ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Dua puluh sembilan



Kami berhenti pada pos pertama, menatap Nurul dan beberapa kakak pembina yang tidak kukenali.


"Dari regu mana dek?" Tanya Nurul.


"Pyiak ayam " ujar Firdaus lantang.


"Punya yel yel?" Tanya Nurul lagi


"Pyiak punya" jawab Firdaus lagi.


"Pyiak pyiakkkk" teriak Firdaus


"Pyiak " jawab kami


"Pyiak pyiak pyiak pyiak" komando Firdaus


"Disini ayam, disana ayam dimana mana ayam berada, disini ayam disana ayam , negara ini negara ayam. Syalalallala yam. Syalalallala ayam syalalallala ayam"


Yel yel kami rupanya mampu mengaduk perut kakak pembina, mereka tertawa.


"pecahkan sandi ini" Nurul memberikan selembar kertas.


Kami duduk, ada beberapa regu yang juga tengah menyelesaikan soal dari pos pertama.


"Van, tulisan kamu kan bagus, kamu bagian nyatet aja ya" tukas Firdaus padaku


"Pyiak bos" aku hormat pada Firdaus yang membuat mereka tertawa.


Tidak tahu apa yang tengah mereka kerjakan yang jelas aku hanya menatap sekeliling. Ketika tatapanku harus terjatuh pada lelaki yang duduk diatas motor beat bersama dengan Aliya.


"Jatah Aqua" tukas Saga yang tanpa sengaja menatapku.


Nurul menerima satu dus Aqua dari Saga.


"Berduaan mulu Sag" kata salah satu senior yang tidak kukenali namanya siapa.


"Ha-ha-ha" Saga tertawa, "doain ,lagi proses"


Mendengar ucapan Saga yang begitu, hatiku teriris. Sedang proses, apa yang dimaksud Saga dengan kalimat tengah proses berusan. Apakah hubungannya dengan Aliya atau apa?


"Van, nih catet gih" kata firdaus memberikan kertasnya padaku.


Aku menerimanya lalu menyalin dari oret oretan Firdaus. Kami berdiri tapi lebih dulu mengijinkan Saga untuk pergi dari pos pertama.


"Oke, pyiak pyiak kalian boleh pergi"


Kami pergi, berjalan menuju pos kedua, ketiga sampai pada pos keempat. Dimana pos tempat Micky berada. Disana kami tidak diberi soal soal, justru diharuskan merayap pada rute buatan mereka yang semuanya sudah di basahi dengan air.


"Ayo merayap" perintah Micky,


Aku sempat menatapnya dan dia menarik sudut bibir kala mata kami bertemu. Aku merayap, sehingga kurasakan baju olahraga ku kotor.


"Kurang kotor" bisik Micky di belakangku, aku menolehnya dan dia hanya cengengesan tidak jelas.


Kukira tantangan untuk merayap sudah selesai tapi ada lagi, dimana kami harus turun ke selokan yang penuh dengan air berwarna kuning, sungguh ini benar benar berwarna kuning.


"Ayo dekkk tiarap" teriak Micky,


"Vanda, tiarap" ujar Aliya menatapku dengan sinis.


Aku menggeleng, dan mundur selangkah.


"Van" saat Aliya hendak membentakku lagi, Micky mengangkat tangannya seolah mengatakan biar dia saja.


"Kenapa gak mau?" Tanya Micky dengan suara lembut.


"Takut kalau ada buayanya" ucapku lirih.


Micky tertawa terbahak bahak. "Vanda, buaya itu adanya di sungai sama rawa rawa, disini mana ada" kata Micky.


"Nanti kalau ada ular gimana?" Tanya ku lagi.


"Ngaco Lo ah, selokan ini ada air karena buatan kita semua, jadi udah kita pastiin gak ada namanya biawak, macan, harimau sama buaya, Lo tenang aja" Micky menepuk bahu ku. Saat itu tanpa sengaja mataku bertemu dengan mata Saga.


"Mick, gak bisa ya ganti sama apa kek?"


"Gak bisa Vanda, udah buruan" dengan terpaksa aku turun dan tiarap di tengah selokan yang penuh air kotor ini.


"Oh ya Vanda" aku menoleh kearah Micky "disitu udah jadi satu sama air pipisnya regu depan"


Karena terkejut dengan ucapan Micky aku berniat bangkit sayangnya siku tangan Putra mengenai hidungku, sehingga aku mimisan.


Reflek aku berdiri sambil mendongakkan kepalaku, menutup hidung dengan tangan.


"Van, Lo gak pap_" belum selesai pertanyaan Micky.


Aku merasakan tubuhku diangkat seseorang. Dan itu Saga.


Saga menurunkan ku dipinggiran jalan, sambil menatapku dengan khawatir.


"Lo gak papa?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir.


Aku menggeleng meski dengan susah payah menghalu darah yang terus keluar dari hidung. Senior senior yang lain ikut panik. Ada yang berteriak meminta tisu pada siapapun yang membawanya.


Saga melepaskan hasduk yang dia kenakan, menutup hidungku dengan hasduknya, aku diam, masih menahan kepala ku yang pusing. Saga menarik kepalaku untuk bersandar pada perutnya.


"Lo bawa obatnya gak?" Tanya Saga padaku dengan deru nafas yang memburu.


Aku mengangguk.


"Yan, ambil obat kapsul di tas Vanda, buruan" suara Saga hampir membentak Dian untuk segera pergi. Lokasi pos empat ini sedikit jauh dari sekolahan jadi kemungkinan memakan waktu lama untuk mengambil obat.


Aku kelelahan, hampir lemas karena darah yang tak kunjung berhenti padahal aku sudah mendongak setengah mati, kepalaku berdenyut sakit.


"Puskesmas buka gak?" Teriak Saga pada orang orang yang ada disekitar sini.


Aku bisa merasakan kepanikan dari suara Saga, dia panik. Mungkinkah dia panik saat melihat aku mimisan seperti ini.


"Kayaknya buka" selesai dari ucapan senior yang aku tidak kenal. Saga langsung membopong ku keatas motor trilnya.


Dia juga naik, menarik kedua tanganku untuk memeluknya, bahkan tangan sebelahnya juga memegang tanganku.


"Pegangan Van" katanya lirih.


Aku menggeleng, ragu untuk melepaskan tanganku dari hidung. Bagaimana jika darah ini mengenai seragam Pramuka Saga.


"Vandaa" dia berteriak, dan aku kaget. Mungkin juga orang orang yang ada disekitar kami kaget.


"Pegangan"


aku menurut karena takut.


Dia membawaku pergi, dengan kecepatan tinggi diatas motor tril Saga. Aku sudah lemas, begitu sampai didepan puskemas, dia membopongku untuk di tidurkan diatas brangkar.


"Mimisan bu, bisa tolong diobati gak?" Ucap saga pada petugas kesehatan


Aku mendapatkan perawatan berkat Saga, mampu mengehentikan mimisanku setelah di beri obat .


Aku bersandar ditemani Saga yang menatapku sambil mengendalikan deru nafasnya


Kupandangi wajahnya yang sudah pucat.


"Lo balik aja, gue gak mau elo kenapa napa" ucap saga melemah.


"Gue gak papa kok"


"Van, elo gak bisa capek, dan ini udah jauh dari kemampuan kondisi elo" Saga menatapku, dengan tatapan mata teduh yang lagi lagi membuatku terbius.


Seharusnya saat itu aku menanyakan hubungan Saga dengan Aliya atau hubunganku dengan Saga, bukan hanya menatap wajahnya seolah olah aku benar benar tidak bisa melihat hal lain selain saga.


Saga begitu hebat, setelah menjatuhkan hatiku dia mengangkat hatiku kembali, setelah aku berfikir dia tidak perduli denganku, dia mampu membuat aku memiliki kepercayaan tinggi bahwa Saga mencintaiku, Saga memperdulikan lebih dari orang lain.


Saga hebat, dan aku mengakuinya untuk saat ini. Bagaimana perasaanku mudah sekali dipermainkan oleh orang bernama Saga.