
Aku menunggu Saga selesai rapat didepan ruang OSIS, duduk disana sambil membaca novel yang dipinjamkan Dian tadi pagi.
Sudah hampir setengah jam, dan Saga belum juga keluar dari sana. Aku menghela nafas, kalau ada ponsel setidaknya aku tidak bosan seperti ini.
"Woy, sendiri aja?"
Aku mendongak saat mendengar suara Micky tepat berada didepan ku.
"Nungguin Saga"
"Pulang bareng gue aja, Saga lama" kata Micky sambil memamerkan deretan giginya.
"Enggak ah, makasih"
Micky tersenyum meski tidak bersuara
Dia ikut duduk disebelahku. Dan itu tidak aku permasalahkan.
"Lo gak ikutan rapat?" Tanya ku yang baru ingat kalau Micky juga anggota OSIS.
"Enggak ah, ngapain ikut rapat"
Selang dari ucapan micky selesai, Saga keluar lebih dulu. Dia langsung menarik tanganku, membawa aku yang tengah duduk langsung berjalan pergi.
Aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata pada Micky, tidak sempat juga melihat ekspresi wajah Saga saat menarik ku tadi.
"Saga kenapa sih?" Tanya ku.
"Gak papa, acaranya udah selesai "
Aku yakin Saga tidak benar benar mengajakku pulang karena acara sudah selesai melainkan karena ada Micky tadi.
Aku naik dibelakang Saga, memegang pinggangnya agar tidak jatuh kebelakang seperti kemarin. Kali ini Saga sedikit memelankan laju motor.
"Van" panggil Saga
"Apa?" Jawabku berusaha secuek mungkin.
"Lo udah sering mimisan ya?"
Aku kaget dengan pertanyaan saga, kukira dia sudah lupa dengan kejadian tadi pagi.
"Gak juga sih, kadang kadang" sebenarnya iya, aku sering mimisan jika terpapar sinar matahari terlalu lama. Atau begadang semalaman, terlalu capek juga bisa membuatku mimisan.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?" Tawar Saga lagi.
"Kalau makannya bakso sama mie ayam, gue ogah. Eneg tiap hari makan itu"
Saga tertawa bahkan tanganku yang ada di pinggangnya ikut bergetar saat dia tertawa. Aku nyaman mendengar tawa Saga yang jarang dia berikan padaku.
"Kita makan di angkringan Bina Karsa aja"
Bina karsa itu nama desa, agak jauh dari rumahku, tapi berdekatan dengan mini market tempat Micky mengajakku kemarin.
"Boleh boleh" aku antusias apalagi perginya bareng sama Saga
Saga membawaku terus melewati rumah. Dia tidak ngebut, mungkin malas terkena debu yang membuat jalanan hampir diselimuti kabut. Musim panas seperti ini benar benar terasa jika di desa, karena jalannya masih terbuat dari tanah sehingga kalau ada satu kendaraan yang melaju dengan kencang, debu debu akan bertentangan sampai terlihat seperti kabut. Daun daun hijau disamping jalan juga berubah warna tidak lagi menjadi hijau melainkan jadi warna kuning kehijauan. Pohon karet, mata pencarian utama masyarakat sini juga sudah kehilangan daun daunnya. Kata Nurul, musim kemarau berakibat dari banyak tidaknya getah yang dihasilkan.
Aku tidak paham soal itu, tapi kalau soal panasnya cuaca disini, aku paham
"Saga" aku memanggilnya.
"Emm" dia berdehem, melepaskan tangan kirinya dari stir dan menyandarkan di paha ku. Sumpah , naik mobil sama motor ternyata keren naik motor, apalagi di perlakukan seperti ini oleh Saga
"Kenapa orang orang disini banyak yang gak pakai helm?. Itukan melanggar lalu lintas"
Saga tertawa "disini gak ada polisi Van" ucapnya
"Tapi kan pakai helm untuk menjaga keselamatan bukan menghindari polisi"
"Orang orang disini kalau naik motor gak seugal ugalan orang kota. Kalau ngebut pun palingan cuman beberapa meter, selebihnya pelan. Soalnya jalannya berlubang lubang"
Ucapan Saga ada bentulnya juga, sedari tadi, kami selalu menemukan jalan berlubang dan itu hampir memenuhi jalanan. Banyak juga jalanan kerikil yang kalau dilewati benar benar menyusahkan.
Senang? Aku tidak sesenang itu tinggal disini. Tapi jika aku merasa sedih? Ya memang, aku sulit menemukan makanan favoritku, lama tidak ke mall, dan tidak belanja baju atau sepatu bermerk. Disini mengandalkan pasar dan online shopee. Tapi aku senang, senang kalau disini ada Saga, aku juga selalu senang menanti pagi, untuk pergi ke sekolah dan bertemu Saga. Jadi aku harus menyebutnya bagaimana senang atau sedih?.
"Gak tahu he he" aku tertawa diujung kalimat.
"Kalau gue seneng disini" tiba tiba Saga membuka tentang dirinya padaku, meski sedikit.
Tangan Saga yang ada di paha sudah beralih ke stir lagi, dia membelokan stir untuk menghindari lubang.
"Senang kenapa?"
"Gak ada macet"
Ih, kukira tadi Saga mau ngegombal, kukira dia senang tinggal disini karena bertemu denganku. Ternyata alasannya sama dengan papa, sama sama pembenci macet.
"Tapikan di kota ada mall, bioskop, cafe cafe, banyak deh pokoknya"
"Disini ada pasar kali Van, kalau mau nonton film yang diputar di bioskop, tinggal nunggu aja filmnya di posting di YouTube atau Facebook. Tempat tongkrongan juga banyak, malah, banyak anak muda yang nongkrong didepan rumah ditemani kopi sama catur lebih asyik"
"Ah masak, kayaknya gak ada asyiknya deh" pungkasku.
"Yaudah, gimana kalau mulai sekarang, gue akan tunjukkan seasyik apa tinggal disini"
"Yang bener?" Tanya ku
Saga berdehem. Asyik, aku akan menghabiskan banyak waktu dengan Saga.
Akhirnya kami tiba di angkringan yang dimaksud Saga . Lebih tepatnya rumah makan sederhana gitu deh.
Aku masuk dengan hanya melepas sepatu tapi masih mengenakan kaos kaki.
"Mau pesen apa?" Tanya Saga menyodorkan daftar menu
"Katanya cewek jangan ditawarin"
Saga menepuk dahi yang mengundang tawa dariku.
"Oh iya lupa" kami tertawa "gak papa pesen aja, tadi udah ijin sama Allah, dia ngijinin buat cewek milih mau makan apa"
Saga Saga, pinter banget sih ngelesnya. Aku memilah milah, satu hal yang baru aku sadari saat melihat daftar menu. Harganya murah murah, hanya lima belas ribu sudah dapat ayam bakar seporsi. Benar kata mama, hidup disini enak, kita bisa jadi orang kaya
"Saga, harga nya gak salah?" Tanya ku
Saga menaikan alis kemudian ikut melihat daftar menu di kertas berfinil.
"Kenapa? Heran ya? "
Aku mengangguk
"Harganya disini emang segini gini, murah murah"
Aku memilih bebek panggang satu porsi dengan es jeruk. Saat kutanya Saga mau makan apa katanya dia ingin makan bebek panggang satu porsi juga.
"Ih kok nyama nyamain sih" cicit ku menggodanya
"Kasihan bebeknya, kalau kamu makan paha sebelah kiri sebelah kanannya hilang"
"Ha ha" Saga itu ajaib.
Gak tau deh, dia lucu aja gitu. Meski kadang kadang aneh dan menyebalkan, contohnya aneh Saga menarik paksa tanganku untuk pergi ke parkiran.
Aneh Saga datang ke rumah hanya karena aku bolos Pramuka.
Aneh juga saat dia mengatakan namanya Slamet padahal namanya Saga. Tiba tiba jika teringat itu aku jadi ingin membahasnya.
"Dulu pas pertama kali kita ketemu. Kenapa elo bilang kalau nama elo Slamet bukan Saga?" Tanya ku.
Saga tertawa, benar benar tawa terbahak bahak yang membuatku mengernyitkan dahi. Ini anak ketawa kok sampe segitunya.
"Abis muka lo polos banget, mudah ditipunya"
Aku malu, sampai menutupi semburat merah ku dengan tas yang kuletatakn diatas meja.