membuatku kaget.


"Kebiasaan deh ngagetin anaknya, kalau Vanda mati kerena jantungan gimana?" Sungutku


"Tinggal di kubur" jawab Mama cuek.


"Nih cemilan buat siapa? Kita kan gak ada tamu"


"Emangnya cemilan dibuat karena ada tamu"


Aku meletakkan jus didalam kulkas, supaya nanti waktu Saga datang kerumah minumannya sudah dingin.


Aku keluar dari dapur, duduk di kursi depan sembari membaca novel. Nanti kalau Saga muncul dari balik pagar dia bisa melihatku, kalau aku suka belajar, dan dia tahu aku rajin.


Aku tidak fokus membaca novel yang ada ditangan, justru berulang ulang menatap jalan, apalagi saat suara motor melintas didepan rumah.


"Nunggu siapa sih anaknya Mama ini?"


Mama ikut duduk disebelahku.


"Gak nunggu siapa siapa" jawab ku bohong


"Ngaku aja deh, gini gini Mama juga pernah muda"


"Mama ngapain ikutan duduk disini? Ganggu pemandangan tau gak" cicitku sedikit kesal


"Nunggu papamu, kok udah malam belum pulang"


Kami terdiam, mama fokus pada ponsel nya begitu juga denganku.


Vanda


Saga jadi kesini?


Saga tidak membaca pesan ku, mungkin dia sedang dijalan untuk kesini. Sayup sayup suara motor terdengar, motor itu membunyikan klakson didepan rumah. Itu suara motor metik tentu saja motor kami.


Mama membukakan gerbang, dan tebakanku benar bahwa itu adalah papa.


"Kok pada di luar, nungguin papa ya?" papa nyengir


"Gak tau tuh anak gadis mu nungguin siapa?" Ledek Mama


"Nungguin pacar ya?" Tanya papa hati hati , karena soal pacar aku memang agak sensitif


"Kan pacarnya Ajil pa, di Jakarta sana" timpal Mama


"Ih, gak suka deh kalo bahasin pacar terus" decakku.


Papa duduk di samping, meminta Mama membuatkan teh.


"Papa dari mana?" Tanya ku karena bosan menunggu Saga.


"Rumah Om Adi" jawab papa.


Aku mengangguk karena tidak kenal dengan Om Adi. Papa memang selalu pandai bergaul, jadi tidak butuh waktu lama dia selalu mendapatkan teman baru dan bisa langsung akrab.


"Kamu tahu gak siapa Om Adi?" Tanya papa


Aku menggeleng "gak tau, orang gak pernah kenalan"


"Oh iya ya" papa tertawa kecil "papanya Saga"


Aku menoleh saat papa menyebutkan kata Saga


"Papanya Saga, jadi papa dari rumah Saga dong?"


Papa mengangguk sedikit merubah ekspresi wajahnya dengan kaget. Mungkin merasa aneh dengan perubahan sikapku yang tertarik setelah papa menyebutkan Saga barusan.


"Iya"


Mama datang membawa secangkir teh, obrolan kami sempat tertunda tapi setelah menyesap teh papa berdehem.


"Rumahnya Saga dari sekolahan gak jauh, heran deh papa sama dia. Kok dia mau ya nganterin kamu pulang, padahal rumah kalian gak searah" papa menyesap teh nya lagi.


Aku mengembangkan pipi, menahan tawa karena pertanyaan konyol papa. Jelas lah, Saga kan menyukaiku.


"Emangnya pas papa disana Saga lagi ngapain?" Tanya ku lirih,


"Lagi ada temennya tadi main" papa menatap arah depan, lalu mengernyitkan "temen apa bukan ya ?" Ulang papa.


Aku menoleh, "maksud papa apa, kalau temen ya jelas temen lah"


"Enggak, soalnya temennya cewek. Namanya Aliya gitu, abis temennya dateng Saga langsung pergi"


Deg


Aku terdiam, jadi ini alasan sampai jam sembilan malam pun Saga belum sampai di rumahku. Jadi karena Aliya.