ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Enam Puluh



Aku masih terdiam dipelukan Saga, tidak menolaknya juga tidak melepaskan. Kurasakan dipunggungku ada sesuatu yang basah, itu tangis Saga kan, tidak mungkin jika itu air liur Saga. Lelaki yang memelukku ini masih saja terdiam, nafasnya tidak beraturan. Aku tidak tahu mengartikan pelukan kami ini sebagai apa, pelukan belas kasihan atau pelukan dengan penuh perasaan.


Akhirnya ku beranikan untuk mendorong tubuh Saga. Jujur aku hanya tidak ingin, sebatas tidak mau kembali pada perasaanku yang dulu dulu, meski sejujurnya perasaan itu masih selengkap dulu.


"Lo nangis?" Ku pilih bertanya untuk memastikan apakah benar saga mengeluarkan air mata atau tidak.


"Enggak kok" katanya terdengar mengelak.


"Lo pulang aja" kataku meminta Saga pulang dengan nada sopan


"Gue gak mau ninggalin elo sendirian disini Vanda"


"Gue gak mau sama elo Saga" kataku dengan nada suara yang menaik


"Kenapa? Apa salah gue ke elo sampe sampe elo nyiksa gue kayak gini hebatnya Vanda?" Ini kali pertama Saga berkata dengan nada tinggi seperti itu.


Dia mungkin marah dengan sikapku, mungkin merasa tertekan dengan segala cacian yang kukeluarkan hanya untuk mempertahankan diri agar tidak kembali jatuh ke pelukannya lagi.


"Lo masih nanya kesalahan elo ke gue apa" aku menekan kalimat per kalimat


"Kasih gue kejelasan kenapa gue harus pergi sedangkan hati gue pengen tinggal disini" Saga mengguncangkan bahuku, amat sangat keras.


Kutepis cengkraman itu "pasang telinga elo baik baik" kataku berusaha menahan betapa sesaknya dada


"Lo udah permainan gue, Lo gak pernah ngasih gue kejelasan tentang hubungan yang dulu kita jalanin Saga" mengatakan itu perasaanku runtuh seketika.


Demi Tuhan rasanya jauh lebih sakit ketimbang mengetahui kenyataan bahwa aku tidak bisa melihat lagi.


"Lo udah permainan hati gue Saga" teriak ku menggebu "Dan karena elo juga" aku menggeretakkan rahang "Gue kehilangan dunia gue yang dulu berwarna" teriakku


Saga terdiam. Tidak bersuara barang sepatah pun, hanya suara tangisku yang terdengar.


"Gue minta maaf" ucapnya lirih "gue minta maaf Vanda" katanya sekali lagi


"Percuma elo minat maaf !!!" Aku menyeka air mata "apa dengan elo minta maaf harga diri gue yang sempet elo injek injek bakal balik lagi? Apa dengan elo minta maaf gue bisa ngeliat lagi? Enggak kan!!" Aku berdiri


"Mending sekarang Lo pergi dari hidup gue, jangan pernah muncul lagi kesini, di hidup gue " kataku mulai meraba sekitar. Sumpah sekarang aku menyesal mengatakan itu.


Brak


Aku menjatuhkan sesuatu dari meja, dan aku tidak perduli, terus melangkah sebisaku tanpa bantuan Saga.


Aku meraba sekitar, ada tangan yang meraih tanganku.


"Lo salah jalan" katanya membimbingku masuk kedalam kamar.


"Gue bakal pergi. Tapi ijinin gue disini buat nemenin Elo sampe Mama elo balik dari Puskesmas Vanda" kata Saga amat lirih.


Aku hanya duduk dengan menahan isakan. Kenapa amat sangat menyakitkan untuk menerima Saga. Aku hanya takut, sekadar takut bahwa sikap baiknya Saga ke aku selama ini bukan karena dia mencintaiku hanya karena dia kasihan denganku.


Aku hanya tidak ingin merasakan rasa sakit seperti dulu.


Tidak ada suara dari Saga, tapi dia masih disini, parfum yang dia gunakan amat sangat menyengat.


"Lo boleh pergi" kataku lirih menahan isakan


"Kenapa?"


"Itu" aku menunjuk kearah yang entah kearah mana. Yang jelas aku sedang memberitahunya suara motor mama "Mama udah Dateng" kataku


"Iya gue bakal pergi" katanya terdengar berat


Namun aroma Saga masih disini, masih berada di depanku dan aku tahu, namun pura pura tidak tahu. Aku hanya bingung, separuh hatiku memintanya untuk tinggal tapi separuh lagi memintanya untuk pergi.


Jadi aku harus bagaimana?


"Vanda udah bangun?" Tanya mama


Tidak ada aroma Saga disini, tidak ada Saga disini, dan aku langsung menangis sesegukan begitu kehilangan Saga


"Kamu kenapa Vanda?" Mama memelukku, pelukan terhangat yang pernah kurasakan.


"Vanda takut" suaraku rasanya tercekat diantara kerongkongan.


"Mama disini" kata Mama mengelus punggung ku


"Vanda takut kehilangan Saga ma" aku mengenggam baju Mama, merasakan ketakutan yang terhebat.


"Saga gak kemana mana" kata Mama berusaha menenangkan


"Vanda takut Vanda makin cinta sama Saga, Vanda takut kalau Saga gak bisa ngebalas perasaan Vanda ma" aku menangis benar benar menangis.


Mama masih berusaha menenangkanku sebisanya, mungkin Mama paham dengan perasaanku. Mama tidak bertanya lebih banyak lagi mengenai hubunganku dengan Saga. Setelah reda , suara deheman papa ter denger mendekat


"Vanda, papa punya hadiah buat kamu" kata papa dengan nada bahagia


Aku tahu nada seperti apa yang keluar dari mulut seseorang, nada bahagia berarti terdengar menggebu, nada sedih terdengar mengalun tanpa kekuatan. Itu saja yang ku pahami selama ini.


"Apa? " Tanyaku


Tanganku yang semula berada di paha diangkat pelan oleh papa, lalu di beri semacam sesuatu yang keras


"Apa ini?" Tanyaku


"Ini" papa berdehem sejenak "ini alat bantu nak, ini tongkat buat bantu kamu jalan" papa menjedanya mungkin sedang menyiapkan kalimat apa yang baik untuk dia ucapkan agar tidak membuatku terluka "Sementara Ini sampai kamu dapat donor mata, Kamu pakai ini, biar tahu di depanmu itu ada benda apa saja" kata papa lirih


"Oh Vanda pernah liat dulu di tv tv" kataku mulai berdiri dan mencoba tongkatnya


Aku memang sedikit terluka menyadari bahwa aku benar-benar tidak bisa melihat lagi, tapi lebih baik aku bersyukur, toh dengan tongkat ini bisa sedikit membantuku.


"Gimana suka?" Tanya papa


"Suka, Vanda jadi tahu didepan Vanda ada apa aja" kataku mulai mencobanya.


Mama memelukku dari belakang, dan senyum di pipiku masih saja mengembang.


"Makasih pa , ma sudah jadi dunia Vanda yang paling hebat"


Mama menangis tertahan di belakang punggung ku, dan papa kudengarkan meski lirih suara isakan nya begitu menyayat hati.


"Tadi ada yang nelfon ke hpnya Vanda" aku meraba ke sekitar mencari dimana Saga meletakkan ponsel tadi.


"Ini" mama memberikan ponselku


"Ada yang nelfon tadi"


Kuberikan ponsel itu ke mama, dan Mama terlihat sedang mengeceknya.


"Kayla" kata Mama


"Oh" hanya itu yang bisa ku jawab. Aku belum memberitahu Kayla mengenai keadaanku, jika dia tahu, pasti dia akan menangis terisak isak dan meminta diantarkan kesini.


Aku tidak ingin membuat toa masjid itu menangis keras disini. Aku kembali mencoba tongkatnya, papa masih saja menahan isakan nya, dan aku tidak ingin berkomentar untuk itu, hanya tidak mau papa merasa semakin tertekan.


Ini saja sudah berat untukku, apalagi untuk papa.


"Mama ini apa?" Aku memukul benda di depanku dengan tongkat.


"Dispenser sayang. Mama sengaja mindahin didekat kamar kamu, supaya kalau kamu haus, gak kejauhan ngambilnya"


Itu saja membuatku merasa aku memiliki dunia. Dunia bersama orang tuaku.