ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Sebelas



Usai mengirim pesan pada Kayla kemarin, aku jadi kepikiran dengan ucapan kayla.


Sebenarnya kenapa aku begitu peduli dengan hal yang seharusnya tidak aku pedulikan. Masa iya, aku yang baru kenal dengan Saga bisa langsung menyukainya.


Aku masih berdiri menatap papa dan mama yang dengan bangga memperlihatkan motor baru mereka. Hanya menatap motor metik itu tanpa berkedip, sebenarnya pandanganku jauh ke depan, memikirkan Saga yang justru terlintas dengan motornya.


"Gimana Van, kamu suka gak?" Tanya papa dengan senyum yang membuat kerutannya terlihat.


Aku memindahkan fokus bola mata, melihat papa dan mama yang sepertinya menyukai kendaraan baru kami, aku ikut mengangguk


"Suka suka aja, mobil kita jadi dijual?" Tanya ku.


Mama menggeleng "gak jadi, kita gunain tabungan untuk beli apartemen dulu"


Aku mengangguk, langsung naik ke jok belakang, padahal papa masih berdiri disamping motornya.


"Ayo berangkat, Vanda bisa telat" ujarku.


Papa langsung menepuk kepala stir motor "siap" katanya.


"Ma berangkat" aku meriah tangan mama yang tidak jauh dari posisi duduk ku di jok motor.


"Hati hati, sekolah yang bener" kata mama.


Aku berdada


"ma, papa berangkat" suara papa yang mulai hilang di balik suara motor ikut bercampur.


Kami sama sama menikmati jalan menggunakan motor. Ternyata pilihan papa membeli kotor benar benar ada gunanya, perjalanan yang biasanya ditempuh dengan mobil kini di ganti menggunakan motor lebih cepat. Aku tidak perlu menghabiskan waktu tiga puluh menit ku untuk memikirkan hal yang tidak penting.


Perjalanan ini kami tempuh tujuh belas menit menggunakan motor. Sampai didepan gerbang, aku turun dan membenarkan rok yang sudah mulai kusut.


"Pa Vanda berangkat" aku menyalami tangan papa.


"Belajar yang bener" ucapnya


Aku melambaikan tangan pada papa saat motor metic itu membawanya pergi dari depan gerbang sekolahan. Saat berjalan memasuki sekolahan, dari arah parkiran Dian berteriak memanggilku.


"Vanda Vanda tungguin" panggilnya.


Dian sedikit berlari , entah tadi pagi dia pergi sekolah dengan siapa yang jelas dari posisi Dian memanggilku tadi, aku melihat ada seorang lelaki yang asing untukku.


Dian merangkul lenganku, dia memang selalu sebahagia ini rupanya.


"Udah ngerjain tugas fisika?" Tanya Dian


"Sudah" jawabku


"Eh, denger kabar gak?"


Aku menoleh, kabar apa yang dimaksud Dian padaku "enggak, kabar apa?"


"Itu si Saga sama Micky berantem"


Heh, kok bisa, maksudku kenapa bisa berkelahi?. Terakhir kami bertemu mereka baik baik saja, meskipun dari tatapan keduanya tidak menunjukan situasi yang baik baik saja.


"Kok bisa"


Dian menggeleng, sampai di kelas pun, Dian tidak bercerita terlalu banyak tentang Saga.


Dan ketika aku tanya, dapat dari mana kabar itu Dian menjawab "Itu aku denger kabarnya dari si Yogi"


Kudengar juga dari Sofia, Saga tidak pergi sekolah, apa separah itu lukanya sampai dia tidak pergi sekolah. Dan untuk Micky lelaki itu pergi sekolah hanya saja tidak menyapa sewaktu kami bertemu dikantin, dia berjalan melewati ku begitu saja. Aneh.


Terkahir aku dan Micky bertemu kami baik baik saja, tidak ada satu perdebatan pun dari pembicaraan kami barusan.


Dikelas, aku lebih memilih mengatakan keganjalanku mengenai Micky pada Nurul dan Dian. Mungkin mereka bisa menebak apa kesalahanku pada Micky.


"Jadi kemarin kamu bolos bareng Micky?" Tanya dian


"Pantesan, si Saga nanyain kamu sama aku" Tutur Nurul.


Eh , kenapa bisa gitu?


"Kenapa dia nanyain gue?" Tanya ku


"Mungkin takut kalo kamu gak ikut eskul Pramuka" jelas Nurul.


Aku mengangguk "kemarin dia kerumah gue, datangnya barengan sama gue" papar ku "si Saga marah marah gitu, katanya gue gak boleh bergaul sama Micky. Aneh gak sih?"


"Jelas lah, si Saga marah" ucap Dian "nih ya Van, kita kasih tahu. Micky itu anaknya agak nakal, suka nongkrong gitu, sering berantem, playboy lagi" papar Dian.


Tapi menurutku Micky tidak nakal kok, dia masih normal. Kalau playboy aku bisa mengakui itu, wajah tampan itu dan gaya bicaranya yang asyik, mungkin menjadi daya tarik untuknya.


"Kalo nongkrong memangnya salah nya dimana?" Tanya ku


Memang benar dong, anak muda memang masih suka sukanya sama tongkrongan.


"Maksudnya nongkrong di tempat gak bener gitu, kayak di cafe"


Waktu itu aku belum tahu cafe yang mereka bicarakan adalah tempat para wanita tidak benar yang menyajikan servis plus plus. Kufikir cafe cafe pinggiran jalan yang ada di Jakarta.


"Gue juga sering nongkrong di cafe, bahkan mayoritas penduduk Jakarta juga gitu"


Ah kufikir Micky normal, tidak terlalu nakal.


"Bukan cafe tempat minum kopi" pungkas Sofia yang sedari tadi hanya mendengarkan kami tanpa ikut komentar


"Cafe disini itu cafe yang tempat cewek cewek nakal gitu"


Ooh, aku mengangguk. Jadi itu tempat tongkrongan Micky. Di Jakarta pun tempat seperti itu lazim didatangi, mungkin disini tidak.


"Jadi kenapa Saga marah sama gue?" Tanya ku yang tidak paham


"Kan kamu anak baru, mungkin dia takut kamu di apa apain si Micky" jelas Nurul.


Aku memilih diam, aneh saja. Aku sama Saga kan tidak ada hubungan apa apa. Sedetik itu ada percikan harapan yang timbul dalam diriku, dan lagi lagi aku tidak suka. Hanya karena sikap Saga yang tidak bisa ku tebak maksudnya, aku jadi menyimpulkan kalau dia memiliki rasa padaku. Astaga Vanda, ayolah sadar sedikit.


🚕🚕🚕


Pulang sekolah, aku, Nurul, Dian dan Sofia bubar. Kami janjian untuk wekend besok main di rumahku.


Didepan gerbang aku hanya berdiri menunggu papa, yang lainnya sudah pulang dengan kendaraan masing masing, membuat kepulan debu yang mengharuskan ku terbatuk batuk sebagai reflek dari organ tubuh yang menolak kotoran.


Aku tidak melihat Micky keluar dari sekolahan, atau mungkin sebenarnya dia sudah keluar hanya saja aku yang tidak tahu.


Bunyi motor yang mulai tidak asing ditelinga itu terdengar. Dan kurasa semakin mendekat dan berhenti di depanku. Aku tidak berani mendongak, kalau iya orang itu yang sedang kupikirkan.


"Ayo gue antar"