ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Dua puluh lima



Meksipun hanya mengerjakan tujuh soal dari tiga puluh soal, akhirnya aku dan yang lainnya sudah bisa kembali ke tenda. Ini pukul tujuh malam dan dengan hanya pencahayaan ditengah lapangan membuatku semakin takut.


"Van" suara Dian membuatku menoleh.


"Nih" dia menyodorkan minyak kayu putih kecil ke arahku.


"Apa?" Aku tidak langsung menerimanya, hanya memandangi minyak itu beserta Dian .


"Dari Saga, katanya tadi dia khawatir pas liat lo nangis"


Ha? Saga? Bukankah saat aku menangis tadi Saga tidak ada di kelas, kenapa tiba tiba dia bisa memberiku minyak kayu putih. Aku menerimanya meski ragu.


"Lo tadi kenapa sih?" Tanya Dian dengan suara melemah. Kurasa dia sedikit ragu untuk membahas masalah ini.


"Gue takut aja" jawabku masih memandangi minyak kayu putih ditangan.


"Takut apa coba? Ada mbak Kunti, gederuwo atau Micky"


"Lha kok Micky"


"Ha ha " dia tertawa "Micky kan titisan jelangkung, datang gak di undang pulang gak tau sopan"


"Ih Dian gak boleh gitu"


"Tuh dia yang di omongin nongol" Dian menunjuk Micky dengan dagunya.


"Woy gebetannya Rio" ledek Micky sambil melambaikan tangan ke arah Dian.


"Mau burung Lo gue potong biar tinggal telur nya doang" ancam Dian sambil mempraktekan seolah tengah menggunting sesuatu


Micky meringis sambil merapatkan pahanya. Aku tertawa, Micky selalu bisa membuat orang tertawa, kurasa bakatnya adalah pelawak.


"Ada waktu gak?" Tanya Micky padaku.


"Kenapa emangnya?"


"Mau ngajak makan mie" jawabnya


"Yah gaya banget ngajak makan mie, biasanya makan pakek ikan asin gaya" cela Dian.


"Diem crewet, gue undang si Rio kesini nih" balas Micky sambil melotot.


"Pepet terus Pepet terus" Dian semakin menjadi saat menggoda Micky sambil berjalan meninggalkan kami.


Micky mempraktekan memotong leher dengan tangannya, itu ditunjukan untuk Dian karena Dian masih membalas dengan juluran lidah.


"Kalian berdua nih berantem terus udah kayak tom dan Jery" godaku


Kami berjalan kearah tenda panitia, Micky memasukan tangannya kedalam saku jaket.


"Gue Jery nya si Dian tom nya" kata Micky sambil tertawa.


Kami duduk di depan tungku api buatan panitia. Micky memasukan mie kedalam air panas yang sudah dia masak sebelum menghampiriku tadi.


"Nama elo tu unik tau gak Mik, Micky Handoko. Kenapa bisa gitu?" Aku bertanya sambil mengamati Micky yang mengaduk mie instan.


"Dulu Mama gue pas hamil nyidam tikus"


Aku reflek menoleh nya sambil melotot "serius?"


"Ha ha" dia tertawa "ya enggak lah, masa ada orang hamil nyidam tikus"


"Gue kira beneran" aku memberikan piring kepada Micky, lelaki itu dengan telaten mengangkat mie dan membumbuinya.


"Nih" dia menyodorkan mie instan buatannya.


"Eh tadi gue kasih cabe dikit" tambahnya.


Aku memakan mie buatan micky, sambil mengobrol menikmati dingin yang menusuk.


"Tadi lo Masakin Saga apa?" Tanya nya tiba tiba.


"Tumis kangkung" kujawab sambil mengunyah mie.


"Jadi kapan elo masakin gue?" Aku tertawa mendengar pertanyaan Micky.


"Apaan sih, gue kan gak bisa masak"  aku menginup mie sebelum memakannya "Lo pinter masak mie ternyata" pujiku


"Ha ha, apa sih Van, yang namanya mie itu rasanya sama. Tinggal masukin bumbu aja udah beres"


"Serius, ini enak banget" aku masih terus Keukeh memujinya.


"Pakek cinta buatnya"


"Uhuk" tidak sengaja aku tersedak.


"Minum minum" Micky menyodorkan segelas air putih kearah ku.


"Abis ini kegiatannya apa?" Tanya ku pada Micky yang sudah selesai makan.


"Em apa ya?" Micky berdehem. "Gue gak tahu "


"Jadi fungsi elo disini apa?" Cibirku


"Ha ha dikira sapi mau dikurbanin apa, pakek dijaga segala"


"Eh elo lebih dari sapi" kata Micky serius "tapi badak"


🚕🚕🚕


Kalau semacam ada pilihan untuk kabur aku akan kabur saat ini juga, sudah pukul sepuluh malam dan kegiatan masih saja terus mengalir, dari menghafalkan sandi, membuat yel yel dan sampai saat ini harus melingkar ditengah api unggun. Aku tidak keberatan untuk duduk menyilangkan diatas tanah, hanya saja aku sedikit keberatan ketika masih menggunakan seragam Pramuka. Jadi aku kesulitan untuk duduk.


Saga dan yang lainnya duduk ditengah, Micky tengah mengambil potret kami dengan kamera yang digantungkan di leher. Paling banyak dia mengarahkan kamera kearah ku, bukan geer tapi kilatan flas itu selalu membuat ku silau, seolah dia sengaja melakukannya.


"Jadi sebelum kita tes kekompakan, kakak pengen lihat ada yang mempersembahkan lagu untuk kita semua, setuju" ujar Saga sambil membawa kertas yang digulung ditangannya.


Aku mendegus, terserah deh, mau bikin acara apa yang penting aku aman aman saja.


"Ada yang punya bakat untuk di tunjukan disini?" Tanya Saga lagi.


Tidak ada yang bergerak kecuali siswa dengan rambut cepak yang berdiri sambil mengibaskan celana.


"Sayaaaa kak" katanya mendayu


Dia berjalan, lebih dulu mengambil gitar yang ada di depan Nurul. Dia berdiri mencoba memetik gitarnya agar menghasilkan nada yang harmonis.


🎶Telah cukup ku diam


Didalam keheningan ini


Kebekuan di bibirku


Tak berdayanya tubuhku🎶


Tidak sengaja mataku beradu pandang dengan Saga. Awalnya aku tidak mengalihkan tatapan ku pada mata Saga karena kukira dia akan mengalihkan lebih dulu


Tapi aku salah, Saga tetap memandangiku dengan teduh sambil mulutnya ikut bernyanyi bersama anggota yang lain. Aku gugup, gugup karena dipandangi Saga seperti itu.


🎶Dan ternyata cintaaaa


Yang menguatkan aku


Dan ternyata cintaaaa


Kau yang sungguh setia


Menemani kesepianku


Menjaga lelap tidurku🎶


Bahkan pada lirik terakhir saat aku menatap saga lagi dia masih menatapku, dengan tatapan yang berbeda. Apa lagu ini di berikan Saga untukku? Atau bukan. Tapi aku gugup oleh ini.


Semua peserta bertepuk tangan, aku pun menepuki penampilan nya. Sampai pada penampilan lima pun, Saga sering menatapku, menatap dengan terang terangan meski wajahku tertutup bayangan Aliya yang berdiri dibawah sorot lampu.


"Okeh, kita langsung baris buat tes kekompakan " titah Saga.


Kami berdiri ketika mendengar peluit dan perintah untuk berdiri memanjang seperti ular. Satu persatu orang diberi lilin. Aku takut gelap, aku membenci gelap.


"Mick" aku mencekal tangan Micky yang tengah lewat di sampingku.


"Apa?" Tanyanya


"Gue bisa gak pindah ditengah tengah, jangan dibelakang sendiri, takut Mick" rengekku.


"Lah ngomong sama Saga, jangan sama gue. Gue mana ngerti kayak ginian" Micky berjalan sambil tersenyum menggoda.


Sial, Micky tidak bisa membantuku, pokoknya aku tidak suka ada di deretan terakhir. Titik.


"Hey" seseorang menepuk bahu ku sampai aku menjatuhkan lilin ditangan.


"Saga elo bikin kaget gue tau gak" makiku.


"Haha" dia tertawa "Lo kan bagian belakang" suara Saga mengecil


"Hati hati, biasanya yang baris belakang sering di culik mbak mbak Kunti"


Grep


Begitu ucapan Saga selesai aku mencekal lengannya kuat, bahkan dia menatapku bingung.


"Sakit Vanda, lepas ah" dia memegang jari jemariku supaya aku melepaskan dekapannya.


"Enggak Sag, gue takut sumpah" aku menatapnya dengan mata basah, hampir menangis bahkan saat barisan depan sudah mulai melangkah.


Saga tersenyum "gak ada apa apa"


"Lo bilang ada harimau sama hantu tadi, gue takut Saga. Gue gak mau mati perawan disini" rengekku.


"Gue cuman becanda Van" Saga mengelus puncak kepalaku. "Udah sana jalan, barisan depan udah jalan"


Aku menggeleng "gak mau, pindahin gue ke barisan depan" kataku.


Dia melepaskan cekalanku, dan memindahkan tangan kiri ke bahu Eva yang ada didepan,sedangkan tangan kananku memegang lilin.


"Gue bakalan ada buat elo" katanya langsung pergi