
Lama kami berkeliling di sekitar taman singa apore ikon dari kota Belitang. Setelah selesai aku dan Saga memutuskan keluar.
"Mau beli makan atau jalan jalan dulu?" Dia bertanya padaku.
"Jalan jalan aja deh kayaknya, mumpung masih di luar negri"
Lagi lagi Saga tertawa, membawa aku pergi meninggalkan taman singa apore yang sempat membuat aku jantungan. Aku tidak lagi merasa malu untuk memeluk Saga, begitupun Saga bahkan sudah semakin dekat denganku. Memang harus begitu kami sudah berciuman dua kali, maksud ku Saga sudah mencium ku dua kali.
"Ini Kabupaten OKU Timur?" Tanya ku penasaran
"Bukan. Kabupatennya ada di Batu Raja, kalau gak salah sih gitu" jelasnya
"Pernah kesana gak?"
Saga menggeleng "belum pernah" jawabnya terdengar miris.
"Kapan kapan kesana yuk"
Saga menoleh, lalu tersenyum "gak perlu, di Mesuji makmur banyak keindahan yang belum elo tahu kan" tukasnya.
Aku menyenderkan kepala pada bahu Saga, dan Saga tidak menolak untuk itu. Aku memeluknya seolah esok kami tidak bisa berpelukan lagi.
"Ada yang mancing ikan gak disini?" Tanya ku sewaktu kami menyusuri jalan disisi sungai.
"Sebentar, gue tanyain dulu" Saga berhenti pada penjual es disisi sungai
"Mas pernah ada yang mancing ikan gak disini?" Tanyanya.
Aku memukul punggung Saga sebab Saga benar benar menanyakan pertanyaan itu. Dan dia tertawa sebelum penjual es menjawab pertanyaannya.
"Pernah ada, tapi jarang takut ditangkap" katanya
"Ha ha makasih mas"
Kami melanjutkan perjalanan lagi, sesekali saling berdebat untuk sekedar menilai penampilan seorang gadis.
"Saga Saga" panggil ku
"Apa?" Jawabnya setengah menoleh
"Ha, gak papa suka aja sama suara kamu"puji ku terus terang.
Saga tertawa "suka banget?" Tanyanya
"Iya" kujawab dengan kejujuran.
🚕🚕🚕
Puas jalan jalan, kami pulang sekitar pukul empat sore, sengaja Saga memelankan jalannya, katanya biar tidak bertemu hujan.
"Mana ada hujan" cela ku
"Bentar lagi hujannya dateng" katanya sambil tertawa
"Ini musim panas bdw"
"Hahaha kalau gak mau hujan biar gue ngehujani elo" katanya
Aku memukul punggung Saga, kami tertawa lagi.
"Capek gak?" Tanyanya
"Dikit sih" kataku karena sebenarnya memang lelah.
Saga mengajakku beristirahat di rumah makan, memilih tempat sedikit kebelakang. kami memesan makanan, sambil menunggu makanan terhidang, Saga memainkan ponselnya.
"Tadi kenapa gak mau foto di taman singa apore?" Tanya Saga menolehku.
"Malu lah Sag, gila aja" aku tertawa "apa kata temen gue coba"
"Si Vanda foto di taman replika singa apore" katanya
"Hahahha"
Saga menoleh ke arahku, menatap dengan mata lembut dan membuatku berdesir
"Kenapa sih?" Tanyaku gugup
Bahkan sangking gugupnya aku membasahi bibir bawah dengan lidah. Saga masih tidak memindahkan arah padangnya
"Sag apaan sih, gue gak suka ditatap kayak gitu" kataku menatap lurus.
Saga merangkul pinggang ku, menyenderkan kepalanya di bahu
"Capek gue" katanya lirih "pengen istirahat" ujarnya
Tidak, Saga tidak sepenuhnya istirahat, dia menyibakkan rambutku kesebalah kanan, sehingga memperlihatkan leher jenjangku. Nafasnya yang memburu mengenai kulit kulit leher. Semakin membuat aku gugup. Tangannya bermain pada pinggangku, dan aku tidak menolak.
"Van" panggilnya sambil menyembunyikan wajah di bahu
Aku berdehem, tidak mampu menoleh.
"Lo suka ya sama Micky?" Tanyanya
"Ha?" Aku menoleh, tepat saat aku menoleh Saga menarik tubuh ku mendekat. Dia mengecup bibirku, mengecup bibir bawah ku dengan sensual.
Saat itu seharusnya aku menolak, Saga terlalu nafsu denganku, bahkan menurutku dia termasuk kurang ajar tanpa mengungkapkan perasaannya dia sudah berani mencium ku beberapa kali. Tapi aku tidak berdaya, tidak berdaya oleh ciuman Saga yang memabukkan. Bahkan saat tangannya sudah merayap pun, aku hanya diam saja.
Saga melepaskan pungutanya, berbisik pada telingaku "dilanjutin besok lagi, nanti keterusan" katanya lirih.
Kurasa dia menghentikan pungutan kami karena dia tahu pelayan restoran datang dengan napam berisi makanan.
🚕🚕🚕
Aku lupa bertanya mengenai hubungan kami meski aku sudah turun dirumah. Sudah membasahi tubuhku dengan air hangat. Tapi sentuhan bibir Saga masih bisa aku rasakan. Aku bukan gadis polos, perlu kuakui, sudah sering berciuman dengan Ajil bahkan. Tapi dengan Saga hebatnya aku lupa menanyakan status kami sampai bisa bebas berciuman sesuka hati.
Aku merebahkan diri dikasur setelah mandi, beberapa saat ponselku berbunyi, itu dari Ajil kekasihku.
"Halo" sapa ku malas
"Kemana aja sih, semenjak pindah udah jarang lagi ngabarin" keluh Ajil dari seberang telefon
"Sibuk Jil" kataku bohong
"Sesibuk apa Vanda, sampe elo lupa kalau gue pacar elo disini"
Aku menatap pada pantulan kaca, menatap diriku sendiri. Sesibuk apa aku lupa pada duniaku semestinya, lupa akan Ajil, Kayla dan kota Jakarta. Sebenarnya apa aku sudah berubah atau desa ini yang membuatku berubah.
"Ya sibuk aja, gue siswa baru yang harus menyesuaikan semuanya" tuturku
"Van, selama ini elo ngebaca pesan pesan gue tapi gak pernah elo balas, sebenarnya elo kenapa sih? Apa ada orang lain yang ngebuat elo berubah?"
Orang lain? Orang lain? Aku tidak tahu pesona apa yang sudah Saga berikan sampai dia bisa mempermainkan aku sehebat ini.
"Gak ada" kataku membentak
"Lo berubah Van, elo bukan vanda yang gue kenal dulu"
"Jil, jangan mentang mentang elo pacaran sama gue, terus elo bisa bebas bilang, gue berubah dan gak kayak Vanda yang dulu. Atau jangan jangan bukan gue yang berubah tapi elo" tudingku, aku mengusap wajah frustasi "mending kita putus aja" ucapku melemah
"Van" Ajil memanggil dengan nada frustasi nya "terserah elo Van, gue anggep putusnya hubungan kita karena perselingkuhan elo"
Dia menutup panggilan begitu saja, brengsek. Aku keluar dari rumah, duduk di teras menatap langit yang bertabur bintang.
Aku belum menjelaskan bagian ini, Mesuji makmur adalah kecamatan bagian Palembang, menjadi kabupaten OKI, tetapi lebih dekat dengan kabupaten OKU dan kecamatan yang menjadi perbatasan antara Lampung.
Kecamatan Mesuji makmur terletak di catur Tunggal, tetapi tidak banyak orang tahu dan menggap kecamatan ini menjadi bagian pematang sukaramah (salah satu nama desa). Kecamatan ini adalah satu satunya kecamatan yang pernah kutemui dengan kondisi jalan berlubang dan sangat sepi. Tidak ada kantor kantor , penjual kaki lima atau restoran yang buka disekitar sana. Hanya ada tempat foto copyan didepan UPTD juga bersebelahan dengan SMK 1 ( kami jarang bertemu, sesekali hanya waktu upacara tujuh belasan).
Keunikan Desa ini adalah bagian dari OKI tapi butuh waktu dua jam untuk ke kabupaten juga butuh waktu empat jam ke Palembang (itupun ditempuh menggunakan sepeda motor).
Kata Saga pusat kecamatan ini terletak di desa Catur Tunggal (desa yang kudatangi untuk mengambil paket pengiriman dari Kayla). Tapi menurutku bukan, pusatnya lebih ke Bina Karsa, ( tempat ku tinggal). Disini sudah ada dua minimarket yang dibangun, meski belum kutemui Bank Bank. Hanya ada beberapa koperasi juga perusahaan lesing. Sekolahan ku sendiri berjarak lima belas menitan dari rumah (berada di desa sebelah) . Aneh jika aku bilang Mesuji makmur bagus, nyatanya tidak. Sejahat jahatnya Jakarta. Aku tetap menyukainya. Kurasa Mama papaku sependapat, papa yang bekerja di kepolisian Jakarta pusat dan harus di mutasi ke desa terpencil, aku rasa dia sedikit tidak terima, Mama pun begitu, menjadi karyawan swasta tetap dan harus berhenti untuk menjadi ibu rumah tangga di desa kecil macam ini.
Namun dari sini aku mengenal Saga, jadi aku tetap meneruskan menulis ini, sambil mengingat ingat desa ini. Terserah jika kalian tidak setuju mengenai desa ini. Tapi harus aku akui, Mesuji makmur indah, dengan pesonanya dan dengan kesederhanaannya. Buktinya dia bisa membuatku tertawa. Ha ha begitulah.
Seperti halnya Saga. Jadi sambil mengamati bintang di depan teras rumah, aku menghirup udara. Udara segar yang nyatanya hanya kutemui di Mesuji Makmur. Tidak Jakarta, Jakarta hanya menyuguhkan kemewahan tapi tidak tersedia kesederhanaan seperti ini. Saat tiba tiba lampu padam dan membuat ku jejeritan serta sorakan dari tetangga tetangga.
"Mama Mama" aku berlari kedalam rumah, menendang pinggiran sofa dengan kelingkingku.
Aku menjerit, sedangkan papa yang duduk di sofa berdehem.
"Ih ngagetin" saat senter ponsel papa dihidupkan. Aku memeluk papa di sofa.
"Pa mati lampu" jelasku
"Papa gak buta Vanda, jadi papa tahu" katanya berniat bangkit
"Mau kemana?" Langsung kucegah
"Nyari lilin"
Beberapa saat mama keluar membawa lilin ditangan. Kurasa dia sudah bersiap siap untuk pemadaman lampu
"Sampai kapan mati lampunya?" Tanya ku tanpa berniat melepaskan pelukan pada papa
"Jam duaan" kata Mama
Gila, itu mati lampu pertama dan terpanjang selama hidupku. Tapi selama mati lampu pun, tatapan Saga yang mengisi mata ku. Aku jatuh cinta pada orang seperti saga.