ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Lima Puluh Empat



Aku pulang dari mall sekitar pukul sembilan an. Membeli beberapa baju dan alat makeup yang tidak dijual disana.


"Langsung istirahat ya" kata Micky berdiri didepan pintu kamarku.


Aku hanya mengangguk, Micky tersenyum ramah.


"Good night bayi panda" katanya mengusap rambutku.


Aku masuk kedalam kamar, sempat merasa canggung dengan sikap Micky. Tapi aku justru teringat tentang Saga. Susah memang kalau sudah cinta. Kubaringkan tubuh diatas kasur. Memikirkan mengenai Saga yang tiba tiba menelfonku tadi.


πŸš•πŸš•πŸš•


Paginya Micky mengajakku makan di restoran yang sudah dia pesan. Aneh ya, anak seumuran Micky sudah bisa menyenangkan wanitanya


Dan baru saja aku mengaku bahwa aku wanitanya Micky. Kami makan sambil bercanda. Kadang menceritakan tentang Micky disekolahan dulu, kadang menggosipkan mengenai Dian dan Rio. Ah bagian ini aku akan menjelaskan sedikit


"Jadi dulu si Dian sama Rio gimana kok bisa jadi mantan?" Tanyaku


"Ehm mantan gebetan yang bener" ralat Micky sambil mengunyah makanannya.


"Jadi belum resmi jadian?"


Micky menggeleng, lalu matanya menatap langit restoran


"Kalo gak salah dulu yang suka duluan si Dian nya" Micky tertawa di akhir kataΒ  "dulu gue sama Dian satu regu pas Mos" Micky bercerita tentang dirinya di masa lalu


"Gue kan sering ke kantin bareng si Rio, nah si Dian pasti suka nanyain Rio ke gue" sambung Micky


"Sumpah, Dian beneran nanyain tentang Rio ke elo?" Kataku tidak percaya


Setahu ku sih, Dian pemalu kalau harus menanyakan tentang seseorang yang dia suka ke orang lain.


Micky mengangguk berulang ulang "Sampe hari terakhir Mos pun si Dian nanyain tentang Rio terus ke gue"Β  Micky mengaduk makanannya "yah kan gue temen yang baik jadi gue jodohin aja mereka" kata Micky terdengar enteng


"Si Rio mau?" Tanyaku mulai penasaran


Micky tidak menjawab justru tertawa renyah dan itu jelas menular ke aku.


"Enggak, kata si Rio gini "Busyet, sama Dian body triplek itu" hahaha " Micky tertawa diujung kalimatnya.


"Jahat banget sih si Rio, padahal si Dian gak kurus kurus banget"


"Jangan salah Van. Dulu pas kelas satu badannya Dian kayak triplek, kuuurruuss banget" kata Micky "bahkan ni ya, gue sempet mikir kalau si Dian itu gak punya *****, abis datar banget dadanya"


Reflek aku memukul lengan Micky dengan keras. Aduh Dian kalau tidak sengaja Kamu membaca ini, jangan marah, mulut Micky memang begitu.


"Apa? " Micky mengelus lengannya "gue ngomong fakta Van"


Aku bersungut kesal "Fakta sih fakta tapi jangan gitu juga kali"


Micky hanya menanggapi dengan tawanya, entah kenapa berada didekat Micky aku selalu bisa lupa mengenai Saga meski tidak selamanya. Meski diujung waktu kami akan berpisah aku selalu ingat Saga. Seolah Saga sudah mencuci otakku sehebat itu.


πŸš•πŸš•πŸš•


Siang tadi kami tidak kemana mana, Micky berkata kalau dia akan menemui temannya dulu. Tidak tahu pergi kemana yang jelas aku diminta tetap di hotel, jadi aku tidak pergi kemana mana. Sorenya Micky mengajakku ketempat karaokean. Melepas penat katanya.


Tangan kami saling bergandeng, karena jujur, aku agak ragu datang kesini. Tapi Micky menyakinkan, katanya aku tidak sendiri nanti teman perempuannya juga datang.


"Woy Mick, lama banget Lo" seorang lelaki bangkit , mereka berhigh five sebentar.


Kulirik lelaki itu tidak sendiri, duduk perempuan seumur an ku dengan celana pendek diatas lutut, tersenyum kearah ku.


"Sory tadi nungguin ratu gue dulu" kata Micky mengejekku


Aku memukul lengan Micky pelan, malu juga kalau dia berkata seperti itu dengan temannya.


"Siapa?" Tanya lelaki itu


"Kenalin namanya Vanda, masih calon pacar gue" kata Micky memperkenalkan.


"Vanda" jawab ku menjabat tangannya.


Perempuan yang tadi duduk ditarik tangannya oleh Danil.


"Geu Elsa" katanya memperkenalkan.


"Vanda" kataku ikut memperkenalkan.


Kami duduk, aku duduk di dekat Elsa, dan Micky sedang berbincang dengan Danil. Tidak tahu mereka sedang membicarakan apa. Tapi saat Elsa selesai bernyanyi. Micky mendekatiku.


"Van, gue tinggal bentar ya, gue mau pesen minum" kata Micky yang hanya ku angguki saja.


"Mau nyanyi gak?" Tanya Elsa


"Boleh" aku meraih mikropome, mencari lagu.


Ketika mencari lagu aku sedikit kesulitan jadi agak lama mengotak atik.


"Elsa ini gi__" niatnya bertanya bagaimana setelah memasukan lagu, justru kulihat Elsa dan Danil tengah berciuman.


Demi Tuhan rasanya aku ingin marah melihat pemandangan di depanku, merasa marah sekaligus malu juga. Jadi aku keluar dari ruangan, mencari udara segar di luar ruangan.


Tidak lama aku berdiri didepan pintu, Micky datang sambil bersiul. Sepertinya dia tengah senang.


"Kok diluar?" Tanyanya


Aku mengelus tekuk "Elsa sama Danil lagi ciuman" kataku lirih sekaligus malu. Gak tahu yang ciuman mereka yang merasa malu justru aku


Mendengar itu, Micky tertawa terbahak bahak. Dikira lucu kali habis ngeliatin orang ciuman.


"Kasihan banget Lo" dia mengelus puncak rambutku "masuk yok, biar gue marahin mereka satu persatu" katanya


Ketika aku dan Micky masuk, Elsa dan Danil justru semakin menjadi. Gila, kali ini tubuh Danil tengah menindihi tubuh Elsa dan tangannya ah sudahlah tidak usah kujelaskan, cukup kusimpan sendiri saja.


"Woy kalo mesum jangan disini dong" kata Micky kencang.


Danil kelabakan, langsung berdiri begitu pun Elsa yang langsung merapikan kemejanya.


"Sory sory" kata Danil nyengir


Kulirik Danil mengambil sebatang rokok dan menghisap nya. Micky memilih yang bernyanyi, suara nya sedikit mendayu, agak fals tapi boleh lah dari pada tidak ada yang bernyanyi. Selesai dari Micky bernyanyi seorang pelayan membawa minuman warna warni ke dalam. Tidak tahu jenis minumannya apa.


"Diminum Van" Micky menyodorkan minuman warna putih kepadaku. Sedangkan punya dia warna ungu, punya Elsa pink dan punya Danil warna Biru.


"Kenapa punya gue warna putih?" Tanyaku merasa aneh. Maksudnya kalau jus kenapa putih.


Micky membisikiku, bibirnya mendekat ke telinga "Itu air putih, punya gue dan yang lainnya ada alkoholnya" jelas Micky


Aku kaget. Kalau minuman Micky mengandung kadar alkohol kenapa dia minum. Seharusnya jangan dong.


"gak papa kan air putih, soalnya disini gak ada jus" kata Micky masih menatapku.


Aku mengangguk, kucium airnya tidak berbau apa apa, saat bibirku menyentuh air , rasanya aneh, agak pahit dan manis. Tapi mungkin ini jenis air putih yang baru, fikirku berusaha positif.


Brakk


Minuman itu tidak jadi ku teguk saat melihat Saga berdiri diambang pintu, dia menatap kearah Micky tajam


"Ayo pulang" katanya sudah menarik ku untuk pergi. Bahkan aku tidak sempat menolaknya, dia sudah menyeretku keluar dari ruangan.


Note : maaf aku gak tau kalau ada part double


soalnya aku up pas sinyalnya jelek, jadi gagal di kirim gitu eh tiba tiba ada motif kekirim dan double


maaf yeee