ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Enam Puluh Sembilan



"Lissa" suara dari Mama nya Saga nyaring terdengar, begitu dia keluar rumah dan menatapku, wajahnya langsung berubah drastis


Aku memeluknya, karena rasanya aku amat sangat merindukan Saga. Perempuan itu pun memelukku dengan terisak isak, ditangkapnya aku berkali kali, dia menatap mataku, seperti tengah menatap mata anaknya. Dia pasti merindukan Saga lebih dari aku merindukan Saga, dia pasti terluka dan sulit mengikhlaskan Saga, lebih dari aku.


Tidak ada kata kata yang bisa keluar dari mulutku, saat Om Adi menatapku pun aku hanya bisa menangis sambil berdiri, tidak bisa melangkah barang selangkah pun


"Om dengar kamu mau kuliah di UI" kata Om Adi penuh dengan ketegaran


Mama Saga sudah duduk disebelah Om Adi sambil menyeka air matanya. Aku tahu betapa beratnya kehilangan Saga aku pun juga sama kehilangan Saga, amat sangat menyiksa diriku.


"Iya om" kataku parau


Om Adi tersenyum lalu menepuk pundak ku berulang ulang.


"Om yakin dan percaya sama kamu. Hati hati disana" kata Om Adi


Aku mengangguk sekali lagi sambil terisak. Ah seharusnya tidak ku ijinkan diri ini menangis, membasahi mata Saga yang cantik seperti ini. Saga pasti merindukan Mama dan papanya, merindukan karena hanya mampu menatapnya saja tanpa bisa berbuat apa apa.


Sekali lagi, Om Adi menatap mataku amat dalam, lalu dia berdehem


"Om, harus pergi kekantor, mau patroli" kata Om Adi.


Tidak lama aku dirumah Saga, hanya berpamitan pada orang tuanya juga Lisa yang sekarang sudah menginjak SMP. Lisa sangat cantik, mirip dengan Saga, senyumnya pun sama miripnya dengan saga.


Selesai berpamitan aku pergi ke makam Saga, menatap makam itu dengan mata sayu. Hampir saja aku menangis andai tidak kudongak kepalaku


"Saga" kataku lirih saat itu "Gue mau ke Jakarta, ke kota yang paling elo benci"


Tidak, aku tidak mampu menahan tangisku barang sedikitpun. Karena perlahan lahan butiran bening itu menetes dan membasahi pipiku.


Aku menyeka nya, karena tidak ingin mengecewakan Saga.


"Gue keterima di UI" ujar ku lirih


Aku menatap sekali lagi nisan yang bertuliskan nama "Saga Alvaro". Menatap makam kekasihku.


"Saggaaa" aku memanggilnya sambil terisak "Gue kangen elo" kataku lirih sebelum memutuskan untuk bangkit dan berlari pergi.


Aku tidak lagi mampu menahan tangisku saat di mobil. Saat papa menepuk bahuku pun aku tetap saja terisak. Aku kehilangan Saga orang yang sangat aku sayangi, dan aku tidak tahu lagi, pecahan hatiku ini kapan bisa menyatu dan kembali seperti semula, seperti seharusnya.


Atau pertanyaan sederhananya, kapan aku bisa tidak menangis dan tegar seperti orang orang saat dimakan Saga, menemui lelaki itu?


Aku melintasi sekolahan ku yang sedang tertutup karena hari minggu.


Selamat tinggal SMAN 1 MESUJI MAKMUR yang penuh dengan kenangan. Selamat tinggal dan terimakasih sudah mempertemukan aku dengan lelaki seperti Saga yang tidak akan kutemukan lagi orang seperti dirinya.


Selamat tinggal Mesuji makmur, aku akan kembali, karena orang yang kudatangi sedang tidur di sini menunggu aku tidur disebelahnya, juga kenangan ku terlalu banyak disini, dan aku akan kembali untuk mengenangnya.


Mobil papa melaju pelan, meninggalkan Mesuji makmur menuju ke Jakarta .


Saga, aku akan tetap mencintaimu tidak peduli seberapa lama itu.


🚕🚕🚕


"Vanda udah bangun, ini jam berapa katanya ada kegiatan Oscar, buruan bangun"


Mama mengirimiku pesan suara yang sangat banyak, bahkan Kayla masih menggeliat di kasur tanpa mau bangun


Dia justru berguling kesamping sambil berkecap.


"Kay, udah jam tujuh kita bisa telat, Lo tahu kan kita itu Maba"


Begitu mendengar suara cempreng ku, Kayla langsung melompat dari kasur dan berdiri tegak, dilihatnya jam dinding dikamar yang menunjukan pukul tujuh. Dia langsung buru buru lari ke kamar mandi, membasuh dirinya.


Adalah tiga puluh menitan menunggu Kayla selesai. Aku bahkan sudah memakinya habis habisan


"Bisa gak sih bangun pagi" omel ku


"Gue semalam begadang" kata Kayla sambil menguap


Kami berjalan mencari angkutan umum. Dan menaiki angkutan itu untuk pergi ke kampus . Rapi dengan sepatu Kets juga Almamater warna kuning yang membalut tubuh kami.


"Lagian semalam Lo ngapain aja sih bisa sampe tidur jam dua belasan?" Tanyaku kembali mengecek buku dan peralatan yang lain


"Gue stalking Instagram kakak BEM, siapa tahukan ada yang bisa gue gebet" cengirnya


Mendengar itu entah kenapa aku jadi ingin muntah, Kayla terlalu lebay, kadang baru di chat hai saja sudah mikir nanti nikahnya pakai adat siapa. Kayla selebay itu memang orangnya.


"Niat kuliah atau pacaran sih?" Tanyaku yang berniat menyindir


"Kalau bisa mah dua duanya" dia nyengir kembali sambil menguap.


"Eh Van, ntar Lo kalau mau balik WhatsApp gue ya" katanya


Aku hanya mengangguk tanpa berniat menanggapi Kayla terlalu jauh. Kayla dan aku memang beda fakultas, dia mengambil Hukum sedangkan aku kedokteran.


"Ntar pas Maba ada Maba yang ganteng gak ya?" Tanya Kayla menyenderkan tubuhnya dipunggung


"Seganteng apapun itu, gue gak tertarik kayaknya" kataku


"Van, Lo tu harusnya bisa move on, ini udah ada setahun Van" kata Kayla kembali mempengaruhi ku untuk melupakan Saga.


Aku tidak menanggapi, melupakan seseorang tidak semudah mengucapkan "selamat jalan" semuanya butuh proses yang menyakitkan.


Sampai didepan kampus, kami turun, aku dan Kayla berdiri di bibir jalan. Kendaraan terlalu padat, aku belum terbiasa dengan padatnya kendaraan. Mataku celingukan kekanan dan kiri, mencari posisi menyebrang yang baik.


Sangking padatnya untuk melihat seberang ke gerbang utama saja tidak bisa. Aku menunggu kendaraan sepi, perlahan lahan kendaran yang semula berhenti didepan kami, berjalan melaju.


Kayla memegangi tanganku, mungkin dia sedikit takut membiarkanku menyebrang sendiri. Dan dibibir jalan itu sepertinya juga banyak Maba Maba berkumpul, beralamamter kuning pula, seperti demo saja.


Aku menatap arah lurus tanpa sengaja mataku bertatap an dengan iris mata seseorang. Yang begitu kurindukan, dan begitu kutunggu untuk pulang. Mata itu juga menatapku, mata yang tidak asing dan pernah membuatku jatuh cinta.


Dan detik selanjutnya seperti kendaraan kendaraan berhenti, orang orang yang tengah berlalu lalang berhenti. Aku pun juga berhenti, barang bernafas pun rasanya kesulitan. Aku terus memandangi orang itu, waktu berputar sangat pelan, amat pelan, karena aku bisa melihat partikel debu yang melayang di depanku. Juga melihat wajahnya meskipun dari kejauhan.


Perlahan mata kami bertatapan, dia menatapku aku pun juga menatapnya.


Dia membangkitkan kembali yang sudah kulupakan untuk kukenang, yang sudah menghilang untuk datang. Dia membuatku merasa luka yang hilang kembali tercipta. Mata kami bertatapan, sebelum sedikit demi sedikit dia melangkah dengan sepatu putih serta alamamter kuning yang dia gunakan.


\*T A M A T\*


NOTE : yang mau squel ANKOT JAKARTA 2 silahkan spam ya, ditunggu 20 komen


tenang buat ANKOT kedua bakalan happy ending, karena sebenarnya ceritanya itu ga berakhir disini, cuman karena udah kepanjangan jadi dibuat tamat