ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Enam Puluh Lima



Sangking senang nya sedari jam satu siang tadi aku terus duduk di beranda rumah, menunggu kedatangan Saga. Menunggu jam pulang sekolah. Mama sibuk didapur, sementara papa sedang tidur dikamar.


Terdengar deheman dari arah belakang, aku tidak bergerak masih terdiam.


"Nungguin siapa?" Tanya papa


"Saga" kataku malu malu


"Masih sekolah si Saga" papa menyeruput minumannya "kemarin kemarin diusir kok sekarang ditungguin?" Goda papa


Aku tersenyum malu malu "gak papa pengen aja"


"Vanda, papa makan yok" suara Mama yang dari arah samping terdengar


"Nanti ma nungguin Saga" kataku


"Hmm" Mama berdehem "kayaknya kemarin kemarin ada yang bilang kalau gak mau ketemu Saga lagi, kok sekarang ditungguin"


"Gak tahu tu ma anakmu, kesambet apa coba nungguin Saga"


"Ih papa Mama kenapa sih" aku merasa gerah tiba tiba "Vanda cuman nungguin Saga kok" ucapku kesal


"Ya deh yadeh" Mama cekikikan "Mama kedalam dulu, buruan masuk, keburu dingin supnya"


Papa juga tertawa cekikikan "papa masuk kedalam ah , takut ganggu orang yang lagi nungguin pangerannya" kata papa menggodaku


Aku menunggu Saga seorang diri sambil memikirkan ekspresi Saga saat kemarin mencium ku. Ah memikirkan nya saja mampu membuat dadaku berdetak begini kerasnya. Hebat ya Saga, mampu menyihirku begini besarnya.


Aku juga memikirkan bagaimana tentang Micky, apakah aku akan jujur mengenai hubungan baruku dengan Saga ?, tapi bagaimana jika dia marah dan tidak mau menemuiku lagi ?. Sedangkan dia sudah melakukan hal sebanyak ini.


Sudah lah memikirkan Saga dan Micky memang semelelahkan itu.


"Vanda, kamu udah nungguin dari tadi lo, masuk dulu yuk , nungguin Saga didalam rumah aja" ajak Mama.


Aku mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menggunakan tongkat. Semenjak mempunyai tongkat, aku selalu mudah berjalan, kemanapun, tahu kalau di depanku ada benda, jadi tahu kemana aku harus menghindarinya.


Mama memberikanku piring, dari aromanya aku bisa mencium sup buatan Mama.


"Hati hati panas" kata mama "Mama baru aja manasin sup nya" peringat Mama


"Siap bos"


"Hmm anak papa ini kayaknya seneng banget sih hari ini"


Mendengar godaan papa, aku meringis tertawa sambil berhati hati menikmati masakan Mama.


Sampai makananmu selesai pun, Saga belum juga datang, padahal kata Mama ini sudah jam setengah empat.


Selama itu aku menunggu Saga, duduk didepan ruang tamu tanpa melakukan apapun, bahkan selalu berdiri kalau ada motor KLX yang melintas didepan rumah.


"Saga kemana sih?" Gerutuku


Aku kesal, ditambah teman teman ku tidak datang dan juga Micky. Ah mungkin Micky kecewa denganku, melihatku berpelukan dengan Saga semalam.


Brengsek !!!


Tiba tiba aku kesal sendiri ketika mengingat saat kami berciuman semalam. Apa Saga memang sebrengsek itu, dia selalu meninggalkanku setelah mencium ku. Apa sekarang dia tidak akan datang, dengan kesal aku menghentakkan kaki


"Kenapa sih gitu?" Tanya mama dari arah depan


"Saga kenapa sih gak dateng? " Aku berteriak kesal "Dian sama yang lainnya juga"


"Sabar dong, mungkin mereka ada kegiatan disekolah"


"Kegiatan apa? Kemarin Saga gak bilang apa apa kalo ada kegiatan"


"Yah siapa tahu dadakan" Mama mengelus bahuku " kamu kayak gak pernah sekolah aja sih, gitu aja marah"


"Tapi kan ma, seharusnya Saga ngasih tahu kalau dia ada kegiatan"


"Gimana coba mau ngasih tahunya, orang sekolahannya gak ngebolehin bawa HP" Mama masih berusaha membuatku tenang


Meski begitu aku tidak bisa ditenangkan dengan mudah, aku masih kesal, sangat kesal.


🚕🚕🚕


Aku masih menunggu Saga sambil mendengarkan suara televisi. Mama dan papa sedang tertawa, mereka memberitahuku adegan sinetron apa yang sedang ditonton mereka.


"Tuh Vanda, anaknya masak durhaka sama neneknya, kasihkan neneknya" kata Mama memberitahuku "tu liat, kenapa coba cuccunya ngambil sertifikat tanah , tanahnya kan mau di buat madrasyah" Mama memprotes


"Mama Vanda buta, mana bisa ngeliat coba" kataku


"Ah kamu" Mama memukul dengan pelan pahaku "ih ini siapa sih bikin film? Kok gak bener, masak di tabrak"


"Mama kayak gak hafal sinetron Indonesia aja sih" komentar ku


"Vanda gak tidur?" Tanya papa


"Nungguin Saga"


Mau tidak mau aku harus tidur apalagi perintah dari seorang abdi negara. Saga memang seperti itu, bahkan sampai malam hari pun dia tidak datang menemuiku. Sebanarnya dia dimana dan sedang apa, kenapa tidak meluangkan waktu untuk menemui pacarannya sendiri?


🚕🚕🚕


Paginya aku masih menunggu Saga beranda rumah, namun percuma Saga sudah pergi sekolah, mungkin tengah duduk dikantin, atau menggoda Aliya dan berdua dengan orang itu.


Ah , kesal sendiri kalau dibayangkan, mana aku tidak bisa melihat, aku ingin menelfon Dian, tapi aku tidak bisa. Tidak hafal pula nomornya, juga sudah lupa letak tempat menu menu aplikasi di ponselku.


"Nungguin Saga?" Tanya mama


"Iya, dari kemarin dia gak kesini"


"Saga kan emang gitu, kadang juga seharian gak kesini" Mama berusaha membuatku tenang


"Micky juga kemana sih Ma gak dateng?" Tanyaku dengan nada kesal


"Mama juga gak tahu, mungkin lagi banyak kegiatan"


"Kegiatan apa?"


"Kata kamu kemarin Saga sama Micky kepilih buat jadi atleat OKI, mungkin mereka lagi latihan" Mama menenangkan ku dengan nada halusnya


Aku kesal saja memikirkan Saga, Micky dan yang lainnya yang tidak main kerumahku. Terutama Saga yang hilang tanpa kabar begini. Kenapa sih dia selalu begini?.


"Udah yuk masuk aja" kata Mama


"Mama, Vanda, papa dapet berita baik" suara papa seperti begitu gembira


"Apa pa?" Tanya mama


"Vanda dapat pendonor mata" mendengar itu aku langsung berdiri tegak


"Tapi bukan Micky kan?" Tanyaku memastikan


"Papa udah mastiin orangnya, kata dokter Ferly ini bukan Micky,"


"Papa yakin?" Tanyaku


"Papa yakin sayang kalau ini bukan Micky"


"Tapi Micky kemarin gak kesini, Vanda takut dia nekat donorin matanya buat Vanda"


Agaknya mendengar ucapanku barusan, papa jadi ikutan ragu. Dia terdiam sejenak.


"Tapi dokter Ferly ngomong ini bukan Micky"


"Bisa aja Micky nyuruh dokter Ferly buat bohong kalau dia bukan pendonornya " aku masih keukuh kalau pendonor mata itu Micky


Papa tidak menjawab, dia sedang bimbang.


"Operasi kamu dijadwalkan besok, sekarang yang terpenting kita siap siap dulu" papa menarik tanganku


"Tapi aku takut kalau itu Micky" aku mengatakan itu sambil menangis


"Coba Mama telfon Micky bentar"


Kami menunggu lama, menunggu Micky menjawab telfonnya.


"Gak diangkat" kata Mama


"Tukan" aku terisak kembali


"Coba sekali lagi ma?"


Mama me lauspeaker panggilannya dengan keras.


"Halo"


"Kok beda?" Tanya mama


"Ini siapa ya?"


"Rio, ini siapa?"


"Tante mau ngomong sama Micky, Micky nya ada?"


"Micky" Rio mengulang kalimat Mama, dia terdiam sangat lama, amat lama.


"Micky lagi tidur Tante" kata Rio selanjutnya


"Oh lagi tidur, yaudah, bilangin Micky kalau tadi Tante nelfon"


"Iya"


Hari itu aku dan sekeluarga pergi ke Palembang, aku menyesal tidak memastikan siapa pendonornya, menyesal karena pergi kesana. Dipertengahan jalan, Mama seperti melihat motor Saga dipakai seseorang, dan kata papa itu Saga, tapi Mama berkata bukan, karena kaki Saga panjang.


Mama dan papa berdebat mengenai siapa yang menaiki motor Saga . Saga hebat ya, pergi dengan motornya tapi tidak pergi kerumahku.