
Aku, Dian sudah bergabung dengan kelasku, tidak banyak yang hadir dari kelasku, hanya Sofia yang sibuk memanggang jagung dengan Ari, dan beberapa geng Ari. Nurul tidak ikut kata Dian tidak di beri ijin oleh orang tuanya.
Aku duduk di teras depan kelas, memandangi beberapa anak IPA yang tengah memanggang jagung bersama teman sekelasnya.
"Nyesel gue Yan kesini, gak asik. Kalo bakar bakar jagung doang mending tadi bakar dirumah" gerutuku
Dian sibuk bermain ponsel, palingan mengirimi Yogi pesan yang banyak karena lelaki itu belum terlihat.
Sewaktu aku hendak berdiri, kulihat Saga membawa dua jagung yang sudah dibakar kearah ku. Kenapa dia kearah ku? Hubungan kami tidak baik baik saja akhir akhir ini, aku pun jarang sekali ngobrol dengannya.
Tapi langkah mantapnya justru membuat jantung deg deg an. Dian tidak memperhatikan Saga yang terus berjalan kearah kami. Dia sibuk dengan ponselnya.
Saga semakin mendekat menatap manik mataku dengan lekat, lalu dia berbelok.
Apa? Dia berbelok, benar benar tidak berhenti disebelahku.
"Ya, ngapain disitu?" Dia duduk didepan teras IPA 2.
Duduk berdua dengan Aliya yang sedang bermain ponsel.
"Males Sag ngumpul bareng anak OSIS" katanya.
Kalian ingin tahu apa yang aku rasakan. Tentu sakit hati, dan aku ingin berlari pergi karena sempat menyangka Saga akan menghampiriku. Bahkan sedari tadi aku tidak tahu kalau Aliya duduk beberapa meter dariku.
"Pindah yuk" aku menggoyangkan Dian yang terlalu fokus dengan ponselnya.
"Bentaran, si Yogi mau nganterin jagung bakar nya ke gue" kata Dian keukuh duduk di teras depan.
Aku bangkit, mendekati Ari dan Sofia yang tengah membolak balikan jagung.
"Yang lainnya pada kemana?" Tanyaku, langsung mengambil kipas yang dipegang Sofia.
"Kayaknya pada gitar gitaran diaula deh" jawab Sofia yang sibuk membalik jagung
"Kalian ngapa gak ikut ke aula?"
Sofia menggeleng "bringsik Van, gue gak suka keramaian"
"Ngomong aja pengen berduaan bareng Ari" aku menusuk nusuk jagung dengan kipas sate
"Jangan digituin Van, ntar jatuh jagungnya" komentar Ari
"He he" aku nyengir "kalian udah lama ya putusnya? Kenapa putus?" Tanyaku
"Kita pacarannya udah lama, dari kelas tiga SMP ya Sof?" Tanya Ari yang takut salah kapan mereka resmi pacarannya
"Kalo gak salah sih iya" timpal Sofia
"Kenapa putus?" Tanyaku
"Mau UN Van, jadi fokus UN dulu, takut ga lulus" jelas Sofia
Mendengar itu aku langsung tertawa terbahak bahak. Ari dan Sofia sampai berhenti mengupas jagung nya.
"Ngapain ketawa ada yang lucu?" Tanya Ari
"Bukan bukan" aku mengibaskan lima jariku "alasan kalian putus ga masuk akal banget, emangnya nilai UN Lo berapa setelah putus sama Ari?" Tanyaku pada Sofia.
Sofia memutar bola matanya "yah gak tinggi sih, tapi masih mending kan gue lulus" katanya
"Lo gak sakit hati sama keputusan Sofia Ri?"
Ari menggeleng sambil tersenyum "gak lah Van, kayaknya emang kita lebih cocok temenan aja ketimbang pacaran"
Tapi percayalah tujuh tahun dari saat aku menanyakan ini, Sofia dan Ari benar benar menikah. Sofia tidak bisa jauh dari Ari kemanapun Ari sekolah Sofia akan selalu mengikutinya dengan dalil dia tidak punya teman.
"Tos dulu Ri" Sofia mengangkat tangannya tapi Ari justru menepuk dahi Sofia sehingga Sofia merintih kesakitan.
Udah, kalau mereka sudah seperti ini rasanya aku cuman jadi obat nyamuk buat mereka.
"Diiiiiaannnnn" teriakku
"Apa sih Van, gue masih duduk disini" teriak Dian tak kalah lantang
Dia menatapku dengan tatapan mata seperti biasanya, aku semakin kesal dengan situasi saat ini. Dian yang mengajakku kesini justru asyik berpacaran dengan Yogi.
"Udah ah, gue mau ke aula, kesel disini" aku melempar kipas sate dengan asal.
Meninggalkan Ari dan Sofia yang saat ini tengah menggerutu oleh sikapku. Di aula sepertinya lebih menyenangkan ketimbang duduk di depan kelas. Disana ada beberapa alat musik, saat ini seorang anak IPA yang mulai memainkan gitarnya.
Aku berdiri, mendengarkan lantunan musik yang terdengar indah. Rasanya aku lupa tujuan awalku datang kesini tadi untuk apa, menemui Saga tentunya.
"Ikut gue"
Aku hampir terjingkat ketika suara Saga tepat ditelingaku. Ketika kutoleh mata elangnya menatapku dengan lekat. Aku tidak menjawab, masih terus menatap lurus ke penampilan orang didepan aula.
"Ikut gue" katanya sudah menarik tanganku untuk keluar aula
"Apaan sih Saga, lepasin" aku meronta.
Demi apapun aku membenci Saga, dia selalu seenaknya kepadaku. Saga akhirnya berhenti tepat didalam UKS.
Dia melepaskan cekalan tangannya yang kuat. Aku menatapnya, dengan tatapan marah.
"Bener kalo elo mau pergi sama Micky?"
Aku bersidekap, "kalau iya kenapa? Ada masalah sama elo"
"Jangan pergi" titahnya
Aku menarik nafas berat, dia memang selalu bertindak seenaknya begini.
"Memangnya elo siapa gue, pacar? Temen? Sampe elo punya hak buat ngelarang gue" sengaja aku menaikan kalimat ku.
Saga mengacak rambutnya frustasi, dari pancaran matanya ada sesuatu yang ingin dia ungkapan tetapi sulit terucapkan.
"Kan kalau mau jalan jalan bisa sama orang lain selain Micky" katanya menurunkan nada
Aku menatap lurus, merasa jengkel dengan sikap Saga yang selalu seenaknya. Seperti ini. Memangnya dia siapa sih kok bisa punya hak luar biasa dalam hidupku.
"Gue maunya jalan jalan sama Micky bukan sama orang lain" kataku cuek
Tidak. Aku tidak ingin jalan jalan dengan Micky meskipun keluar negri sekalipun. Aku hanya ingin ada ditempat ini bersama Saga dengan perasaan yang sama. Saga menatap ku, dia memegang bahuku dengan menggenggam nya dengan erat.
"Gue tahu gue udah brengsek sama elo, tapi tolong dengerin gue sekali ini" katanya berusaha terdengar tulus
Aku menepis peganggan tangan Saga. Sudah cukup, semakin aku menunggu Saga untuk sadar akan perasaannya semakin terluka saja aku.
"Gue gak tahu masalah kalian apa. Tapi Please lebih baik Lo gak usah ikut campur tentang hubungan gue sama Micky" kataku berniat pergi
Grepp
Aku merasakan hangat di punggungku, Saga memelukku dari belakang, begitu kencang sampai aku tidak mampu bergerak karenanya
"Gue bakalan anterin elo kemanapun, tapi jangan pergi sama Micky Van" nada bicara Saga lebih menurun dari tadi. Kudengar ada ketulusan dari nadanya.
"Lepasin Sag, gue gak mau di bilang cewek murahan karena kejadian ini" perlahan tangan Saga melemah.
Dia melepaskan ku, tertunduk sangat lemas.
"Gue gak tahu lagi mau ngomong gimana ke elo" katanya "gue udah putus sama Aliya"
Itu harus dianggap berita baik atau buruk, aku tidak tahu perkembangan hubungan mereka selama ini. Dan yang paling menyebalkan adalah Saga memelukku setelah memutuskan Aliya, begitu?
"Urusannya sama gue apa?" Tanyaku
"Gue mikir, makin lama pacaran sama Aliya justru makin nyiksa gue. Gue gak ada perasaan sama dia dari awal"
"Urusan sama gue apa?" Ulangku dengan meniaikan nada
"Gue sayang sama elo Van"
Mendengar itu aku langsung tertawa, bahkan akan bertepuk tangan untuk Saga.
"Dulu kemana aja elo, pas gue ngerasa elo adalah bagian dari gue, elo kemana? Elo dengan mantap bilang gue cuman temen elo kan" kataku mengulang hal yang menyakitkan itu lagi