
"Vanda, nih gue bawain Makanan" suara Micky terdengar mendengung.
Dan sekarang kursi sofa yang tengah kududuki bergoyang, aku mengangguk sambil terus memegang tongkatku.
"Mau roti dulu atau ciki an?" Tanyanya
Micky memang selalu baik padaku, dia selalu kesini membawa makanan, buah buahan atau apapun yang bisa menghibur ku. Kata Mama, Micky orang bertanggung jawab, sepertinya dia masih merasa bersalah atas kondisiku.
"Lo udah makan?" Tanyaku
"Udah tadi dikantin sekolahan" suara helaan nafas terdengar berat dari arah Micky.
Kami terdiam, hanya suara dentingan jam yang mengisi, baik Micky maupun aku tidak ada yang bersuara. Entahlah apa yang sedang difikirkan oleh Micky saat itu.
"Van" dia memanggilku sangat lirih, amat lirih karena hampir tidak terdengar
Aku berdehem, dan dia tidak berkata lagi justru suara kantong kresek yang menggantikan suara Micky.
"Nih" ada sesuatu yang diletakkan ditanganku, roti tawar.
"Lo pasti belum makan" katanya
"Lo abis pulang sekolah langsung kesini?" Tanyaku sambil memakan roti yang diberikan Micky
"Iya" Micky menjawab dengan lirih
"Udah ganti seragam?" Aku bertanya lagi
"Kenapa gue bau ya sampe elo nanya gituan?"
"Haha enggak kok Mick, penasaran aja, gue suka setiap elo pakek seragam" ucapku yang tiba tiba mengundang Micky untuk tertawa lebar
"Nih gue lagi pakek seragam putih abu abu" ucapnya
Selesai dari ucapan Micky suara motor Saga terdengar diarah depan. Aku menghentikan kunyahan , jantungku terasa berdebar, apalagi disini masih ada Micky.
Namun aku tidak mendengar suara langkah orang mendekat, dan tidak mencium aroma parfum Saga juga.
"Mick diluar motor siapa?" Tanyaku
"Saga"
Micky nampaknya malas menggodaku perihal Saga, karena memang mengenai Saga , Saga dan dirinya tidak pernah terlihat baik baik saja. Aku terdiam, menunggu Saga masuk kedalam rumah dan menyapa ku. Namun tidak ada langkah Saga yang mendekat, tidak ada suara Saga yang menyapa ku.
Sedang apa dia diluar?
"Micky Lo ngeliat papa gue gak?" Tanyaku
Micky terdiam amat sangat lama sebelum tangannya menggenggam tanganku. Mengelus punggung tanganku dengan lembut.
"Papa lo diluar" katanya "Vanda dengerin gue ya, jangan langsung emosi" kata Micky dengan nada lirih
"Gue udah resmi jadi pendonor mata buat elo" kata Micky amat pelan
Mendengar itu aku ingin meneriakinya, namun saat Micky tahu reaksi ku dia menggenggam tanganku dengan erat, amat erat sampai aku tidak mampu untuk mengatakan kata sedikit pun, aku seperti tersihir dan menangis dipelukan Micky.
"Gue sayang elo Van" kata Micky lemah "gue bakal ngasih apapun yang gue bisa buat nebus dosa gue ke elo" kata Micky sekali lagi.
Aku masih menangis sesegukan, rasanya mulut ku terkunci rapat rapat. Aku ingin bertanya kenapa Micky melakukan itu, padahal aku tidak pernah memberikan hatiku padanya dan dia tahu itu. Aku juga ingin berkata jangan melakukan itu, jangan memberikan apapun termasuk hatimu padaku, karena mungkin aku tidak akan pernah membalasnya. Namun, aku justru terisak dipelukan Micky tanpa bisa melakukan apapun.
Micky memberitahuku mengenai dunia yang akan dia berikan ke aku.
"Lo tahu. Dunia indah Van buat elo, masih banyak burung burung terbang kesana kemari, masih banyak jalanan berdebu yang harus elo saksikan. Elo punya seseorang yang perlu elo bahagiakan Van, Lo harus ngeliat ekspresi gue saat ngeliat elo kayak gini" dia mengelus punggungku, dan aku semakin terisak di dadanya.
"Vanda, gue akan kasih dunia gue buat elo, meskipun dunia yang gue kasih nganterin elo ke Saga" dia terdiam "karena elo dunia gue Van" dia mengecup puncak kepalaku.
Olehnya aku tidak mampu berbuat apa apa, bahkan sampai tidak sadar apa yang terjadi selanjutnya. Rasanya aku benar benar kehilangan kesadaran begitu menyadari pengorbanan Micky sejauh itu. Yang kutahu selanjutnya adalah, suara Saga disebelahku. Kutebak Saga berpikir kalau aku sedang tertidur makanya dia mendekatiku, dan berbicara. Tidak ada Micky disini, entah dia kemana.
Saga selalu menghela nafas berat disebelahku, dsia menggenggam tanganku. Diciumnya berkali kali.
"Van, maafin gue" katanya lirih "maafin gue karena gak seberani Micky"
Mendengar suara Saga yang mendayu rasanya hatiku kembali teriris, bahkan aku sekuat tenaga untuk tidak bergerak.
"Gue gak seberani itu buat ngasih dunia gue ke elo Van, tapi gue pengen elo nikmati dunia meskipun nantinya gue gak ada di hidup elo" katanya dengan suara terisak.
Saga menangis? Suara isakan nya benar benar terdengar jelas.
"Gue bingung. Gue pengen elo sembuh tapi gue gak sanggup buat donorin mata gue ke elo" katanya "Lo sering sebut gue pengecut kan?" Saga terisak kembali "bener Van gue pengecut, gue pengecut karena selalu menghindari masalah tanpa menyelesaikannya"
Saga berhentilah menangis, aku memang membencimu, aku memang menanti kamu terluka tapi tidak untuk saat ini tidak pula melihatmu menangis hanya karena kamu menyadari betapa pengecutnya kamu di hidupmu.
"Van, gue harus gimana?" Dia menggenggam tanganku dengan erat, ada tetesan air dipunggung tanganku. Saga benar benar menangis.
"Gue pengen elo sembuh Van, tapi gue gak rela kalau Micky yang harus berkorban buat elo, gue sayang elo Vanda " katanya meraung.
Saat itu rasanya aku ingin bangun dan memeluk Saga, memeluknya dengan erat sampai dia berhenti menangis. Mengucapkan kalimat "aku tidak apa apa meskipun kamu tidak berbuat apa apa untuk diriku kamu akan tetap terbaik bagiku" namun semuanya kutahan, aku memang harus mementingkan hatiku suapaya hati dan didiriku baik baik saja.
Saga memang selalu sepengecut itu orangnya, disaat Micky mati matian meminta restu papa dan Mama untuk mendonorkan mata, Saga hanya menjadi penonton. Saat Micky mati matian mendapatkan hatiku, Saga justru mati matian mematahkan hatiku. Dia selalu pengecut tidak pernah menyelesaikan masalahnya, selalu menghindarinya.
Masalah Saga dan Miko, masalah Saga dan Aliya dan masalah Saga denganku yang tidak pernah jelas akhir dari permasalahannya.
"Gue sayang elo Vanda"
Selama aku buta, aku sudah jengah dengan kalimat Saga seperti ini, dia kerap kali bilang sayang padaku, mungkin sudah seribu kali dalam sebulan ini. Tapi apa, dia hanya Seperti itu itu saja, tidak jelas orangnya.
Kalau memang sayang ya dibuktikan jangan tiba tiba menghilang tanpa kepastian. Jangan tiba tiba melukai padahal aku sedang menunggu dia memberikan hati.
Saga brengsek !!! Tapi aku mencintainya