
Aku tidak tahu kenapa dengan bertemu mereka berdua moodku seketika hancur. Seharusnya aku bersikap biasa saja kan.
Didalam kelas pun aku hanya menyembunyikan wajah di atas tas, tidak berselera sebelum benda dingin menyentuh pipi dan memaksa untuk membukanya.
Aku melihat Micky tersenyum kearah ku, minuman itu diletakkan diatas meja.
"Kenapa, cemburu liat Saga sama Aliya?" Tanyanya ikut duduk di kursi Dian.
"Buat apa cemburu, gue sama Saga gak ada hubungan apa apa"
Meski begitu tidak seharusnya aku membuka penutup botol sekeras ini. Micky menyangga kepala dengan tangan kiri.
"Yang bener?" Ledeknya.
"Lo ngapain disini, bukannya kelas Lo jauh ya dari kelas IPA?"
Micky membasahi bibir ranum nya dengan lidah. Itu terlihat seksi, kebiasaan yang juga sering dilakukan Ajil.
"Ngapeli elo" katanya lalu disambung dengan tawa renyah.
Aku pun tanpa sengaja ikut terbawa untuk tertawa karena suara tawa Micky yang lucu.
"Enak gak sekolah disini?" Tanya Micky menghentikan tawa kami.
Aku menatapnya, ikut bertompang dagu sehingga kami sama sama berpandangan dalam posisi yang sama.
"Enak gak ya?" Tanya ku pada diri sendiri "enggak Ha ha " aku benar benar jujur akan hal ini.
Micky tidak seburuk dugaan ku, dia ramah. Justru mengundang gelak tawa hanya dengan mendengarkan dia tertawa.
"Kalau mau pergi ke mana mana gue siap jadi mas mas ojek buat elo" tawarnya.
"Ha ha gratis gak nih?" Tanya ku dengan memamerkan deretan gigi
Micky ikut tertawa "bayar dong, kerjaan sampingan soalnya" dia tertawa lagi.
"Van, ada titipan nih dari Saga" Dian meletakkan tas di mejanya. Menyodorkan kartu perdana yang dibelikan papa tadi pagi.
Sebenarnya saat didalam mobil jaket yang dipinjamkan Saga aku pakai, jadi karena lupa aku meninggalkan kartu perdana di saku jaket.
"Saganya mana?" Tanya ku pada Dian.
"Udah pergi"jawab Dian lalu berjalan dan menghapus tulisan dipapan tulis.
"Telfon gue ya kalau mau pergi kemana mana" Micky memberikan secarik kertas berisi nomor telponnya. Aku menerimanya sambil mengucapkan kata terimakasih dengan lirih.
Micky pergi, entah kenapa aku justru merasa menyesal tidak menerima kartu perdana ini secara langsung dari Saga.
"Saga bilang apa tadi?" Tanya ku pada Dian yang duduk di samping.
"Cuman ngomong "tolong kasihin ke Vanda" gitu aja terus pergi"
Aku kesal saat mendengar Dian mengatakan kalimat itu. Memangnya apa yang kamu harapkan sih Vanda? Aku kadang kesal sendiri pada diriku, belum pernah aku bersikap seperti ini sebelumnya.
"Micky ngapain kesini?" Tanya Dian
"Cuman ngasih nomornya" jawabku malas
"Lo minta?"
Aku menggeleng "tadi kita ketemu didepan ruang OSIS" seketika itu aku ingat tentang pertemuan pertama kami.
"Micky anggota OSIS juga ya?" Tanya ku
Dian mengangguk "Seksi olahraga, tapi jarang aktif, cuman nampang nama doang" Tutur Dian.
"Kenapa, suka?" Goda Dian sambil nyengir.
"Ha ha enggak lah"
🚕🚕🚕
Jam ketiga yang seharusnya di isi mata pelajaran kimia justru kosong. Kata Sofia Bu Etik berhalangan hadir.
"Dino Iki pemilihan anggota paskibra Yo?" Tiba tiba Nurul yang berada di belakangku menepuk punggung Dian. Dian dan aku menoleh kompak.
"Koyane iyo, tapi mboh Sido ogak?" Jawab Dian
Aku geleng geleng karena bingung "kalian kalo lagi ngobrol didepan gue pakek bahasa Indonesia aja kenapa sih, gue ngerasa lagi di ghibahin tau" cicit ku
Dian dan Nurul kompak tertawa "aku malu Van kalo ngomong Indonesia, medok banget bahasa ku" jawab Nurul malu malu.
"Gak papa, yang penting aku ngerti" aku tertawa.
Ari masuk kedalam kelas sambil membawa gitar di tangannya. Seragam SMA itu sudah keluar, tidak serapi tadi pagi , bahkan dasinya entah kemana.
"Ari, dapet gitar dimana?" Tanya ku basa basi.
Ari menoleh "bawa dari rumah" jawabnya berjalan menuju barisan paling belakang.
Aku menatap mereka, Ari menggenjreng gitar dan beberapa siswa siswi menyahut untuk menyanyikan lagu yang di lantunkan Ari. Sebuah nada harmonis yang berhasil telingaku tangkap.
Aku mengakui, meski membawa gitar dari rumah agak ilegal dan termasuk melanggar peraturan sekolah, apalagi tidak ada mata pelajaran seni budaya. Justru suara mereka membuat aku kagum. Mereka membawakan lagu Sethepani Poetri yang berjudul I Love U 3000 dengan baik.
Suara pintu dibuka membuat beberapa siswa duduk dengan rapi, mungkin mereka fikir itu adalah guru. Tetapi yang keluar dari pintu adalah Aliya, Saga, dan beberapa orang yang tidak ku kenali.
"Yoh Saga, ngaget ngageti wae" pekik Candra yang langsung berdiri setelah tahu bahwa itu Saga.
Maksud dari ucapan Candra adalah "yah Saga, ngagetin aja"
Saga nyengir "maaf sob" sambil mengacungkan tangan
"Siang pagi sore" Saga nyengir. Meski dia terlihat santai membawa pemberitahuan didepan, tapi wibawanya benar benar tidak dapat di pungkiri.
"Seperti yang kalian tahu, bulan Agustus kita akan melakukan upacara bendera, dan seperti agenda tahunan, kita akan mencari anggota paskibra yang bersiap untuk mengibarkan bendera di kecamatan dan kabupaten" tukas Saga .
Mata kami sempat bertemu tapi tidak lama karena Saga langsung mengalihkan kearah lain "semuanya saya harapkan berdiri"
Siswi perempuan otomatis menurut tapi sebagian yang duduk dibelakang justru dengan santai bermain gitar. Mungkin karena berfikir Saga dan anggota OSISÂ lainnya adalah teman sebaya mereka.
"Ngadek cah ngadek" ujar Saga yang melihat Ari berserta teman temannya belum bangkit.
Mereka akhirnya menurut, Saga tidak ikut memilih, dia duduk di kursi guru sambil menatap satu persatu teman sekalasku.
Aku tidak terlalu memperhatikan Aliya atau anak OSIS lainnya saat memeriksa tinggi kami, justru aku memperhatikan Saga yang tertawa saat bercerita dengan teman OSIS nya.
"Eh nama lo tadi siapa?"
Aku menoleh saat suara itu terdengar jelas di depanku, Aliya berdiri dengan tampang sombong yang selalu melekat di wajah.
"Vanda Adelien" jawabku penuh penekanan.
"Lo lulus tes tinggi"
Ha? Maksudnya aku keterima jadi anggota paskibra gitu.
"What? Apa Lo bilang?" Aku berteriak, mungkin agak keras sampai teman sekalasku menoleh kearah kami.
"Gue bilang, elo lulus seleksi tinggi, jadi keterima jadi capas" Tutur Aliya.
"Maksud lo gue bakal lo jadiin calon anggota paskibra?"
Aliya mengangguk
"Ogah, gue kagak mau, mending lo pilih anak anak yang lainnya" tolakku.
"Lho seharusnya bersyukur, elo bisa lulus jadi capas. Kenapa sok banget sih" Aliya bedecak.
Demi Tuhan, aku membenci saat dia berdecak tadi, apalagi bibirnya seperti itu.
"Lo gak bisa maksa gitu dong, kalo gue gak mau ya gak mau. Lo pilih yang mau aja"
"Eh, elo cuman ikut latihan doang disini"
Latihan yang mereka bilang adalah latihan dibawah terik matahari dengan bentakan dari senior.
"Gue bilang gak mau ya mau!!" Tolakku dengan suara naik satu oktaf.
"Eh" Aliya menunjuk wajahku dengan jari telunjuk.
"Al, udah" lerai Saga yang sudah berada di antara kami.
"Kalau dia gak mau, pilih yang lain" kata Saga melerai.
Aliya pergi dan pandangan teman sekelas sudah terfokus pada pengecekan tinggi. Saat aku berniat duduk, Saga mencegahnya.
Dia tersenyum miring dengan cara Saga "Ini alasan kenapa gue gak pernah suka sama anak kota"
Saga berlalu pergi, dengan wajah marah yang baru kutemui barusan