
Aku masih berada diambang pintu, tidak masuk juga tidak berbalik untuk keluar. Menatap sebuah foto yang terbingkai dengan rapi, foto Aliya bersama Saga, mengenakan seragam Pramuka yang digantung di dinding rumah Saga.
"Ma, ada Vanda" teriak Saga.
Teriakan Saga membuat wanita dua tahun lebih tua dari mama keluar. Wanita berambut pendek, serta bergigi gingsul itu tersenyum kearah ku.
"Masuk Vanda" katanya mempersilahkan.
Aku masuk kedalam rumahnya, lebih dulu mencium tangan wanita itu.
"Anaknya pak Abi?"
Aku tersenyum, malu malu mengangguk, memendam pertanyaan kenapa foto Aliya tergantung disana.
"Duduk" kata Mama Saga mempersilahkan.
Aku duduk, diatas sofa sambil menjelajahi ruangan. Didinding ada foto papa Saga dengan seragam polisinya lengkap, foto keluarga yang beranggotakan empat orang. Papa Saga, mamanya, Saga dan adik Saga perempuan. Aku baru tahu Saga mempunyai adik.

Saga keluar dari kamarnya dengan celana jins hitam sertaa jaket denim warna biru dan sepatu Kets putih. Aku menatapnya, terpukau, dia terlihat tampan saat mengikat tali sepatu didepan kamarnya. Kamar utama bersebelahan dengan ruang tamu.
"Ma, Saga mau ngajak Vanda ke luar negri" katanya nyengir.
Mama Saga yang mengenakan daster itu tersenyum.
"Pasti kamu belum jelasin tentang singa apor ya?" Mata Mama Saga cerah saat mendengar berita bahwa Saga akan mengajakku ke singa apor.
"Hahah ssttt" Saga meletakkan jari telunjuk di bibir "jangan bilang bilang. Nanti dia kecewa"
Mama Saga menatapku sambil tertawa "hati hati ya kalian berdua, jangan pulang malam malam" pesan mama Saga.
Aku mengangguk. Tidak bisa berucap karena masih terpukau dengan Mama Saga.
"Enggak, nanti pulangnya subuh"
Saga menyalami tangan mamanya lalu dihadiahi tinjuan perut yang pelan dari wanita berumur empat puluhan itu. Aku mendekat kearah Mama Saga, saat hendak kusalami mamanya menarik ku dalam pelukan.
Dia mengusap punggung ku berulang ulang, layaknya Mama yang akan berpisah pada anak gadisnya.
"Vanda sering sering mampir ya" katanya.
Setelah puas memelukku, Mama Saga melepaskan pelukan kami. Aku tersenyum kikuk, masih kaget dengan pelukan mama saga.
"I-iya Tante"
Setelah kami berpamitan, kami menaiki motor. Sebelum pergi , gadis kecil dengan seragam SD berjalan kearah kami.
"Abang mau kemana?" Tanya gadis kecil itu.
Kutebak dia kelas enam SD, karena badannya sudah terlihat remaja.
"Mau keluar negri" katanya.
"Ngajak kakak ini?" Dia menunjukku.
"Iya dong, cantik gak?" Tanya Saga tanpa malu malu.
Gadis itu tersenyum kearah ku. "Cantik, tapi jangan mau kak diajak keluar negri sama kak Saga, pasti nyesel" sarannya.
Aku hanya membalas dengan senyum malui malu dariku. Saga tidak menggubris, sudah mengajakku pergi dengan motor trail yang berbunyi keras.
Aku memegang pada pinggiran jaket Saga tapi pada tiga ratus jalan dia berhenti mendadak.
"Ada apa Sag?" Tanya ku khawatir.
"Ada yang salah?"kutanya lagi
"Motornya rusak?" Kutanya dengan was was, takut takut motor Saga mogok.
"Enggak, tapi gak ada yang melingkar di pinggang" katanya.
"Ha?" Aku bingung
Saga tahu aku tidak paham, olehnya tanganku ditarik untuk melingkar di pinggang Saga
Aku meleleh. Ini pelukan kedua dari ku, pertama saat aku mimisan kemarin, kedua hari ini. Hari ini aku memeluk Saga, memeluk dengan erat diatas motor saga melaju dengan keras.
🚕🚕🚕
Perjalanan memakan satu setengah jam, jalan yang penuh lubang namun tetap bisa ku tahan karena pemandangan indah di sekitar kami. Sawah sawah yang mulai menghijau, beberapa makam yang di bangun ditengah sawah sehingga membuat seperti rumah kurcaci penggarap sawah.
"Ini namanya Bk 10 " jelas saga.
"Apanya?" Tanya ku yang sejak awal tidak paham
"Desanya" Tutur Saga memelankan motornya, dia menghindari lubang
"Ooh" aku mengangguk paham. Kami melaju lagi, belum ku jelaskan, sebelum kami sampai di Belitang, kabupaten OKU Timur, lebih dulu kami melewati desa Nusa tenggara, Nusa Bali (yang mayoritas di huni orang Bali). Rasanya sekilas seperti menjelajahi kota bersamaan, pergi ke Nusa tenggara dan ke Bali (benar benar seperti Bali karena banyak pura pura terbangun didepannya). Belum pernah kutemui desa se lengkap ini, meski jalannya sedikit terjal.
Pada desa belitang OKU Timur, ada sebuah tugu melingkar bertuliskan selamat datang ke desa mereka.
"Kita gak jadi ke Singapura?" Tanya ku yang memang tidak tahu dan tidak mengada ngada.
Saga tertawa "jadi kok Van, nanti" katanya menahan tawa.
Aku melihat beberapa bangunan sekolah Xaverius serta rumah sakit yang dibangun disisi jalan. Setelahnya, baru aku bisa melihat keramaian jalan yang berdesak desakan, beberapa toko ponsel
Saga berbelok ke sebelah kanan, ada sebuah sungai memanjang disisi jalan. Uniknya justru dimanfaatkan sebagai tempat berjualan dan beristirahat disebelah nya. Disamping kiri banyak penjual boneka, buah buahan serta sepatu
Saga berbelok pada jembatan pendek disebelah kanan. Saat ku tatap didepan, ada tulisan taman singa apor disana. Jadi bukan Singapura, decakku kecewa.

Akhirnya Saga berbelok pada tugu Reok yang bercat hijau kemerahan, cat itu mulai pudar. Kami masuk kedalamnya, memarkirkan motor dan Saga tersenyum puas.
"Wellcome to Singa apore" katanya merentangkan tangan.
Aku meninju pelan ke perut ratanya.
"Sialan" decakku "gue kira beneran di Singapura"
Aku bersungut kesal, meski begitu tidak sepenuhnya kesal, nyatanya aku tertawa. Saga satu satu orang yang bisa menipuku sebaik itu, atau aku sebaik baiknya orang yang terlalu percaya padanya.
"Ha ha ha" Saga berkacak pinggang "Palembang itu bagian dari Sumatera, jauh dari Singapura" katanya "beda lagi kalau Batam"
Kami berjalan pada bangku taman yang disediakan, menatap tugu singa dan ikan tiruan dari Singapura namun berbeda warna catnya saja.

Didepannya ada kolam air yang airnya sudah sedikit menguning akibat sampah sampah. Disisi kanan ada selokan penuh air yang ditata sedemikian apik, dipagari dengan pagar warna warni.
Ada juga beberapa binatang, seperti ular, kelelawar besar, dan beberapa binatang yang sengaja di kembang biakan disini.
"Sering kesini?" Tanya ku
"Jarang, pertama kali sama Yogi. Katanya mau ngajak ke Singapur. Gue kira beneran Singapur rupanya singa apore" katanya menjelaskan sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa.
Saga menyenderkan pada bangku taman. Menatap sekeliling yang hanya beberapa pengunjung.
"Disana" Saga menunjuk kearah belakang kami "ada water boom" kata Saga.
"Mau mandi?" Dia mendekatkan mulutnya ditelingaku, sehingga hembusan nafasnya tepat mengenai kulit kulitku.
Aku berdiri "keliling yuk, sebelum kita pulang ke Indonesia"
Mendengar godaanku, Saga tertawa.
Dia berdiri mengikuti langkahku menyusuri binatang binatang yang dipelihara.
"Disini ramenya kalau pas hari hari besar" jelas saga
"Next Time, pas hari besar kita kesini lagi ya" kataku menatapnya.
Kami bertatapan cukup lama, sebelum Saga menoleh kanan dan kiri lalu mencium pipiku
"Janji " katanya lirih langsung menggandeng tanganku.
Saga, singa apore memang indah, seindah kita berdua.