ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Empat Puluh Tujuh



Hari ini pertandingan volly antara kelas Saga dan kelas Micky. Aku menonton bersama Dian yang datang menyemangati Yogi, Sofia sibuk bermain gitar dikelas bersama Ari. Sedangkan Nurul berdiri disebelahku karena memang ku paksa. Gak mau aja kalau jadi obat nyamuk buat Yogi dengan Dian.


Saga mengenakan kaos hitam dengan seragam celana olahraga, sedangkan Micky mengenakan seragam olahraga lengkap. Pertandingan dimulai dengan sengit, bola selalu melambung, bisa diselamatkan meskipun membuat pemain jatuh.


Keringat dari pelipis Saga turun satu persatu, rambutnya basah. Tim Saga berhasil mencetak poin, Micky sedikit kewalahan meski begitu dia justru tertawa sambil menggoda beberapa siswi yang berdiri di pinggir lapangan.


Permainan berkahir dengan kemenangan tim Micky, dia tampak mengelap keringatnya ditengah lapangan.


Aku menatap Saga yang berjalan mendekatiku, air mineral kemasan yang kupegang, masih terus kupandang.


Haruskah kuberikan air ini pada Saga atau..


Kedua tanganku yang membawa air mineral sedikit terangkat naik, tapi Saga. Lelaki itu justru terus berjalan melewati ku dan berhenti didepan Aliya yang saat ini tengah berada dua langkah dari keberadaanku.


"Makasih ya air minumnya"


Itu suara Micky, aku mendongak, air mineral tadi sudah diteguk habis lalu kemasannya dibuang asal oleh Micky.


"Gimana gue? Keren gak?" Tanyanya sambil merentangkan tangan, menyombongkan.


Ngomong ngomong soal Saga yang terus berjalan tanpa menatapku, kini dia sudah pergi dengan Aliya.


"Kantin kuy, haus gue" Micky mengibaskan seragam olahraganya yang penuh keringat.


Aku hanya menarik nafas lalu melangkah berjalan, Nurul ku tinggal bersama Dewi teman sekalasku, katanya dia akan melihat pertandingan selanjutnya.


Diperjalanan menuju kantin pun, Micky tidak banyak bercerita hanya terus mengibaskan baju olahraganya supaya mengusir gerah.


Dikantin, Rio dan teman temannya sudah duduk dan minum es, Micky mengajakku bergabung dengan teman sekelasnya. Agak canggung, karena aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya.


"Vanda gak ikut clasmett?" Tanya salah satu teman Micky.


Aku menarik sudut bibir "gak hobi olahraga" kataku


"Dia mah sukanya cuman belajar, olahraga beginian dia gak bisa" imbuh Micky sambil menyesap es nya.


"Yo, si Dian mepet mepet terus sama Yogi tuh, gak ada rencana buat misahin?" Goda Micky.


Rio yang sedang memakan gado gado melirik Micky dengan tajam


"Santai Yo matanya, kalau jodoh ga kemana" teman Micky yang tadi tengah mengambil gorengan menepuk bahu Rio.


"Singkirin tangan Lo, kalau mau lap pakek tisu jangan pakek baju gue" Rio menepis tangan temannya.


Aku tertawa, memang anak IPS dikenal sebagai kelas yang selalu menyuguhkan kebadungan.


Saat Micky tengah menggoda Rio, dari arah kanan Saga dan teman temannya juga datang ke kantin yang sama. Raut wajah Micky berubah tidak menyenangkan meski begitu dia masih melempar Rio dengan kacang kulit.


"Mick gimana soal taruhan kita?" Tanya Rio tiba tiba


Dari nadanya saja aku bisa menilai kalau pembicaraan mereka bertujuan menyindir Saga dan teman temannya.


"Yang namanya taruhan tetep taruhan, gak bisa dibatalin gitu aja dong Yo" Micky menepuk bahu Rio.


Begitu ucapan Micky selesai, Saga berjalan kearah meja kami. Dia menatapku sekilas dengan tatapan mata elang yang begitu menakutnya, dirogohnya saku lalu Saga mengeluarkan uang satu jutaan dari sakunya.


"Buat taruhan tadi" Saga meletakkan uang ratusan diatas meja


Dia tidak memandangiku, hanya menatap mata Micky yang juga menatapnya.


Saga langsung pergi tanpa menatapku atau dia tengah menghindari tatapan mata kami.


🚕🚕🚕


Kalau jadwal clas meeting seperti ini rasanya datang kesekolahan adalah sebuah kesia siaan, kerjaannya hanya melihat pertandingan, kalau bosan palingan melihat orang yang tengah duduk berdua berpacaran. Kalau bukan absen, mungkin aku sudah bolos. Dikelas, tidak ada Sofia dan Ari, teman teman juga tidak ada. Kelas sepi hanya ada aku yang tengah mencoret coret kertas sendirian


"Gue cariin tahunya dikelas" Micky duduk di depanku, memberikan minuman penambah ion


"Males aja, kalian ngobrolnya gak seru" cela ku pada obrolan mereka dikantin tadi


"Namanya juga cowok Van, kalau ngumpul yang dibahas ya game"


"Lo taruhan sama Saga?" Tanyaku tiba tiba karena penasaran soal uang yang diberikan Saga tadi


"Bukan Saganya" Micky menatapku "tapi temen satu timnya" koreksi Micky


Mulutku membentuk huruf "o". Sebenarnya untuk apa aku ingin tahu soal tadi, bukankah aku dan Saga benar benar tidak punya hubungan apa apa?


"Kenapa? Lo takut Saga gue palakin sama temen temen?" Tebak Micky dengan kerutan di alisnya


Aku menggeleng dengan tegas "enggaklah, ngapain gue peduli sama dia"


"Siapa tahu masih cinta" Micky bangkit untuk kedepan papan tulis


Dia mencoret coret asal dipapan tulis, apapun yang dia mau. Dia menulis IPA dan IPS, namanya, nama kota, bahkan nama presiden. Kegiatan yang benar benar tidak jelas


"Mick"


Micky hanya berdehem sebagai reaksi dari panggilan ku


"Elo beneran yakin kalau penyebab kematian Miko itu Saga?"


Sebenarnya bukan hak ku bertanya seperti ini, tapi aku merasa diantara Micky dan Saga ada kesalahpahaman.


"Iya" dia menatapku dari depan papan tulis


"Dari mana elo yakin , elo gak punya bukti buat nyalahin Saga atas kematian kembaran elo"


"Bukti? Kenapa gue harus butuh bukti?" Tanyanya


"Karena siapa tahu ada kesalah pahaman diantara kalian" tukasku


"Maksud Lo kematian Miko disebabkan karena Miko pengen bunuh diri, bukan depresi?" Dia menaikan sebelah alisnya, memasukan tangan kedalam saku.


Aku terdiam tidak bisa menjawab karena aku tahu Micky saat ini sedang marah padaku.


"Disaat kematian Miko, Saga gak pernah datang kerumah gue sekalipun, apa itu bukan bukti?" Tanyanya


"Ya mungkin dia punya alasan untuk ga dateng kerumah elo"


"DIEM VANDA" kali ini suara Micky benar benar naik. Bahkan ini kali pertama seorang Micky Handoko membentakku.


"Lo gak tahu apa apa soal masalah gue" dia berjalan mendekatiku


"Gue kasih tahu, salah gak salah si Saga. Dimata gue dia yang udah ngebunuh Miko"


Micky berjalan keluar kelas dengan membanting pintu secara keras. Saat ini hanya ada aku sendiri dikelas. Micky berjalan mantap menjauhiku, kufikir dia tidak akan mampu melakukan itu.