ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Enam Puluh Tujuh



Tangan Rio terjatuh dengan lemas, kutatap nyali dia yang tiba tiba menciut. Rio tidak pernah terlihat semenyedihkan seperti ini.


"Vanda" Yogi menarik tanganku untuk menatapnya.


"Duduk dulu" katanya terdengar seperti Saga.


Dian, Nurul dan Sofia tampak menangis tersedu-sedu, aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Begitu aku duduk diruang tamu. Hanya Yogi yang masuk kedalam.


"Rio masuk" panggilku memintanya untuk masuk


Karena urusan ini, Dialah yang sangat mencurigakan. Rio melangkah mendekat dan duduk di depanku, Dian duduk dibelakangku, Sofia dan Nurul serta Ari tidak ikut masuk.


Yogi berdehem, dia mengatur wajahnya juga hatinya untuk sekuat mungkin, tapi Rio benar benar menunduk seperti orang yang mengaku bersalah.


"Van" panggil Yogi yang diakhiri dengan helaan nafas


"Dengerin gue baik baik ya" pinta Yogi menatapku lebih dalam dan aku tidak menatapnya justru menatap Rio.


Yogi yang akan bercerita justru terdiam sangat lama, mungkin dia bingung mengawali semuanya dari mana.


"Apa Gi" aku berteriak amat kencang hingga suara ku sedikit memantul


Urusan ini aku tidak ingin main main, aku ingin tahu apa yang terjadi hingga Rio sepucat itu.


"Micky" Yogi berhenti "Micky" saat Yogi mengatakan nama Micky, Rio langsung berdiri dan keluar, tidak lama suara motornya berbunyi.


Semakin mengundang pertanyaan ku lebih banyak lagi.


"Ada apa sih?" Tanyaku.


"Micky koma"


Deg


Pasokan oksigen ku langsung menipis, aku ingin mati mendengar kabar buruk itu.


"Dan Saga udah gak ada"


Begitu mendengar nama Saga aku langsung menoleh nya, kutatap mata Yogi dengan tatapan kosong.


"Maksud Lo apa" kutarik kerah bajunya.


Dia tidak memberontak atau memintaku untuk tenang.


"Saga sama Micky balapan" ceritanya "dan mereka kecelakaan"


Demi Tuhan, kabar itu benar benar meruntuhkan duniaku, aku tidak mampu barang setarikan untuk menarik nafas. Barang sedetik untuk berkedip, semuanya menyesakkan.


"Vanda" Dian memelukku dari belakang.


Ah, aku menangis kembali hanya mengenangnya, rasa itu bahkan masih ada dibenakku hingga saat ini, rasa terlukanya kehilangan Saga rasa sakitnya melihat Micky berada diambang kematian.


"Keadaan Micky kritis sekarang, kemungkinan untuk dia sadar sangat kecil" kata Yogi berusaha membuat dirinya teguh


Aku tidak mampu bergerak, rasanya ucapan yogi terasa mengambang ditelingaku. Juga suara panggilan dan pelukan Dian terasa sumbang untuk didengar. Aku kehilangan semuanya, kehilangan Saga dan Micky, bahkan aku tidak tahu saat ini aku dimana, dan harus memulai semuanya dari mana.


"Vanda, Vanda" Mama menggoyangkan tubuhku,


"Vanda Vanda" Mama memanggilku sekali lagi, dengan suara sumbang yang sulit di dengar, sekali lagi juga papa ikutan menggoyangkan tubuhku.


Ah semuanya sudah berakhir sampai disini...........


🚕🚕🚕


Aku tidak tahu harus menulisnya dari bagian mana karena setelah mendengar kabar itu, aku tidak tahu yang kulakukan saat itu apa. Yang jelas aku merasakan benar benar patah, dan merasakan benar benar sakit, semuanya terasa seperti tidak nyata untukku.


Setelah hari ke lima puluh tiga Saga meninggal, kuburannya masih basah, kudatangi bersama Mama dan papa. Aku hanya terdiam melihat kuburannya, rasanya itu bukan Saga, dan ini hanya acara kejutan sebelum aku ulang tahun. Tapi batu nisan yang tertulis nama Saga Alvaro itu membuatku meneteskan air mata, secepat itu ternyata kebahagian pergi. Baru kemarin Saga menyatakan cinta, baru kemarin aku marah marah karena dia menemuiku, baru kemarin aku menyalahkan dia atas kondisiku.


"Tante, boleh ngomong sama Vanda?"


Suara langkah dua orang menjauh dari tempatku, dan disebelahku ada Yogi yang ikut menaburkan bunga. Aku masih terisak, merasakan betapa sesaknya semua ini.


"Lusa kita ngadain acara yasinaan buat Saga juga Micky" kata Yogi "Micky koma selama lima puluh tiga hari dan besok semua peralatan bantu akan dilepas, kemungkinan kita akan nunggu ___" Yogi berhenti, dia tidak mampu meneruskan.


Aku masih diam, tidak menanggapi juga tidak mau membantah . Kami terdiam sangat lama.


"Lo kenal Ajil?" Tanya Yogi tiba tiba yang tidak ku tanggapi.


"Ajil Samudra, dia mantan pacar Lo kan?"


Ucapan Yogi hanya bisa kudiami, iya dia mantan pacarku yang brengsek.


"Ajil, Miko , Micky dan Saga dulu seangkatan waktu SMP. Saga , Ajil sama Miko satu kelas, tapi Miko maupun Ajil gak akur, waktu mendekati hari olimpiade nya Micky, Ajil pernah ngomong ke Miko kalau yang bisa bikin Micky menang cuman Miko, waktu itu Saga disana sebagai saksi, Saga minta Miko buat jangan nuruti kemauan Ajil, tapi Miko malah nuruti kemauan Ajil. Esoknya Saga denger kalau Miko ketahuan nyuri soal ujian, dan semenjak itu Miko keras kepala buat di nasihati Saga". Yogi berdehem sebelum melanjutkan.


"Karena bullying yang dilakukan temen temen Miko, akhirnya Miko bunuh diri tapi sebelum dia bunuh diri, Saga tahu duluan dan dia berantem sama Miko cuman karena dia minta buat Miko gak ngelakuin hal yang bisa bikin dirinya bahaya. Tapi akhirnya Miko bener bener meninggal"


Aku masih saja terdiam bahkan tidak menjawab atau mengatakan sepatah katapun.


"Saga bener bener frustasi dan nyalahin dirinya sendiri, orang tuanya udah ngelakuin berbagai cara, dari terapi ke psikiater sampai dia dimasukan kerumah sakit jiwa, hasilnya nihil. Om Adi sepakat buat bawa Saga ke sini, lambat laun Saga pulih, tapi dia ketemu Micky disini, ketemu orang tuanya, mulai sata itu hubungan Saga dan Micky gak baik"


"Van, percaya deh, Saga gak pernah jahat ke elo, dia bener bener sayang sama elo, awalnya Saga sama Micky emang taruhan buat macarin elo, dan yang menang emang Saga, tapi makin hari Saga makin jatuh cinta sama elo, dan dia takut semakin elo deket sama dia semakin buat Micky berniat nyakitin elo, dendam Micky ke Saga terlalu besar, Van" Yogi melempar tanah kearah depan, kutatap itu dengan jelas


"Saga pernah bilang ke gue, kalau dia punya hak buat bawa elo lari dari sini, dia pengen bawa elo lari, kemana aja asal gak ada Micky, tapi ngeliat hubungan elo makin hari makin baik sama Micky, harapan Saga buat merjuangin elo pupus, Saga akhirnya milih buat ngelupain elo"


"Lo pasti nanya, kenapa Saga waktu itu ngejar elo ke Palembang, karena Ajil. Ajil bilang ke Saga kalau Micky berniat jahat ke elo. Gue gak tahu Van informasi yang didapat Saga itu beneran atau cuman akal akalan si Ajil yang pengen elo di permainkan sama Saga ataupun Micky. Dan dari situ semenjak keadaan elo memburuk, Saga sama Micky sering berantem karena saling nyalahin diri sendiri"


Yogi Manarik nafas sambil membenarkan letak duduknya.


"Gue tahu elo pasti di posisi sulit, Micky sama Saga tulus sama elo" aku menangis mendengar itu, baru bisa menangis saat ini ketika melihat ketulusan Saga ataupun Micky.


"Saga sering nyalahin dirinya sendiri karena dia gak punya keberanian buat ngejaga elo, dan Micky sebaliknya, dia gak peduli apapun cuman baut jagain elo. Sampe akhirnya, waktu Saga ngumpul dirumah gue, Micky dateng, dia nantang Saga buat adu balap, siapa yang kalah, dia yang ngejauhin elo, gue rasa Micky tahu soal hubungan kalian malam itu"


Aku menangis semakin menjadi, dan Yogi tidak menenangkan ku. Aku benar benar kehilangan keduanya. Kehilangan Saga juga Micky sebagai orang yang baik padaku.


"Saga jatuh dari motor karena terlalu ngebut saat jalanan berlubang, dan motor Saga yang jatuh diaspal ngenai motor Micky sampai oleng, gue nyalahin keduanya, kenapa mereka balapan tanpa helm !!! " Yogi memukul tanah didepannya


"Saga meninggal di tempat dan Micky dilarikan kerumah sakit" aku menangis terisak isak.


Yogi berdiri sambil memberikan ponsel Saga dan Micky yang masih utuh, juga kertas formulir pendaftaran donor mata yang terkena bercak darah. Melihat itu saja aku bisa menangis hebat.


"Saga yang donorin matanya buat elo atas kesepakatan Om Adi" Yogi berhenti sejenak "jangan nyalahin papa lo, papa lo baru tahu saat elo udah di ruang operasi" kata Yogi lalu berjalan pergi.