ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Dua puluh tiga



Aku berdiri didepan Saga dengan gugup. Banyak siswa siswi yang juga menatapku.


"Siapa kakak pembina yang akan mengujimu?" Tanya Saga dengan nada bahasa yang sedikit resmi.


"Belum ketemu" kataku masih dengan bahasa santai.


"Sini sama kakak aja"


Kakak? Kakak? Kak Saga? Kenapa aneh banget ya kalau mengatakan kalimat itu.


Aku hanya mengangguk, Saga langsung menguji tiga siswa untuk melafalkan Tri Satya dan dasa darma. Sedangkan aku duduk menyilangkan kaki sambil menghafalkan Tri Satya yang kata perkata benar benar rumit.


Hanya tersisa tiga orang siswa termasuk aku. Dan Saga justru meminta dua siswa lainnya untuk di tes, kurasa dia sengaja menyisakan aku.


Saat dua siswa itu sudah pergi, Saga meminta ku untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan nya.


"Sag, gue gak bisa" begitu duduk di kursi aku langsung berkata terang terangan pada Saga.


Dan Saga tersenyum, entah senyum seperti apa yang harus aku artikan.


"Panggil kakak" kata Saga


"Gak mau" aku menggeleng dengan berani.


"Vanda, kita di lingkungan Pramuka, bukan lingkungan sekolah" ujar Saga menasehati.


"Lha gue gak peduli, elo kan tetep seangkatan sama gue" Keukeh ku.


"Terserah elo deh, buruan hafalan Tri Satya sama dasa darma"


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. "Boleh mati aja gak?" Tanya ku yang mengundang tawa Saga


"Gak boleh" katanya " udah buruan"


Pada bagian tri Satya meski beberapa kali ada kata yang salah dan itu membuat Saga berdehem untuk membetulkan. Beberapa kali juga aku harus mengintip buku saku yang kemudian di pelototi Saga terang terangan. Pada bagian dasa darma aku hanya terdiam .


"Gak hafal?" Tanya Saga.


Aku menggeleng karena memang tidak hafal sama sekali mengenai dasa darma. Saga menarik buku saku ditanganku ,kemudian membuka pada bagian dasa darma.


"Cara ngafalinnya di ingat kata depannya. TAK CINTA PAPA RERA HEDI BESU"


"Ha apaan tuh?" Aku mengernyitkan dahi


"TAK itu Takwa kepada Tuhan yang maha esa, CINTA itu Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, PA itu Patriot yang sopan dan ksatria, PA, Patuh dan suka bermusyawarah, RE, Rela menolong dan tabah, RA, Rajin, terampil dan gembira, HE, Hemat, Cermat dan Bersahaja, DI, Disiplin, berani, dan setia , BE, Bertanggung jawab dan dapat dipercaya, SU, Suci dalam pikiran perkataan maupun perbuatan" kata Saga mengajari.


"TAK CINTA PAPA RERA HEDI BESU gitu ya?" Tanya ku.


Saga mengangguk, "coba dihafalin" titahnya.


Meski hanya hafal empat bagian setidaknya aku sudah berusaha dan Saga memberi nilai sesuai yang aku mampu.


"Besok hafalin lagi " katanya.


Aku mengangguk dan berjalan pergi menunju tenda, saat ditengah jalan Dian melambaikan tangan ke arahku.


"Yan" Dian tertawa sambil mendekat.


"Gimana? Hafal Tri Satya sama dasa darma gak?" Tanya Dian memastikan.


"Gak sempurna tapi sedikit hafal"


"Dapet nilai berapa?" Aku memberikan kertas yang harus diisi dengan nilai nilai dari kakak pembina.


"Ha ha Lo cuman dapet nilai empat puluh di dasa darma" kata Dian mengejek.


"Syukurlah dapet empat puluh dari pada enggak sama sekali" kilah ku merebut kertas yang ada ditangan Dian.


"Abis ini kegiatan apa lagi?" Tanya ku pada Dian yang masih membenarkan rambutnya.


"Bikin yel yel" teriak Sofia.


"Nanti kayaknya mau bikin yel yel untuk di tunjukin nanti malam deh" kata Dian menjelaskan.


"Ha, nanti malam ada pertunjukan" seketika saat mendengar itu jantungku berpacu cepat, entah kenapa tidak suka saja dengan namanya pertunjukan, itu sangat memalukan ketika ditonton banyak orang.


"Per regu nunjukin bakat mereka atau di acak?" Tanya ku mengantisipasi


"Emmm" Dian menggeram "gak tau kalau tentang itu" jawabnya.


"Eh gue pergi dulu yaa, tadi di suruh ngumpul ini di Saga"


Kemudian Dian pergi tanpa menolehku lagi, Tuhan kalau nanti benar benar ada pertujukan, jangan sampai aku harus berdiri ditengah lapangan untuk menghibur mereka.


"Van, masak yuk" Rika menepuk bahu ku. Aku menoleh nya, mengekori Rika dari belakang bersama teman setenda ku.


"Kamu bisa masak?" Tanya Sinta yang tengah menghidupkan api dengan meniupnya.


Aku menggeleng "belum pernah masak" jawabku.


"Masak apa nih kita?" Tanya Halimah yang sibuk memilah bahan masakan.


Didepan Halimah, ada bayam, terong, tempe, kangkung, dan beberapa bahan masakan lainnya.


"Terserah elo aja, gue nurut" kataku, aku memang tidak pilih pilih soal makanan asal jangan yang pedas saja.


"Numis bayam sama goreng tempe gimana?" Tanya Halimah meminta persetujuan kami.


Semua mengangguk tidak ada yang menggeleng, aku duduk di sebelah api menjaga agar api tidak padam dengan menghalangi anginĀ  menggunakan penutup panci.


"Masak apa dek?" Suara Saga terdengar berat berwibawa.


Aku menoleh nya, menatap Saga yang gagah dengan seragam pramukanya. Dia tersenyum pada kami.


"Numis bayam sama goreng tempe kak" jawab Nila sambil tersenyum.


Saat ku tatap wajah Nila, aku bisa menebaknya kalau dia suka dengan Saga. Wajar sih, Saga adalah ketua OSIS yang juga tampan, jadi wajar banyak yang mau dengan nya.


"Ini ngapain duduk di sini?" Saga memandangiku, meski tatapan kami bertemu tapi aku justru tidak memperhatikan ucapannya.


"Jagain api kak" jawab Nila yang mewakili ku.


Saga mengangguk "kamu bisa masak?" Dengan kaki dia menyenggol pahaku.


Aku tersadar, mengerjapkan mata dan memandang Saga "enggak" kujawab dengan sedikit jutek agar tidak terlalu terlihat jika aku juga mau dengan Saga


"Masakin kakak dong"


"Ha" aku mengernyitkan dahi "kan gue udah bilang tadi gak bisa masak"


Saga berdehem sambil terus tersenyum "makanya belajar" katanya.


"Oh ya, Masakin kakak tumis kangkung, pokoknya anterin ke tenda panitia. Kalau sampe gak di buatin, kamu kakak hukum" kata nya dengan enteng.


"Eh gak bisa gitu dong Sag" aku ingin mengejarnya tapi saat dia menoleh dengan wajah seserius itu entah kenapa aku justru mengangguk saja.


"Kakak tunggu" katanya sudah pergi .


"Shit" aku mengumpat lirih, memandangi teman setenda yang juga menatap kearah ku.


"Ma ajarin gue masak dong" pintaku padanya.


"Gampang itu mah, kita masak buat kita dulu baru nanti aku bantuin kamu masak buat kak Saga"


Aku bisa bernafas lega saat Halima dan yang lainnya dengan senang hati membantuku. Perihal enak tidaknya nanti saja di fikirkan.