
Kami kembali ke rumah sekitar pukul tiga sore. Saga mengantarkan ku sampai depan gerbang. Aku turun dan langsung mengibaskan rok abu abu.
"Gimana asyik gak jalan bareng gue?"
Aku hanya mengangguk, tapi sepenuhnya jujur dan Saga hanya tertawa. Dia mengusap puncak kepala ku sebelum membunyikan motornya.
Saga sudah pergi, bersama hembusan angin yang tiba tiba menerpa rambutku.
Rasanya senang bisa pulang sekolah bareng Saga, meski lelaki itu kadang sulit ditebak isi hatinya.
Aku masuk kedalam rumah, mengucapkan salam dan melepaskan sepatu.
Mama yang duduk didepan televisi menolehku.
"Tumben sore banget?" Tanya mama
"Nungguin Saga rapat OSIS dulu" maksudnya rapatnya hanya sebentar makan dan mengobrol nya yang lama.
Aku langsung naik ke atas tanpa memperdulikan Mama, sampai di kamar, kurebahkan tubuhku setelah membanting tas asal. Aku membuka ponsel
"Duh, lupa minta nomor HP-nya Saga" decakku. "Eh tapi aneh gak ya, kalo tiba tiba gue minta nomor Saga"
Aku menegakan posisi tubuhku.
"Stalking ignya dulu apa ya"
Aku mulai membuka ponsel, memulai dengan aplikasi Instagram dan mengetik nama Saga. Terlalu banyak nama Saga yang keluar, dari Saga08, sagaaaaa, sampai sagadenanra. Dan semua itu jelas bukan Saga Alvaro yang aku cari.
"Ih gak ada" aku membanting tubuh lagi. Mencoba dengan ujung nama Saga.
Pencari pada nama Alvaro terlalu banyak yang keluar dan itu semuanya membuatku pusing. Sudahlah, menunggu Saga meminta nomorku adalah keputusan bagus.
Aku menutup mata menikmati udara dari ac kamar.
Kayla mengirimi ku pesan suara. Aku memutarnya, suara cempreng itu langsung menyapa ku
"Van, elo dicariin Ajilllllll"
"Duh si Kayla bisa gak sih gak usah teriak. Untung gue lagi gak di samapingnya" aku kesal sendiri tiap kali mendengar Kayla berteriak.
"Dia gak mikir apa telinga gue tanpa asuransi, main teriak seenak jidatnya" gerutuku.
Aku memikirkan sejenak. Sebanarnya hubunganku dengan Ajil apa kabar? Aku melupakan dia beberapa Minggu ini, lupa jika aku sudah memiliki kekasih.
Setelah membalas pesan Kayla , aku langsung tertidur dengan pulas.
🚕🚕🚕
Saat aku menuruni tangga hanya ada Mama dimeja makan.
"Papa mana ma?" Tanya ku.
"Masih di kantor belum pulang" jawab Mama
"Vanda berangkat sama siapa dong?" Rengekku.
"Itu udah ditungguin sama Saga didepan"
Eh, setelah mendengar Saga aku langsung berlari keluar rumah. Dan benar Saga duduk di kursi teras sambil mengamati arah depan.
"Udah dari tadi?" Tanya ku.
Saga menoleh, langsung berdiri dan tersenyum ramah.
"Baru Dateng"
"Kenapa gak masuk?"
"Enakan disini Van , boleh minjem hp Lo?"
"Buat apa?" Aku bertanya sambil mengikat tali sepatu.
"Nelfon orang"
Aku memberikan ponselku pada Saga, dia menekan digit nomor lalu mendekatkan ponselku ketelinganya. Aku masih setia menunggu sambil berdiri. Kemudian, ada bunyi ponsel lain di saku celana Saga dan itu membuat ku terkejut. Saga benar benar ajaib, dia mengembalikan ponselku sambil tersenyum.
"Makasih ya nomornya"
Saga keren, aku belum menemui lelaki yang meminta nomor telpon dengan cara seperti ini. Harus aku akui, cara Saga benar benar keren. Ajil memang keren tapi lebih keren Saga, aku menyukainya. Setelah mengembalikan ponselku, aku dan Saga pergi ke sekolah.
Pergi menggunakan motor yang sama dan memeluk Saga dari belakang adalah hal yang paling aku sukai. Punggung Saga seperti dinding kokoh, aku menyandarkan kepala ku di punggungnya. Entah kenapa aku menganggap Saga lebih dari temanku, tidak tahu jika Saga keberatan atau tidak suka dengan perlakuan ku yang ini. Tapi kukira dia tidak mempermasalahkannya, Saga diam saja sambil sesekali menoleh ke arahku dan mengajakku bercerita. Dia juga mengelus lututku dengan tangannya, itu luar biasa. Aku menyukai naik motor ditengah terik bersama saga. Kalau ada macet kurasa itu lebih menyenangkan.
"Saga" aku memanggilnya, dia hanya berdehem sambil memasukan gigi motor.
"Tau kantor pos gak?" Tanya ku
"Tau"
"Anterin ya, semalam tukang pos nya SMS ke gue, katanya ada barang yang harus diambil. Gue suruh nganterin dia gak mau"
Mendengar keluhan ku entah kenapa Saga tertawa
"Yaiyalah Van dia gak mau, abis rumah elo sama kantor pos nya jauh banget"
Aku tidak tahu sejauh apa jaraknya sampai semalaman hampir memaki tukang posnya. Kalau Saga mengatakan jaraknya jauh itu artinya benar benar jauh.
"Nanti mau kekantin bareng?" Tawar Saga.
Aku ingin menolaknya karena malu tapi rasanya kepalaku tidak demikian justru aku mengangguk. Sudahlah, aku rasa Saga benar benar sudah meracuni ku untuk mencintainya.
"Besok aja deh" kata Saga.
"Kok besok" seharusnya aku tidak menanyakan itu seolah olah aku berharap pada makan siang kami.
Saga tertawa, tawa yang menggema meski tidak selucu Micky tapi aku senang melihat saga tertawa seperti ini.
"Gue lagi bokek Van"
Mendengar Saga mengatakan kalimat itu aku malah tertawa, lucu saja apalagi dengan nada bicaranya tadi. Padahal itu tidak terdengar lucu.
"Yaudah, kalau lo ada duit harus traktir gue ya"
"Siap Bu bos"
Kami tertawa, rasanya jalanan yang semula berlubang menjadi mulus, rasanya jalanan yang dipenuhi dengan debu menjadi sejuk.
Kami sampai di sekolahan sudah menjadi pusat perhatian. Aku sadar siapa Saga, dia adalah ketua OSIS yang juga tampan disekolahan, jadi wajar kalau saat ini kami menjadi pusat perhatian mereka. Biasanya kalau pulang sekolah kami menunggu parkiran sepi.
"Gue langsung ke kelas ya" ketika aku sudah berjalan dua langkah. Saga memanggilku, kukira tadi ada apa ternyata dia hanya ingin membisikan kalimat "semangat belajarnya"
Yang jujur, itu membuatku terobak abik.
Kami tidak pergi kekelas berdua, Saga langsung pergi kekantin, entah apa yang dia lakukan. Sedangkan aku menuju kelas yang sudah ada Nurul dan Sofia.
Kulihat mereka sedang membaca sebuah novel. Aku mendekati mereka mencoba membuat kaget tapi dari belakang justru tepukan dari Dian yang menggetkanku
"Dian, elo ngagetin aja tau gak" sungutku kesal.
Dian, Nurul dan Sofia kompak tertawa.
"Itu lah kenapa gak diperbolehkan punya niat busuk"
Aku meletakkan tas "eh jarak pos ke sini berapa menit?" Tanya ku pada mereka.
"Satu jam an kayaknya Van"
Ya ampun, benar kata Saga jaraknya jauh sekali.
"Lo beli apa Van di online?"
"Heh" aku justru tidak paham dengan pertanyaan Dian barusan.
"Ati ati Van kalo beli barang online" nasihat Nurul sambil memajukan kursinya "pesennya gamis eh yang Dateng malah baju silat"
Kami tertawa mendengar guyonan dari Nurul yang receh. Nurul ini memang terkadang polos tapi selalu bisa membuat tertawa dengan kepolosannya.