
Kami mengangkat botol soda bersamaan.
"Cearrs" teriak kami kompak.
Dian membuka kacang asin, lalu memakannya.
"Eh elo sama Saga ngapain aja tadi?" Tanya Dian tiba tiba yang membuat ku tersedak.
"Uhuk"
Nurul membantuku dengan memukul pelan punggung.
"Duh ditanyain gitu aja sampe gerogi" ledek Dian menjadi.
"Setan ya elo, mulut asal ngomong aja" sahut Sofia yang tidak tega melihatku terbatuk batuk
"Ihhihihi" Dian berlagak seolah dia kuntilanak.
Aku mendelik kearahnya, dia hanya tertawa sambil memukul dengan keras lengan Sofia berulang ulang.
"Si Vanda penakut" ledek Nurul.
"Gue bukannya penakut, cuman menjaga jarak aja sama hantu" elakku
"Kenapa jaga jarak?" Tanya Sofia sambil meneguk sodanya.
"Bukan muhrim" kataku cekikikan.
"Tapi elo masih deket aja sama Micky, padahal si Micky kan setan" celetuk Dian tak berperasaan.
"Hati hati lho Yan, kalau benci sama orang sekadarnya aja, nanti malah cinta lagi" nasihat Nurul.
"Duh buk haji lagi ceramah nih" cibir Dian.
"Malam ini tidur sini aja Van" ajak Sofia.
"Emang boleh?" Kutanya begitu karena Pramuka memiliki banyak peraturan yang tidak ku mengerti.
"Boleh boleh aja, kan kita yang minta" tambah Dian
"Yaudah deh gue tidur sini, asal temenin gue pipis dulu. Udah gak tahan" ucapku sambil memegang perut.
"Heran deh Van, anu Lo itu air terjun apa gimana, perasaan deres amat kalau soal Kencing" kata Sofia
"Ih mau gak nemenin" aku menatap mereka bergantian "kalau enggak, gue gak mau nih tidur sini" ancam ku
"Temenin gih Yan, elo kan temen sebangkunya" titah Nurul
"Idih mentang mentang temen sebangku langsung sehidup semati gitu, gak mau, Sofia aja dia kan wanita kuat perkasa dan pemberani"
Sofia menonyor dahi Dian dengan keras "ati ati kalo ngomong" sofia menatapku "sorry ya Van, bukannya aku gak mau nemenin kamu, tapi emang males" dia nyengir tanpa dosa.
"Ih kalian ini ngakunya temen, giliran suruh nemenin pipis aja pada gak mau" aku melipat tangan, mencimbikan bibir dan mendegus.
"Ngambek tu si badak" cela Dian "udah gini aja, kita hompimpa, siapa yang kalah dia nemenin si Vanda"
Akhirnya mereka bertiga hompimpa, telapak tangan Nurul dan Sofia sama, sedangkan Dian menunjukan punggung tangan, itu artinya Dian kalah.
"Nih, aku bilang apa, kamu kan yang nemenin si Vanda"
Nurul membenarkan letak tidur dengan berbantalkan tas.
"Udah buruan" aku menarik tangan Dian.
Dengan malas, kami keluar dari dalam tenda menuju kamar mandi yang lumayan jauh dari tenda.
"Tungguin sini ya, awas Lo kabur" ancam ku pada Dian.
Aku membawa ponsel Sofia , sedangkan Dian dia membawa ponsel miliknya.
"Buruan Van" teriak Dian saat aku baru saja melepaskan celana.
"Sabar bego" cicitku "gak sabar gak dapetin Yogi"
Aku keluar setelah membasuh tangan. Kami kembali berjalan menuju tenda.
"Van, elo suka ya sama Saga?" Tanya Dian tiba tiba
"Apa an sih Yan, enggak kok" aku berjalan lebih cepat agar Dian tidak banyak bertanya lagi mengenai Saga.
"Wooohh"
"Copot mamak gue copot" ujar Dian dengan ngaco.
Saat kutoleh ternyata Micky tengah berdiri sambil membuang Putung rokoknya.
"Hayo Habis dari mana kalian?" Tanya Micky curiga.
"Eh jelangkung, lo bisa gak sih gak usah ngagetin orang. Mau gue sunat dua kali" teriak Dian
Micky hanya tertawa cekikikan, yang selalu mampu menular padaku.
"Canda lagi Yan, sensi amat lo kayak ibu ibu" cicit Micky "eh boleh ngomong berdua gak sama Vanda?" Tanya Micky meminta persetujuan pada Dian.
Dian menolehku, menaikan alisnya seolah tengah bertanya"bagaimana?". Aku mengangguk yang kemudian membuat Dian pergi tanpa sepatah katapun
"Lo ngerokok?" Tanya ku pada Micky karena bau badan Micky seperti rokok.
Micky hanya mengangguk, tapi saat ku lirik tubuhnya dia tidak mengenakan seragam Pramuka dan hanya mengenakan kaos hitam tipis.
"Kenapa baju Pramuka elo gak dipake?" Tanya ku
"Ha ha" Micky tertawa "biar anak yang lainnya gak protes, masak kakak Pramuka ngerokok" jelasnya.
Aku mengangguk karena sepemikiran dengan Micky. Lelaki di sampingku ini mengambil gitar dan menggenjrengnya.
🎶Waktu pertama kali, kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini ingin kan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranha hati ini tak kusangja
Rasa ini tak tertahan
Hati ini inginkan dirimu
Terimalah lagi ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa🎶
Micky menghentikan petikan gitarnya, dia menatapku, menatap dengan mata lekat seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan dari pancaran matanya.
"Van" panggilnya.
"Kalau gue suka sama elo gimana?" Micky tidak menatapku saat mengatakan kalimat ini, jadi kufikir dia hanya bercanda.
"Hahah receh tau becandaan lo" ledekku
Micky menolehku, tanpa senyum dan tawa.
"Gue serius" ucapnya yang seketika membuatku melemas.
"Gue suka sama elo" tambah Micky.
Aku terdiam, memandang Micky tanpa bisa menjawab ucapannya.
"Kalau gue suka sama elo gimana?" Tanyanya lagi.
Kami sama sama terdiam, saling menatap berusaha mencari kebohongan dari mata masing masing, yang mampu ku tangkap dari sudut mata Micky adalah ketulusan, adalah kejujuran yang benar benar dia pancarkan disana.
"Apaan sih Mick" aku menatap lurus "rasa suka elo instan banget" cicitku berusaha menggodanya atau kalau bisa mengalihkan pembicaraan kami.
"Gak ada yang instan di dunia ini Van, bahkan kalo elo mau masak mie aja kudu ngerebus dulu, apalagi perasaan"
Kali ini jantungku justru berpacu cepat mendengar ucapan Micky, lelaki itu sepenuhnya benar. Tidak ada yang instan dalam perasaan, bahkan perasaanku pada Saga pun tidak seinstan yang kukatakan.
"Tapi ini cepet banget Mick, kita belum terlalu kenal" kataku
"Cinta itu gak harus butuh waktu lama Van " Micky menarik nafas panjang "lagian harus sekenal apa lagi kita? Apa masih asing gue buat elo?"
"Atau jangan jangan elo suka sama Saga?"
Deg
Aku seperti baru saja di tohok oleh ucapan Micky. Bagaimana Micky tahu kalau aku menyukai Saga?
"Gue gak suka kok sama Saga" elakku
Micky menggenjreng gitarnya lagi.
"Lo beneran gak suka sama Saga?" Tanyanya.
Entah jawaban apa yang harus kuberikan pada Micky, di satu sisi lain aku menyukai Saga, tapi aku juga menjaga perasaan Micky agar tidak terluka.
"Bener" kataku melemah.
"Kalau elo suka sama Saga gue justru tertantang buat maju ngeyakinin hati elo" katanya
Aku menoleh, heran dengan ucapan Micky barusan.
"Maksud elo?"
"Elo mau gue nyanyiin apa lagi, gue lagi belajar ngecover lagu Korea, lo suka?" Tanyanya padaku.
Aku menggeleng "enggak, gue mau balik ke tenda" kataku sudah berdiri tegak.
Micky ikut berdiri sambil membawa gitarnya.
"Gue anterin" katanya.
Kami sama sama terdiam menuju tenda, tidak ada ucapan apapun yang terjadi. Pada depan tenda Dian langkah ku dan Micky terhenti. Apalagi harus melihat lengan Saga yang di gadeng dengan Gebby begitu mesra
Sejak kapan sih Gebby datang, bukankah dia dari SMA lain.