ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Tiga puluh sembilan



Dian, Sofia dan Nurul terbelalak. Mereka menatapku tajam, sangat lama sampai aku harus menunduk untuk menyembunyikan wajah pucatku.


"Ampun Vanda, elo gimana sih, belum pacaran tapi udah disosor" pada detik tiga puluh enam hanya suara Dian yang terdengar.


Yang lain masih terdiam. Lalu kurasakan tangan Nurul mengelus lenganku.


Aku jadi terisak, bodoh sudah dipermainkan oleh Saga seperti ini.


"Udah Van, besok kamu tanyain hubungan kamu sama Saga apa" kata Nurul menyarankan.


Aku mengangkat kepala, mengusap air mata dan memandangi mereka satu persatu yang tersenyum padaku.


"Gue murahan banget ya?" Tanyaku ragu.


Dian mengangguk "iya" kemudian nyengir


"Gak papa kok Van, semua orang pernah jadi murahan untuk orang yang di sayang"


Dian memelukku, kemudiaan Nurul dan Sofia juga ikut memelukku. Sangat lama sampai aku merasakan sesak nafas.


🚕🚕🚕


Saga


Sory Van gue gak bisa jemput elo


Pesan yang dikirim Saga barusan membuatku diam didepan beranda rumah. Papa menatapku sambil menyesap teh hangat.


"Kenapa diem aja? Saga gak jemput ya?" Tanya papa.


Aku diam, menatap jam tangan dipergelangan, sudah jam tujuh lewat empat puluh lima.


"Pa anterin Vanda"


Papa hanya menatapku, kemudian pergi mengambil kunci motor dan mengantarkan. Aku hanya diam disepanjang perjalanan, tidak banyak bicara atau bagaimanapun. Sampai di sekolahan. Aku menyalami papa dan langsung pergi.


Selepas aku masuk kedalam sekolahan, bunyi bel langsung terdengar, aku masuk kedalam kelas dengan lemas.


Dian, Sofia dan Nurul menatapku kompak, tatapan iba yang seketika muncul dari pancaran matanya.


"Kenapa sih ngeliatin gue kaya gitu?" Aku membanting tas diatas meja, menyandarkan kepala di meja.


"Van, jangan kaget ya" ucap Dian sambil mengelus punggung.


Aku membangkitkan kepala, menatap satu per satu wajah Nurul, Dian dan Sofia yang mengumpul di mejaku.


"Ada apa ?"


"Lo bakal kaget denger berita ini, tapi Lo harus tahu dari kita sebelum dari orang lain" kata Sofia.


"Iya apa?, Jangam bikin gue tambah penasaran dong"


"Siapa yang mau ngomong?" tanya Nurul pada Sofia dan Dian


"Lo aja Rul, Lo kan bijak dalam menyampaikan pesan" jawab Dian.


"Apa sih?" Tanya ku penasaran


"Saga" Nurul menjeda kalimatnya, menatap wajahku baik baik "Saga pacaran sama Aliya"


Deg


Hatiku rasanya teriris, bagai apa aku dihidup Saga? Sebagai apa hingga Saga mudah sekali membuat hatiku sakit seperti ini.


"Lo serius?" Adalah kalimat pertanyaan yang terasa tercekat di kerongkongan.


"Awalnya kita gak percaya sama kabar burung itu, tapi Yogi bilang _" Dian berhenti, seperti ragu untuk menyelesaikan kalimatnya "semalam mereka jadian, Saga nembak Aliya didepan temen temen nya".


"Van. Kita tahu kita gak seharusnya bilang ini ke elo, tapi gue rasa Saga cuman niat mainin elo doang" timpal Sofia lebih bijak dari biasanya.


Kakiku melangkah menuju kelas Saga, menemukan Saga duduk diatas meja dengan teman temannya. Sebelumnya aku tidak pernah seberani ini untuk masuk kedalam kelas orang lain. Kali ini keberanian ku muncul, kutarik tangan Saga untuk keluar kelas. Kubawa Saga kebelakang kelas yang sepi. Saga bingung, bahkan dia menatapku dengan wajah bingung dan kepolosan yang selalu membuatku benci padanya.


"Berita tentang elo sama Aliya itu bener?" Tanya ku dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin, meski aslinya benar benar sakit.


"Berita apa?" Tanya nya tidak tahu atau pura pura tidak tahu.


Ku tatap, mata Saga masih terpancar seperti biasanya, tidak ada pancaran kesalahan yang dia perlihatkan.


"Berita tentang elo pacaran sama Aliya?" Perjelasku sambil menatap sudut matanya.


Saga mengalihkan pandangan, memasukan tangan kedalam saku celana dan mendegus.


"Iya, gue pacaran sama Aliya"


Kalimat yang dituturkan Saga lebih menyakitkan dari tuturan Dian dan kawan kawan . Tulang kakiku terasa lemas saat ini, bahkan ketika aku membayangkan kejadian dimana aku menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis didepan Saga tetap menorehkan perih yang mendalam. Saga terlalu hebat mempermainkan perasaan seseorang, bagaimana aku merasa di angkat kemudian dijatuhkan dalam sekali ucapan.


"Kenapa?" Pertanyaan itu muncul tiba tiba, kenapa Saga harus pacaran dengan Aliya sedangkan hubungan kami sudah sejauh ini?.


"Kenapa gimana maksud elo?"


"Kenapa elo pacaran sama Aliya?" Aku menatap matanya , dia juga menatap mata basahku.


"Karena gue sayang sama dia"


"Terus gue buat elo itu apa? " Aku menarik nafas , meski pasokan oksigen sudah menipis.


"Temen"


Saga benar benar mengucapkan kalimat teman dengan menatap mataku, artinya dia tidak berbohong mengatakan itu.


"Temen?" Ulangku "kita lebih Sag dari temen, kita chatingan tiap hari, Lo sering antar jemput gue, Lo selalu ada buat gue, dan___" rasanya aku tidak mampu untuk mengatakan kalimat ini, meneruskan kalimat yang semakin membuat ku merasa dipermainkan.


Dengan brengseknya lelaki yang berdiri di depanku ini tertawa, tertawa seolah ada hal lucu yang membuatnya tertawa seperti kelinci.


"Chatingan dan antar jemput cuman bentuk kesopanan sebagai temen Van, gak semua orang yang memperlakukan Lo baik itu ada perasaan sama elo"


"Brengsek" lirihku "lalu kita ciuman beberapa kali itu artinya apa? Temen?, gak ada temen yang bisa ciuman segitu nafsunya Sag"


Saga tertawa lagi. Menarik nafas menatap langit langit dan mengendorkan dasi SMAnya


"Itu karena Lo nya yang mau Van, Lo terlalu welcome sama gue. Lo enak di bodohin"


Plakkk


Aku tidak bisa menahan untuk tidak menampar Saga, bahkan saat ini rasanya membunuh Saga sudah halal bagi diriku. Saga menatap wajahku.


"Gue emang brengsek, dan cowok brengsek ini" dia menunjuk dirinya sendiri "yang udah menangin taruhan"


Saga melangkah pergi, sebelum pergi dia berbalik


"Tolong, kurang kurangi baper jadi cewek"


Dia pergi dengan senyuman licik di bibirnya. Aku membenci Saga, demi Tuhan. Lelaki biadap terkutut itu ingin ku bunuh. Aku bersimpuh, menangis, kenapa dengan bodohnya bisa dipermainkan. Kenapa Saga dengan liciknya bersikap seperti ini padaku?


Bahkan aku sering dijatuhkan oleh Saga, tidak masalah aku tetap baik baik saja, tapi saat ini aku tidak bisa bersikap demikian.


"Hiks" air mataku benar benar menetes. Kurasakan punggungku hangat, Dian, Sofia dan Nurul memelukku dari belakang.


"Udah Van, udah jangan nangis. Gue gak mau elo nangis buat cowok brengsek kayak Saga itu"


Aku lebih menangis, lebih menangis saat tahu jika teman temanku tahu kalau aku hanya dipermainkan oleh Saga. Dian mencoba menenangkan. Mengusap air mataku, mengangkat kepalaku.


"Kita denger semuanya, sekarang gak ada lagi diantara kita yang boleh deket sama anak IPA 3 , termasuk gue, gue bakalan putusin Yogi" ujar Dian.


Gue menggeleng "gak perlu segitunya Yan, masalah gue sama Saga biar jadi urusan gue. Elo gak usah ikut ikutan"


note : si Saga sekejam itu 😶 , betapa dia pintar menaikkan hati seseorang lalu dijatuhkan gitu aja