ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Lima Puluh Dua



Dian dan aku duduk bersama Saga dan Yogi, Nurul sedang mengangkat telfon diluar. Meski kami berempat tapi rasanya hanya ada aku dan Saga di rumah ini berdua, sepi dan canggung.


"Dimakan , kok pada diem" akhirnya Dian memecah keheningan.


Aku tersenyum tipis, demi menjaga perasaan Dian karena sudah repot-repot menjamu kedatangan kami.


"Diajak ngobrol Sag" kata Yogi mencoba membuat ku atau Saga bersuara.


"Dia yang gak mau Gi" Saga nyengir.


Aku terus menatap ponsel yang kugulirkan asal-asalan. Demi Tuhan, aku tidak suka berada di di situasi macan ini.


"Cobain deh Van, yang buat pabrik" kata Saga memberikan roti kearah ku.


"Makasih, tapi udah kenyang" tolakku tanpa melirik roti yang diberikan Saga.


Dia terdiam, sangat lama sih. Kecanggungan kami ternyata juga menular ke Yogi dan Dian, mereka juga diam, mungkin sedang menyusun strategi agar kami tidak secanggung ini.


"Yan, kamu punya mangga tapi kok gak pernah ngasih tau kita sih" teriak Nurul dari luar


"Perasaan sering gue bawa kesekolahan deh tu mangga" sahut Dian


"Masa sih, kok aku gak pernah nyicip mangga kamu" teriak Nurul


"Eh badak, jangan teriak-teriak, sini masuk. Tetangga gue galak semua" kata Dian


Nurul berdiri ditengah pintu, menatap kami satu persatu dengan lekat.


"Kalian pada berdoa ya?" Tanya Nurul


Aku sontak mendongak, menatap Nurul yang tidak bergerak barang sedikitpun


"Maksud lo?" Tanyaku


"Lah, kamu, Saga, Yogi pada nunduk dan diem semua"


Mendengar itu Saga tertawa kecil, aku sempat menoleh nya dan mata kami saling berpandang, lalu dia menaikan alisnya menggodaku. Detak jantung yang pertama normal, kembali berdetak dengan kencang. Sial, aku selalu tidak suka kondisi seperti ini.


"Rul, balik yok" ajak ku sedikit memaksa.


"Lha kenapa, Sofia aja belum Dateng" tolak Nurul


Aku mulai merasa tidak nyaman dan gugup, apalagi, merasa Saga tengah menatapku saat ini. Kalau tahu ada Saga seharusnya aku tidak kesini tadi.


"Pulang yok" ajak ku lagi hampir terdengar merengek bahkan.


"Kenapa sih Van buru -buru, tadi kayaknya nyaman-nyaman aja disini" komentar Dian.


Aku menatap Dian, memberi sinyal bahwa aku tidak nyaman jika ada Saga disini.


Bayangkan saja, kamu berada di satu ruangan dengan orang yang pernah memiliki hubungan meski itu berakhir digantungkan, bertatapan kembali dengan orang yang pernah ingin kamu lupakan setengah mati, bagaimana rasanya? Pasti kau akan ingin pergi, kemana pun asal tidak ada dia.


Meski, aku senang bisa menatap Saga dari mataku sedekat ini lagi, aku senang bisa berada satu ruangan dengan Saga lagi. Tapi aku gugup, hanya gugup.


"Kenapa? Karena ada gue?" Suara berat Saga terdengar.


Aku tidak menatapnya, menatap ponselku dan menggulir halaman akun media sosial.


"Van" kurasakan tangan Saga sudah berada di puncak kepala, mengusap lembut secara perlahan.


"Stay disini aja, biar gue yang cabut" katanya lembut "Lo kan disini tamunya Dian, sedangkan gue cuman datang karena ada Yogi"


Saga mengusap puncak kepalaku, dan aku merasa telah diruntuhkan dari sana. Aku merasa jatuh cinta lagi dengan orang yang sama lagi. Saga sudah berdiri, dan berpamitan dengan Yogi maupun Dian. Dia pergi dengan motor yang biasa kami tumpangi.


Saga maaf. Sudah seegois itu padamu, jika aku ingat hari itu, aku ingin memelukmu, sejujurnya aku rindu


🚕🚕🚕


Hari ini janji pergi bersama Micky. Aku sudah menyiapkan barang apa saja yang akan ku bawa. Sudah meminta ijin pula dengan Mama dan Papa, mereka menungguku dari aku mempersiapkan baju sampai sekarang aku sudah berdiri dengan Micky.


"Jagaain anak saya ya" pesan Papa sambil menepuk pundak Micky


"Vanda gak bisa capek, kalau capek dikit pasti dia mimisan" Mama membuka semua rahasia yang seharusnya cukup kami saja yang tahu "dia juga gak bisa kedinginan, kalau kedinginan sedikit pasti langsung gatal-gatal" kata Mama lagi "oh ya, Vanda alergi seafood, tolong hindari makanan itu ya" tambah Mama.


"Ma, Vanda itu pergi liburan bukan mau permukaan" kataku meminta Mama berhenti berbicara lagi


"Jaga - jaga Vanda" balas Mama


"Udah ah, Vanda mau pergi" aku menyalami tangan Mama dan Papa, lalu pergi naik ke mobil Micky.


Micky menyetir mobil sendiri, dengan mobil pribadi warna hitam. Lupa dulu kukenali jenis mobil apa yang sedang aku dan Micky tumpangi. Kami banyak bercerita, tentang kota yang akan kami datangi, dia juga mengajari tentang bahasa-bahasanya. Masalah Micky sudah punya ijin mengemudi atau belum, aku tidak tahu dan tidak mempermasalahkan itu.


"Lo beneran nih mau pergi sama gue?" Tanya Micky ditengah perjalanan menuju jalan raya.


"Buktinya gue udah disebelah elo Mik"


Aku memainkan ponsel, membaca pesan - pesan Dian, Sofia dan Nurul, juga Saga.


Saga


P


P


P


P


Tolong jangan pergi


Pergi aja besok, sama orang lain tapi jangan sama Micky


Tolong Vanda


Tolong


Aku selalu bosan dengan sikap seenaknya dari saga. Dia melarang ku pergi tapi tidak memberi alasan dari larangannya, dia selalu seperti itu, membolak-balikan hati dengan mudahnya. Micky masih fokus pada setirnya, dia tidak banyak bicara, sering terlihat mengetuk setir mobil dan bersenandung kecil.


"Berapa jam perjalanan dari sini ke Palembang?" Tanyaku


Micky menoleh, lalu tersenyum "4 sampai 5. Tergantung kondisi jalannya"


Aku menatap arah depan, melihat mobil yang berlalu-lalang.


"Lo sering kesana?" Tanyaku berusaha memecahkan hening


"Dulu, sama temen-temen"


"Belum pernah ajak cewek?" Tanyaku


Micky menoleh, sambil mengangkat alis "Lo tahu, cewek pertama yang gue deketin dan gue ajak kemana-mana cuman elo"


Aku mengangguk lalu mulai terdiam kembali sambil mendengarkan lagu-lagu.


"Gue denger Aliya sama Saga udah putus" kata Micky melirikku


Aku terdiam, bingung bereaksi apa oleh kata-kata Micky barusan. Menjawab "tidak tahu" atau berkata "ya" saja.


"Masa sih" justru itu reaksi yang aku berikan


"Bukannya udah dikasih tahu Saga di UKS ya" sindir Micky talak mengenai ku


Aku menoleh, menelan Saliva karena gugup. Aneh. Kenapa harus gugup, Micky bukan siapa-siapa ku yang harus tahu mengenai perasaanku.


"Kok Lo tahu?" Tanyaku dengan nada rendah


"Saga yang ngasih tahu gue" jelasnya


Saga? Kenapa Saga memberi tahu Micky, bukankah hubungan mereka tidak pernah baik baik saja sebelumnya.