
Semua terjadi sangat cepat sekali di rumah sakit Charitas, begitu papa bertemu dokter Ferly mereka membicarakan seputar pendonoran mata, juga memberitahuku efek samping dari operasi mata ini. Jika berhasil aku akan bisa melihat namun tidak sejelas sebelum aku buta, jika gagal, kemungkinan besar aku tidak akan bisa melihat selamanya. Papa sudah mantap bahkan katanya dia menandatangani kertas perjanjian.
Dan kata Mama, saat sore hari waktu itu papa mengantarkan aku keruang operasi, disana aku masih terpikirkan oleh Micky, aneh saja kalau dia tidak mengangkat telfon ku, aneh saja kalau Micky menghindari aku. Padahal sebelumnya kami baik baik saja, pun Saga, Saga tidak mengangkat telfon ku, tidak juga membalas pesan yang di kirim mama. Aku masih bingung pada keduanya, apa mereka benar benar mendapatkan hukuman karena berkelahi kemarin.
Dari sini aku akan menyingkat ceritanya, karena kalau aku menjelaskan apa yang kualamai selama dirumah sakit agaknya terlalu tidak penting. Baiklah, baca dengan baik, agar rasa penasaran kalian bisa terjawab.
Setelah operasi saat itu, dokter Ferly memintaku membuka mata, dan untuk pertama kalinya selama dua bulan lebih aku bisa melihat kembali, meskipun agak silau dan membutuhkan waktu dua minggu untuk bisa terbiasa dengan semuanya.
Bagaimana perasaanku saat itu?, aku sangat senang, senang karena akhirnya bisa melihat Mama, senang karena akhirnya papa tersenyum sambil menangis di depanku. Meskipun selama dua minggu itu, aku tidak diperbolehkan bermain ponsel juga tidak diperbolehkan untuk melihat televisi. Bahkan lampu kamar pun di atur cahayanya, setiap hari lampu itu akan ditambah besar kekuatan cahayanya. Juga aku tidak diperbolehkan terkena sinar matahari, meskipun selama seminggu setelahnya sedikit demi sedikit Mama membuka tirai jendela tetapi tidak lama.
Dan hari ini, aku pulang setelah tiga mingguan mendekam di kamar rumah sakit dengan isi kepala penuh dengan Saga maupun Micky. Teman temanku, ah mereka juga menyebalkan, bahkan tidak ada yang mengabariku, mencari tahu tentangku pun tidak. Sore itu sekitar pukul lima sore kami tiba di perataran rumah, rumah yang amat sangat kurindukan.
Aku masuk kedalamnya untuk pertama kali setelah dua bulan lebih tidak bisa melihatnya. Kamar yang kugunakan ternyata itu kamar papa, bahkan dispenser nya pun masih ada ditempat semula, tempat yang dulu ku yakini gelap gulita. Dan di ruang tamu ini juga aku dan Saga berciuman, menyatakan perasaan satu sama lain
Membicarakan Saga aku jadi merindukannya, mama tidak memberikan ku ponsel saat itu, katanya aku harus menjauhi benda benda yang bisa membahayakan mata. Jadi malam itu yang kulakukan hanya duduk sambil melamun sampai tertidur.
🚕🚕🚕
"Vanda boleh sekolah?" Tanyaku pada papa ketika kami sedang bersantap di meja makan.
Papa tidak menjawab tapi dia menghentikan kunyahan dan adukan sendoknya, begitupun Mama, Mama tampak menunduk hari itu, wajah keduanya seperti muram. Padahal aku baru saja selesai operasi dan baru bisa melihat, tapi kenapa yang kulihat adalah wajah sedih mereka.
"Boleh, tapi gak hari ini ya" akhirnya meski dengan senyum paksa, papa menjawab pertanyaan ku.
Aku terdiam, padahal sangat ingin pergi kesekolah. Mencari Saga dan Micky yang menghilang bagai ditelan bumi. Juga bertemu teman temanku, aku akan memaki Dian, nurul, dan Sofia yang tidak menghubungiku.
"Permisi Vandaa" ada suara yang begitu asing ditelingaku.
Aku menatap Mama dan papa yang juga menatap ke arahku.
"Siapa ma?" Tanyaku.
Mama tidak menjawab tapi dari gestur matanya, dia memintaku untuk menunggunya . Mama yang membukakan pintu untuk sitamu. Dan dari sinilah cerita yang paling ku benci bermula.
Mama sangat lama membukakan pintu untuk tamu, dan aku berniat berdiri untuk keruang tamu, tapi papa mencegahnya
"Tunggu Mama mu" kata papa tampak aneh Hari itu. Tapi aku menurut.
Dan selang hampir dua puluh menitan Mama masuk kedalam dengan air muka pucat, tampak aneh untukku.
"Kenapa ma?" Tanyaku yang mulai tidak paham akan situasi saat ini.
"Ada temenmu" kata Mama langsung duduk tanpa menatapku.
Dan melihat Mama yang tidak ingin kulempari pertanyaan, membuatku langsung berjalan kearah ruang tamu. Disana, berdiri teman temanku, aku tersenyum cerah begitu melihat mereka.
"Udah dong, kan gue sekarang udah baik baik aja" kataku meminta mereka untuk berhenti menangis.
Dian, Nurul dan Sofia kompak menyeka air matanya. Dan kulihat juga ada Ari, Rio dan juga Yogi. Sebentar tapi pemandangan ini sangat asing dan aneh, tidak mungkin Yogi dan Rio bisa bersama sama kerumahku.
"Masuk yuk" ajakku.
Tanganku dicekal oleh Yogi sambil tersenyum. Juga Rio yang menarik senyumnya meski wajah mereka menggambarkan kesedihan. Saat itu aku tidak ingin berfikir yang aneh aneh, meskipun aku sudah memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk yang membawa Rio dan Yogi datang ke rumahku.
"Ada yang mau kita omongin" kata Yogi terdengar serak
Aku menahan langkahku untuk tidak linglung. Aku harus berdiri tegak apapun yang akan mereka bicarakan padaku. Aku harus mampu menerimanya sesulit apapun itu.
Rio menatapku lamat lamat, melihatnya aku jadi teringat akan Micky. Rio dan Micky tidak pernah terpisahkan , jarang juga aku mendengar mereka berkelahi atau tidak pergi bermain bersama, kecuali saat Micky menemuiku, karena urusan itu Micky cukup gentlement untuk pergi sendiri.
Dan saat melihat wajah Yogi, aku teringat Saga. Yogi dan Saga sering berkelahi, bukan sekali dua kali hampir berkali kali. Dia pernah saling memaki di rapat OSIS, tapi tidak lama mereka berantem, palingan besoknya sudah kembali seperti semula.
"Micky mana Yo?" Tanyaku pada Rio yang masih menatapku dengan dalam
Rio tidak menjawab pertanyaan ku, kakinya bergerak tidak teratur, menggambar pola aneh. Mungkin bentuk mengusir gugupnya. Wajahnya pun dibuat serileks mungkin, meskipun itu gagal didepan ku.
Dia menghindari kontak mata denganku, terasa aneh saat itu, dan memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi, langsung menghantam dadaku untuk terasa sesak.
"Yo" kupanggil sekali lagi, karena Rio yang paling aneh disini.
Yogi memang bermuka sedih tapi tidak sesedih Rio, tidak seberantakan Rio dan tidak semencurigakan Rio.
Ah tidak mungkin kalau Micky yang mendonorkan mataku, meskipun dia sudah bertekad untuk itu.
"Rio" nada ku naik satu oktaf, dan Rio seperti terjingkat karena panggilan ku.
"Jawab gue" kudesak Rio untuk berucap, tapi dia tidak bersuara barang sepatah dua patah.
Dia masih menunduk, sambil seperti menahan tangisannya. Ku tarik kerah baju Rio, kupaksa dia untuk membuka suara.
"Micky mana?"
Demi tuhan, aku tidak ingin kehilangan Micky, demi Tuhan suasana disini benar benar terasa aneh.
note : siapapun tebakan kalian mau Saga ataupun Micky yang donorin mata
boleh marah asal jangan menghina autor
autor berusaha ngasih cerita yang bagus buat kalian.