
Saga hanya terus terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan ku barang sepatahpun. Aku tahu, mungkin dia merasa bersalah atas ucapannya dulu.
Ku putuskan untuk meninggalkan Saga diruang UKS sendiri, aku berjalan ke kelas, menemui Dian, dan memintanya untuk mengantarkan pulang. Memangnya alasan apa lagi aku tetap bertahan disini, didepan ruang BK, Micky menghadang jalanku. Dia berdiri dengan mengenakan switer merah, tersenyum sehingga gigi kelincinya terlihat.
"Gue cariin dari tadi. Abis dari mana?" Tanyanya menatap kedua mataku
"UKS, gue kira lo gak datang? " aku buru buru menarik Micky pergi menjauh, sebelum dia melihat Saga keluar dari sana.
"Tadi muter muter nyari elo sampe pusing" dia tidak lagi menatap arah UKS, sudah berpindah fokus ke arahku.
"Ke kelas yuk" ajaknya
Aku mengikuti Micky dari belakang, Ari dan Sofia sedang duduk memakan jagung yang dia bakar tadi. Ada beberapa temen sekelas ku juga yang duduk lesehan di teras kelas. Dian dan Yogi, ah entahlah mereka pergi kemana, mungkin sedang berpacaran
Dari aula pun, tidak terdengar suara musik, kebanyakan sudah bergabung dengan kelas masing masing. Micky berhenti didepan Sofia, merebut jagung bakarnya sambil duduk jongkok
"Bagi bagi Sof" katanya sudah memakan jagung yang ada didepan Sofia.
"Ambil aja Mik, Lo ga gabung sama jelas IPS?" Tanya Sofia sambil memakan jagungnya
Melihat itu aku berhenti diambang pintu, menatap Micky yang memilih jagung bakar. Kulirik dari arah UKS Saga sudah berjalan kembali ke kelasnya.
"Nah" Micky menyodorkan jagung yang ada ditangannya.
Belum sempat aku melangkah ke dalam kelas, Dian berlarian menarik tanganku.
"Apa sih Yan?" Aku bersungut kesal dengan perlakuan Dian yang tiba tiba
"Jangan kaget ya" katanya dengan kedua telapak tangan turun naik
"Maksudnya?"
Dian mengatur nafas serileks mungkin "si Saga, putus sama Aliya" katanya memberitahu
Itu mah aku udah tahu, jadi aku hanya bereaksi memutar mata malas tanpa berniat menanggapi ucapan Dian.
"Katanya sih putusnya karena si Saga udah gak cinta" Dian menggaruk kepalanya "gak tau deh, pokoknya mereka udah putus"
"Lo dapet kabar dari mana sih? Kok setengah setengah" tukas ku
"Dari bebeb Yogi lah" dia nyengir tanpa dosa "katanya nih, si Saga mutusin Aliya baru aja"
"Dan dia ngomong sayang ke gue setelah putus sama Aliya" ujarku
"Sumpah" Dian langsung memegang tanganku, mata lebarnya semakin lebar, kepalanya geleng geleng
"Iya, tadi di UKS, si Saga udah ceritaย kalo dia udah putus sama Aliya" tambahku
"Gila si Saga, kurang ajar banget sih" Dian langsung bersungut kesal
"Udah ah, gue mau sama Micky" aku berjalan pergi tapi Dian menarik tanganku lebih cepat
"Lo mau pacaran sama Micky?" Tanyanya yang tidak mengerti maksud ucapanku barusan
"Bukan, gue mau ke kelas, ngobrol sama Micky" kataku berlalu pergi.
Di kelas, Micky memainkan ponselnya sambil memakan jagung yang dia minta dari Sofia tadi. Ada Ari yang tengah menyetel gitarnya dan beberapa siswa siswi yang juga sibuk bermain.
"Lama gak nungguin gue?" Tanyaku
Micky hanya mendongak, lalu memakan jagungnya tanpa menanggapi pertanyaan ku tadi.
"Mau sampe lebaran monyet pun tetep gue tunggu Van" godanya sambil nyengir.
Aku menggeser kursi. Menatap Micky yang juga melihat ponselnya.
"Jadi kan ke Palembang nya?" Tanyaku padanya.
Jemari Micky yang semula tengah mengetik langsung berhenti, dia tidak menolehku, masih menatap ponselnya dengan gestur aneh
"Jadi, emang dibolehin sama orang tua elo?" Tanyanya
"Di bolehin, kan perginya jelas sama siapa, kalau perginya gak jelas baru gak dibolehin"
Micky tersenyum miring sambil menompang tangannya
"Mau ngajak siapa dari sini? Dian, Sofia atau Nurul?"
Aku menggeleng sambil nyengir "mereka gak dibolehin semua, palingan gue sendiri"
Malam itu Micky seperti orang lain untukku, maksudnya dia tidak banyak bercerita hanya menanggapi ucapanku dengan deheman saja. Tapi aku tidak memperdulikannya toh orang seperti Micky memang selalu seperti itu kan.
๐๐๐
Aku duduk di teras rumah setelah semalaman pulang larut malam dengan Dian. Papa sudah siap dengan seragam polisinya, dengan penuh semangat 45.
"Papa mau ke Serdang dulu"
Serdang itu nama desa di daerah kecamatan Mesuji makmur, agak dekat dengan Lampung, dia berada di perbatasan antara OKI dan Lampung. Agak rumit memang kalau dijelaskan, yang jelas desa Serdang sangat jauh dari desaku.
"Kenapa? Gak kekantor?"
Maksudku, kenapa papa harus ke desa Serdang bukannya ngantor ke kantor polisi.
"Kemarin ada pemilihan kepala desa, terus kandidat kepala desa yang lama kalah" cerita papa sambil duduk menyesap teh disebelahku "jadi ada perang antar kepala desa yang dulu sama calon yang sekarang" tambah papa
"Kok gitu? "
"Emang kebanyakan gitu, kalau disini jabatan kepala desa harus turun temurun"
"Emangnya tahta kerajaan jaman Majapahit apa?" Cicitku ikut kesal mendengar cerita papa
"Ha ha" papa hanya tertawa renyah "makanya papa sama yang lainnya mau patroli kesana"
"Hati hati ya pa, bahaya Lo kalau udah kayak gitu" nasihatku
"Tenang aja" papa mengusap puncak kepalaku "ma papa berangkat ya" teriak papa berpamitan pada mama
Mama hanya menyahuti dengan teriakan. Papa sudah pergi dijemput mobil patroli polisi.
Tidak lama dari kepergian papa, Mama keluar dengan membawa teh hangat ditangannya.
"Kamu hari ini libur kan?" Tanya mama
Aku menoleh nya, sambil memperhatikan mata Mama yang terus menatap arah gerbang.
"Tapi niatnya mau main kerumah Dian sih" aku nyengir
"Padahal Mama mau ngajak ke pasar, belanja sayur gitu" Mama duduk disebelahku sambil menyesap teh
"Emang Mama bisa naik motor?"
Aku bertanya seperti itu karena memastikan saja, sudah lama tidak melihat Mama naik motor. Kalau harus pergi naik mobil, itu buang buang waktu.
Mama menolehku sambil bercimbik "kamu kira Mama ini kayak kamu"
Mendengar itu aku langsung berdiri dan menghentakan kaki.
"Udah ah, Vanda mau mandi, buruan kalau mau ke pasar" teriakku dari arah dalam.
Mama tidak lagi menyahuti, mungkin sedang menatap gerbang yang dilalui papa tadi.
maaf ni ya dikit banget updatenya, besok up lagi soalnya.
maaf ya lama menunggu, lagi tahap revisi buat kontrak sama MT soalnya