ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Dua Belas



"ayo gue antar"


Suara nya perlahan membuatku mengangkat kepala, Saga duduk diatas motornya dengan balutan celana jeans hitam dan kaos putih tipis yang tertutp oleh jaket denim. Dia terlihat tampan, rambut hitam yang sedikit memanjang, alis tebal alami meskipun tanpa senyum aku ingin memujanya.


"Gak usah, makasih" aku masih punya harga diri untuk menerimanya setelah marah marah kemarin.


"Kenapa? Karena gue bukan siapa siapa elo, jadi gak berhak ngantar elo pulang" ucapnya.


Aku berdecak "gue gak pernah mau pulang sama orang asing"


"Gue rasa gue bukan orang asing buat elo, elo pernah naik di jok belakang kalau lo lupa" pungkasnya yang membuat ku malu "buruan naik, panas nih"


Aku masih saja berdiri menimbang pulang sama Saga atau tetap menunggu papa.


"Enggak deh makasih" jawabku


Saga masih saja duduk memainkan jarinya untuk menari diatas tengki motor. Kudengar meski suaranya lirih, dia menyandungkan sebuah lagu. Menungguku sampai aku mau naik di jok belakang.


"Sana pergi, gue kan udah bilang gak mau"


"Emangnya dilarang ya berhenti disini" dia menaikan alisnya.


Duh Saga, jangan kayak gini. Gue masih menunduk.


"Gausah nunduk Vanda, kasihan orang orang gak bisa liat wajah cantik elo"


Eh, ini pertama kalinya aku dengar Saga memujiku. Dan hatiku bereaksi lebih, jantungku bergetar. Saga kumohon jangan seperti ini, aku tidak ingin berharap terlalu berlebihan. Sudah cukup.


"Apa sih, receh banget" celaku.


Dia tertawa "gue cuman boong kali Van"


Aku menunduk lagi, sebenarnya alasan dari aku terus menunduk adalah tidak mau menatap wajah tampan Saga yang membuat jantungku berdegup.


"Nyari koin bu" celanya gantian.


"Ih" aku menghentakakan kaki, kali ini mulai kesal dengan panas matahari dan juga suara Saga yang merecoki


"Pulang aja sana, gue nunggu papa"


Dia tersenyum smirk "papa lo nyuruh elo balik sama gue"


Ha? Papa "boong" tukas ku.


Dia menyodorkan ponselnya, ponsel yang sama dengan punyaku. Disana benar benar ada pesan papa yang menyuruh Saga menjemput ku.


"Lo kenal papa?" Tanya ku


"Emmm" dia memutar bola matanya "enggak, papa gue yang kenal papa elo" jawabnya "buruan naik, panas nih"


"Kenapa gak bilang dari tadi sih Sag, kalo papa nyuruh elo jemput gue"


Saga tertawa "ngetes aja, cewek kayak elo mudah bareng orang gak?"


Dia melepaskan jaket denim hitam lalu memberikannya padaku.


"Guenya atau Micky nya yang gak termasuk ke daftar orang menurut lo ya?" Tanyanya


Aku menaikan alis, bingung dari maksud ucapan Saga barusan


"Maksud lo apa sih"


Sambil naik aku berpengan di bahu Saga. Bahu yang kokoh menurutku.


"Lo di tawarin Micky naik motornya mau, giliran gue susah banget"


Aku tidak sempat menjawab karena dia langsung membunyikan motor. Dia memacu motornya berlawanan dari arah rumahku, tentu saja aku memukul punggungnya untuk menghentikan Saga yang akan membawa ku entah kemana.


"Saga Saga, ini bukan arah rumah gue"


Dia hanya mengangguk tanpa menjawabnya.


Sampai di sebuah kedai makanan, dia berhenti, jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolahan.


Aku turun, melepaskan jaket yang menutupi paha. Saga juga turun, mengibaskan celana hitam yang sudah terkena debu.


"Ngapain kita disini?"


"Ngapeli mbak mbak yang jualan bakso" dia sudah melangkah masuk kedalam kedai.


Disana ada beberapa botol minuman bekas yang berserakan didekat gerobak. Ada kursi dari plastik dan meja lebar. Atap dari esbes yang kalau jam siang seperti ini terasa panasnya, kipas angin menempel di dinding dan saat ini sedang berputar.


Ada air mineral gelas yang berada di atas meja, saos, kecap, garam dan sambal yang diletakkan di dalam mangkup, aku memilih duduk, sedangkan Saga dia memesannya.


Saga kembali dan duduk disebelahku, dia mengeluarkan ponselnya dan meletakkan diatas meja.


"Lo gak nawari gue?" Tanya ku


Dia hanya menoleh "Lo tahu, terkahir kali nabi Adam nanya ke Hawa mau makan apa, mereka berdua di usir dari surga" dia menjeda sambil mengibaskan celana hitam yang masih ada sisa debunya


"Jadi daripada kita diusir disini mending, gue yang mesen"


Aku tertawa, receh memang tapi mendengar nada seriusnya entah kenapa aku malah  tertawa.


"Alasan aja Lo"


Saga mengambil ponsel, mengarahkan ke arahku. Beberapa saat kilatan dari flas kamera langsung hidup.


"Saga apaan sih" aku berusaha menutupi wajahku agar tidak di potret olehnya.


"Besok gue mau nempel foto ini di maiding, dikasih tulisan dicari orang yang bolos dari eskul Pramuka"


Heran deh, kejadiannya masih dibahas aja. Dia meletakkan ponsel diatas meja. Kami sama sama terdiam, menunggu pesanan sampai.


Mbak mbak yang di maksud Saga membawa dua buah bakso beserta es teh. Aku menerimanya, menuangkan bumbu diatas mangkuk bakso milikku.


"Lo kenapa gak sekolah?" Tanya ku.


"Ada pertandingan atlet" jawabnya masih terdengar cuek.


Aku menoleh nya, menatap wajah Saga yang masih tampan saat memakan bakso. Rasanya enak melihat bakso yang dimakan Saga padahal punyaku dan dia sama.


"Atlet apa?" Tanya ku tanpa berniat menyantap bakso yang dipesan Saga.


"Atlet pecak silat" Saga memakan mienya. Merasa diperhatikan dia menoleh , dia mengunyah bakso itu yang membuat mataku terfokus dibibir ranum Saga.


"Kenapa Lo?"


Eh, aku buru buru tersadar, mengambil mangkuk dan memakan bakso yang masih panas. Sadar kalau panas aku langsung menjerit.


Saga dengan reflek mengambil tisu dan mengelapnya tepat di bibirku. Aku menoleh menatap wajah Saga yang tampan dan dengan telatennya jari itu membersihkan kuah bakso yang tercetak di mulut.


"Hati hati" ucap saga.


Sumpah, aku malu. Entah kenapa aku yang biasanya berani jadi segugup ini didepan Saga, kemarin saat bersamaan Micky aku biasa saja.


"Gue denger lo kemarin berantem sama Micky?" Tanya ku untuk mengalihkan dari rasa gugup.


Saga masih terlihat menikmati baksonya. Dia tidak menjawab, mengunyah bakso itu lalu menelannya. Kurasa dia tidak ingin membahas masalah itu.


Ponsel di atas nakas berbunyi, ku lirik itu Aliya yang menelponnya. Saga mengangkat itu dan meletakkan garbu dengan sendok.


"Apa Al?" Saga melirikku yang tidak menyentuh bakso yang dia pesan "iya nanti gue beliin"


Setelahnya panggilan terputus begitu saja. Aku merasa tidak suka, barang apa yang sampai harus Saga membelikannya. Apa sedekat itu saga dengan Aliya, sampai dia tidak mempermasalahkan jika harus disuruh membeli sesuatu.


Aku tidak selera, meletakkan sendok dan meminum es teh. Saga juga sudah selesai makan, dia bangkit dan membayar makanan kami.


"Udah?" Tanyanya.


Aku mengangguk tanpa menjawab, selama perjalannya pun kami sama sama terdiam. menikmati jalan yang berlubang dan beberapa kali harus menutup hidung agar tidak menghirup debu.


Aku kalut oleh pikiranku tentang hubungan Saga dan Aliya. Tentang mereka dan sesekali memikirkan hubunganku dan hubungan Saga, yang sebenarnya aku sudah menemukan jawaban, yaitu kami tidak memiliki hubungan apapun selain hanya sekadar kenal.