
Meski terik matahari benar benar panas, namun aku merasa dingin jika didekat Saga. Atau ini hanya kamuflase tentang hatiku.
"Van" Saga memanggilku yang hanya kujawab dengan deheman saja.
"Lo pernah gak di gombali sama cowok tentang matahari?" Tanya Saga yang membuatku mengernyitkan dahi.
"Contohnya?"
"Contohnya, kamu mau gak aku jadi mataharinya kamu jadi buminya" Saga mencontohkan dari ucapannya barusan
"Iya pernah" kujawab seperti itu karena memang pernah di gombali seperti itu oleh Ajil.
"Kok Lo mau sih?"
"Ha, emangnya kenapa ?"
Gak ada yang salah dari gombalan nya kok kurasa.
"Van Van, elo selain polos juga bego ya"
Astaga agak kasar sih tapi entah kenapa meski Saga mengatakan itu aku merasa baik baik saja.
"Matahari kan panas, kalau dia mau jadi matahari berarti elo harus menjauh ribuan kilometer dari dia" kata Saga sambil tertawa.
"Ha ha iya bener juga, gue baru ngeh" aku meruntuki kebodohaku yang saat Ajil mengatakan dia akan menjadi matahari untuk ku, dan aku menerimanya begitu saja.
"Makanya kalau dideketin cowok kudu nyeleksi dulu" tukas Saga memperingati.
"Gue seleksi kok" aku membela diri sendiri.
"Mana ada, elo aja dideketin Micky welcome tuh" Saga ini mencibirku atau memperotesku.
"Emangnya kenapa sih sama Micky?"
Obrolan kami harus terhenti kala Saga membelokan motornya atau memang Saga tidak ingin menjawab pertanyaan ku.
Saga menghentikan motor dan mengibaskan rambut hitam legam yang sudah terkena kumpulan debu. Aku mem egang pundaknya untuk turun dari motor.
"Ini ya yang namanya Semandu?" Tanya ku sambil celingukan.
"Iya" jawab Saga singkat.
"Kok jauh banget sama semansa?"
Saga terus berjalan, aku mengekorinya sesekali menoleh kekanan dan kiri.
"Sekolahan ini baru dibangun, belum lama soalnya cuman punya dua alumni" kata Saga memberitahu ketika kami berbelok di koridor .
Memang terlihat baru, bangunannya masih bagus, catnya juga masih terang, tidak banyak ruangan yang dibangun, hanya ada sepuluh ruangan. Lapangannya juga belum terlalu sempurna, masih banyak rumput rumput liar yang gagah diterpa angin.
"Don, apa kabar Lo?" Saga menyalami seseorang siswa berbadan gendut yang berdiri didepan kelasnya.
"Baik,lo jarang kesini bdw" kata lelaki itu pada Saga.
"He he sibuk gue"
"Besok ikut ngibarin bendera di kabupaten gak?" Tanya lelaki itu lagi. Saga menyisir rambutnya sehingga alis tebal itu sempat diperlihatkan sebentar.
"Kayaknya enggak, denger denger mau ada pemilihan buat jadi pemimpin upacara di kecamatan" kata Saga menjelaskan.
"Wah Lo tertarik buat ikut seleksi itu?" Lelaki itu melirikku "siapa?" Tanyanya.
"Kenalin Vanda, siswa baru disekolahan gue"
Siswa laki laki itu mengulurkan tangan, meminta berkenalan denganku
"Doni" katanya memperkenalkan diri
Aku menerima jabatan tangan dari Doni, "Vanda" jawabku ikutan memperkenalkaan diri.
"Yah, gue kirain Lo sama Aliya ke sininya" Doni menyisir rambut.
"Dia lagi ada Ujian" ujar Saga "bdw pak Ishak ada?"
"Lagi ada kelas kayaknya, Lo tunggu aja bentar di sini" Doni menatap kami "sorry nih gue gak bisa lama lama disini , mau praktek kimia soalnya"
"Yaudah, praktek aja, gue tunggu dikantin" kata Saga.
Doni berlalu pergi sedangkan kami masih berdiri ditengah koridor.
"Kekantin yuk" ajak Saga.
Aku ingin bertanya alasan dari anak anak setiap bertemu saga pasti menggunakan aksen elo gue sebagai pemanggil dari para aku kamu. Tapi ketika akan menanyakan itu seorang ssiwi perempuan menghadang jalan kami,y ang jelas dia kenal dengan saga karena gadis itu langsung menyingsingkan tawa begitu bertatapan dengan Saga.
"Idih lama aku gak ketemu kamu" katanya.
Saga terkekeh "kangen ya?" Godanya.
"Ngapain Sag kesini?" Tanyanya.
"Ngapeli mantan" Saga tertawa lagi, entah kenapa dengan gadis didepannya dia banyak tertawa. Dan aku tidak suka dengan hal ini.
"Idih bisa ae mantan"
Ketika gadis didepan Saga ini menyebut "mantan" aku langsung melotot. Apa ini mantan Saga? Kalau iya kenapa Saga dan dia sesantai ini, apa penyebab kandasnya hubungan mereka? Atau mereka sama sama Saling menyukai sampai saat ini?. Demi Tuhan Saga jangan jawab pertanyaan ku karena aku tidak ingin tahu dan terluka karena ini.
"Siapa?" Dia menatapku.
"Vanda, anak baru di sekolahan gue" Saga menatapku, tapi dia tidak tahu kalau aku kesal dengannya. Memangnya punya hak apa aku untuk kesal?
"Hai, gue Gebby " gadis itu yang punya nama Gebby mengulurkan tangan.
"Vanda" jawabku singkat.
"Kita mau kekantin, lo mau ikut?" Tawar Saga.
Tolong Saga jangan ajak dia juga, liat kalian sedekat ini saja aku terluka, apalagi nanti ketika duduk bersama.
"Enggak deh, ada praktek soalnya"
Huh syukur deh
"Nanti aku susulin kekantin" katanya.
Mendingan gak usah deh, stay aja kamu sama praktek nya ,biar aku stay disini sama Saga.
"Ha ha ditunggu pokoknya" Saga mengusap puncak kepala Gebby dan aku kesal. Sampai tidak sengaja aku menghentakkan kaki dan berjalan lebih dulu dibandingkan saga.
"Vanda mau kemana?" Panggil Saga.
"Kantin" kujawab sedikit jutek.
Karena sekolah ini tidak terlalu luas jadi aku bisa dengan cepat menemukan kantin. Disana ada beberapa siswa laki laki yang duduk sambil minum es dari cangkir. Mereka menatapku bergantian, mengamati dari atas sampai bawah lalu bersiul menggoda.
"Apa liat liat" aku bersungut kesal pada mereka.
Salah satu diantara yang duduk sampai tersedak, mungkin karena aku terlalu galak padanya.
"Weh Alon Alon mbak lek ngomong, koncoku Sampek keselek ki lo"
Saat itu aku belum paham tapi saat ini aku tahu bahwa mereka meminta ku pelan pelan karena temannya sampai tersedak.
Aku duduk, tidak jauh dari mereka. Dengan kesal aku merogoh tas, dan berdecak.
"Sial, gue kan gak bawa ponsel"
"Mau pesen apa ndok?" ibu kantin menanyai ku, karena aku hanya duduk tanpa memesan apa apa.
Aku menatap kekanan kiri, mencari apa yang ingin aku makan untuk mengobati kekesalan pada Saga.
"Pesen es teh aja bu" jawabku.
Seseorang duduk di sampingku yang membuat kursi kayu panjang bergerak. Aku menoleh nya, lelaki dengan kulit sawo matang tengah nyengir kearah ku. Kukira tadi Saga , ternyata bukan.
"Sendirian aja?" Tanyanya.
"Lo buta ya, udah tahu gue sendirian pakek nanya segala"
Mungkin ucapanku agak kasar sampai ibu kantin yang tengah membuat es teh menatap kearah ku.
"Waw" dia bertepuk tangan.
"Hai Dan" suara Saga membuat lelaki yang di sebelahku menoleh.
"Eh elo Sag" lelaki itu berhigh five sebentar dengan Saga. "Temenmu?"
"Yo'i" Saga mengambil duduk persis disebelahku. Dia menolehku sejenak lalu beralih pada temannya.
"Galak euy" cela siswa laki laki yang ada disebelahku.
Aku menoleh nya kemudian melotot. Yang dilakukan Saga saat melihat ku melotot adalah menutup mataku dengan tangan kanannya.
"Biasanya gak gini, palingan kesambet setannya Gebby"
"Hahahha" siswa itu tertawa. Aku tidak tahu apa maksud dari ucapan Saga barusan.
"Yaudah nikmati aja waktunya, aku mau kekelas" kata lelaki itu.
"Ardan" panggil Saga. Lelaki yang duduk disebelahku itu ternyata bernama Ardan. "Dapet salam dari Tania" kata Saga menggodanya.
"Ha ha taik si Saga" umpat Ardan keras