
Langkahku terseok Seok saat mengimbangi langkah saga yang terlalu cepat. Aku tidak diberi nya penjelasan mengenai kenapa dia harus menarik ku pergi disaat aku sedang menikmati acara tadi.
"Saga lepasin" kataku merengek dan mencoba melepaskan tanganku dari cekalannya.
Dibibir jalan Saga berhenti bukan karena rengekan ku, melainkan karena tangan Micky mencekal bahunya dengan kuat. Ternyata Micky langsung mengejarku begitu aku dibawa pergi oleh Saga.
"Lepasin dia" pinta Micky dengan mata tajam
"Gak. Vanda balik sama gue" balas Saga tanpa mau melepaskan cekalan kuatnya.
Mereka bertatapan dengan iris mata kebencian masing masing. Micky begitu membenci Saga begitupun si Saga.
"Gue yang ngajak dia kesini. Jadi dia balik sama gue" kata Micky sudah merebut genggaman tanganku.
Tanganku berhasil lolos dari cekalan Saga, meninggalkan bekas merah.
"Lo balik sama gue Vanda, ini bukan permintaan tapi perintah" kata Saga berbicara padaku.
Aku kesal. Dia memerintahkan seenaknya, memangnya dia siapa? Papaku, pacarku atau suamiku.
"Lo siapa sih punya hak ngatur ngatur gue" kataku kesal "Gue pulang sama Micky" aku hampir saja berteriak.
"Vanda dengerin gue" Saga memegang bahu ku dengan kencang "Gue tahu elo polos tapi jangan mau di begoin sama orang kaya dia" tunjuk Saga.
"Lepasin" aku menepis tangan Saga "Micky gak ngapa-ngapain gue, dia justru ngejaga gue" bentakku
"Masih belum" kata Saga dengan kobaran mata kemarahan "Lo balik sama gue sekarang" ajaknya menarik tanganku, namun dicegah oleh Micky
"Lo siapanya Vanda ngatur ngatur dia seenak Elo" kata Micky dengan suara menaik.
"Gue gak butuh hubungan buat ngatur dia kan" jawab Saga yang terdengar seperti "Vanda itu murahan siapapun bisa ngatur dia"
Demi apapun aku ingin membunuh Saga hari ini.
Micky langsung meraih kerah baju Saga, menatapnya dengan bengis. Melihat itu aku ketakutan, terlebih ini bukan didesa kami, ini ditempat orang. Tatapan orang orang yang sedang menyaksikan keributan antara Saga dan Micky pun justru membuatku takut.
"Micky Saga, udah dong" aku melerai
"Gue tahu elo benci sama gue karena masalah Miko" kata Saga dengan suara jelas, tidak ada kemarahan juga tidak ada nada sedih , nadanya datar
"Gak usah bawa bawa Miko" Micky melepaskan cengkraman dikerah Saga.
"Miko meninggal bukan karena gue, tapi karena elo" kata Saga yang jujur membuatku merasa terkejut mendengarnya.
Ini maksudnya gimana? Kemarin Micky bilang Miko meninggal karena Saga, karena Saga tidak membela saat Miko di bully. Tapi sekarang kata Saga Miko meninggal karena Micky.
"Maksud lo apa?" Tanya Micky dengan tatapan mata tajam
"Lo tahu kunci jawaban apa yang di curi Miko dulu?" Saga mendekati Micky
"Kunci jawaban lomba sains Lo"
Aku menatap reaksi Micky, Micky mengernyitkan dahi, tetapi wajahnya masih marah . Bahkan aku tidak mengerti tentang ini semua
"Lo tahu, kenapa gue sama Miko berhenti temenan, karena Miko lebih milih nuruti omongan Ajil ketimbang gue" suara Saga Menaik "Gue udah minta dia buat jangan nyuri kunci jawaban sains, tapi Miko gak pernah nuruti apa yang gue omongin. Bahkan, saat dia ketahuan pun, dia gak pernah bilang kalau kunci jawaban itu bukan ada di dia atau elo, tapi di Ajil" teriaknya
Ajil? Ajil siapa yang Saga maksud. Micky tersenyum kecut lalu menarik kerah Saga lebih kencang.
"Tutup mulut Lo, semua yang Lo omongin itu kebohongan" kata Micky
Micky hendak melayangkan tinjunya. Bahkan bukan lagi hendak sudah mendarat di pipi Saga.
Bugh
"Brengsek" kata Micky langsung meraih kerah Saga lagi.
Aku kembingungan terlebih untuk menenangkan keduanya, Saga dan Micky sudah dipenuhi dengan kemarahan
"Micky Micky udah Mik" kataku meminta Micky berhenti.
Tidak, Micky tidak semudah itu untuk ditenangkan, dia mendorongku bahkan sampai aku tersungkur kebawah. Saga melihatnya, dan kukira dia tidak terima, sampai membalas tinjuan Micky dengan keras.
"Lo, mau nge balas rasa dendam Lo ke Vanda kan" teriak Saga tak kalah lantang
Micky berdiri dan aku sudah ketakutan saat keduanya sama sama mengepalkan tinju.
"Please, udah dong jangan berantem disini, Saga Micky gue mohon" kata ku memisahkan cengkraman tangan keduanya di kerah masih masing, aku kesusahan, Saga dan Micky benar benar keras kepala, sudah di beri tahu tapi masih tidak mau berhenti.
"Gue gak mau tahu caranya, Lo harus mati ditangan gue" kata Micky dengan suara seperti ancaman.
Aku masih berusaha memisahkan tangan keduanya dengan menarik narik tangan Micky ataupun Saga untuk melepaskan cengraman.
Srukkk
Tangan Saga yang penuh tenaga mendorongku kebelakang, sambil aku merasa seperti terdorong dengan kekuatan yang besar. Dadaku berdesir nyeri, dan semuanya terjadi kecepatan kedipan mata.
Brakkkkkkkkk
Yang kursakan seperti tubuhku menabrak sesuatu, lalu terasa seperti mengambang, mengambang keatas. Aku melihat Saga dan Micky menatapku, aku melihat mereka berdua seperti khawatir terlebih beberapa orang yang juga hampir berteriak histeris.
Brakk
Aku terjatuh ketanah, kepalaku terasa nyeri, aku mulai pusing, mulai merasakan kesulitan untuk menggerakkan tubuhku. Beberapa kali aku mengedipkan mata, mengatur nafas dan mencoba membuat diriku memiliki kesadaran yang penuh. Kucoba mengerakan tanganku yang terasa kaku dan lemah namun aku tidak bisa.
Kepalaku semakin pusing, nafasku semakin sesak, mataku mengabur, benar benar semakin kabur. Aku melihat Saga dan Micky berlari kearah ku, aku melihat sepatu dan celana Saga yang ada didepan mataku, namun warna sepatu putih itu perlahan lahan berubah menghitam, perlahan lahan kehilangan warnanya.
Wajah Saga pun, wajah kekhawatiran lelaki itu , suara Micky dan Saga yang berteriak memanggilku terdengar seperti suara bisik bisik ditengah keramaian. Telingaku berdengung, aku tidak bisa menangkap suara mereka dengan jelas.
Mataku bekedip secara perlahan, aku menatap Saga. Nafasku semakin terasa berat, aku mulai merasa takut ketika perlahan wajah Saga mulai menghilang, aku mulai takut jika membayangkan dimana aku tergelatak tidak bisa berbuat apa apa.
Jika ini akhir dari semuanya. Aku ingin Saga menjadi orang terkahir yang kulihat. Aku ingin Saga menjadi seseorang yang kutemui. Saga masih berada di mataku, kutatap dengan lemas, meski beberapa kali wajah Saga menghilang dari mataku, namun dia masih ada, tergambar dengan abu abu, tergambar dengan kabur. Wajah tampan Saga , wajah khawatir itu membuat aku mampu tersadar hingga saat ini.
Aku tidak ingin. Kehilangan Saga, bagaimanapun sikapnya dia padaku tapi Saga masih ada di hatiku. Degup yang kutunggu dulu, aku tidak ingin kehilangan itu. Aku ingin saga menjadi orang terakhir yang kutatap penuh cinta seperti ini
"Vanda" suara Saga terdengar meski sayup sayup
"Ya Saga" kujawab dalam hati "gue masih disini, buat elo, gue masih disini dan gak mau kehilangan elo"
Tapi detik ketiga dari Saga memanggil namaku, mataku benar benar tertutup, Saga hilang digantikan warna hitam yang mendominasi. Aku tidak ingat, selanjutnya hanya teringat bahwa hari itu aku seolah kehilangan Saga dan tidak bisa menatapnya lagi, menatap mata Saga yang menenangkan.
note : belum tamat ini ceritanya
Oh ya, yg ngasih rate rendah semoga di bukakan pintu nya untuk ngasih rate tinggi
kasihan ANKOT JAKARTA, dapet bintang paling rendah sendiri