ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
Ankot Empat Puluh enam



Begitu menemui Saga aku langsung kembali ke kelas dan membenamkan wajahku, teman teman sekelas pun. Mereka sudah mendengar berita dari Aliya yang mengatakan bahwa aku wanita murahan. Jujur aku tak tahan, semurah itu aku menurut mereka.


Dian, Nurul dan Sofia tidak berani mengajakku berbicara, aku menangis sesegukan.


Ruangan kelas yang semula ramai seketika berubah menjadi hening, lalu terdengar bunyi sepatu yang berjalan bersamaan, aku tidak tahu ada apa, yang jelas saat aku mendongak. Saga berdiri didepanku, kelas berubah sepi.


Kulihat, Dian, Sofia dan Nurul ada didepan pintu kelas, mungkin sedang menunggu.


"Ada masalah apa sih?" Tanyanya


Aku diam saja


"Van, kenapa? Gue gak tahu masalahnya tiba tiba elo nampar gue gitu aja. Ada apa?" Saga berusaha mencari penjelasan dari ku.


Saat sedang hening heningnya, kudengar suara Micky yang menerobos masuk kedalam kelas membuat Dian dan Sofia gaduh.


"Sekarang pangkat ketua OSIS bisa buat nguasai kelas ya" komentar Micky sambil berjalan mendekati.


Saga menarik nafas kesal. Wajah datarnya semula perlahan berubah menjadi raut pias.


"Keluar, gue lagi ngomong sama Vanda"


"Ngomong aja, gak perlu ngosongin kelas" Micky menatap Saga dengan tatapan paling dalam punyanya.


Saat itu, aku bingung apa yang harus kulakukan.


"Heh" Saga menghembuskan nafas dengan suara keras "gue ngomong baik baik sama Lo, keluar sekarang"


Micky justru tertawa "apa ini, yang dulu elo lakuin sama kakak gue"


Srekk


Saga menarik kerah Micky dengan sekali hentakan. Lelaki yang kerahnya sedikit kusut itu justru tertawa. Tawa renyah seolah apa yang dilakukan Saga adalah bahan lelucon yang mengaduk perutnya.


"Kenapa? Lo pengen bunuh gue kayak apa yang elo lakuin ke kakak gue"


"Brengsek" umpat Saga melepaskan cekalannya "apa yang terjadi sama Micko bukan kesalahan gue"


Saga berlalu, berjalan beberapa langkah tapi suara Micky membuat langkahnya terhenti.


"Lo yakin, itu bukan kesalahan elo?" Micky berjalan mendekat.


Micky meninju dada Saga sedikit pelan, hanya menggoyangkan badan tegap Saga saja.


"Kapan pun, gue bersumpah akan bongkar semua kelakuan elo sama Micko"


Brak


Saga menepis tangan Micky sekasar mungkin. Aku masih duduk, menatap mereka dari kursiku, dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan yang membekas di benak.


"Silahkan" kata Saga bergegas pergi.


Kepergian Saga yang membelah kerumunan membuat Micky tersenyum. Dia kembali ke mejaku, duduk seolah tidak terjadi apa apa yang berarti.


"Bolos yuk" ajak nya


"Ha?"


"Lagian cuman clas meeting biasa, bolos aja" ajak Micky duduk di kursi sebelah.


"Kemana tapi?"


"KUA"


Mendengar kata KUA, aku meninju lengan Micky sedikit keras. Dia mengaduh kesakitan.


"Pendekar kok ngeluh" kataku yang membuat sudut bibir Micky terangkat.


"Kita KUA, gladi kotor dulu, gladi bersihnya besok, biar gak ada yang salah" canda nya.


Aku pun tertawa, kulihat Dian, Nurul dan Sofia sudah menggantungkan tas di bahu masing masing.


"Pada mau kemana sih?" Tanyaku pada mereka.


"Liat pertandingan voly Van, mau ikut gak?" Tanya Sofia.


Aku menggeleng "disini aja sama Micky"


"Lo gak main voly?" Tanyaku


**


Aku dan Micky berdiri di lapangan voly menatap permainan voly dari kejauhan. Sebenarnya aku ingin bertanya padanya tentang Micko, dan kenapa Micky dan Saga sama sama mengenal Micko.


"Gue boleh nanya sesuatu gak?" Tanyaku menatap Micky yang fokus pada permainan voly.


Micky tidak menoleh, masih menatap permainan.


"Tentang Micko" tebaknya.


"Eh" aku gugup ketika dia tahu apa yang hendak ku tanyakan.


"Kalau gak keberatan" imbuhku agar tidak memberi kesan pada Micky bahwa aku ingin tahu urusannya.


"Micko itu kembaran gue"


Aku kaget, benar benar kaget saat tahu kalau Micky memiliki kembaran.


"Kita beda kelas, Micko sekelas sama Saga, dulu waktu kita sama sama di Jakarta"


Aku terdiam, rasanya mulutku membeku setelah mendengar penjelasan dia .


"Tapi dia meninggal waktu kelas tiga SMP"


Mendengar penjelasan Micky itu, aku kontan menoleh, bibirku bergetar. Micky adalah lelaki penuh misteri setelah Saga, tidak banyak kutahu tentang nya. Baik tentang Saga maupun Micky yang bagiku terasa asing sekarang.


"Kenapa?" Hanya itu yang bisa keluar dari bibir


Micky menolehku, memasukan tangan disaku celananya.


"Lo percaya gue atau Saga?" Tanyanya.


Aku menunduk , percaya Micky atau Saga aku tidak tahu harus mempercayai siapa jika diberikan pilihan antara keduanya.


Micky membasahi bibirnya sambil menghela nafas berat.


"Sebulan sebelum Micko meninggal, ada kabar yang bilang kalau Micko nyuri kunci jawaban di ruang guru. Kabar itu tersebar di sekolahan, kabar yang ngebuat Micko jadi bahan bully-an. Seharusnya Saga ada disampingnya Micko disaat seperti itu, tapi nyatanya___" Micky terdiam sambil menunduk.


Aku yakin dia begitu terluka menceritakan ini, menceritakan tentang kepergian dari saudaranya.


"Waktu itu, gue ikut olympiade Fisika, dan gue denger dari temen gue kalau Saga sama Micko cekcok dikelas. Setelah nya____" Micky menatap mataku dengan tatapan nanar "Micko gantung diri dikamar, saat gue gak ada disisinya, saat gue lagi olympiade, saat gue__"


"Hah" helaan nafas itu terdengar berat dan penuh terluka.


Aku mengelus bahu Micky, bahu kekar yang sempat kukira adalah milik manusia paling bahagia di muka bumi.


"Setengah tahun dari kepergian Micko, mental papa terganggu, papa depresi bahkan sempat di rawat di rumah sakit jiwa karena mentalnya" Micky menatap anak anak pemain voly yang sedang meminum Aqua.


"Mama mutusin buat pindah ke sini, mencari ketenangan. Ketika keluarga gue udah mulai lupa dan keadaan papa membaik, Mama bilang mereka ketemu Saga "


Mata Micky menerawang jauh "keadaan papa kembali drop, luka lama yang kami tutupi terbuka lagi karena saga. Saga temen deket nya Micko, bahkan sampai Micko meninggal pun dia tetap ninggalin surat untuk Saga"


"Papa gue meninggal setahun setelah gue pindah kesini" Micky tersenyum kearah ku.


"Kalau lo fikir gue berantem sama Saga gara gara Aliya, itu salah, gue berantem karena kedatangannya kesini"


"Jadi, yang orang bilang elo sama Saga pernah temenan itu__" aku menghentikan ucapanku


"Itu bukan gue Van, itu Micko, kembaran gue"


Rasanya nafas ku sesak, tidak banyak yang kuketahui tentang Saga. Kenapa dia bisa Setega itu meninggalkan Micko disaat keadaan Micko terpuruk seperti itu. Dan alasan kenapa Micky selalu ada di semua kegiatan yang Saga ikuti adalah dia ingin balas dendam.


Aku menatap Micky yang kembali fokus atau pura pura fokus pada permainan. Micky banyak kehilangan seseorang, apa karena itu juga dia selalu ingin Saga merasakan kehilangan seperti dia kehilangan orang yang paling disayanginya.


Micky, Saga sebenarnya apa yang terjadi pada sudut pandang kalian?


**note : aku gak janji bisa apdate, karena bener mau UTS 😭😭😭


jangan lupa mampir di blog ku**,


http://melipatkenangan.blogspot.com


disitu aku apdate puisi puisi galau


semoga bisa mewakili hati kalian dan juga hatiku