
Deg
Kalimat Saga membuat hatiku terasa sakit, apa aku termasuk hadiah dan harus disamakan dengan kedudukan tim. Saga menampakan wajah licik yang seketika membuatku takut.
Orang seperti apa Saga ini, aku tidak bisa menjelaskan, bahkan saat dia berada di sarang musuhnya pun dia tetap tenang.
Brak
Micky mendebrak meja, beberapa temannya langsung menatap kearah mereka berdua
"Sory Sag, gak ada raja yang mau ngorbankan ratunya kecuali raja yang berkorban untuk ratu"
Saga tersenyum mengejek "dalam cinta gak ada teori seperti itu, harus ada dua pilihan, raja terluka karena ratu atau ratu yang terluka karena raja"
"Lo yakin, tapi gue rasa ratu gak akan pernah punya mahkota tanpa seorang raja"
Micky berjalan kearah temannya "coret aja nama Saga, tanpa dia kita tetap akan menangin pertandingan ini"
Saga tersenyum, aku menatap matanya, mata kemarahan yang berusaha Saga tahan. Dia menatap kearah ku lalu berjalan pergi tapi dia tidak pergi keluar, dia berjalan kearah kursiku. Dari jarak sedekat ini entah kenapa aku takut, takut karena mata Saga tidak seteduh sebelumnya.
"Van" aku menoleh
saat aku menoleh saga langsung mencium bibirku.
Mencium ku didepan teman teman Micky , didepan semua orang yang seharusnya tidak tahu mengenai ciuman kami.
Saga melepaskan ciumannya, lalu menatap Micky.
"Ratu lo, udah pernah dicicipi sama raja lain"
Mendengar ucapan Saga yang begitu menyakitkan aku langsung menangis, aku bahkan terisak. Aku malu, malu karena diperlakukan seperti orang murahan oleh saga.
"Taruhan ini harus seimbang Mik, tanpa cewek balapan dan turnamen gak akan dimulai"
Micky berdecak, mengepalkan tangannya yang samar samar masih bisa ketangkapΒ oleh mata.
"Lo emang sebrengsek itu dari dulu" Micky mencengkram kerah Saga "harus berapa nyawa dan harga diri yang perlu hilang buat orang gak berguna kayak elo"
Saga menepis tangan Micky, menarik tanganku dan membawaku pergi hingga aku hampir terjatuh. Cekalan tangan Saga benar benar kuat, aku tidak bisa memberontak bahkan ketika saat ini pun.
Micky menarik tangan Saga, meninju hingga lelaki itu tersungkur jauh.
"Brengsek"
Micky sudah habis kesabaran, menarik kerah Saga dan hendak meninjunya kalau teman teman Micky tidak melerai mereka
"Udah woy" kata Rio
"Brengsekkkk"
Bahkan orang yang tengah berbelanja di mini market dan warung berbondong bondong keluar, melihat apa yang tengah terjadi.
"Gue gak biarin apapun yang udah gue punya elo rusak Sag, gak akan " pekik Micky dengan urat leher
Saga berdiri, menyeka darah di bibir "Lo yakin dia milik elo" Saga menunjuk ke arahku.
"Sejak dia datang ke sini. Dia udah jadi milik gue" tegas Saga menarik tanganku dan menyembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Milik Lo? " Micky berjalan mendekat "Lo gak pernah bisa ngehargai apa yang elo punya dari awal Sag, elo cuman cowok brengsek yang bertopeng malaikat"
Saga membawaku pergi tanpa memperdulikan Micky dan yang lainnya.
"Lo boleh bawa pergi Vanda, asal jangan sampai nasib Vanda dan Miko sama" tegas Micky.
Aku masih terisak, jujur takut dengan kejadian di depanku yang terlalu berlebihan ini. Takut dengan reaksi kemarahan dari Saga. Perlahan lahan aku merasakan tanganku lemah terjatuh kebawah. Aku mendongak, kulihat Saga sudah naik ke motornya seorang diri meninggalkanku. Dan itu yang membuat tangisku pecah.
Kenapa dia meninggalkanku , meninggalkan seolah dia memberitahu semuanya bahwa dia tidak bisa menjagaku. Dan bahwa aku bukan ratunya.
Micky mendekat, membantu aku untuk berdiri, dia menyeka air mata dan memelukku. Aku menangis hingga pecah pada dada Micky.
"Jangan nangis Van" ucap Micky lirih. "Ini salah gue" katanya lirih
"Jangan nangis. Gue mohon, gue gak mau elo nangis"
πππ
Dan kejadian tadi benar benar membuatku syok. Aku duduk di kamar, menyeka air mata yang masih menetes. Dan aku bingung mengenai hubungan ku dengan Saga juga hubungan Saga dengan Micky, semua terasa abu abu untukku.
Klek
Suara pintu yang dibuka membuatku menoleh, kulihat Sofia, Nurul dan Dian datang setelah kukirim pesan pada mereka.
Melihat mereka tangisku langsung pecah, aku menangis bahkan menangis paling kencang yang pernah kumiliki.
"Hwaaaa"
"Vandaa elo kenapa?" Dian langsung memelukku, mengusap pundak.
Aku menggeleng "tadi Saga sama Micky berantem" ceritaku sesegukan.
"Ha? Demi apa? Maksudnya kenapa bisa gitu?" Tanya Sofia bertubi tubi.
"Cup cup cup" Dian menyodorkan tisu
"Kenapa Van, si Micky atau Saga yang menang? " Tanya Sofia sambil duduk mendekatiku
"Ih Sofia, tunggu si Vanda diem dulu, jangan ditanya tanyain" bentak Dian.
Sofia membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
Aku masih sesegukan, dan Dian mengelus punggungku, berusaha menenangkan.
"Vanda, jangan nangis , Lo harus tegak, seorang princess gak boleh nangis, nanti mahkota elo jatuh kalo Lo nangis"
Mendengar kalimat Dian yang sepuitis itu perlahan aku jadi tertawa. Tertawa dan memukul lengan Dian sampai dia mengaduh kesakitan.
"Gosah becanda bisakan" seloroh Sofia. "Gue mati penasaran ini"
Aku menghapus air mata, meminum segelas air dan menatap satu persatu mata teman temanku.
"Jadi gini" kataku memulai "sore tadi Micky dateng ke rumah, dia ngajak gue nongkrong sama temen temennya"
"Terus terus" kata Nurul
"Jangan di potong kambing, kan si Vanda lagi cerita" timpuk Sofia
"Iye iye maaf" Nurul nyengir.
"Disana ternyata ada Saga, dan mereka kayak lagi debatin masalah turnamen. Saga sama Micky ga mau satu tim, jadi Micky minta nama Saga di coret, gue rasa dia gak terima. Makanya tiba tiba Saga nyium gue"
"Uhuk uhuk" Dian terbatuk batuk oleh air ludahnya. "Maaf Van, yang ini gue beneran batuk gak dibuat buat"
Sofia memukul punggung Dian dengan keras bahkan bunyi "bugh" terdengar.
"Lo mau bunuh gue atau gimana si Sof, kok kenceng banget mukulnya"
"Biar batuk dan elonya hilang bersamaan" ujar Sofia kejam
"Astagfirullah, udah Van lanjutin aja" timpal Nurul masa bodoh
"Si Micky ga terima, pas si Saga narik gue buat keluar, si Micky langsung mukul Saga" sambungku
"Jadi elo pulang sama Saga? Terus elo nangis kenapa?" Tanya Sofia
"Sekalian pakek 5W + 1H buk" cela Dian memutar mata
"Lo kira gue karyawan tvtwu apa?"
"tvOne kali"
"Lah kan gue bikin perusahaan sendiri"
Bosan mendengar perdebatan Dian dan Sofia, Nurul memukul punggung mereka
"Kalian tahu gak sih si Vanda lagi curhat"
Aku tertawa melihat Nurul memarahi Sofia dan Dian
"Si Saga ninggalin gue gitu aja"
"Haa?" Ujar mereka kompak.
"Maksudnya si Saga itu apa? Udah nyium gitu aja. Narik buat keluar tiba tiba elo di tinggalin gitu aja, otaknya kurang apa gimana?" Ucap Sofia bertubi tubi
"Gue juga mikir gitu, dia anggap gue apa, setelah nyium gue dia ninggalin gitu aja" aku kembali menangis saat ingat itu.
"Jujur deh Van, elo udah jadian belum sih sama Saga?" Tanya Dian dengan raut serius
Aku menggeleng.
"Tapi kenapa Saga seberani itu nyium kamu, bukannya dia polos gitu ya, baik disekolahan juga" timpal Nurul tidak percaya
"Jaman sekarang mah polos cuman kedok doang, aslinya dia buruk" seloroh Sofia tajam
"Berapa kali elo ciuman sama Saga?" Tiba tiba Dian bertanya dengan mata tajam yang menatapku seperti menghakimi.
"Pertanyaan elo gak jelas banget sih, jelas aja dia sekali ciuman" kata sofia membela
Aku menggeleng sambil menunduk "udah empat kali ini" ucapku lirih
note : makasih ya yang selalu komen, aku selalu baca komen kalian, meskipun jarang kubalas. πππ
buat yang belom like atau komen tapi selalu baca, terimakasih juga, β₯