
Untuk beberapa alasan, menjauhi Saga adalah hal paling baik yang harus kulakukan saat ini. Micky masih bersikap baik padaku, meski beberapa kali kalimat dari Dian selalu membuatku ragu menerima kebaikan Micky begitu saja.
Setelah upacara pengibaran bendera yang harus terjadi sangat panjang karena Micky menambahkan beberapa nada di lagu Indonesia raya, Dian berbicara seputar Micky yang sampai sekarang masih terngiang untukku
"Kalo gue boleh saran, mending jangan gitu aja ngebuka hati elo buat Micky" kata Dian dengan suara aneh ketika mengatakan kalimat "gue"
Hari itu melalui tatapan mata Saga yang memandangiku dari ambang pintu, aku tahu maksud Dian mengingatkan soal hubunganku dan Micky saat ini
"Maksud elo?" Aku langsung menoleh untuk mengalihkan arah pandang
"Sekarang kan dimata elo si Saga orang paling buruk, tapi siapa tahu" Dian menjedanya "siapa tahu lho ya Vanda, ini gue cuman nebak nebak aja" imbuhnya
Dian tampak menarik nafas panjang "mungkin ada hal yang Saga lindungi dari hubungan jarak jauh kalian, dan juga mungkin ada yang mau ngancurin elo dari hubungan elo ke Micky"
Hari itu kalimat Dian memang seperti angin lalu untukku, tapi setelah mendengar tentang Miko meski sedikit saja, aku jadi sedikit bimbang. Apa yang dimaksud Dian mungkin akan terjadi nantinya.
"Mau pulang bareng gak?" Tawar Micky setelah menerima rapot.
Aku hanya memandanginya, begitupun juga dengan rapot yang ada ditangannya. Disekolahan ini pengambilan rapot tidak harus diambil orang tua kecuali kelas tiga, dan aku masih kelas dua yang akan naik kelas.
"Naik gak?" Godaku
"Hahahhahahah" Micky hanya tertawa renyah "enggak"
Mendengar itu raut wajahku langsung berubah serius "serius Micky, elo gak naik?"
"Maksud gue gak naik gedung, soalnya kelas IPS kelasnya ada dibawah, sedangkan IPA kan diatas"
Huh, memang dasar. Aku berjalan bersisian dengan Micky, soal Saga dan Aliya, beritanya tidak lagi terdengar ditelingaku, mereka masih sering berdua tetapi tidak sesering dulu. Entahlah kenapa.
Diparkiran montor, Saga dan teman tamannya tampak meributkan sesuatu, bahkan tampang Saga terlihat begitu kesal memdangi kami.
Aku tidak begitu peduli, karena aku dan Micky langsung keluar dari sekolahan begitu saja.
"Libur lama Lo mau kemana?" Tanya ku pada Micky yang tengah fokus pada jalanan.
Micky tidak langsung menjawab tapi sangat lama, kalau kufikir adalah sekitar dua puluhan menit sebelum akhirnya dia berdehem.
"Kayaknya lagi gak ada kegiatan" Micky memainkan kopling kanannya
Aku diam, libur didesa begini memang sangat menyebalkan, tidak ada tempat yang bisa di datangi.
"Lo mau gue ajak jalan jalan gak?" Suara Micky terdengar ragu saat itu, kufikir hanya karena angin yang berhembus kencang.
"Kemana?"
"Keeeeee" Micky terdengar ragu lagi "ke Palembang"
"Lha kan ini di Palembang" rancu ku, sebenarnya aku tahu Micky akan mengajakku pergi ke provinsi, sekitar lima jam dari rumah ku.
"Maksud gue ke Palembang kotanya, liat liat jembatan Ampera" ujarnya
Aku manggut manggut, kalau difkir fikir aneh memang, aku ini tinggal di Palembang tapi belum pernah tahu yang mana jembatan Ampera nya, sewaktu kami pindah pun papa menyebrangi merak jadi kami melintasi Lampung kemudian baru memasuki pematang yang mana desaku berada.
"Berapa hari?"
Micky tidak langsung menyahut, malahan diam saja sebelum motornya berhenti di depan rumahku.
"Dua hari satu malam" katanya merapikan rambut.
"Nginep dong?" Aku antusias, karena aku belum tahu baik tentang Palembang ini, ketimbang duduk dan rebahan seharian dirumah kan lebih baik ikut Micky.
Micky mengangguk tanpa menatap mataku, dia hanya menatap jalanan lurus sambil tangannya bermain di tengki motor.
"Nginep dimana? Maksud gue elo punya temen disana?"
Kali ini Micky terlalu lama menjawabnya, hanya tarikan disudut bibirnya yang terlihat aneh.
"Nginep di hotel, ajak aja Dian, siapa tahu dia mau ikut, atau Nurul sama Sofia" mata Micky menatapku, begitu lekat.
"Gue ijin papa dulu, soalnya gue belum pernah bepergian jauh tanpa mama atau papa"
Tidak ada rasa aneh saat itu, karena Micky memang selalu bertindak seperti itu. Aku masuk kedalam rumah dan melakukan aktifitas seperti biasa.
Kayla mengirimi hasil rapornya, katanya dia mau Jalan jalan ke Bali bareng keluarganya. Aku jadi iri.
Karena bosan, aku berpindah ke Instagram, foto yang diunggah Ajil masih belum dihapus bahkan mendapat banyak komentar. Pada saat aku hendak keluar dari feed Ajil, tanganku berhenti begitu melihat tulisan,
diikuti oleh Micky, Saga dan 16 yang lainnya.
"Micky, Saga? Kok mereka bisa ngefollow akunnya si Ajil?"
Aku langsung keluar begitu saja dan membuka YouTube, melihat beberapa Vidio yang muncul dari Chanel Ajil. Tidak ada klarifikasi yang diberikan Ajil seperti permintaan ku terakhir kali.
Aku menghela nafas berat, melihat chat terkahir Kayla.
Vanda
Kay
Kayla tidak langsung membalasnya, tapi lima menit dari halaan naafas beratku, Kayla langsung typing
Kayla
Baru aja mau chat, kabar elo sama si Ajil makin nyebar di ibu kota
Vanda
Biarin
Aku menghempaskan ponsel begitu saja. Terlelap dengan seragam yang masih menyatu dengan tubuh.
Saga? Micky? Nama itu yang justru terus aku ucapkan sampai akhirnya tertidur.
**
Seseorang menarik ikat pinggangku hingga membuat perutku sesak. Aku membuka mata, Dian sudah nyengir menatapku.
"Bangun ih, gue udah setengah jam nungguin elo bangun" Dian menggoyang goyangkan tubuhku.
Aku lemas dan malas untuk bangun, rasanya begitu.
"Apa sih Yan, ngapain elo kesini?" Aku merubah posisi tidur membelakangi Dian.
"Vanda, ini malam Minggu, masak elo mau tiduran aja sih dikamar"
Aku berdehem, Dian justru menggoyangkan tubuhku semakin keras sebelum akhirnya dia berhenti karena aku terbangun
"Apa?" Tanyaku dengan marah
"Ikut gabung sama anak anak disekolahan yuk" ajaknya
"Ngapain?, udah malem nih" aku menunjuk langit melalui kaca jendela
"Ngerayain kita udah jadi kelas tiga"
Aku berkecap "lebay banget sih pakek dirayain, naik kelas tinggal pindah kekelas baru, apa susahnya sih" gerutuku karena males bangun.
"Yaudah kalo gak mau, tapi bakalan nyesel gak bisa liat Saga nge-band malam ini"
Mataku terbuka penuh mendengar kata Saga disebutkan. Astaga, sebodoh itukah aku bisa begitu mudah tergoda Hanya karena kata kata Saga yang muncul dari mulut Dian.
"Yaudah gue mandi dulu" aku bangkit menuju kamar mandi
"Giliran ada Saga aja langsung cepet"
Aku melempar handuk dengan sengaja "gue mandi bukan karena Saga tapi pengen aja ikut ngerayain naik kelas" ujarku masuk kedalam kamar mandi dengan wajah memerah
Dian mengikuti ku dari belakang "handuk Lo" katanya semakin membuat ku menerah