ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Empat puluh



Efek Saga untuk hidupku itu luar biasa, dia merubah mood ku menjadi buruk, bahkan sudah dua hari semenjak kejadian itu. Perayaan ulang tahun wali kelasku terasa kosong, lelucon Dian, Sofia dan Nurul sekalipun tetap garing menurutku. Aku hanya melamun, bahkan melamun tentang Saga.


"Heran deh, perasaan baru kenal Saga beberapa bulan, tapi udah sepengaruh ini Saga buat elo" gerutu Dian yang duduk disebelah ku.


"Lab kuy, nanti kita ada praktek, Minggu depan udah UAS" timpal Sofia.


Dian dan Nurul bangkit, aku pun melakukan hal yang sama. Minggu depan UAS , jika naik aku akan kelas tiga dan kenangan tentang Saga akan memudar seiring waktu.


Letak ruangan lab bersebelahan dengan kelas Saga dan harus melewati kelas Saga. Aku berjalan disisi kanan, karena Saga sedang berada diambang pintu bersama Yogi. Aku menghindarinya. Menunduk dan menahan sesak serta malu bersamaan.


"Stoooppp kau mencuri hati, hatiku"


Aku mendongak begitu mendengar suara Micky menghadang jalan kami.


"Mo kemanah?" Tanyanya mengintip wajahku yang menunduk.


"Ke lab, ngapain sih?"


Micky geleng geleng "ikut ya?" Dia berjalan dibelakangku.


"Ngapain sih, anak IPS gak boleh masuk ke lab" ujar ku merasa risih di ikuti Rio dan Micky. Dian , Sofia dan Nurul sudah lebih dulu masuk kedalam lab.


"Emang ada undang undangnya anak IPS gak boleh masuk lab anak IPA" kata Micky menyeimbangi langkahku.


Kami masuk kedalam lab bersama Micky dan Rio. Mereka seolah olah takjup dengan isi lab.


"Seumur umur gue sekolah disini, baru sekali ini masuk lab" ujar Micky membuat beberapa teman teman yang duduk dekat ku menolah


"Kerjaannya nyariin fosil terus makanya gak pernah liat lab" timpal Dian dari belakang.


"Mick krimbat sini" Rio yang berada di wastafel khusus cuci tangan melambaikan tangan ke Micky.


"Lah iya, mantap" dia berbaring diatas meja keramik dan meletakkan kepalanya di wastafel.


"Enak Yo, buruan keramasin" kata Micky


"Ada yang bawa shampo gak?" Tanya Rio teriak


"Anak IPA pelit pelit Yo" kata Micky menegakkan tubuhnya


"Mick, ada gigi palsunya tok Dalang" Rio sudah berpindah ke patung gigi yang berada di dekat meja guru.


"Gini nih kalau anak IPS di lab IPA, udah sono pergi kalian" usir Sofia pada Micky dan Rio.


Aku tertawa melihat kelakuan mereka.


"Gak nyangka gue sama Lo Sof, ini kan giginya tok dalang kenapa Lo curi?. Kasihan dia nyariin pasti" tukas Micky mendramatiskan keadaan.


"Gigi atok rommmmpaaaah" timpal Rio membuat seisi kelas tertawa karena dia memainkan patung gigi


Bu Amanah yang mengajar Kimia masuk kedalam lab dan setengah terkejut melihat Micky dan Rio berada di lab. Bahkan dia beberapa kali mengecek luar ruangan untuk memastikan dia tidak salah masuk.


"Kalian anak IPS kan?" Tanya Bu Amanah pada Micky dan Rio.


Mereka kompak mengangguk.


"Ngapain kalian disini?" Tanya Bu Amanah sambil meletakkan buku dan absen di atas meja.


"Tamasya Bu" jawab Micky asal yang semakin mengundang tawa teman sekalasku.


"Tamasya tamasya, kalian kira ini taman. Sana pulang ke kelasmu" usir Bu Amanah


"Kita lagi gak ada pelajaran Bu, pak Didi gak berangkat" jawab Micky justru duduk di kursi depan.


"Emangnya kalian pelajaran apa?"


"Itu hitung hitungan, apa Yo nama pelajarannya?" Tanya Micky pada


"Ekonomi pe'a " jawab Rio


"Udah udah sana, ganggu anak IPA aja, sana keluar" usir Bu amanah.


Micky dan Rio keluar kelas sebelum keluar Bu Amanah langsung berkata kepada mereka


"Baju itu dimasukan, kalian mau jadi preman di sekolahan" teriak bu Amanah.


Micky yang berada diambang pintu balik lagi dan mendekati Bu Amanah, guru itu tampak gugup, terlihat dari matanya, bahkan membuatku menahan tawa saat Bu Amanah menggeser kursi, takut kalau Micky mau marah dengannya.


"Lupa tadi belum salaman" Micky menyalami Bu Amanah, begitu juga dengan Rio.


"Assalamualaikum" ucap Micky seolah dia keluar dari rumah seseorang.


Aku tertawa pelan, dan lirih sampai Dian menoleh ke arahku.


"Micky lucu ya" ucap Dian tiba tiba.


Dian menolehku "itu lagi yang dibahas, lucu lucu bangsat gitu maksudnya?"


Aku tertawa cekikikan "dia lucu, deketin , bikin sayang eh ngilang"


"Bukan gitu Van, yang bener gini. Deketin, baperin eh kita cuman temenan"


Aku reflek tertawa sampai keluar air mata yang langsung dipelototi Bu Amanah dari depan.


"Itu yang ribut ribut, mau dikeluarkan atau mulutnya diem"


Kami langsung diam, sesekali saling tendang menendang kaki dari bawah meja. Setidaknya meski aku kehilangan Saga, saat itu aku memiliki Dian. Jika ingat Dian aku jadi merindukan dia. Merindukan kepolosan Dian.


🚕🚕🚕


"Balik sama siapa?" Tanya Sofia ketika kami diambang pintu


"Gak tau nih. Bokap gue tahunya gue balik sama Saga" wajahku langsung murung.


"Mau gue cariin boncengan gak. Si pangeran tikus selalu siap sedia nganterin elo keujung dunia" kata Dian merangkul bahu ku.


"Yan balik kuy" ajak Yogi yang meneriaki dari kelasnya. Tidak sengaja ketika aku menoleh. Saga tengah menatapku, menatap dengan tatapan seperti biasanya.


Dan aku benci dengan tatapan itu, aku mengalihkan arah pandang. Sadar Vanda, jangan masuk kedalam permainan Saga lagi, ingat dua hari kemarin, kamu dipermalukan Saga. Dia menganggap kamu cewek murahan yang mudah di permainkan oleh ksatria seperti Saga.


Ku putuskan mulai hari itu, didepan kelas untuk membenci Saga. Keputusan itu masih bisa kurasakan saat ini, saat aku menulis cerita ini.


Dian sepertinya merasa tidak enak, karena dia tidak jadi memutuskan Yogi.


"Pulang gih, pangeran elo udah nungguin" kataku mendorong si Dian untuk kearah Yogi.


"Pangeran kodok" timpal Sofia sambil tertawa.


"Elo balik sama siapa dong?"


"Nanti pasti ada pangeran yang jemput gue. Tenang aja" ucapku sok sok an tegar didepan mereka.


"Bener nih" tanya dia memastikan


"Udah sana pergi, eneg gue liat muka elo. Sana pergi, Nurul aja udah molor di rumah"


"Yaudah, kalau ada apa apa kirim telepati ke gue"


Aku tertawa mendengar lelucon Dian. Dan perempuan itu akhirnya pergi dengan Yogi. Sofia masih sibuk memainkan ponsel yang di sembunyikan di kantin sekolahan.


"Lo gak balik Sof?" Tanya ku.


Ku toleh kearah kelas Saga, lelaki itu sudah tidak ada. Sudah lah ,mungkin dia sudah pergi, menjemput pacarnya.


"Nungguin si Ari, ijinnya ketoilet tapi gak balik balik"


Aku menatap Sofia "Lo pacaran sama Ari?"


"Busyet, mantan coy" Sofia menatapku "Lo balik sama siapa?"


"Sama pangeran gue" kataku dengan cengiran lebar


"Gausah sok sok tegar deh. Bilang aja elo bingung balik sama siapa. Ya kan"?


Aku menunduk, menatap sepatuku.


"Kenapa sih gak jujur sama bokap elo, kalau elo berantem sama Saga. Kenapa pakek bohong segala" Tutur Sofia "kemarin elo aman masih balik sama gue"


Aku menunduk, hari Senin yang menyebalkan, gerutuku.


"Sof, balik yok, udah pengen beol gue" teriak Ari di koridor perpus


"Ampun Ri, Lo dari tadi lama beol dulu" cicit Sofia dengan tampang jijik


"Nyicil dulu tadi, setengahnya gue pengen buang dirumah" jawab Ari sambil memegangi perut


"Jijik gue ah, gue cabut dulu Van. Kalau ada apa apa telepati ke gue"


.**


.


.


.


note : guys aku gemes banget bacaain komen kalian, emang novel ini semenyebalkan itu ya, jangan emosian sama Saga ya, hahaha nanti kalian cinta**