
Sambil membawa sepiring tumis berserta nasi aku berjalan kearah tenda panitia. Kukira Saga ada disana ternyata tidak ada. Saga atau panitia Pramuka disana.
Aku hendak pergi tapi kedatangan Aliya membuatku mengurungkan niat.
"Al, Saga kemana?"
Aliya menatapku dengan sinis, aku sadar sebelumnya juga aku dan dia pernah terlibat masalah saat pemilihan anggota paskibra.
"Panggil kak" titahnya dengan menekan kata demi kata.
"Lagian kita seangkatan, ngapain juga manggil elo kak" balasku dengan sewot.
"Disini kita di Pramuka bukan sekolahan. Yang membedakan kita itu adalah penegak" Aliya menatapku sambil berkacak pinggang.
Sial, aku tidak suka dia membawa bawa pangkat, papaku juga memiliki pangkat besar. Dan aku tidak sombong akan hal itu.
"Yaelah, santai aja dong. Gitu aja ngegas" celaku
"Lo bisa sopan dikit gak sih sama senior?" Dia maju selangkah.
"Gue kan cuman nanya Saga dimana, kenapa elo marah marah sih?" Balas ku tak mau kalah.
"Lo nanya letak salah elo dimana? Jelas jelas elo salah karena gak manggil Saga sama gue dengan sebutan kak"
Aku memutar bola mata malas sambil mendegus. "Serah elo, dasar senior gila hormat"
Aku akan berjalan pergi, tapi Saga datang sambil menaikan alisnya. Kukira dia akan melerai kami tapi dia datang hanya untuk mengambil piring yang ku pegang.
"Sekarang naik turun" titah Aliya masih dengan nada yang menyebalkan.
"Ogah, elo aja sana" aku hendak pergi tapi Saga menyekalku.
"Selesaiin dulu masalah kalian"
Dia duduk di meja panitia yang tidak terlalu jauh dari kami, hanya dua langkah dari posisiku. Sambil memasukan nasi kedalam mulut, dia menatap kami berdua.
"Cepet naik turun" Aliya masih kekeh memintaku melakukan skotjam.
"Eh, gue cuman gak manggil elo sama Saga dengan sebutan kak, gitu aja kok dipermasalahkan sih" aku bersidekap.
"Karena aturan di Pramuka, junior itu manggil seniornya dengan sebutan kak"
"Terus gue peduli" aku menaikan alis.
Micky datang bersama dua senior yang tidak ku kenali. Sambil memakan ciki roll dia menatapku dan menyunggingkan senyum.
"Lo junior keras kepala yang baru gue temui" Aliya menunjukku dengan jarinya dan aku tidak suka diperlakukan seperti itu.
Kutepis saja tangan Aliya sampai dia langsung menghadiahi sebuah pelototan.
"Ya, kak Aliya. Puas"
Aku menghentakkan kaki. Micky tertawa sambil dia menepuk bahu ku sedikit keras
"Gue dukung, ayok Jambak jambak an, nanti gue jadi supporter nya" kata Micky menggoda.
Aku menoleh nya, menatap Micky yang masih saja nyengir tanpa dosa.
"Diem deh Mick, ini bukan urusan elo" bentak Aliya seperti mewakili ku.
"Gini deh" Aliya berkacak pinggang sambil melangkah mendekati "Lo pilih naik turun disini atau nanti malam elo gue hukum joget di tengah lapangan"
"Kalau gue gak mau?" Tantangku.
"Ya kalau elo gak mau ya gak papa, cuman" Aliya menepuk tangannya yang terkena debu "siap siap aja besok bakalan dikerjai habis habisan sama kami" bisiknya ditelingaku.
Aku mendegus, tapi langsung melemah saat Saga memegang bahu ku dari belakang dengan lembut.
Aku menoleh "sepuluh kali itu banyak Sag"
Saga menatapku, tatapan yang lembut dan berujung merobek keberanian ku saat melawan Aliya tadi. Mau tidak mau aku skotjam, dengan terpaksa dan dengan rasa dongkol yang masih kupendam baik baik. Selesai melakukan hukuman dari Aliya, aku pergi menuju tendaku.
Saga tidak mengejar atau berusaha meminta maaf karena sudah membuatku dipermaluka ditenda panitia karena mereka, karena aliya dan Saga.
"Prit prit prit" bunyi peluit sebagai tanda berkumpul tiba tiba berbunyi, bahkan sebelum aku sampai di tenda.
"Ih, bisa gak sih sejam aja gue istirahat" keluhku sambil menghentakkan kaki.
Mau tidak mau aku ikut bergabung, pada barisan belakang karena aku tidak tinggi.
Kami melak ukan apel sore yang kali ini dipimpin dari regu gajah. Aku tidak mengenal siapa pemimpinnya saat itu tapi yang kutahu Micky sebagai pembina apel disana.
Selesai apel sore, kami masuk ruangan kelas, mengerjakan soal tes penegak Bantara yang dibagikan oleh Nurul dan Dian. Ada tiga lembar soal, yang masing masing aku tidak paham apa isinya.
Ada bagian dimana gambar orang tengah membawa bendera dengan posisi tangan yang berbeda. Ada juga mengenai keorganisasian. Demi Tuhan kalau aku di beri pilihan mengerjakan soal matematika atau soal Pramuka ini, jelas aku memilih matematika.
"Waktunya tiga puluh menit" teriak Micky memberi tahu.
Aku masih menatap kertas, menunggu hidayah dari Halimah, Rika, Eva atau Nila yang akan memberi jawaban. Aku mengetuk meja sambil menyangga kepala. Memainkan pena dan membolak-balikan balik kertas.
Dua puluh menit berlalu dan tidak ada satu soal pun yang kujawab. Hanya ada beberapa soal seperti soal logika di masyarakat yang bisa kuisi.
Selebihnya seperti gambar gambar, simbol simbol, sandi sandi tidak kujawab.
"Kok kosong"
Aku menoleh saat mendengar suara Micky berbisik dibelakangku
"Gue gak bisa" bisikku
"Jawab aja asal asalan" saran Micky
"Gak ah, mendingan nunggu , siapa tahu kertas kosong ini ada yang nyulap jadi ada isinya" aku terkekeh mendengar kalimat ku barusan.
Micky tidak menjawab lagi, dia masih berdiri dibelakangku. Aku mengetuk meja, membaca sekali lagi soal yang ada di depanku.
Brak
"Hiks hiks hiks" suara tangis dari arah belakang membuat semua yang ada dikelas menoleh kearahnya.
Aku tidak kenal dia siapa yang jelas kemudian siswa itu meronta dan menangis. Aku takut, tidak ada ketakutan yang lebih mencengkram selain melihat hal berbau hantu.
"Eh eh tolongin adeknya" beberapa pantai pramuka membawa siswa yang kesurupan itu keluar kelas.
Hanya saja aku merasa takut, dan aku benci takut karena ketika aku takut aku selalu ingin menangis.
Air mataku menetes "Mama Vanda pengen pulang" lirihku pelan
"Hiks" aku terisak karena benar benar takut.
"Van, elo kenapa?" Micky memegang bahu sambil menatap wajahku yang sudah memerah karena tangis.
"Gue takut"
"Takut apa, hey Vanda. Sadar Van"
"Gue gak kesurupan Micky, tapi gue takut" aku hampir membentak Micky. Lelaki itu langsung membawaku ke pelukannya, aku tidak sadar saat itu, tapi Micky menyembunyikan wajahku pada dadanya.
"Gak ada yang perlu elo takutin, ada gue Van, gue bakalan ada buat elo" bisiknya
Aku tidak bisa melihat sekeliling saat wajahku masih berada di dekapan Micky. Itu terjadi sangat lama, sampai suara gebrakan meja membuat Micky melepaskan pelukannya. Saat kulihat, Saga tidak ada diruangan, entah pergi kemana, atau dia memang tidak perduli padaku.