
Berbicara mengenai Saga, aku akan menceritakannya sedikit. Saga adalah anak laki laki pertama di keluarga om Adi, dia adalah senior papa saat papa masih di Malang dulu. Kata papa om Adi orangnya ramah, dulu papa sering ditraktir Om Adi, padahal senior lainnya galak sama dia.
Saga mempunyai adik perempuan, namanya Lisa, masih SD, kalau tidak salah waktu aku pertama bertemu Lisa, disaat aku akan pergi dengan Saga di taman Singa apore (kota Belitang), Lisa sepertinya kelas enam saat itu, entahlah aku lupa.
Itu saja yang akan ku ceritakan, nanti nya kalian akan membaca banyak hal mengenai Saga yang menjelaskan dirinya.
Sedangkan Micky, ah aku akan membahasnya disini, Micky Handoko adalah anak kedua dari dua saudara, tapi saudaranya yang bernama Miko Handoko meninggal saat kelas tiga SMP, bagian ini nanti akan dibahas diakhir cerita. Almarhun Ayah Micky dulu adalah guru PNS, sedangkan ibunya dokter dan praktik di Rumah sakit Charitas Belitang.
Kenapa aku membahas mereka, karena saat ini aku sedang memikirkan antara Saga dan Micky, memikirkan kemungkinan kemungkinan apa saja yang membuat mereka bisa berkelahi hingga saat ini. Jika hanya mengenai meninggalnya Miko, dan alasan karena Saga tidak melayat ke rumahnya, itu terasa tidak masuk akal untukku.
Sedangkan kurasa kebencian keduanya sangat menggebu hingga saat ini, apalagi Dian, Sofia, dan Nurul sering bercerita kalau Saga dan Micky selalu berkelahi disekolahan.
Aku menghelas nafas, apalagi saat ini ada teman teman ku yang menganggu fikiranku dan membuatku memikirkan antara Saga dan Micky.
"Si Saga sama Micky kayaknya gak bisa akur deh" kata Sofia sambil memberikan aku apel yang katanya dia potong tadi
"Mungkin akurnya pas udah mati" celetuk Dian asal asalan
"Hus. Cangkemu wilo, sembarangan , lek enek malaikat lewat pie?" Timpal Nurul tajam yang artinya "hus mulutmu itu Lo, sembarangan, kalau ada malaikat lewat gimana?".
Mendengar itu aku tertawa cekikikan meskipun aku juga memikirkan antara Saga dan Micky.
"Lagian mereka berdua berantem seminggu masak empat kali, udah kayak minum obat aja" ucap Dian
"Katanya besok orang tua mereka dipanggil ya?" Tanya Nurul
"Iya lah, berantemnya udah gak aturan" Kata Sofia sambil menyuapi aku apel
"Udah Sof, kenyang gue elo suapin terus" aku menepuk perut yang mengundang mereka tertawa.
"Van, gue denger denger si Micky mau donorin matanya buat elo ya?" Tanya Dian dengan suara lirih, mungkin takut menyinggung ku
Aku mengangguk dengan lemas "kayaknya gue gak bakalan Dateng pas jadwal yang ditetapkan rumah sakit" ucap ku lirih
Entah tangan siapa yang mengelus punggungku, yang jelas kurasakan dari elusannya ada yang menyalurkan kekuatan dari sana.
"Sabar ya Van, ini pasti berat buat elo" kata Dian memelukku
"Saga pernah nawarin buat donorin matanya gak buat elo?" Tanya Sofia
Aku menggeleng sambil menghela nafas dengan berat.
"Dio mano berani, bucin lagi Idak" itu suara Dian yang entah kenapa menggunakan bahasa Palembang meskipun aksennya terdengar aneh
"Kalaupun Saga nawarin buat donorin matanya buat gue, gue bakalan nolak tawaran dia" kata ku dengan lirih "Gue gak mau karena gue, mereka kehilangan dunia mereka"
Drrt drttt
Ada getar di ponsel seseorang dan itu terjadi sangat lama.
"Angkat Yan" titah Nurul
"Ngapi niku?" Lagi lagi Dian menggunakan bahasa Palembang, entah hari ini dia kesambet apa, kami semua terdiam takut mengganggu Dian yang tengah bertelfonan.
"Ha, beneran, maksud nya si Micky sama Saga beneran?" Nada suara Dian berubah darastis, yang tadinya nadanya normal sekarang terdengar Menaik
"Oyu, nyak mulang" itu bahasa Palembang yang artinya " iya aku pulang".
"Ada apa Yan?" Tanyaku karena penasaran dengan percakapan mereka.
"Ha. Gak papa" nada suara Dian seperti dibuat senormal mungkin
"Bentar dulu" aku meraba raba dimana tangan Dian "jelasin dulu, Micky sama Saga kenapa?" Tanyaku
Dian tidak langsung menjawab, terdiam sangat lama lalu berdehem. Dari suara deheman nya, kutebak dia tengah menyiapkan sebuah alibi agar aku tidak menaruh curiga padanya.
"Ini, Saga sama Micky kepilih buat perwakilan atlet OKI" katanya
"Yaudah Van ya, gue balik dulu" Dian menepuk bahuku lalu terdengar langkah kecil berlarian. Kenapa harus buru buru, padahal hanya Yogi yang datang, biasanya dia selalu santai kalau Yogi main kerumahnya, atau kalau dia sedang dirumahku dan Yogi main kerumahnya, Dian akan marah dan menyuruh Yogi untuk datang kerumah ku sambil membawa makana.
"Yan, Dian, tunggu dulu" teriakku yang tidak disahut oleh Dian
"Dia udah pergi Van" ucap Nurul memberitahu "tuh udah naik motor sambil cengar-cengir " lanjut Nurul
"Seneng tu anak diapeli si Yogi, mesum mulu" Sofia cekikikan setelah mengucapkan kata itu
Nada mereka terdengar santai, kalau benar yang di ucapkan Sofia dan Nurul mengenai ekspresi wajah Dian, berarti tidak ada masalah yang perlu membuatku khawatir.
Sofia sendawa yang membuat Nurul tertawa lebar. Aku tidak selera menanggapi mereka hanya memikirkan mengenai Micky dan Saga , memikirkan apa yang diobrolkan oleh Dian tadi.
"Eh Van, kita pulang dulu ya, udah malem soalnya, takut dicariin pak e mak e" kata Nurul
Aku mengangguk "hati hati ya, makasih udah mampir" kataku
"Iya Van, kita bakalan kesini rajin rajin" ujar Sofia sambil tertawa
"Tante, Sofia pulang" teriak Sofia
"Lah aku gak kamu pamitin sekalian" protes Nurul
"Tinggal pamit sendiri"
"Tante Nurul juga pulang" teriak Nurul
"Kok buru buru?" Nampaknya Mama baru saja keluar "lha Dian mana?" Tanyanya
"Udah pulang duluan Tante, katanya ada temennya yang mau main" jelas Nurul
"Yaudah hati hati, sering mampir kesini ya"
"Siap" itu suara Sofia yang perlahan menjauh.
Kemudian digantikan suara klakson untuk mengucapkan selama tinggal dari mereka. Mama mengelus punggungku dan membimbingku masuk kedalam kamar. Disana Mama tidak mengucapkan sepatah apapun, dia sedang menepuk nepuk kasur atau bantal, entahlah yang jelas kemungkinan dua benda itu.
"Ma, Micky sama Saga hari ini kok gak kesini ya?" Tanyaku
Tepukan Mama berhenti lalu berdehem "iya juga ya" katanya "mungkin mereka sibuk sekolah"
"Kata Dian sama yang lainnya, Saga sama Micky itu sering berantem disekolahan" ceritaku "Mama ngeliat wajah mereka gak?"
"Oh iya, Micky sama Saga mukanya sering babak belur kalo kesini" Mama menjedannya , sambil membenarkan letak tidur ku "tapi pas ditanya papa, kata mereka itu separing atlet pencak silat gitu"
"Bonyoknya parah gak?"
"Yah, sampe memar gitu, bibirnya Saga juga luka" diujung rajangku bergoyang "kalau Micky juga banyak memarnya tapi bibirnya gak papa"
"Masa sparing atleat sampe segitunya" aku menghela nafas "kayaknya mereka berantem deh ma"
Mama mengelus rambutku "Kamu beruntung Vanda punya dua temen cowok yang perhatian sama kamu" puji Mama "Kalau Mama seusiamu pasti Mama jadi orang yang bahagia di dunia"
"Tapi Saga sama Micky gak temenan ma, mereka musuh"